Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Bab 132: Baby, bersiaplah.


Hari Selasa yang tenang, semuanya berjalan seperti biasa. Setelah sarapan bersama, Alex ikut mengantar Kinara ke kampus. Hal itu adalah salah satu kebiasaan barunya yang membuat Lorie menahan napas sepanjang perjalanan.


Pria itu sudah memberitahu pada Kinara agar tetap bersikap tenang, tapi juga selalu waspada. Jadi meskipun gugup, Kinara tidak terlalu cemas karena tahu suaminya akan menjaganya dengan sangat baik.


"Aku akan menjemputmu untuk makan siang," ujar Alex ketika Lorie menghentikan mobil di dekat gerbang kampus.


Kinara mengangguk dengan patuh sambil berkata, "Um. Baik."


Alex tersenyum lebar, meraih wajah istrinya dan mencium bibirnya dengan kuat.


"Gadis pintar," pujinya sebelum membuka pintu mobil dan keluar.


Wajah Kinara memerah seperti tomat matang. Ia menurunkan kaca mobil dan ingin memarahi suaminya, tapi pria itu sudah masuk ke dalam mobilnya sendiri dan melesat meninggalkan kepulan debu. Akhirnya wanita itu hanya bisa mengomel pelan sambil menaikkan kembali kaca jendela.


Lorie menarik napas dan melajukan mobil menuju tempat parkir. Ia tidak yakin jantungnya akan kuat bertahan menghadapi keromantisan yang semakin hari semakin menjadi ini. Kemungkinan terburuk adalah ia bisa mengencani anak buahnya sendiri, atau terlibat cinta lokasi dengan mafia yang harus ia eksekusi. Lihat. Otaknya mulai kacau, bukan?


"Lorie, apa yang kamu pikirkan?" tanya Kinara ketika melihat wajah pengawalnya terlihat salah tingkah. Gadis itu terlihat tidak fokus meski mobil sudah berhenti sejak tadi.


"Apa? Oh, tidak ada."


"Kupikir kamu sakit.


" Tidak. Jangan khawatirkan aku," ujar Lorie seraya turun dan membukakan pintu mobil untuk Kinara.


"Terima kasih."


"Hey!" Lorie menahan lengan Kinara dan menunjuk ke bibirnya. "Itu ... em, bibirmu ...."


Kinara menunduk dan memeriksa wajahnya di kaca spion. Raut wajahnya seketika berubah ketika melihat bibirnya seperti baru saja disengat lebah.


"Benar-benar monster," gerutu Kinara sambil mengeluarkan masker dari tasnya.


Beberapa hari terakhir, ia selalu menyiapkan masker di dalam tas untuk berjaga-jaga kalau hal seperti ini terjadi. Selain masker, ada juga syal dan kaos dengan model turtle neck. Sekarang tas ranselnya lebih mirip travel bag dibanding tas untuk ke kampus.


"Sejujurnya, kalian berdua membuatku penasaran--"


"Tutup mulutmu," sela Kinara sambil menatap Lorie dengan mata menyipit. Pengawalnya itu kini semakin sering menggodanya, dan itu semua karena Alex! Huh. Sangat menjengkelkan.


Lorie menyeringai lebar dan mengikuti langkah Kinara yang lebar menuju anak tangga.


"Pelan sedikit, nanti kamu jatuh," ujarnya ketika melihat Kinara melompati dua anak tangga sekaligus.


"Bagus. Kalau aku jatuh--"


"Hai!"


"... oh, hai, Raymond."


Kinara berhenti dan menatap pemuda yang memakai kaos oblong hitam itu. Ini pertemuan pertama mereka sejak berpisah di rumah kabin. Sebenarnya ia bertanya-tanya karena Raymond tidak terlihat di kampus selama beberapa hari terakhir. Pemuda itu tidak menghubungi nomor yang tertera di kartu nama Alex sama sekali, dan hal itu membuat Kinara merasa tidak enak.


"Kamu belum menghubungi asisten suamiku?" tanyanya.


"Ponselku rusak," jawab Raymond sambil menyentuh ujung hidungnya sekilas.


"Oh," ujar Kinara dengan tatapan penuh kecurigaan.


Ia menaikkan satu alisnya dan menatap Raymond lekat-lekat. Tidak mungkin putra seorang wali kota hanya memiliki satu ponsel, 'kan? Bukankah pemuda itu juga bisa menggunakan telepon rumah? Ah, sudahlah. Ia tidak mau terlalu ambil pusing. Kalau pemuda itu tidak menginginkan ganti rugi, ya sudah.


"Kalau begitu, datanglah untuk makan malam akhir pekan ini. Ajak kekasihmu, oke?" undang Kinara seraya mengedipkan matanya.


Raymond tertegun dan tergagap, "A-apa?"


"Datanglah untuk makan malam bersama kekasihmu," ulang Kinara.


Raut wajah Raymond mendadak mendung, meski begitu, ia tetap berusaha menampilkan senyuman terbaiknya dan berkata, "Akan aku usahakan untuk datang."


Seketika wajah Kinara menjadi berbinar dan penuh semangat. Ia maju dan menggenggam tangan Raymond dengan hangat.


"Aku sangat tidak sabar menunggu akhir pekan nanti!" serunya.


Raymond melihat tangan Kinara yang melingkupi punggung tangannya dengan sorot yang sulit diartikan. Sentuhan biasa itu mampu memporak-porandakan hatinya yang sudah susah payah ia tata sejak tiga hari lalu.


"Ya, aku juga," kata Raymond.


Kini ia mengalihkan pandangannya dan menatap wajah Kinara.


"Kamu sakit?" tanyanya.


"Sakit?" Kinara membeo. "Siapa yang sakit?"


Lorie yang sejak tadi menyaksikan semua adegan di hadapannya sambil menahan napas, akhirnya ikut bersuara.


"Dia baru saja berciuman dengan suaminya sepanjang perjalanan dari rumah sampai ke kampus, sekarang bibirnya bengkak," jelasnya dengan wajah datar.


"Lorie!" Kinara memelototi pengawalnya. "Kamu ... kamu ...."


Lorie mengbaikan tatapan Kinara yang hampir menusuk jantungnya itu dan kembali berkata pada Raymond, "Sudah puas, bukan? Kalau sudah, biarkan kami pergi."


Tanpa menunggu pemuda itu menjawab, Lorie segera menyeret tangan Kinara untuk menuju kelasnya. Entah mengapa ia selalu memiliki dorongan untuk mengamuk setiap kali melihat Raymond mendekati Kinara.


Dasar bocah tidak tahu malu. Jelas-jelas istri orang, masih saja diganggu!


"Kamu sangat menyebalkan!" desis Kinara sambil berusaha melepaskan cekalan pada tangannya.


"Lebih baik begitu daripada tuan mengamuk."


Lorie menoleh ke belakang untuk memastikan jarak mereka sudah cukup jauh dari Raymond. Setelah yakin pemuda itu sudah tidak terlihat, ia melepaskan tangannya dan membiarkan Kinara berjalan sendiri.


Kinara mendesis kesal dan berkata, "Alex tidak akan marah tanpa alasan. Aku 'kan hanya ingin ... tunggu, kenapa wajahmu seperti orang yang sedang cemburu begitu?"


"A-apa maksudmu? Jangan mengada-ada!" Lorie memalingkan wajahnya dengan gugup. "Cemburu apanya?"


"Kamu menyukai Raymond?"


"Tidak!" sangkal Lorie cepat. Secepat debaran dalam jantungnya yang menggila.


"Aku tidak cemburu, hanya kesal saja. Itu 'kan beda," sambungnya lagi.


Tiba-tiba semua rasa kesal Kinara menguap. Kini ia terkikik geli seraya menatap wajah Lorie yang bersemu merah muda.


"Kesal karena cemburu?" tanyanya lalu terbahak puas. Akhirnya ia bisa balik mengerjai pengawalnya ini.


"Kesal karena dia terus mengganggumu."


Kinara terkekeh-kekeh, kemudian memeluk Lorie erat-erat dan berkata, "Itu namanya cemburu, Lorie-ku tersayang ... ah, aku sangat senang ... ternyata hatimu masih berfungsi dengan baik."


"Aku benar-benar sangat senang. Aku mendukungmu! Semangat!" sambungnya lagi sebelum masuk ke ruang laboratorium.


Lorie masih terpaku di tempatnya meski Kinara telah lama meninggalkannya. Setelah bisa kembali berpikir dengan jernih, gadis itu menekan dadanya dengan tangan kanan. Debaran di dalam sana masih juga belum reda.


Rasanya waktu Benji melakukan hal yang sama, aku tidak memberikan reaksi seperti ini. Apa ada yang salah dengan diriku?


***


Alex meneliti blue print yang terhampar di atas meja untuk yang ke sekian kali. Ia tidak ingin ada yang meleset atau gagal. Jangan sampai ada kesalahan sekecil apa pun karena nyawa Kinara menjadi taruhannya.


"Periksa kembali semua amunisi, keamanan rute darurat untuk istriku, juga kesiapan rencana cadangan jika semua tidak berjalan lancar," perintahnya pada tiga orang pria yang berdiri tegap di hadapannya.


"Baik, Tuan," jawab para pria itu serempak.


"Jika istriku tidak selamat, maka tidak ada satu orang pun dari kalian yang akan tetap hidup. Mengerti?"


"Mengerti, Tuan."


"Bagus."


Pria itu bangun dari kursinya dan meraih long range sniper DXL-3 miliknya yang bersandar di sisi meja. Ia berjalan menuju jendela dan membidik gedung yang berjarak kurang lebih tiga kilometer dari Jotuns Corps. Bangunan setinggi 42 lantai itu ternyata sangat dekat. Selama ini musuhnya berada tepat di depan matanya setiap kali ia berdiri di dekat jendela, dan ia baru mengetahui hal itu sekarang.


Pasti bedeba*h itu menganggap dirinya sangat pintar. Cih!


"Tuan Muda," panggil salah satu pengawal yang berada dalam ruangan itu, "Tuan Billy mulai bergerak."


"Awasi terus pergerakannya dan laporkan padaku."


"Baik."


Alex mengambil ponselnya dan mengirimkan pesan pada Kinara:


Baby, bersiaplah.


Siap atau tidak, musuh datang. Yang harus mereka lakukan adalah bekerja sama dalam tim. Lagipula, ia cukup yakin istrinya bisa melakukan tugasnya dengan baik.


Baby, mari bertarung bersama....


***