
Kinara keluar kamar mandi dengan hanya mengenakan handuk. Butiran air menetes dari rambutnya yang basah. Lengan dan pahanya berlikau ketika tertimpa cahaya matahari, seperti peri yang baru saja keluar dari mata air kehidupan. Alex memerhatikan setiap detail gerakan istrinya tanpa berkedip. Lalu, ketika mata mereka bertatapan, pria itu memberikan senyuman terbaik yang ia punya.
Kinara terpaku di depan pintu kamar mandi. “Aku pikir kamu sudah pergi bekerja,” ujarnya.
Alex menghampiri istrinya, merengkuh pinggang ramping itu hingga tubuh mereka saling menempel.
“Pekerjaanku sudah beres. Cepat ganti baju dan makan. Aku akan mengajakmu ke suatu tempat," ujarnya.
Pria itu menoleh ke bawah dan bertanya, “Sudah tidak sakit?”
Mata Kinara memicing sebelum menjawab, “Tidak bisa dikatakan sakit ... um, sebenarnya sekarang hanya sedikit tidak nyaman. Berendam air hangat cukup membantu.”
“Bagus. Aku sudah bersiap-siap menghubungi dokter Rebec ... aw! Kenapa mencubitku?” protes Alex seraya mengusap lengannya yang memerah.
“Berhenti menggodaku,” ujar Kinara. Ia berjalan menuju meja rias lalu duduk di kursi. Suara dengunan yang halus bergema dalam ruangan itu ketika ia menyalakan hairdryer.
Alex mengekori istrinya dan berdiri di belakang wanita itu.
“Biarkan aku membantumu,” ujarnya seraya mengambil alat pengering rambut dari tangan Kinara.
“Aku bisa--"
“Shhh ....”
Kinara mengalah. Ia membiarkan Alex menggerakkan hairdryer di dekat rambutnya dan tidak menginterupsinya sama sekali. Wanita itu mengulum senyum ketika raut wajah suaminya yang sangat serius terpantul lewat cermin di depannya.
“Apa yang kamu tertawakan?” tanya Alex ketika melihat seringai tipis muncul di wajah istrinya.
“Apa kamu selalu seserius ini ketika melakukan sesuatu?”
“Memangnya kamu tidak menyadarinya? Bahkan di atas ranjang pun aku melakukannya dengan sangat serius, konsisten, dan bertanggung jawab,” jawab Alex dengan ekpresi penuh kesungguhan.
“Menyebalkan!” desis Kinara seraya mengerucutkan bibirnya.
Alex terkekeh puas. Ia mengambil sisir dan mulai merapikan helaian hitam yang kini terlihat semakin panjang. Rambut istrinya sudah melewati bahu, membuatnya terlihat lebih dewasa dan matang.
"Sudah selesai," kata Alex seraya mematikan mesin pengering rambut.
“Terima kasih, Sayang,” ujar Kinara sambil bangun dan berjalan menuju walk in closet.
Kali ini giliran Alex yang mengulum senyum, panggilan “sayang” dari mulut Kinara membuat perutnya terasa seakan sedang digelitik. Tanpa sadar kakinya melangkag mengikuti istrinya hingga di depan pintu.
“Katakan sekali lagi,” pinta pria itu sambil menahan pintu yang akan ditutup.
“Apa?” tanya Kinara.
“Yang kamu ucapkan tadi.”
Kening Kinara berkerut. “Terima kasih?”
“Bukan, setelah itu.”
“Sayang?”
Alex mendekap istrinya kuat-kuat. “Katakan sekali lagi.”
“Sayangku ....”
Alex mengerang, menangkup wajah Kinara dan ******* bibirnya dengan rakus hingga wanita dalam dekapannya itu meronta.
Kinara mengetatkan lilitan handuk di tubuhnya. “Masih sakit!” serunya dengan mata memicing.
“Bukankah tadi kau berkata itu hanya sedikit tidak nya–“
“Sekarang sakit lagi!” sela Kinara sembari berlari masuk ke dalam walk in closet.
Alex terbahak dan menatap istrinya yang melarikan diri seperti kelinci kecil. Benar-benar menggemaskan. Pria itu lalu mengambil ponselnya dan melakukan panggilan.
“Apakah semuanya sudah siap?” tanyanya begitu tersambung dengan nomor yang dituju, “Bagus. Kirimkan helikopter ke sini,” perintahnya lagi sebelum memutuskan pembicaraan singkat itu.
Kinara mengomel tanpa suara ketika memilih pakaian yang akan dikenakannya. Ia mengeluarkan sebuah kaos turtle neck berwarna tosca dan mini skirt biru tua dari dalam lemari lalu bergegas memakainya. Gadis itu merapikan rambutnya, lalu berjalan keluar.
“Ada apa?” tanya Kinara ketika melihat wajah serius suaminya yang sedang memainkan ponsel di tangan.
Alex tidak menjawab. Ia terpana menatap penampilan Kinara yang membuatnya harus menelan ludah untuk membasahi kerongkongan yang mendadak kering. Penampilan istrinya benar-benar cantik dan imut. Rambutnya yang diikat ekor kuda bergoyang ke kanan dan kiri ketika dia bergerak. Kaos turtle neck yang dipakai berhasil menutupi bekas-bekas percintaan mereka semalam. Tatapan Alex lalu bergerak ke bawah, betis jenjang dan paha molek itu membuat matanya memicing.
“Kamu ingin memancing keributan, ya?” tegur Alex seraya bersedekap.
“Kenapa? Ada yang salah?” tanya Kinara seraya memerhatikan penampilannya lagi di depan cermin. Tidak ada yang aneh. Biasanya juga ia memakai rok seperti, dan Alex tidak pernah protes sebelumnya.
Alex menggeram. “Aku mungkin akan membunuh setiap pria yang berani melihat kakimu.”
“A-apa? T-tapi ini ....”
Alex membopong Kinara dan menaikkannya ke atas kasur.
“Diam di situ,” ujarnya sebelum berjalan menuju lemari dan membongkar isinya.
“Apa yang kamu lakukan?” pekik Kinara ketika tangan Alex menelusup di balik pinggangnya dan menarik lepas roknya. Meski ia memakai dalaman berupa celana pendek, tetap saja wajahnya memerah karena malu. Ia mengatupkan kakinya dan berusaha menutupi pahanya dengan kedua tangan.
“Cerewet sekali,” gumam Alex seraya berjongkok di dekat kaki Kinara. Ia memasukkan celana jeans melewati telapak kaki istrinya, lalu menariknya ke atas.
“Aku bisa sendiri!” seru Kinara ketika melihat Alex hendak menarik resleting celananya, “Aku ‘kan bukan bayi. Kenapa tidak membiarkanku melakukannya sendiri?” gerutunya lagi.
“Karena menunggumu melakukannya terlalu lama. Aku bisa berubah pikiran dan menyerangmu. Kalau sudah begitu, semua rencana kita hari ini bisa batal karena aku tidak akan membiarkanmu turun dari tempat tidur.”
Wajah Kinara lebih merah dari sebelumnya. Ia menatap Alex dengan sorot tak percaya. Bisa-bisanya pria itu mengucapkan kalimat provokatif seperti itu tanpa berkedip sama sekali.
Benar-benar monster ....
“Aku mau makan!” seru Kinara seraya melarikan diri dari dalam kamar. Ia tidak ingin menjadi santapan Alex lagi. Masih terlalu cepat. Ia perlu mengisi tenaga lebih dulu.
Alex hanya tersenyum simpul melihat istrinya terbirit-birit menjauh. Ia mengambil jaket dan menyampirkannya ke bahu, lalu menyusul istrinya ke ruang makan. Ia sudah tidak sabar ingin melihat reaksi Kinara ketika mereka sampai di tempat tujuan nanti.
“Kamu sudah makan?” tanya Kinara ketika melihat Alex memasuki pintu ruang makan. Ia pikir pria itu akan menunggunya di ruang tamu atau tetap di kamar.
“Tuan,” sapa Lorie seraya mengangguk sekilas pada Alex. Ia berdiri tegap di dekat Kinara, tetapi ketika melihat Alex datang, ia segera menjauh.
Alex membalas sapaan Lorie dengan mengangkat satu tangannya, lalu duduk di samping Kinara. “Aku sudah makan,” jawabnya, “Bagaimana, enak tidak?”
Kinara mengangguk sambil menyendokkan satu sendok penuh sup ayam gingseng.
“Habiskan. Kamu perlu stamina yang stabil untuk mengimbangiku tenagaku nanti malam.”
“Pufff!”
Kuah sup menyembur dari mulut Kinara. Ia memelototi suaminya dan mengambil gelas berisi air putih. Hampir saja mati tersedak. Ia tidak berani menatap wajah Lorie, atau para pelayan yang masih berdiri di dekatnya untuk melayaninya makan.
Dibanding sikap orang-orang di sekitarnya yang terlihat cukup terkejut, Alex tetap bersikap santai. Ia mengambil tisu dan mengusap sudut bibir Kinara dengan lembut.
“Apa yang kamu pikirkan, Baby? Aku akan mengajakmu bermain sampai malam. Tentu tenagamu pun harus kuat, bukan? Memangnya apa yang baru saja kamu pikirkan? Sesuatu yang lain?” godanya, sengaja menyentuhkan ibu jarinya ke bibir Kinara. Entah mengapa menggoda istri mungilnya ini terasa sangat menyenangkan.
Kinara merinding.
Bermain sampai malam ....
Kalimat ambigu macam apa pula itu? Tentu saja ia tahu dengan jelas maksud perkataan suaminya tadi. Namun dengan lihai pria licik itu memutarbalikkan semuanya, seakan-akan dirinyalah yang berpikiran mesum. Benar-benar menyebalkan!
Mata Kinara berkilat, ketika ibu jari suaminya kembali secara sengaja menyentuh bibirnya, ia membuka mulut dan mengul*mnya tak lebih dari satu detik.
Kali ini giliran Alex yang hampir tersedak. Pria itu berdiri tanpa aba-aba lalu berjalan keluar.
“Aku akan memeriksa helikopter,” ujarnya dengan napas memburu.
Kinara terkikik. Ia menutup mulut dengan kedua tangannya untuk meredam suara tawa.
“Rasakan, monster mesum!” desisnya penuh kepuasan.
Lorie terbatuk pelan.
Melihat dari tingkah dua orang ini, apakah mereka berdua telah ....
Oh, ya ampun ....
Tiba-tiba gadis itu ingin membuat surat pengunduran diri. Dirinya yang malang sepertinya tidak bisa menjadi saksi keromantisan tuan dan nyonya Smith.
“Helikopternya sudah datang?” tanya Kinara ketika mendengar mesin menderu dari udara dan semakin mendekat, “Memangnya kita mau ke mana?”
“Tuan akan membunuh saya kalau memberitahu Anda,” jawab Lorie seraya tersenyum lebar.
Kinara mendengkus dan berkata, “Memangnya dia itu mafia, ya?”
Lorie tetap tersenyum lebar. Haruskah ia memberitahunya pada Kinara?
“Ayo, cepat. Sebelum suamiku datang dan menyeret kita ke sana,” ajak Kinara ketika melihat helikopter sudah terparkir di halaman rumahnya. Ia meneguk air putih dalam gelas sampai habis, kemudian berjalan menuju teras.
Benar saja, Alex langsung menyambut dan menuntunnya menuju helikopter.
“Memangnya kita mau ke mana?” teriak Kinara untuk mengalahkan deru mesin.
“Kalau aku memberitahumu sekarang, namanya bukan lagi kejutan,” jawab Alex. Ia naik dan masuk lebih dulu ke dalam heli, kemudian membantu Kinara untuk naik.
“Hati-hati,” ujar pria itu sambil mengangkat tangan dan meletakkannya di atas kepala Kinara ketika istrinya itu akan masuk.
Setelah memasang sabuk pengaman dan memastikan semuanya sudah siap, Alex memberi aba-aba untuk mengudara. Baling-baling berputar cepat, mengangkat badan helikopter dan melaju kencang di seakan ingin menembus cakrawala.
Kinara memerhatikan pemandangan di bawahnya dengan takjub. Ia merasa sangat beruntung dan bahagia.
Semoga semua ini bertahan selamanya, gumamnya dalam hati.
***