Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Bab 77: Petunjuk (mengandung adegan kekerasan)


"Tuan, salah seorang pelayan berusaha menyelinap keluar ketika Anda dan nyonya pergi tadi pagi. Kami sudah menahannya," lapor seorang bodyguard begitu Alex tiba di rumah.


Alex mengurungkan niatnya untuk masuk. "Bawa aku ke sana," perintahnya.


"Alex ...." Kinara menyentuh lengan suaminya. "Kamu--"


"Pergilah istirahat," sela Alex.


Pria itu tidak ingin istrinya ikut terlibat dalam hal-hal yang berbahaya. Lebih sedikit yang gadis itu ketahui, lebih baik pula untuk keselamatannya.


"Hati-hati," pesan Kinara.


Ia menarik kembali tangannya dan berjalan masuk. Melihat kekejaman pria itu ketika memberi hukuman pada Lorie sudah cukup membuatnya ngeri. Ia tak dapat membayangkan apa yang akan terjadi pada pelayan yang mungkin telah menukar kotak kadonya itu. Gadis itu hanya dapat menghela napas panjang ketika deru mobil suaminya terdengar meninggalkan halaman.


Insiden tadi membuat Kinara mempertanyakan segalanya. Apakah Benji sengaja menjebaknya? Untuk apa? Mengapa pemuda itu sangat ingin memisahkannya dengan Alex? Siapa yang menyuruhnya?


Rasa simpati dan terima kasih karena pemuda itu pernah menyelamatkannya pun perlahan memudar. Bisa jadi, Benji sendiri yang menyusun penyerangan terhadap dirinya waktu itu, bukan?


Semakin dipikir, kepala Kinara terasa semakin pening. Semua ini terlampau rumit.


"Semoga semua masalah ini cepat selesai," harapnya.


***


Suara lolongan yang menyayat hati menyambut Alex ketika ia memasuki pintu "Red Room", begitu ia menyebutnya. Ruangan khusus untuk menginterogasi tawanan-tawanannya. Di sini, ada lebih dari tiga lusin pasukannya bertugas membuat siapa pun yang berhasil mereka tangkap untuk memberi informasi. Orang-orang ini memang dilatih khusus untuk itu. Mereka tersebar di dalam ruangan-ruangan yang berbeda. Namun, ruangan utama adalah pintu bercat merah ini. Di sini, segala cara diperbolehkan untuk membuat tawanan yang diinterogasi membuka mulut.


Di sudut ruangan, Alex melihat pria botak yang belakangan baru diketahui bernama Neil bersimpuh dengan tangan terentang ke atas, terikat kuat pada rantai besi yang membelenggunya. Seorang bodyguard sedang memegang sebuah alat kejut listrik dan menempelkannya di kepala pria itu.


Kondisi Neil sangat mengenaskan. Mata kanannya rusak parah, sedangkan permukaan kulitnya mengelupas di sana-sini. Sisa-sisa darah yang mengering meninggalkan bercak merah kehitaman di celana dan lantai. Bobot tubuh pria itu menyusut drastis sejak terakhir kali Alex melihatnya.


Sang bodyguard menghentikan aktivitasnya ketika melihat Alex masuk. Ia berjalan menghampiri majikannya dan melapor, "Pria itu masih belum mau berbicara, Tuan."


Alex mencibir sinis. "Jangan biarkan dia mati. Aku ingin tahu berapa lama dia bisa bertahan."


"Baik," jawab bodyguard itu seraya mengangguk dengan patuh.


"Di mana pelayan itu?" tanya Alex, bertingkah seolah ia tidak melihat seorang wanita yang terikat di sebelah Neil.


"Ada di sini, Tuan," jawab bodyguard yang berdiri di sisi wanita itu. Ia menarik rambut sang pelayan hingga suara erangan tertahan keluar dari mulut wanita itu.


"Siapa yang menyuruhmu?" bentaknya.


Wanita itu bungkam, tapi terlihat berusaha melawan. Embusan napasnya terdengar kasar dan terputus-putus. Alex tahu, sebenarnya dia sedang ketakutan setengah mati. Siapa yang tidak gentar berada satu ruangan dengan orang yang sedang disiksa habis-habisan? Alex memang sengaja meminta wanita itu diletakkan satu ruangan dengan Neil untuk menjatuhkan mentalnya. Dengan begitu, dia akan lebih mudah ditaklukkan.


"Mengapa kamu menukar isi kotak kado yang dibawa istriku?" tanya Alex dengan tenang.


"Bukan aku," elak wanita itu. Ia menurunkan pandangan matanya, tidak berani menatap wajah majikannya meski tahu pria itu tidak bisa melihat. Entah mengapa, aura pria di hadapannya ini terasa sangat berbeda.


Alex mendengkus. "Jangan membuang waktuku. Pengawalku tidak akan salah menangkap orang. Katakan, siapa yang menyuruhmu."


Nada suara Alex masih terdengar tenang dan datar. Meski begitu, nada suara itu sanggup membuat siapa saja yang mendengarnya merasa gentar.


"B-bukan aku."


Pelayan itu masih mencoba menyangkal. Ia tidak bisa memberitahu siapa yang membayarnya. Kalau ia membuka mulut, seluruh keluarganya akan mati.


"Jangan menguji kesabaranku," cetus Alex, "Siapa yang mengirimmu?"


Sekonyong-konyong, suara kekehan penuh hinaan menggema dalam ruangan. Kening Alex mengernyit ketika melihat tubuh Neil bergetar akibat tawanya itu. Ekspresi pria itu terlihat sangat mencemooh. Wajah Alex menggelap ketika menyadari pria itu sedang menertawakannya.


"Kau sangat lucu, kau tahu?" ejek Neil, "Kau berlari ke sana-sini, berusaha mencari tahu siapa yang menginginkan nyawamu, tapi kuberi tahu kau satu hal. Kau tidak akan berhasil. Pria ini, dia lebih hebat darimu. Dia adalah penguasa dari neraka. Bahkan iblis pun merasa takut padanya."


Neil terkekeh pelan sebelum menjawab, "Itu karena dia masih ingin bermain-main denganmu. Saat dia sudah bosan, dia akan menghabisimu seperti seekor semut yang tidak berdaya."


"Begitukah?" Alex mengetuk-ngetuk kursi roda dengan telunjuknya. "Jadi kalian tidak akan mengatakan apa-apa?"


"Aku lebih baik mati daripada memberimu apa yang kau inginkan," tegas Neil.


"Ambil peralatan nomor dua belas," titah Alex pada pengawalnya.


Dua orang bodyguard segera membuka kotak kaca dan mengambil alat yang berada dalam kotak nomor 12.


Neil bergeming ketika sang bodyguard berjalan ke arahnya. Ia dilatih untuk menahan rasa sakit. Untuk itu, ia akan menerima semuanya hingga akhir. Meskipun saat ini dia lebih memilih mati daripada hidup. Paling tidak, kematian tidak memberikan rasa sakit.


"Emph!"


Otot-otot di sekujur tubuh pria itu menegang saat gunting raksasa memisahkan buku-buku jemarinya satu per satu. Geligi dan rahangnya terkatup rapat hingga urat di pelipis dan lehernya menonjol seakan hampir pecah.


Krak.


Krak.


Krak.


Bunyi gunting beradu dengan tulang menghasilkan suara berderak yang nyaring.


"F*ck you!" umpat Neil ketika melihat potongan-potongan jarinya bergelimpangan di atas lantai. Rasa perih dan berdenyut menghantam syaraf dan indera perasanya.


"Bicaralah, kalau kau tidak ingin bernasib sama sepertinya," tegur Alex pada pelayan wanitanya yang kini berwajah pias.


"Bukan aku. Aku tidak tahu apa-apa. Anda telah salah menangkap orang, Tuan."


Kesabaran Alex habis sudah mendengar penyangkalan itu.


"Beri dia pelajaran!" perintahnya.


Wanita yang masih memakai seragam pelayan itu melotot ketakutan ketika melihat gunting raksasa kini dibawa ke arahnya. Dua orang bodyguard di sisi kanan dan kirinya memegang telapak tangannya erat-erat, meluruskan jemarinya yang berusaha ia kepalkan. Namun, upayanya sia-sia, kekuatannya tidak sebanding dengan kekuatan pria-pria yang memeganginya.


"T-tidak ... ti-dak ... b-bukan aku, bukan ... Aarghh!"


Teriakan penuh kesakitan bergema dalam ruangan itu ketika satu ruas telunjuk wanita itu jatuh ke atas lantai. Tangan kanannya berlumur darah. Air matanya menetes deras. Ia menggigit bibir sekuat tenaga untuk meredam rasa sakit. Namun, jeritan yang menyayat hati terdengar lagi ketika satu ruas jari tengahnya terlepas dari persendian.


"Katakan, siapa yang membayarmu."


"Saya tidak tahu," jawab wanita itu dengan napas tersengal, "Saya hanya diberi perintah untuk menukar isi kotak hadiah dengan foto-foto itu."


"Dari mana kamu mendapatkan foto itu?"


"Tidak tahu. Ada di depan pintu rumah saya, tadi malam. Lengkap dengan instruksi apa yang harus saya lakukan. Kalau tidak ... keluarga saya akan dibunuh."


Air mata kembali mengalir di pipi wanita itu. "Saya mencoba memberitahu pengawal Anda, tapi kemudian ... kemudian ... putra saya menghilang tadi pagi. Saya tidak tahu harus bagaimana. Maafkan saya, Tuan ... maafkan saya ...."


Neil kembali tertawa mengejek. "Keluargamu sudah mati. Semuanya sudah mati," ujarnya tanpa menoleh pada wanita di sampingnya.


"Tidak! Tidak boleh! Tuan, tolong selamatkan keluarga saya! Tolong, Tuan! Selamatkan mereka! Saya mohon," racau wanita itu.


"Pergi ke rumah wanita ini, bawa semua anggota keluarganya ke tempat perlindungan."


Alex memberi perintah pada anak buahnya. Kalau wanita ini bisa memberi sedikit petunjuk, semuanya bisa menjadi lebih mudah untuk dipecahkan.