
Alex tiba di rumah setelah hampir tengah malam. Proses penyelamatan keluarga Maureen--pelayannya yang menukar isi kotak kado Kinara--berjalan cukup dramatis. Pasukan yang dikirim olehnya hampir terlambat melakukan aksi heroik itu. Dua orang anak Maureen sedang diseret menuju sebuah van putih di depan rumah mereka, sedangkan suaminya dicegat dalam perjalanan sepulang kerja. Untungnya mereka bertiga bisa diselamatkan. Gerombolan penyerang itu tidak ada yang selamat. Sebagian tewas di tangan pasukan Alex, sisanya memilih untuk bunuh diri.
Lampu kamar telah padam ketika Alex masuk rumah. Namun, ketika ia mendorong pintu hingga menutup kembali, suara gemerisik terdengar dari atas kasur.
"Kamu sudah pulang?" tanya Kinara dengan wajah mengantuk.
Gadis itu mengucak mata dan menyingkirkan selimut yang menutupi tubuhnya. Tungkai jenjangnya menjejak ke lantai dan berjalan menghampiri suaminya dengan sedikit terhuyung.
"Sudah makan? Mau mandi dulu? Jam berapa sekarang?" tanyanya beruntun tanpa menunggu jawaban suaminya.
Mau tak mau, seulas senyum simpul terukir di wajah Alex. Istrinya itu itu terlihat seperti peri yang sedang mabuk, bersinar dan melayang dalam kegelapan. Lekuk tubuhnya dalam balutan gaun tidur terlihat sangat jelas meski dalam cahaya yang temaram. Gaun sutra itu membingkai tubuh Kinara dengan pas. Rambutnya yang sedikit acak-acakan dan suara yang serak berhasil membuat Alex kehilangan fokus.
"... Alex?"
Kinara mengerjap dua kali untuk memaksa kesadarannya terkumpul sepenuhnya. Entah mengapa ia merasa suaminya itu sedang menelanj*nginya dengan tatapan yang membara dan ... ah, tidak mungkin 'kan?
"Aku membangunkanmu?" tanya Alex tanpa mengalihkan tatapan dari sosok memikat di hadapannya. Semakin dilihat, istrinya itu semakin manis dan memesona. Ia sangat ingin merengkuh tubuh mungil itu dan ....
"Kenapa aku merasa seakan kamu sedang memelototiku?" bisik Kinara dengan wajah kebingungan. Seketika kantuknya menghilang. Meski dalam keadaan gelap dan tatapan Alex terlihat kosong, tetapi perasaan aneh ini sangat mengganggunya.
"Apa? Aku tidak--"
"Aku tahu. Itu pasti hanya perasaanku saja," sela Kinara. Ia mengarahkan kursi roda suaminya ke dekat tempat tidur. "Sudah makan?" tanyanya.
"Sudah. Aku hanya ingin beristirahat sekarang. Bisa bantu aku naik?"
"Tentu."
Gerakan yang Kinara latih untuk memindahkan suaminya dari kursi roda ke atas ranjang terlihat semakin mahir. Tentu saja latihan fisik di sasana berpengaruh cukup besat dalam perubahan yang signifikan itu.
"Kamu semakin cekatan," puji Alex. Ia pun menyadari perubahan pada istrinya itu. Dulu, Kinara selalu mengatainya b*bi gendut setiap kali membantu memindahkannya dari atas kursi roda. Kali ini, deru napas gadis itu pun terdengar tetap stabil.
Suara tawa tertahan bersamaan dengan gerakan Kinara berbaring di sisi suaminya. Ia menumpu kepala dengan tangan kanan. Seringai lebar masih tercetak di wajahnya saat memerhatikan wajah Alex yang berbaring setengah bersandar pada dipan. Dalam cahaya remang-remang seperti ini, pria di hadapannya itu terlihat seperti seorang pangeran yang baru saja keluar dari dalam lukisan. Warna kulitnya yang putih sangat kontras dengan kemeja hitam yang dipakainya.
"Itu karena kamu memaksaku pergi ke sasana. Jika maksud pujianmu tadi adalah agar aku berterima kasih padamu, maka ... tidak akan. Aku tetap kesal karena kamu memaksaku melakukan hal itu," jelas Kinara tanpa menghilangkan senyuman di wajahnya.
Semua gerakan dan tutur kata gadis itu membuat Alex semakin terpikat. Ia menyentuh tangan kiri gadis itu dan menempelkannya ke bibir. Kecupan ringan dan lembut mendarat di punggung tangan Kinara, kemudian berpindah ke telapak tangannya.
"Kamu semakin cerewet dan berani," kata Alex, "Siapa yang mengajarimu? Hum?"
"Aku belajar dari guru yang tepat," canda Kinara.
"Siapa?" tanya Alex tak mengerti, akan tetapi sebuah kesadaran melingkupinya dengan cepat, "Aku?"
Gadis itu terkekeh dan berkelit ketika Alex menggeram dan berusaha menyerangnya. Akhir-akhir ini ia lebih banyak tertawa ketika bersama suaminya. Pria itu selalu membuatnya merasa nyaman dan merasa dilindungi. Tadi ia hanya bergurau ketika mengatakan kesal karena Alex memaksanya pergi ke sasana. Sejujurnya, sejak pergi ke sana, kemampuan fisik dan motoriknya meningkat drastis. Tentu saja hal itu sangat berguna baginya.
"Terima kasih," ucap Kinara pelan. Ia berguling dan kembali mendekat pada suaminya. "Terima kasih sudah memaksaku berlatih ...."
Gadis itu memejamkan mata dan menghidu aroma tubuh yang kini sangat akrab dengan indera penciumannya. Rasanya sangat menenangkan. Dada pria yang sedang memeluknya ini seakan menjadi tempat berlindung yang paling aman dan nyaman.
Alex mengusap puncak kepala Kinara dengan lembut. Perlahan membelai rambut gadis itu hingga ke pundak, lalu kembali lagi dari atas. Seringai lebar membuat sudut-sudut bibirnya tertarik ke atas. Rasa lelah karena seharian menginterogasi tawanan seketika hilang, menguap begitu saja, pergi entah ke mana. Berada di dekat istrinya selalu memberi energi positif pada tubuhnya. Setiap kali, ada semacam rasa tak asing yang sulit untuk ia jabarkan. Seakan kedekatannya dengan gadis ini telah terjalin sejak kehidupan sebelumnya.
Mata Kinara telah hampir terpejam ketika suara serak dan dalam milik suaminya mengantarkan hawa panas di wajahnya.
"Aku yang seharusnya berterimakasih, kau menyelamatkanku tiga kali, itu tidak sebanding dengan apa yang kuberikan untukmu," ujar Alex pelan, lalu melayangkan sebuah kecupan di puncak kepala istrinya.
"Empat kali," sanggah Kinara dengan mata setengah terpejam.
"Apa maksudmu?"
"Sebenarnya, aku menyelamatkanmu empat kali," ulang Kinara, masih dengan mata setengah terpejam. Ia sudah sangat mengantuk. Antara sadar dan tidak sadar, pengakuan itu lolos begitu saja dari mulutnya.
Alex kebingungan. Ia berpikir keras hingga kedua alisnya bertaut. Seingatnya, gadis dalam dekapannya inilah yang menyelamatkannya dari jurang kematian di Mountains Spring, menghindarkannya dari serangan di rumah sakit, juga bersedia menjadi pengantin pengganti untuknya. Itu adalah tiga kali bantuan. Kapan bantuan keempat diberikan?
"Mountain Spring, rumah sakit, menikahiku. Katakan, mana yang keempat?"
"Hm? Apa?"
"Mana yang keempat?" desak Alex dengan penuh rasa ingin tahu.
"Oh ... kamu tidak akan percaya kalau aku mengatakannya," jawab Kinara setengah berbisik. Lagipula saat ini otaknya serasa berkabut, tidak dapat memilah informasi dengan benar. Kelopak matanya seperti digantungi batu, berat dan pedih. Ia benar-benar mengantuk, tapi Alex terus mengajaknya bicara.
"Katakan," bujuk Alex, masih belum mau menyerah. Pernyataan istrinya ini memicu sesuatu dalam memorinya. Sesuatu yang tersimpan rapat dalam sebuah kotak tanpa kunci. Ia tidak bisa membukanya. Tidak bisa mengingatnya.
"Kau akan tahu suatu saat nanti. Tidurlah. Aku mengantuk sekali ...."
Suara Kinara semakin pelan, hampir menyerupai desahan samar. Kini kelopak matanya telah terkatup erat. Embusan napas yang teratur seirama dengan gerakan naik-turun dadanya.
Bukit ranum yang menyembul dari balik gaun tidur itu membuat Alex memikirkan sesuatu. Pikiran yang belakangan sering muncul ketika ia sedang bersama wanitanya ini. Ia merapikan anak rambut Kinara dan menyusupkannya ke balik telinga.
Perlahan Alex menunduk dan berbisik di dekat wajah istrinya, "Kinara Lee, apakah kamu menginginkan seorang bayi?"
"Katakan, apakah kamu ingin memiliki seorang bayi?" bujuk Alex dengan wajah hampir menempel di pipi Kinara.
Kelopak mata Kinara bergetar. Tak lama kemudian, gumaman pelan meluncur dari bibir mungilnya, "Hmm ... bayi? Aku ingin bayi ...."