
Daniel meletakkan pisau steak dan memasang wajah serius ketika Lorie menyelesaikan panggilan teleponnya. Ia penasaran, apa yang menyebabkan raut wajah Lorie tampak cemas.
“Ada apa, Sayang?” tanyanya tanpa melepaskan pandangannya dari wajah wanita di hadapannya.
Lorie menyipit dan menggeram pelan. Ia hampir muntah setiap kali Daniel memanggilnya dengan sebutan “Sayang”, tapi ia tahu tidak bisa mengubah apa pun tentang hal itu. Setelah ia menyetujui kesepakatan konyol mereka kemarin, pria itu hampir setiap saat berada di sisinya dan membuatnya merasa mereka seperti kembar siam.
“Kenapa menatapku seperti itu? Apakah aku sangat tampan?” tanya Daniel sambil menaikkan alisnya.
“Rasa tidak tahu malumu benar-benar luar biasa,” sindir Lorie. “Itu semakin meningkat setiap waktu. Bagaimana kamu melatihnya? Aku perlu belajar banyak darimu.”
Daniel tidak terpengaruh dengan ejekan itu sama sekali. Ia hanya menyeringai dengan acuh tak acuh dan kembali bertanya, “Ada waktu satu bulan kalau kamu ingin belajar. Gratis untukmu."
Lorie mendengkus kesal dan memilih untuk tidak menanggapi ucapan itu.
"Apa ada masalah? Siapa yang menelepon tadi?” tanya Daniel lagi.
Sekali lagi Lorie mendengkus, kali ini cukup keras. Ia tahu harus menjawab pertanyaan itu. Kalau tidak, Daniel pasti akan menghantui sepanjang hari sampai ia mau memberitahunya.
“Bosku memintaku untuk kembali ke Broocklyn.” Lorie mendorong piringnya yang masih terisi separuh potongan steak ke tengah meja. “Aku harus kembali ke kantor sekarang.”
Ia memanggil pelayan untuk membayar tagihan, tapi Daniel lebih dulu menyabotase dan melunasi semua biaya makan siang mereka.
“Bukankah aku sudah bilang aku yang traktir kali ini?” protes Lorie.
“Tidak perlu. Kamu mau menemaniku makan saja aku sudah sangat senang,” balas Daniel seraya membukakan pintu untuk Lorie.
“Terima kasih.”
“Tidak perlu berterima kasih, cukup berikan hatimu padaku ... aku akan menjaganya dengan baik.”
Lorie memutar bola matanya dan tidak mau memedulikan pria di sampingnya hingga mereka tiba di tempat parkir. Ia tetap diam ketika Daniel menyalakan mobil dan mengemudikan kendaraan itu keluar dari pelataran restoran.
Sambil menatap keluar jendela, pikirannya melayang jauh ... membayangkan Amber yang sedang terbaring sakit membuatnya cukup cemas. Gadis kecil itu sangat manja padanya. Mungkin sekarang para pelayan sedang kewalahan karena dia tidak mau makan atau minum obat.
Pemikiran itu tanpa sadar membuat Lorie menghela napas dan memejamkan matanya. Ia juga kangen gadis kecil itu. Gara-gara masalahnya dengan Raymond, ia belum puas bermain bersama triplets, tapi terpaksa harus pergi dari Broocklyn dengan tergesa.
“Apa ada? Apa masalahnya serius?” tanya Daniel yang selalu memperhatikan gerak-gerik Lorie.
“Tidak. Putri bosku sakit dan ingin bertemu denganku. Dia ... um, sudah seperti putriku sendiri.”
“Oh.” Daniel cukup terkejut mendengar jawaban itu.
“Sepertinya kamu memiliki hubungan yang baik dengan bosmu, bahkan putrinya juga menjadi putrimu?” gumamnya dengan ekspresi acuh tak acuh.
Lorie tersenyum geli karena ia bisa mendengar nada cemburu dengan jelas dalam ucapan pria itu barusan.
“Apa kamu cemburu?” tanyanya sambil menatap Daniel dengan sedikit menggoda.
Daniel balik bertanya, “Apa aku terdengar seperti sedang cemburu?”
“Ya. Pria besar yang cemburu.”
“Oh. Mungkin memang sedikit cemburu.” Daniel mengetuk-ngetuk setir mobil dan melirik Lorie dengan tajam.
“Apa dia tampan?” tanyanya kemudian.
"Hm."
“Sangat tampan?”
“Hm.”
“Sudah pasti sangat kaya.”
“Memang sangat kaya.” Lorie mengamini sambil mengangguk-angguk dengan mantap, tapi tak lama kemudian ia mengangkat telunjuknya ke udara dan mengimbuhkan, “Jangan cemas, ada satu hal dia tidak bisa melampaui dirimu.”
“Dia masih punya rasa malu.”
“....”
“Pffft ... lihat wajahmu, masam seperti jeruk.” Lorie tak dapat menahan tawa. Ia terkekeh puas saat melihat wajah pria di sampingnya terlihat sangat jelek saat cemberut. Ia bahkan berilusi seolah melihat asap mengepul dari atas kepala Daniel.
“Menindasku membuatmu sangat senang, hum?” gerutu Daniel.
“Sangat senang,” jawab Lorie tanpa berpikir dua kali.
Daniel mendesah tak berdaya dan berkata, “Kalau begitu kamu diizinkan untuk menindasku setiap saat, kapan pun kamu mau, lakukan saja ... aku akan menahannya agar kamu bahagia.”
Lorie mencibir dan berkata, “Kamu benar-benar bermuka tebal. Bahkan Raymond pun tidak pernah ....”
Wanita itu langsung terdiam ketika menyadari kekeliruannya. Bagaimana bisa ia mengingat Raymond di saat seperti ini?
“Raymond?” tanya Daniel seraya melirik sekilas. “Dia ... ayah dari bayi di perutmu?”
Lorie hampir tersedak. Daniel selalu blak-blakan dan mengutarakan apa yang ada di pikirannya, memang sedikit mirip dengan sifatnya sendiri, tapi ia masih belum terlalu terbiasa dengan karakter itu.
“Apa aku harus cemburu terhadapnya juga?” tanya Daniel lagi karena Lorie tidak menjawab pertanyaannya tadi. Dan dari reaksi wanita itu, ia bisa menebak bahwa dugaannya itu benar.
“Tidak!”
Daniel menoleh karena Lorie langsung menjawab dengan cepat dan tegas. Lorie sendiri ikut terkejut karena ia menjawab terlalu cepat, dan harus ia akui itu terdengar sedikit mencurigakan.
“Tidak?” tanya Daniel.
“Um.”
“Kenapa? Apa karena dia sangat jelek? Lebih tidak tahu malu dariku?”
“Dia akan segera menikah.”
“Oh.” Daniel terkejut mendengar jawaban yang tidak terduga itu, tapi air mukanya tetap tenang dan stabil.
Tak lama berselang, ia memutar kaca di atas dashboard dan mengarahkannya kepada Lorie. “Lihat, sekarang kamu yang terlihat sedang cemburu. Sepertinya aku harus menjauhkanmu dari pria bernama Raymond ini.”
“Tidak perlu, aku tidak ingin bertemu dengannya sedikit pun.”
“Oh.” Lagi-lagi Daniel dibuat terkejut oleh jawaban Lorie. Ia ingin mencecarnya dengan pertanyaan lain, tapi mereka sudah tiba di depan lobi kantor. Terpaksa untuk sementara ia harus menahan rasa penasarannya itu.
“Terima kasih untuk makan siang dan tumpangannya. Aku akan berangkat dengan penerbangan paling awal, jadi tidak perlu mencariku ke kantor,” ucap Lorie sambil bersiap untuk turun.
“Kamu tidak melupakan sesuatu?”
Pertanyaan itu membuat gerakan Lorie terhenti. Ia menoleh ke arah Daniel dengan heran sambil bertanya, “Apa?”
“Ciuman perpisahan?” Daniel menunjuk bibirnya seraya mengedipkan mata dengan genit.
“Menjijikkan!” Lorie memukul kepala pria itu dengan tasnya sebelum turun dari mobil.
“Hey! Kita baru berkencan dua hari, tapi kamu sudah mau pergi. Bagaimana kalau aku rindu? Setidaknya berikan aku satu ciuman perpisahan!”
Lorie berpura-pura tidak mendengar teriakan yang tidak tahu malu itu dan bergegas menuju pintu masuk. Ia pasti sudah gila karena mau menerima ide pria itu dua hari lalu.
Sekarang, bagaimana caranya melepaskan diri? Apakah ini yang disebut menggali lubang untuk mengubur diri sendiri?
Benar-benar sial ....
**