
Setelah mendapat penanganan jarak beberapa menit gadis yang mencoba melakukan adegan percobaan bvnvh diri itu akhirnya sadar juga. "Yes! Akhirnya, rencanaku berhasil juga, inilah yang memang aku inginkan bisa keluar dari istana yang bagaikan penjara itu," gumam Tara membatin.
Kini gadis itu terlihat mencabut selang infus dengan sangat kasar tanpa takut sedikitpun. "Aku harus bisa kabur dari sini, sudah cukup aku berlagak seperti orang bo doh di rumah itu. Selalu saja ditekan untuk selalu patuh pada laki-laki yang sangat menyebalkan itu." Tara perlahan mulai turun dari bed kareena tujuan gadis itu saat ini harus bisa kabur dari sana secepatnya dan menceritakan segalanya kepada sang ibu, wanita yang tidak mungkin menganggapnya berbohong. "Semoga saja, laki-laki itu tidak menyuruh bodyguardnya berjaga di depan," ucap Tara sambil memegang lehernya yang sudah di perban.
"Tidak sia-sia aku melakukan ini, ternyata ini salah satu cara agar aku bisa kabur. Kamu memang sangat pintar Tara." Gadis itu terus saja berbicara kepada dirinya sendiri. "Gio, aku akan mengadukan kamu pada Mama dan Papaku." Saat Tara masih saja berbicara sendiri, tiba-tiba saja ia malah melihat gagang pintu itu bergerak itu menandakan bahwa akan ada yang masuk. Tara yang panik dan mengira itu adalah Gio dengan cepat kembali naik ke atas bed.
"Aduh, gimana ini ? Apa yang harus aku lakukan? Mana tadi infusku sudah aku cabut," kata Tara yang tidak lama lalu memiliki sebuah ide dan pada saat itu juga ia langsung saja berbaring dan memegang selang infus yang tadi ia cabut, kemudian dengan cepat menutupnya menggunakan selimut. Bersamaan dengan itu ia langsung memejamkan mata. Detik berikutnya ia malah mendengar suara ibu mertuanya yang sudah terisak.
"Apa yang kamu lakukan Gio? Kenapa menantu Mommy bisa terluka begini?" tanya Lydia dengan lelehan air mata yang membanjiri kedua bola mata wanita itu.
"Mom, aku tidak melakukan apa-apa. Tara saja yang nekat dan anaknya sangat bo doh," jawab Gio tutup poin. Sebab ia tidak mungkin bisa berbohong dengan sang ibu. Karena rupanya Lydia melihat Gio membawa Tara ke rumah sakit saat wanita itu akan pergi ke rumah temannya. Akan tetapi, karena gelagat Gio yang mencurigakan oleh sebab itu ia mengikuti sang putra. "Sudah Mommy katakan ambil hati Tara, dan dengan begitu kamu tidak usah memaksanya seperti ini. Jika ujung-ujungnya dia akan melakukan hal yang sangat di luar dugaan, dimana dia malah nekat," ujar Lydia memperingati Gio. "Ini yang tidak Mommy inginkan, kamu malah hampir membuat nyawa menantu kesayangan Mommy melayang."
Gio yang tidak terima kalau ia disalahkan dengan cepat berkata, "Mom, aku sama sekali tidak melakukan apa-apa pada Tara, maka dari itu jangan salahkan aku, dalam hal ini karena aku juga tidak tahu kalau Tara akan senekat ini."
Lydia mengusap air matanya supaya pandangan wanita itu tidak buram, karena saat ini wanita itu ingin melihat wajah pucat sang menantu. "Meski ini bukan salah kamu, tapi Mommy akan tetap menyalahkan kamu, Gio. Karena kamu yang tidak bisa mendapatkan hati Tara, padahal ini sudah satu bulan lamanya kamu menikah dengannya."
"Aku mencintai Avantika, bukan Tara," ucap Gio tiba-tiba. Sehingga membuat Lydia menoleh ke belakang hanya untuk melihat putranya yang malah berkata seperti itu. "Iya, Mom, aku mencintai Avantika bukan Tara. Tapi ... itu dulu, kalau sekarang hatiku sudah tertutup. Dan tidak ingin mencintai lagi jika wanita itu hanya datang kepadaku demi menginginkan harta kita saja. Termasuk gadis yang saat ini Mommy tangisi." Gio menunjuk Tara dengan mata. "Gadis ini juga ternyata memandang kasta," sambung Gio.
"Bagaimana aku menjelaskannya kepada Mommy, sedangkan saat ini aku juga tidak mengerti apa maksud dan tujuanku menikah dengan Tara. Gadis yang keras kepala yang hanya mau menang sendiri ini. Dan apa Mommy tahu? Selama satu bulan ini dia sama sekali tidak pernah aku sentuh."
Gio hanya berani mengatakan ini kepada Lydia karena ia tahu sang ibu tidak akan pernah mengolok-ngolok dirinya. Yang akan mengatakan kalau dirinya g*y. Sebab Gio adalah laki-laki langka yang bisa bertahan tidak menyentuh istrinya sama sekali. Padahal ini sudah satu bulan lamanya ia dan Tara menikah. "Bagaimana juga aku bisa mendapat anak darinya, jika dia terus saja begini." Gio terlihat sangat berputus asa saat ini. Karena bisa-bisa rencananya dan Lydia gagal.
"Berusahalah, supaya apa yang telah kita rencanakan ini tidak gagal," balas Lydia menimpali sang putra. "Rencana kita ini tidak boleh gagal," lanjutnya lagi.
Tanpa mereka tahu Tara mendengar semua yang telah mereka katakan saat ini. Membuat gadis yang berpura-pura memejamkan matanya itu sangat penasaran. Karena ia ingin tahu apa yang direncanakan oleh Gio dan Lydia. "Rencana apa yang mereka maksud? Sungguh aku sangat penasaran kali ini," gumam Tara di dalam benaknya yang saat ini berusaha untuk tetap terlihat masih belum sadar.
"Adik kamu juga Sera, terus saja bertanya tentang siapa Tara. Lama-lama Mommy bisa saja keceplosan tentang kamu yang sudah menikah," kata Lydia saat tadi ia sempat terdiam beberapa detik. "Mommy benar-benar bingung, Mommy ingin memberitahu adik kamu itu. Tapi Daddy kamu malah melarang Mommy."
"Aku sangat sayang dengan Sera, tapi kenapa kasih sayangku malah dianggap seperti kasih sayang layaknya seperti pasangan kekasih?" Gio menghembuskan nafas pelan. "Sera itu aku anggap sebagai adikku sendiri, tapi kenapa anak itu malah menaruh rasa padaku?" Gio rupanya tahu kalau sebenarnya Sera memiliki rasa kepadanya. Bukan rasa sebagai adik ke kakaknya, melainkan perasaan sebagai pasangan kekasih. "Ini semua benar-benar membuatku, menjadi semakin pusing. Mom."
"Mommy akan mencoba berbicara dari hati ke hati dengan adik angkatmu itu. Semoga saja dia bisa mengerti," timpal Lydia. "Kalau begitu Mommy pergi dulu, kamu tolong jaga Tara disini, nanti kalau dia sudah sadar hubungi Mommy dengan cepat. Tapi … semua ini tidak boleh diketahui oleh Daddy kamu."
"Aku sudah menyuruh Gavin untuk memastikan bahwa Daddy tidak boleh tahu akan hal ini. Jadi, Mommy tenang saja." Gio berusaha meyakinkan sang ibu.