
“Apa kamu tidak memberiku obat malam ini?” tanya Lorie ketika melihat Ana hanya melamun sambil menatap ponselnya.
“Huh? Oh ... itu ... sekarang hanya membutuhkan satu dosis dalam satu hari, itu sudah cukup.”
Lorie menyeringai. “Baguslah kalau begitu, Rasanya benar-benar sakit.”
Raymond yang masih menatap pintu dengan kesal akhirnya tidak tahan dan mengajukan pertanyaan, “Untuk apa dia datang ke sini?”
Meski Raymond tidak menyebutkan nama, tapi saat melihat Raymond seperti sangat memusuhi daun pintu yang tidak bersalah itu, Lorie tahu siapa yang dimaksud dengan kata “dia”.
Sementara Dokter Ana yang berdiri di samping diam-diam ingin mendengarkan jawaban Lorie juga. Bukan hanya Raymond yang penasaran, oke? Ia juga penasaran mengapa bajingan itu masih berkeliaran di sini.
“Dia hanya ingin bertanya mengenai bisnis apa yang bagus untuk dikembangkan di Broocklyn. Dia berencana untuk membangun kantor cabang EON’s Company di sini,” jawab Lorie.
“Apa?!”
Raymond dan Ana sama-sama terkejut, tapi ekspresi wajah Ana terlihat seperti baru saja melihat hantu.
“Apa dia sudah gila?” desis Ana dengan mata yang menyorotkan api permusuhan.
“Ada apa denganmu?” tanya Lorie saat mendapati keanehan sahabatnya itu. “Dia adalah seorang pengusaha, wajar kalau ingin mengembangkan bisnisnya.”
“Bisnis apanya? Dia pasti memiliki rencana busuk dengan alasan pekerjaan. Apanya yang pengusaha? Dia itu hanya playboy yang suka menebar pesona di mana-mana,” cela Dokter Ana. Intonasi suaranya terdengar sangat menusuk, membuat Lorie semakin heran.
“Apa yang terjadi denganmu? Kenapa bicara seperti itu tentang Daniel?” tegur Lorie.
“Aku bicara berdasarkan fakta, Lorie. Dia itu serigala licik. Sebaiknya kamu jauhi dia.”
“Mm-hm. Kali ini aku sependapat dengan Dokter Ana. Sebaiknya kamu jauhi dia, Lorie,” timpal Raymond yang sedari tadi menyimak pembicaraan itu.
Lorie hanya meliriknya dan memberi tatapan yang seolah mengatakan “tentu saja kamu sependapat dengan Ana” sehingga membuat Raymond terdiam dan salah tingkah.
“Eng ... kamu mau makan sekarang?” tanya Raymond untuk mengalihkan pembicaraan.
“Hm.”
“Oke, aku akan menyiapkannya. Kalian lanjutkan mengobrol saja.” Raymond buru-buru menyingkir dan membuka bungkusan yang dibawanya di atas meja.
Lorie menoleh kepada Ana dan bertanya, “Apa kamu menyembunyikan sesuatu dariku? Tingkahmu benar-benar aneh.”
Wanita itu langsung melarikan diri dari kamar perawatan Lorie tanpa menunggu dicecar pertanyaan lain oleh sahabatnya lagi. Bisa gawat. Insting Lorie terlalu kuat. Kalau berada di sana lebih lama, bisa-bisa ia keceplosan.
Lorie hanya mengernyit menatap Ana yang melarikan diri secepat kilat. Ia memiliki sebuah dugaan dalam hati, tapi untuk sementara ia hanya menyimpan pemikiran itu untuk dirinya sendiri.
Raymond membawa makanan yang sudah dipindahkannya ke dalam piring dan mangkuk dan meletakkannya di atas meja. Air liur Lorie menetes melihat iga bakar yang berlumur saus asam manis. Perutnya langsung keroncongan.
“Apa menurutmu terjadi sesuatu antara Dokter Ana dan Daniel?” tanya Raymond tiba-tiba.
Tangan Lorie yang sudah terulur hendak mengambil piring berisi daging langsung terhenti di udara. Ia mendongak dan menatap Raymond dengan ekspresi yang rumit.
“Menurutmu apa yang terjadi di antara mereka?” Lorie balik bertanya.
“Entah, kalau dari ucapan Ana yang mengatakan bahwa Daniel adalah playboy dan serigala licik, sepertinya dia pernah ditindas atau digoda oleh pria itu,” jawab Raymond.
“Menurutmu begitu?”
“Hm. Sudah pasti begitu. Memangnya selama ini ... dia tidak pernah menggodamu dengan sikap playboy-nya itu?” gerutu Raymond.
Lorie tak bisa menahan tawa mendengar pertanyaan itu. Nada suara Raymond tidak terdengar seperti sedang bertanya, tapi seperti sedang merajuk. Dan sejujurnya, pria itu terlihat semakin imut dengan penampilan seperti sekarang, sama sekali tidak terlihat seperti seorang pria dewasa.
“Apa kamu sedang cemburu?” tanya Lorie. Ada sedikit tawa yang mengambang di akhir suaranya.
“Tentu saja cemburu. Saat kamu mengandung anakku, dia yang berkeliaran di sisimu dan mengaku sebagai ayahnya. Tentu saja aku sangat cemburu. Aku masih menyimpan masalah ini dalam hati dan akan memperhitungkannya denganmu saat kamu sudah sembuh nanti.”
Lorie terdiam. Ia tidak tahu kalau Raymond masih menyimpan masalah itu dalam hati.
“Maaf ...,” gumamnya pelan.
“Sudahlah. Makan dulu, nanti daging dan roti kukus ini jadi dingin.”
Raymond mengambil iga bakar dan menyodorkannya kepada Lorie. Gerakannya sangat alami sampai-sampai Lorie sendiri tidak menyadarinya dan membuka mulut dengan patuh. Saat Raymond menyuapkan daging itu ke mulutnya, barulah ia terkejut dan tertegun untuk sesaat.
“Ada apa? Dagingnya tidak enak?” tanya Raymond saat melihat mulut Lorie tertutup, tapi dia tak kunjung mengunyah.
“Eng ... tidak, ini enak,” jawab Lorie sambil menguyah perlahan. Ia menunduk dan tidak berani membalas tatapan Raymond.
“Kalau begitu makan lebih banyak.” Raymond membelah roti kukus dan meniup-niupnya sebentar sebelum menyuapkannya ke mulut Lorie.
Rintik hujan akhirnya terdengar di luar, perlahan berubah menjadi derai air yang lebat. Sesekali angin meniup butiran air itu dan tampias memukul kaca jendela. Kelopak mata Lorie melembut, ada secercah kehangatan yang terpancar dari wajahnya saat Raymond menyodorkan iga bakar kepadanya lagi.
Kehangatan seperti ini ... rasanya ia rela menukarnya dengan apa pun untuk bisa mendapatkan kehangatan ini sepanjang hidupnya.
Mungkin besok ia harus berterima kasih kepada Ana. Karena ucapan sahabatnya itu, ia berani memberi kesempatan kepada dirinya dan Raymond untuk mencoba.
Jika pada akhirnya hubungan ini gagal, setidaknya ia sudah mencoba ....
***