Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 9


Lorie tidak tahu apakah harus menabrakkan kepalanya ke tembok atau tidak. Ia begadang semalaman karena memikirkan apa yang mungkin dilakukan oleh sepasang kekasih itu di kamar sebelah, tapi Alice bahkan tidak menginap!


Sialan!


Benar-benar sialan!


“Aku pikir dia menginap ....” Akhirnya Lorie tidak tahan dan mengutarakan isi hatinya.


Mengingat duplikat kartu akses kamar itu dan dadanya yang menempel erat di lenganmu, imbuhnya di dalam hati.


Raymond mengulum senyum sambil menjawab, “Yeah ... dia sangat sibuk, makanya aku memberi duplikat agar dia bisa mampir kapan pun.”


“Juga pergi kapan pun?” goda Lorie.


“Hum ... bisa dibilang begitu ....”


Lorie terkekeh dan meninju lengan Raymond. Ia keluar dan menutup pintu sambil menggoda pria itu lagi, “Cari kekasih lain kalau dia membuatmu menderita.”


“Akhir tahun ini kami akan menikah.”


“Oh ... aku tidak akan komentar lagi kalau seperti itu.” Lorie tersenyum lebar meski rasanya paru-parunya kehilangan fungsi untuk sesaat dan membuatnya kembali kesulitan bernapas.


“Kamu harus datang.”


“Tidak janji ... tapi akan aku usahakan ....”


Kedua orang itu masuk ke dalam lift dan pergi ke lantai dasar. Diam-diam Lorie memperhatikan pria yang lebih tinggi satu jengkal darinya itu, lalu saat tiba-tiba Raymond menoleh ke arahnya, ia tidak tahu harus menoleh ke mana. Untungnya pintu lift terbuka sehingga mereka harus keluar dari sana.


“Lewat sini,” ucap Raymond seraya menarik tangan Lorie ke arah kanan.


Lorie melirik tangan yang melingkupi jemarinya dan memberikan rasa hangat, tapi tidak berniat untuk melepaskannya.


“Lihat, itu tempatnya,” ucap Raymond seraya menunjuk ke sebuah bangunan berwarna cream yang berdiri tepat di samping Hotel Amber.


Pria itu menyeret Lorie masuk, kemudian menyodorkan buku menu dengan antusias. Tindakan itu membuat debar jantung Lorie semakin berantakan. Ia takut pria yang duduk di depannya itu akan bisa mendengar genderang yang sedang ditabuh di dalam dadanya. Ditabuh dengan semena-mena dengan tempo yang semakin cepat.


Deg ....


Deg ....


Deg ....


Perasaan ini ... rasanya seperti sedang berselingkuh dengan kekasih orang lain.


Lorie buru-buru menundukkan kepala dan menatap gambar menu di hadapannya dengan ekspresi sangat serius.


"Kamu seperti sedang membaca dokumen untuk tender," goda Raymond.


"Huh? Oh ... aku hanya ... ini tampak enak."


Raymond terkekeh pelan dan menjawab, "Memang. Makanlah yang banyak agar tubuhmu sedikit lebih berisi."


"Aku tidak mau jadi gendut," gerutu Lorie.


"Tidak gendut sama sekali, sekarang terlalu kurus, kamu terlihat seperti gadis yang kurang gizi."


"Tidak! Tidak berani!" teriak Raymond seraya membuat gerakan minta ampun.


Kedua orang itu meneruskan acara makan pagi mereka dengan ditingkahi pertikaian-pertikaian kecil yang sedikit kekanakan. Meski begitu, baik Lorie ataupun Raymond sama-sama menikmati kebersamaan itu.


...***...


Berkas cahaya matahari sore memantul di depan cermin. Lorie menarik gorden agar cahaya keemasan itu tidak terlalu menyilaukan. Ia lalu memoles lisptik berwarna nude dan merapikan setelannya. Setelah sarapan di Caffe Brasilia bersama Raymond tadi pagi, ia benar-benar kembali ke hotel dan tidur sepanjang hari. Untungnya ia sudah memasang alarm sehingga tidak bangun terlambat.


Setelah yakin tidak ada yang tertinggal, wanita itu segera mengambil tasnya di atas meja dan berjalan keluar. Sialnya, saat baru saja menutup pintu, Raymond sedang berdiri di depan pintu kamar ... bersama tunangannya. Dalam sekejap semua memori manis tadi pagi melebur bersama debu.



“Hai, Lorie. Sepertinya kamu terburu-buru,” sapa Alice saat melihat kemunculan Lorie di depan pintu.



“*Um ... yeah* ... pekerjaan,” jawab Lorie sekenanya. Ia melirik sekilas botol wine di tangan Raymond dan mencibir dirinya dalam hati.



“Aku pergi dulu!” serunya seraya melambaikan tangan dan berderap pergi. Untuk beberapa detik sebelum berpaling, ia sempat yakin sepertinya Raymond ingin mengucapkan sesuatu, tapi sampai ia masuk ke dalam lift, suara pria itu tidak terdengar sama sekali.



“Memangnya apa yang kamu harapkan, Idiot?” umpat Lorie kepada dirinya sendiri.



“Pffft ....”



Suara tawa yang tertahan dari balik tubuhnya membuat Lorie sadar kalau ia tidak sendiri di dalam lift. Dengan sangat perlahan ia menoleh ke belakang dan mendapati seorang pria bercambang dengan mata hijau zamrud sedang menatapnya dengan ekspresi geli, jelas dia sedang menahan tawa.



“Apa?” tanya Lorie dengan kesal.



“Tidak ada,” jawab pria itu, sama sekali tidak terganggu dengan sikap Lorie yang ketus.



Lorie mendengkus pelan dan memalingkan wajahnya ke depan.


Membuat kesal saja. Memangnya dia tidak pernah melihat orang mengumpat, gerutunya dalam hati.


Begitu lift sampai di lantai dasar, Lorie langsung bergegas keluar tanpa menyapa pria yang tadi menertawainya. Ia menyeberang dan berjalan menuju tempat bertemu dengan klien. Royal Club memang berada di seberang Hotel Amber.


Ia hanya perlu melewati satu buah gang kecil yang memisahkan deretan toko-toko cenderamata dan toko kue yang berderet rapi. Oleh karena itulah ia tidak meminta didampingi oleh asisten atau pengawal. Lagi pula, seharusnya perundingan kali ini tidak akan memakan waktu lama.