Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 33


Siang berganti malam dalam sekejap. Malam berubah pagi, lalu cahaya sang surya perlahan meredup dan menghilang di bawah kaki cakrawala. Perputaran waktu yang begitu cepat tak lagi berarti bagi mereka yang sedang menaruh harap akan hadirnya keajaiban, seolah menunggu sedikit lebih lama lagi tak menjadi soal.


Begitu pun Raymond Dawson yang tanpa sadar sudah menghabiskan waktu lebih dari yang seharusnya di rumah sakit untuk menemani Lorie. Sekarang ia bahkan hampir tidak beranjak sama sekali dari sisi ranjang wanita itu meskipun Alex dan Billy sedang datang berkunjung.


Ia sendiri tidak mengerti mengapa bisa memiliki rasa tanggung jawab sebesar itu kepada Lorie. Mungkin karena dirinyalah yang menjadi pertama kali bagi wanita itu, menjadi pertama kali untuknya dengan cara yang bisa jadi tidak akan terlupakan. Bagaimana ia menyakiti tidak hanya fisik, tapi juga hatinya ... itu membuat Raymond merasa sangat berdosa.


Atau mungkin karena malam itu juga menjadi pengalaman pertama untuknya. Meski telah berpacaran dengan Alice selama tiga tahun, ia tidak pernah melewati batas. Ya, sedikit konyol memang karena ia adalah seorang pria modern dengan pemikiran yang kuno. Sialnya saat ia memutuskan untuk memiliki pemikiran yang benar-benar terbuka dan melangkah ke tahapan yang lebih serius untuk berkomitmen dengan Alice, ia justru ... bagaimana mengatakannya?


Salah langkah?


Terperangkap?


Sedikit salah langkah dan membuatnya merasa terperangkap memang, tapi itu juga bukan merupakan jawaban yang absolut. Jadi ... mungkin merupakan sedikit perpaduan di antara keduanya.


Lalu, apakah ia menyesal?


Menyesal karena telah salah mengenali Lorie dan menidurinya. Menyesal karena hubungannya dengan Alice memburuk. Menyesal karena harus menghabiskan waktu berhari-hari di rumah sakit untuk seorang “teman lama” yang tidak sengaja ditidurinya.


Setiap malam sebelum memejamkan mata, ia selalu memikirkan jawaban untuk pertanyaan yang sama: apakah ia merasa menyesal?


Seharusnya itu adalah pertanyaan yang mudah. Seharusnya tanpa ragu ia akan menjawab bahwa ia sangat menyesal karena tanpa sengaja telah mengkhianati Alice. Namun, lucunya setiap kali ia melihat Lorie yang terbaring tenang di atas ranjang dengan mata terpejam, ia tidak bisa menjawab pertanyaan itu.


“Lorie, apa kamu bisa mendengarku? Aku yakin kamu bisa mendengarku. Oleh karena itu, aku mohon buka matamu. Aku sungguh harus bicara denganmu,” gumam pria itu seraya mengusap punggung tangan Lorie perlahan.


Setelah siuman tiga hari lalu, Lorie belum pernah benar-benar sadar sepenuhnya, ia hanya merespon jika diberi stimulus berupa cahaya, atau meminta air dengan suara yang hampir tidak terdengar. Selebihnya tidak ada banyak perubahan. Dan itu membuat Raymond semakin frustasi.


Pria itu menarik napas dan mengembuskannya dengan keras. Ia menyugar rambutnya dan menatap kerlip bintang melalui kaca jendela. Satu tangannya yang berada dalam saku celana mengeluarkan ponsel dari sana. Ia lalu menunduk dan membaca sekali lagi pesan dari Alice.


Ayah dan ibuku ingin agar pernikahan kita dimajukan. Bagaimana menurutmu?


Jika Alice menanyakan hal itu tiga minggu lalu, mungkin ia akan langsung melompat dan mengiyakannya tanpa berpikir dua kali. Akan tetapi, sekarang semuanya sudah tidak semudah itu.


Alice memang sempat datang untuk menjenguk Lorie kemarin. Dia membawakan sebuket bunga dan buah-buahan yang sampai sekarang masih tergeletak di atas meja. Sikapnya pun berubah lebih lembut, lebih perhatian ... sama seperti saat mereka baru saling mengenal, tapi Raymond merasa semuanya tidak pernah sama lagi.


"Alice, aku harus bagaimana?"


“Lorie?” panggil Raymond dengan suara yang sangat pelan. Ekspresinya tampak penuh harap. Ia sangat antusias dan bersemangat, tapi tidak berani bersuara terlalu keras atau melakukan gerakan yang tiba-tiba, takut akan mengejutkan wanita di hadapannya itu


Lorie berkedip satu kali, kemudian memalingkan wajahnya dengan gerakan yang kaku. Matanya tetap terbuka, menatap langit-langit kamar yang gelap dengan ekspresi yang tidak terbaca. Melihat hal itu membuat Raymond tiba-tiba menjadi panik.


“Hey ... kamu sudah sadar? Aku ... aku akan memanggilkan dokter ....”


Raymond memajukan tubuhnya dengan hati-hati dan mengulurkan tangannya yang sedikit gemetar untuk menekan tombol bantuan yang langsung terhubung kepada Dokter Ana.


Kemudian, seperti yang sudah-sudah ketika Lorie “terbangun”, pria itu segera mengambil segelas air, menjepit kapas steril dan membasahinya, lalu mendekatkannya ke bibir Lorie.


“Ingin minum?” tawarnya.


Anehnya, selain menatapnya lekat-lekat dengan ekspresi datar, Lorie tidak memberikan reaksi apa pun.


“Lorie ....”


Raymond hendak mengulurkan tangan untuk menggenggam jemari Lorie, tapi tatapan tajam yang ditujukan kepadanya membuatnya mengurungkan niat itu.


Apakah dia marah? Kesal? Tidak ingin melihat wajahku?


Raymond sungguh tidak tahu harus melakukan apa. Ia membuka mulut beberapa kali, tapi semua kalimat yang sudah dirangkainya hanya menjadi penggalan kata yang tak terucap.


“Tuan Dawson, tolong keluar sebentar.”


Suara Dokter Ana mengembalikan kesadaran Raymond. Ia berbalik dengan cepat dan mengangguk ke arah Dokter Ana yang masuk bersama empat orang perawat.


“Aku akan menanganinya. Jangan cemas,” imbuh wanita yang masih memakai jas lab itu lagi.


“Baik. Terima kasih.”


Raymond melirik sekilas ke arah Lorie sebelum berjalan keluar. Sekarang ia hanya bisa berharap agar kondisi Lorie stabil dan bisa pulih sepenuhnya.


***