Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Bab 111: Hai, Alex.


“Kau lihat, wanita licik itu jelas-jelas ingin memprovokasiku di depan granny!” seru Kinara setelah mengempaskan bokongnya dengan cukup keras di bangku penumpang, “Aku sampai lupa memakan sup yang sudah disiapkan oleh Alex. Benar-benar menyebalkan!”


Lorie melirik majikan yang sudah seperti sahabatnya itu dari kaca spion, lalu mengangkat tangan kirinya yang memegang tas jinjing berwarna hitam.


“I got you,” ujarnya seraya menyeringai lebar.


“Kamu membawakannya untukku?” tanya Kinara tidak percaya.


“Yeah, aku ke dapur dan membungkusnya ketika kamu sedang beradu akting dengan dua orang itu.” Lorie mengepalkan tangan kanannya dan menepukannya ke bahunya dengan bangga. “Thank me latter.”


“Oh, Lorie, kamu memang penyelamatku. Aku menyayangimu!” pekik Kinara seraya mengguncang bahu Lorie.


Lorie memutar bola matanya dan menjaga kemudi agar tetap stabil dan berkata, “Hentikan. Tingkahmu itu bisa membunuh kita berdua.”


Kinara mencebik dan kembali duduk dengan tenang. Ia menatap gedung dan pertokoan yang seperti sedang mengejarnya dari luar mobil. Mengapa ia dan Alex tidak bisa hidup dengan tenang? Mengapa selalu ada saja masalah, satu per satu terus berdatangan. Selain itu, orang-orang yang muncul dan membawa masalah ini sepertinya diatur oleh seseorang. Awalnya Benji, lalu Jericho ... setelah Jericho gagal, Jessica langsung kembali. Bukankah ini sedikit aneh?


Bagaimana Jessica bisa berada di kota yang sama dengannya dan Alex kemarin, itu juga pasti bukan sebuah kebetulan. Rasanya terlalu mustahil ada kebetulan yang bisa sangat pas seperti itu, kecuali sudah diatur, bukan? Masalahnya, siapa orang itu?


“Huh! Dari London apanya?” gerutu Kinara hampir menyerupai gumaman tidak jelas.


“Apa?” tanya Lorie seraya menoleh ke arah Kinara.


“Tidak ada,” jawab Kinara cepat, “Oh, ngomong-ngomong, sudah berapa lama kamu menjadi pengawal Alex?”


“Aku? Sudah hampir sepuluh tahun. Ada apa?”


“Kamu tidak mengenal wanita tadi?” Kinara benar-benar penasaran. Mengapa Lorie tidak langsung mengenali wanita berambut merah tadi.


“Siapa? Jessica?”


Kinara mengangguk.


“Setelah diselamatkan oleh tuan, aku tidak pernah keluar markas selama kurang lebih tiga tahun untuk masa pelatihan. Setelah itu, aku ditugaskan berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain, menyelidiki, menginterogasi, kau tahu ... hal-hal semacam itu. Kemudian tuan memanggilku pulang untuk menjagamu. Lagipula, selain hal yang berkaitan dengan keselamatan tuan Alex, aku tidak mau ikut campur tanpa diminta,” jelas Lorie panjang lebar.


“Begitu rupanya ....” Kinara menatap Lorie dengan sungguh-sungguh. “Menurutmu, apakah kemunculan Jessica yang tiba-tiba ini tidak mencurigakan?”


Lorie cukup terkejut mendengar pertanyaan Kinara. Sejujurnya, ia sudah curiga ketika Jessica mendadak muncul bersama Brenda Smith, tetapi ditepisnya perasaan itu. Namun, ketika tadi Jessica mengatakan bahwa ia mengunjungi kota yang sama dengan tempat Alex mengajak Kinara berkencan, ia langsung mengirim pesan pada anak buahnya untuk memeriksa latar belakang wanita itu. Sekarang hanya tinggal menunggu hasilnya saja. Meski begitu, ia tidak mau mengatakannya pada Kinara. Ia tidak ingin membuatnya semakin cemas.


“Apa yang membuatmu berpikir seperti itu?” tanya Lorie setelah terdiam cukup lama.


“Tidak mungkin itu hanya kebetulan. Alex sempat mengejar bayangannya di bawah bianglala. Aku pikir kemarin dia hanya sedang memeriksa, sebesar apa suamiku masih mengingat atau menyukainya. Tentu saja hal itu pasti sudah diatur oleh seseorang. Tidak mungkin jika tidak demikian.”


Lorie hampir berdecak kagum atas hasil pengamatan Kinara. Pantas saja tuan muda Alex tergila-gila pada wanita ini. Kemampuan menganalisanya bisa dibilang di atas rata-rata.


“Kamu tenanglah, jangan cemas. Aku akan memeriksanya untukmu,” ujarnya untuk menenangkan Kinara.


“Benarkah?” Mata Kinara berbinar-binar. “Terima kasih!”


“Jangan terlalu senang dulu, siapa tahu itu memang benar-benar suatu kebetulan,” sela Lorie ketika melihat Kinara sudah terlalu bersemangat.


“Tidak,” sanggah Kinara, “Wanita licik itu sangat manipulatif, ia bisa memutarbalikkan fakta dengan sangat baik. Kamu harus berhati-hati saat memeriksanya.”


Lorie memutar stir dan memasuki halaman kampus. “Dari mana kamu tahu semua itu? Kalian pernah bertemu sebelumnya?”


Kinara mengangkat bahunya sebelum menjawab, “Sudah lama sekali. Hanya satu kali, tapi aku tahu karakter manipulatif seperti itu tidak akan mudah berubah.”


“Kamu benar.”


Lorie cukup setuju dengan pernyataan Kinara barusan. Berdasarkan pengalamannya sendiri, orang-orang yang memiliki karakter seperti itu cenderung akan membuat orang-orang di sekitar mereka mempercayai apa pun yang mereka ucapkan, bahkan melakukan hal-hal yang tidak masuk akal. Orang seperti itu lebih berbahaya daripada mereka yang memiliki sifat temperamental dan meledak-ledak.


“Aku duluan, sudah sangat terlambat. Sampai jumpa nanti!” seru Kinara begitu Lorie memarkir mobil.


“Hey! Hati-hati!” teriak Lorie ketika melihat Kinara melesat meninggalkannya sendirian.


Setelah menutup pintu mobil dan menguncinya, Lorie berlari menyusul Kinara.


***


“Tuan, nyonya besar baru saja pulang dari kediaman Anda,” lapor seorang pria berkacamata yang berdiri di sisi kanan Alex.


Ucapan sekretaris pengganti Anne itu membuat Alex menghentikan kegiatannya. Ia menoleh dan bertanya, “Kenapa baru memberitahuku sekarang?”


“Maaf. Tadi Anda sedang meeting dengan–“


“Lain kali, langsung beri tahu padaku. Mengerti?”


“Baik, Tuan.”


Alex menyugar rambutnya dan meletakkan pena dalam genggamannya ke atas meja.


“Di mana istriku sekarang?”


“Nyonya sedang ... hey! Kau tidak boleh masuk ke sini!”


Alex dan seketarisnya sama-sama terkejut ketika seorang wanita dengan penampilan yang sangat kacau menghambur masuk ke ruangan itu. Alex belum sempat memberikan reaksi ketika tiba-tiba wanita itu memeluk kakinya erat-erat. Dalam sekejap, matanya memicing ketika menyadari siapa wanita yang bersujud di kakinya itu.


“Apa yang kau lakukan?” desis Alex dan berusaha menarik kakinya, tetapi wanita itu tetap bergeming.


“Alex, aku tahu aku salah. Tolong maafkan aku! Aku salah telah meninggalkanmu. Kamu boleh membenciku, mencaciku sepuasmu, tapi tolong ... jangan lakukan hal ini pada keluargaku! Kumohon Alex ... jangan hancurkan keluargaku ....”


“Hentikan, Amanda!” sergah Alex seraya menarik kakinya dengan paksa.


“Alex, demi masa lalu ... aku mohon,” rengek Amanda sambil mengejar Alex.


Alex menatap wanita yang seakan tidak punya harga diri di depannya itu dengan sorot mengancam, membuat wanita itu terpaku sejenak dan tidak berani bergerak.


“Tidak ada masa lalu di antara kita. Kalau pun ada, itu hanya karena ayahku. Enyahlah,” ujar Alex dengan suara sedingin malam.


Tubuh Amanda bergetar karena rasa takut. Ia belum pernah melihat Alex yang seperti ini, sangat menakutkan sekaligus seksi. Tiba-tiba ia menyesal mengapa dulu meninggalkan pria itu. Kalau saja ia sedikit bersabar dan menunggunya hingga sembuh, pasti sekarang pria itu akan jatuh cinta setengah mati padanya, bukannya malah mengincar semua perusahaan keluarganya seperti sekarang. Ia sangat menyesal mengapa berpaling pada Jericho, bedeb*ah mesum yang akan segera membusuk di penjara itu sama sekali tidak bisa diandalkan!


“Alex, ceraikan pelayanmu. Aku bersedia kembali padamu,” bujuk Amanda dengan penuh rasa percaya diri. Ia merapikan rambut dan pakaiannya yang berantakan dan berkata, “Lihat, aku jauh lebih cantik dari istri–“


“Tutup mulutmu!” bentak Alex dengan suara menggelegar, “Bahkan seluruh kecantikanmu itu tidak ada apa-apanya dibanding istriku. Sekarang enyahlah sebelum aku yang membunuhmu dengan tanganku sendiri!”


“Tidak! Alex! Aku mencintaimu ... tolong maafkan aku!”


Wanita itu ingin menghambur ke arah Alex, tetapi sekretaris pria itu menahannya dengan kuat.


“Lepaskan tangan kotormu itu! Kau tidak pantas menyentuhku!” teriak Amanda pada sekretaris Alex.


Wanita itu terus memberontak dan mengamuk, tetapi dua orang bodyguard yang berlari masuk segera menahan kedua lengannya.


“Alex, ceraikan istrimu! Kembalilah padaku! Alex, aku mencintaimu!” teriak Amanda berulang-ulang sebelum bodyguard menyeretnya keluar.


“Perketat keaman di gedung ini, jangan biarkan sembarang orang masuk seenaknya!” ujar Alex pada sekretarisnya setelah ruangan itu kembali sunyi.


“Baik, Tuan.”


Alex baru saja duduk di kursinya dan ingin melajutkan pekerjaanya ketika suara pintu yang terbuka kembali menarik perhatiannya.


Pria itu menoleh seraya berkata, “Sudah kuka ....”


Ucapan Alex mengambang di udara selama beberapa saat ketika mengenali sosok yang sedang berjalan ke arahnya dengan sangat anggun. Pria itu tidak berkedip sampai akhirnya sosok itu berdiri tidak sampai satu meter di hadapannya.


“Jessie?”


“Hai, Alex. Aku merindukanmu.”


***