Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Bab 125: Ingin Menyendiri


Kinara membolak-balikkan tubuhnya dengan gelisah di atas sofa. Ia tidak bisa tidur dalam kamar dengan tenang, bayangan Jessica yang bergumul dengan Alex tadi terus berputar setiap kali matanya terpejam. Selain itu, rasa perih yang menusuk-nusuk permukaan kulitnya mulai terasa. Ia bangun dan memeriksa kaki juga lengannya yang tergores, lukanya tidak dalam tapi cukup banyak.


“Sssh ...,” desisnya pelan, telapak kakinya terasa berdenyut.


Kinara mengangkat kaki dan menggigit bibir dengan kuat ketika melihat sebuah pecahan kaca yang tidak terlalu besar tertanam di tengah telapak kakinya. Ia bangun dan melompat-lompat menuju laci, membongkar kotak kecil itu dengan teliti. Kelegaan memenuhi wajahnya ketika berhasil menemukan sebuah pinset. Ia kembali melompat dengan satu kaki menuju kamar mandi, meraih kotak penyimpanan obat dan duduk di pinggiran bathtub. Dengan sangat hati-hati, ia mencoba mencongkel beling itu dengan menggunakan pinset.


“Ah ....”


Rasanya sangat menyakitkan. Aneh, luka itu tidak terasa sama sekali sejak tadi. Ia masih sempat berjalan ke sana ke mari seperti biasa, tapi sekarang ... ia benar-benar ingin menangis.


Kinara menjaga agar tangannya tidak gemetar, lalu menjepit pecahan kaca itu dan menariknya keluar. Tidak banyak darah yang keluar, tetapi rasa nyeri yang berdenyut menghantam hingga ke tulang rusuknya. Benar-benar sakit luar biasa. Ia berdiri dan membasuh semua lukanya dengan air hangat, kemudian mengeringkannya dengan handuk sebelum diberi obat.


Bekas tancapan beling di telapak kakinya menganga dengan lebam kebiruan di pinggiran lukanya. Kinara mengoleskan antiseptik sebelum membalutnya kuat-kuat dengan perban. Sambil menarik napas dan mengembuskannya dengan keras berulang kali sebelum berjalan keluar dan memeriksa lemari pakaian.


“Bagus,” gumamnya ketika melihat beberapa buah baju dan celana miliknya masih tersusun rapi di dalam lemari. Ia mengambil sebuah kaos abu-abu dan celana training dengan warna senada lalu segera mengganti dress-nya yang sudah tidak berbentuk lagi.


Di luar pasti dingin, pikirnya.


Ia mencari dalam tumpukan baju dan menarik keluar hoodie miliknya yang ia bawa ketika pertama kali pindah ke sini. Ada terlalu banyak kenangan yang tercipta dalam kurun waktu kurang dari satu tahun. Tiba-tiba Kinara menjadi sedikit emosional. Bagaimana kalau suatu saat nanti ia harus benar-benar meninggalkan tempat ini, meninggalkan Alex, hanya membawa kenangan yang tersimpan dalam kepalanya. Apa yang terjadi kalau hal itu terjadi suatu saat nanti?


Ia mengerjapkan matanya untuk menghalau embun yang mulai mengambang di pelupuk matanya.


Tidak boleh cengeng, Nara. Kamu harus kuat.


Kinara membuka laci sepatu dan mengeluarkan sepatu keds-nya bersama sepasang kaos kaki. Ia memakai semuanya dengan cepat, kemudian berjingkat menuju jendela. Ia tidak bisa tinggal di sini. Ada granny yang siap menyerangnya kapan saja. Selain itu, salah satu alasan kuat ia tidak ingin tinggal diam di kamar ini adalah ia belum siap untuk bertemu Alex lagi.


Ia tidak bisa menghadapi pria itu dengan kondisi kacau seperti ini. Hal itu hanya akan membuat mereka saling melukai lebih dalam lagi. Ia takut tidak bisa menahan diri dan semua isi hatinya akan meledak tanpa bisa dibendung. Jadi saat ini, menyendiri sampai pikirannya lebih jernih adalah satu-satunya jalan terbaik.


Kinara mengintip dari atas balkon. Tidak ada siapa pun di bawah sana. Ia menarik bed cover dan selimut, menyambungnya dan mengikat ujungnya di lingkaran besi dengan simpul mati. Ia memanjat ke luar pembatas besi, lalu melilitkan kain ke lengannya dengan hati-hati. Setelah menarik untuk mengetes kekuatan jalinan kain itu dengan cara menariknya, Kinara mulai merosot turun perlahan.


Hop.


Setelah kedua kakinya menjejak tanah dengan kuat, barulah ia melepaskan lilitan kain di tangannya.


Masih aman. Sepertinya semua pelayan sedang sibuk di aula utama. Kinara merunduk dan segera menyusup di antara rumpun perdu. Setelah berhasil melewati bangunan utama, ia menarik hoodie hingga menutupi kepalanya dengan sempurna. Hanya separuh wajahnya yang terlihat di antara bayang-bayang pinus dan cemara. Ia berjalan cepat menuju istal kuda dan memutar menuju jalan setapak yang akan memotong di tikungan sekitar satu kilometer dari kediaman utama.


Mengabaikan rasa sakit pada telapak kakinya, Kinara menuruni lereng bebatuan dengan bantuan cahaya rembulan. Ia harus bergerak cepat sebelum Alex kembali. Sambil menerobos hutan pinus, otak Kinara berputar cepat memikirkan di mana ia harus tinggal selama beberapa hari nanti. Tidak ada teman atau keluarga yang bisa dimintai pertolongan. Mungkin ia akan menggadai liontinnya sementara dan memakai uangnya untuk membayar penginapan. Ya. Sepertinya itu adalah ide yang bagus.


Sraaak!


“Aw!” pekik Kinara ketika kakinya terpeleset tanah berpasir hingga tubuhnya merosot sejauh hampir lima meter di jalan yang terjal. Ia meringis menahan sakit. Sekarang kedua telapak tangannya ikut tergores.


“Sial!” umpatnya seraya bangun dan mengibas-ngibaskan kedua tangannya pada celana. Buru-buru ia merapikan kembali hoodie-nya yang sempat tersingkap dan bersiap masuk kembali ke dalam deretan hutan pinus.


Tin!


Suara klakson yang memekakkan telinga membuat jantung Kinara hampir copot. Ia sudah bersiap-siap untuk melarikan diri ketika menyadari suara klakson itu berasal dari puncak bukit, bukan dari arah sebaliknya. Itu berarti bukan mobil Alex. Debaran jantungnya kembali tenang. Meski begitu, ia tetap menunduk dan bersiap untuk melangkah.


“Hey! Kinara! Ini aku!”


Teriakan yang bergema di jalan yang sunyi itu menghentikan niat Kinara. Sepertinya ia mengenali suara itu. Ia berbalik dengan sangat perlahan, menyipitkan mata untuk melihat pengemudi mobil yang telah membuka kaca jendela. Lampu penerang jalan tidak cukup menerangi wajah pengemudi itu, jadi Kinara memutuskan untuk mengabaikannya. Ia tidak mau terjebak dalam perangkap lagi.


“Tunggu!” seru pengemudi itu seraya membuka pintu mobil. Ia mengejar Kinara dan menahan tangan wanita itu.


“Raymond?” Kinara terbelalak, tidak percaya melihat pemuda yang terlihat lebih dewasa dalam balutan tuxedo di depannya itu. “Apa yang kamu lakukan di sini?” desisnya sambil menatap Raymond lekat-lekat.


“Masuklah. Aku akan mengantarmu. Tidak baik berjalan seorang diri di hutan seperti ini,” ajak Raymond seraya mengangguk ke arah mobilnya.


Kinara menarik lepas tangannya. “Kamu belum menjawab pertanyaanku,” balasnya.


“Masuklah kalau tidak ingin terpergok oleh suamimu. Percayalah, aku hanya ingin membantumu. Aku bisa menjelaskannya setelah kamu masuk ke mobil," sambungnya lagi.


Kinara melihat Porsche Cayman di hadapannya dengan mata memicing. Ia tidak tahu kalau Raymond termasuk dalam kalangan atas. Pemuda itu tidak menunjukkannya sama sekali ketika berada di kampus.


“Cepatlah,” desak Raymond sambil melihat ke jalanan lengang di hadapan mereka.


“Baik, tapi kamu berutang penjelasan padaku,” ujar Kinara seraya terpincang-pincang menuju mobil Raymond. Ia membuka pintu, duduk dan memasang sabuk pengaman.


Raymond tersenyum lebar dan menyusul Kinara. Ia mengeluarkan kartu tanda pengenal dari dalam dompet dan menyerahkannya pada wanita itu.


“Kamu boleh memotretnya dan mengirimnya pada temanmu kalau takut aku akan macam-macam,” ujarnya tanpa menghapus senyuman dari wajahnya.


“K-kamu ... kamu putra walikota?” Kinara tergagap-gagap. “T-tapi tadi ... tadi aku tidak melihatmu.”


Sekarang semuanya terlihat masuk akal. Kinara menatap pemuda di sampingnya dengan mata membulat sempurna, membuat senyuman di wajah Raymond berubah menjadi tawa renyah.


“Aku melihatmu berjalan masuk bersama Mr. Smith, lalu semua orang mulai bergunjing. Aku pikir kamu akan malu kalau melihatku, jadi aku menyingkir.”


“Oh ....” Kinara tertegun sejenak. “Jadi, kamu sudah tahu.”


“Aku tidak akan mengatakannya pada siapa pun. Janji.”


Raymond menginjak pedal gas dan mulai menjalankan mobilnya menuruni bukit.


Kinara tersenyum masam. “Tidak apa-apa kalau mau menertawakanku. Aku memang menyedihkan.”


“Tidak,” balas Raymond cepat, “Tadinya aku ingin bersembunyi sampai acara selesai, tapi kemudian ... aku mendengar kekacauan itu. Dan, aku rasa... kamu pasti membutuhkan bantuan, jadi aku sengaja menunggu,” jelas Raymond sambil menggerak-gerakkan jemarinya dengan kikuk.


“Kamu menungguku?” tanya Kinara tak percaya.


“Yeah. Aku melihat suamimu bergegas keluar, jadi aku memutuskan untuk menunggu. Siapa tahu kamu ingin kabur dari sana. Pasti rasanya sangat tidak nyaman ditinggal sendirian dalam rumah sebesar itu,” kata Raymond lagi. Kali ini deretan giginya yang putih terlihat jelas ketika ia menyeringai lebar, seolah meminta Kinara untuk memaafkannya.


“Jadi, kamu membuntutiku dari atas?” tanya Kinara lagi.


Raymond menggeleng cepat. “Tidak. Aku sudah menyerah ketika kamu tak kunjung keluar. Aku memutuskan untuk pulang. Tapi rupanya memang kita ditakdirkan untuk bertemu ... oh, tidak, maksudku bukan seperti yang kamu pikirkan. Aku tahu kamu sudah menikah dan—“


“Easy, Boy.” Kinara terkekeh pelan. “Aku mengerti. Terima kasih.”


“Tundukkan kepalamu,” ujar Raymond ketika melihat sorot lampu mobil dari kejauhan.


Kinara menahan napas dan merosot semakin dalam ketika cahaya lampu sorot mobil dari bawah sana semakin mendekat. Jantungnya berdegup kencang. Ia merasa seperti sedang menjadi seorang buronan.


Benar saja, tak lama kemudian iring-iringan Maybach 62 melesat melewati mobil Raymond. Untung saja tidak ada yang curiga dan menghentikan mereka.


“Raymond, cepatlah. Dia akan mengamuk kalau menyadari aku tidak ada di kamar,” kata Kinara. Sebersit rasa khawatir muncul dalam dadanya. Apakah sebaiknya tadi ia diam saja di dalam kamar?


“Tenanglah, dia tidak akan menemukan kita,” balas Raymond dengan optimisme yang tinggi. Ia menoleh dan tersenyum pada Kinara sebelum menekan pedal gas hingga menyentuh dasar mobil.


Kinara mencengkeram kursi dan pintu mobil erat-erat. Pepohonan di luar sana menyerupai kabut hitam yang sedang mengejarnya. Ia menahan napas ketika mobil melaju dengan cepat menuju perbatasan kota.


“Ada rumah kabin milik keluargaku di tepi danau Minnesota. Kamu bisa beristirahat sementara di sana. Tinggallah selama yang kamu perlukan.”


Ucapan Raymond membuat tubuh Kinara menegang. Dari antara semua tempat di negara ini, mengapa ia harus berakhir di sana? Apakah alam semesta sedang bercanda dengannya?


***