
Alex tertegun melihat wanita dari masa lalunya tiba-tiba berdiri di hadapannya dan tersenyum lebar seolah tidak pernah terjadi apa-apa. Untuk sejenak, pria itu tidak harus bersikap bagaimana. Mengusirnya jelas tidak mungkin karena biar bagaimana pun, Jessica pernah berjasa dalam hidupnya. Namun menyambutnya dengan tangan terbuka pun lebih tidak mungkin lagi karena ia sudah memiliki Kinara. Ia tidak ingin menyakiti istrinya mungilnya itu, baik secara sengaja atau pun tidak.
“Apa kabar, Alex?” ulang Jessica ketika melihat respon pria di hadapannya tidak seperti yang ia bayangkan.
“Seperti yang kau lihat. Aku sangat baik,” jawab Alex. Ia memainkan ponsel di tangan dan memerhatikan setiap gerak-gerik Jessica dengan sorot matanya yang tajam.
Pria itu mencari debaran yang dulu selalu ada ketika melihat wajah cantik di hadapannya ini, rasa rindu yang menghantuinya selama lima tahun terakhir. Namun hasilnya nihil. Tidak ada yang tersisa. Bahkan rasa kesal karena wanita itu menghilang begitu saja pun tidak lagi ada. Ia tidak memiliki emosi apa pun untuk Jessica.
Rasanya sedikit aneh karena beberapa bulan yang lalu ia masih seperti orang gila yang mencari keberadaan wanita itu ke mana-mana. Namun sekarang, ia hanya takut Kinara melihat semua ini dan benar-benar berubah menjadi seekor naga betina gila yang menyemburkan api.
“Kamu tidak ingin bertanya mengenai kabarku?” Jessica mengedarkan pandangan ke sekeliling ruangan. “Tidak ingin menyuruhku duduk?” tanyanya lagi sambil menggulung rambutnya dengan jemarinya.
“Karena kamu sudah kembali ke kota ini tanpa kekurangan apa pun, aku bisa melihat bahwa kau baik-baik saja. Duduklah di mana pun kau suka. Masih ada pekerjaan yang harus aku selesaikan,” ujar Alex sambil bangkit dari kursi dan berjalan menuju pintu.
“Alex! Aku merindukanmu!” Jessica menahan tangan Alex, lalu bersandar di punggung pria itu.
“Lepaskan. Tidak pantas jika dilihat orang.”
Alex menarik tangannya sampai terlepas dari cekalan Jessica, kemudian membalikkan tubuh dan mendorong wanita itu agar menjauh.
Jessica memasang ekspresi wajah polosnya yang tampak terluka dan berkata, “Kamu masih marah padaku? Aku tahu aku salah meninggalkanmu begitu saja, tapi–“
“Sudah tidak ada yang perlu dibicarakan, Jessie. Aku hanya menyambutmu sebagai teman, tidak lebih.”
“Aku tahu!” sahut Jessica cepat, “Aku sudah bertemu istrimu. Dia wanita yang baik dan cocok untukmu. Tenanglah, aku hanya ingin menyapamu sebelum pergi lagi. Temani aku minum teh sebentar, oke?”
Alex memicingkan matanya.
“Kamu bertemu istriku?” tanyanya.
“Ya, aku dan granny baru saja pulang dari rumahmu. Aku bercakap-cakap dengan istrimu hanya sebentar karena dia sedang terburu-buru mau pergi.”
Alex memegang kepalanya yang mendadak pening. Apakah Kinara akan mengamuk ketika ia pulang nanti? Tadinya ia pikir granny ke rumahnya seorang diri, tapi ... ... bisa-bisanya neneknya itu mengajak Jessica ke rumahnya. Ia sungguh tidak mengerti dengan jalan pikiran wanita tua itu.
“Alex, kumohon ... temani aku sebentar saja. Hanya sebentar,” rengek Jessica dengan wajahnya yang memelas. Dulu, cara ini selalu ampuh menarik perhatian Alex, sesibuk apa pun pria itu.
“Aku ....”
“Demi masa lalu," sela Jessica lagi.
Alex menghela napas panjang. Ia memasukkan kedua tangannya ke dalam saku celana dan menatap Jessica dengan wajah serius, tampak menimbang dengan cermat sebelum membuat keputusan. Biar bagaimana pun, ia telah menghabiskan hampir seluruh masa kecilnya bersama Jessica. Satu-satunya kesalahan yang wanita itu perbuat adalah menolak lamarannya dan menghilang begitu saja, tanpa jejak sama sekali, benar-benar bagaikan ditelan bumi.
“Aku janji, hanya sebentar ...,” bujuk Jessica ketika melihat Alex tetap bergeming.
“Baiklah. Aku ada waktu lima belas menit sebelum rapat selanjutnya.”
“Bagus!” Jessica tersenyum lebar dan menggandeng tangan Alex.
“Biarkan aku menggandengmu seperti dulu, kumohon ...,” ujar Jessica lagi ketika merasakan Alex ingin melepaskan tangannya lagi.
Alex mendengkus dan menarik paksa tangannya sambil berkata. “Ini di kantor. Jaga sikapmu.”
Jessica tersenyum masam. Ia tidak berani bertingkah lagi. Namun, meski Alex bersikap dingin padanya, ia cukup senang karena akhirnya pria itu mau menemaninya seperti dulu. Ini artinya ... apakah masih ada kesempatan?
***
“Apa?!” teriak Kinara seraya menggebrak mejanya dengan keras.
Wanita itu kemudian menutup mulutnya dengan tangan kanan ketika tersadar kalau masih berada di dalam kelas. Ia menggerakan kepala dengan sangat perlahan untuk melihat dosen Kardiovaskular di depan, lalu menoleh ke samping kanan dan kiri. Semua mata sedang tertuju padanya.
Hening ....
Keheningan yang membuat Kinara hampir tidak bisa bernapas.
“Maaf,” cicitnya. Ia mengambil tasnya dengan sangat hati-hati, memasukkan semua modulnya kemudian berjalan ke depan.
Sambil melangkahkan kakinya lebar-lebar, ia mengusap lagi layar ponselnya dan membaca ulang pesan dari Alex.
Ada Jessica di kantorku. Aku tidak ingin kamu mengetahuinya dari orang lain.
“Memangnya dia pikir kalau dia yang memberitahuku, aku tidak akan marah?” desis Kinara sambil menunjuk-nunjuk ponselnya dengan sangat kesal, “Wanita licik itu berani-beraninya ... beraninya dia menemui Alex di kantor! Benar-benar tidak tahu malu! Aku akan menghabisinya!”
“Hey! Apa yang terjadi?” seru Lorie ketika melihat Kinara keluar dari kelasnya sambil mengomeli ponselnya.
“Antar aku ke kantor Alex!” jawab Kinara dengan napas memburu, “Aku ingin mematahkan leher jal*ang itu!”
“Jala*ng?” tanya Lorie masih belum mengerti, “Siapa yang kamu maksud?”
“Jessica! Memangnya siapa lagi?”
Lorie bergegas untuk menyamakan langkah kakinya dengan Kinara. “Jessica di kantor Alex?”
Kinara mengangguk dengan cepat hingga Lorie takut kepalanya akan terlepas jika dia mengangguk sedikit lebih kuat lagi.
“Hey ... tenang dulu,” cegah Lorie, “Kamu tahu Alex tidak akan macam-macam, ‘kan?”
“Apanya yang tidak macam-macam? Melihat bayangan wanita itu saja dia langsung terhipnotis. Menurutmu dia akan bisa menguasai diri ketika wanita itu muncul di hadapannya?”
“Tapi kalian sudah menikah. Tidak mungkin dia meninggalkanmu demi wanita itu.”
“Bahkan suami istri yang sudah mempunyai selusin anak pun bisa bercerai. Kamu pikir?”
Lorie terdiam. Ucapan Kinara barusan memang benar. Mau tidak mau ia menarik napas dalam-dalam dan mengikuti langkah kaki Kinara yang berbelok menuju tempat parkir.
“Lihat! Mereka sekarang sedang minum teh bersama!” seru Kinara seraya menyodorkan ponselnya ke wajah Lorie.
Lorie mengerjap beberapa kali ketika melihat pesan yang tertulis di ponsel Kinara.
“Tuan Alex yang mengirim pesan itu padamu?” tanyanya.
Kinara mengangguk dan berkata, “Dia pikir kalau aku mengetahui hal ini langsung darinya maka aku tidak akan marah! Pemikiran macam apa itu?”
“Maaf. Tapi kali ini aku setuju dengan tuan. Dia tidak menyembunyikannya darimu, itu berarti dia tidak memiliki maksud terselubung.”
“Jadi, seharusnya aku senang? Begitu?”
Kinara memelototi Lorie dengan kesal. Pengawalnya ini sama sekali tidak membantu!
“Lihatlah wajahmu, terlihat sangat manis ketika sedang cemburu,” goda Lorie lalu menyeringai lebar.
“Siapa yang cemburu? Aku tidak sedang cemburu!” elak Kinara seraya bersedekap dan memalingkan wajahnya ke luar, “Cepat jalankan mobil ini.”
Lorie mengangkat kedua tangannya dan tertawa puas. “Oke. Oke. Kita pergi. Ke kantor tuan?”
“Tidak. Temani aku minum bir.”
“Apa?” seru Lorie. Catatan yang diberikan tuan muda Smith padanya dengan huruf kapital dan di-bold adalah: JANGAN BIARKAN DIA MINUM ALKOHOL!
Lalu sekarang ....
“Apa?!” teriak Kinara tak kalah kencang, “Mereka berdua minum teh bersama, kenapa aku tidak boleh minum bir?”
“Ini masih sore ....”
“Memangnya ada aturan tidak boleh minum bir kalau masih sore?” sungut Kinara. Hatinya terasa sangat panas hingga sudah hampir mendidih. Mungkin jika saat ini ada sebutir telur yang didekatkan ke dadanya maka akan langsung matang!
“Baik. Mari minum bir,” jawab Lorie seraya memutar setir mobil keluar dari halaman kampus. Mari berdoa saja, semoga tuan Alex tidak membunuhnya nanti.
***