
"Hmm ... bayi? Aku ingin bayi ...."
Alex terpaku ketika suara serak itu terdengar hampir menyerupai bisikan. Ia mengelus lengan Kinara dengan penuh rasa sayang, membelai rambut gadis itu perlahan, lalu mendaratkan kecupan ringan di bibir merah muda itu. Tidak ada respon. Ia mendesah pasrah. Istrinya telah lebih dulu menjelajah dunia mimpi.
Dengkusan pelan disertai seringai tipis menghiasi wajah Alex. Ia belum pernah sesabar ini menghadapi seseorang. Menandatangani perjanjian konyol dan berusaha menepatinya. Sebenarnya, ia bisa saja memaksa istrinya untuk melakukan apa pun yang ia mau. Namun, rasanya pasti akan berbeda bukan? Ia ingin gadis bodoh ini menyerahkan dirinya dengan sukarela.
"Tunggu aku sembuh, kita akan membuat banyak bayi," ucap Alex sembari mengusap wajah Kinara.
Drrrt. Drrrt. Drrrt.
Getar ponselnya di atas nakas membuat Alex mengurungkan niatnya untuk berbaring. Ia menengok ke arah Kinara, memastikan bahwa gadis itu telah benar-benar terlelap, kemudian mengulurkan tangan dan mengambil ponselnya. Sebuah pesan dari nomor 03.
Mayday.
Operasi harus dipercepat. Team Shadow 01 dalam perjalanan.
Apa-apaan ...?
"Sial!" umpat Alex seraya melihat piyamanya. Tak ada waktu untuk berganti pakaian. Lagipula, hal itu bukan prioritas untuk saat ini.
Pria itu meletakkan kembali ponsel di atas nakas, lalu menunduk dan berbisik di telinga istrinya, "Maaf, aku harus pergi."
Ia mengecup bibir Kinara dengan sangat hati-hati, tidak ingin membangunkan gadis itu. Tangannya menggapai kursi roda yang berada di samping nakas, menguncinya agar tidak bergeser, kemudian berusaha untuk turun dari tempat tidur. Geliginya terkatup rapat ketika mengangkat kakinya satu per satu ke atas lantai. Rasanya benar-benar tidak nyaman, tetapi ditahannya mati-matian. Alex mengatur napasnya, memusatkan kekuatan pada kedua tangan, lalu memindahkan tubuhnya ke atas kursi roda.
"Emph!" erangnya ketika pantatnya berhasil mendarat dengan sukses di atas kursi roda.
Tak menunggu lama, pria itu segera menggerakkan kursi roda menuju lemari pakaian. Ia menarik tas hitam dari bagian paling bawah. Tas itu berisi semua perlengkapannya menjelang operasi, mulai dari pakaian ganti untuk beberapa hari hingga perlatan mandi. Diam-diam ia menyiapkannya tanpa sepengetahuan Kinara.
Alex membuka tas hitam itu, meraba hingga bagian dasar, lalu menarik keluar sebuah pistol semi otomatis. Setelah memastikan pengamannya terkunci dengan baik, ia menyelipkan senjata itu di balik piyama.
Cahaya lampu mobil yang memasuki pekarangan menembus kaca jendela. Alex bersiap. Ia menggerakkan kursi rodanya mendekati pintu. Sekilas, ia menoleh pada Kinara yang pulas di atas kasur.
Senyum tipis menghiasi wajahnya ketika ia bergumam, "Tunggu aku pulang ...."
Tok. Tok. Tok.
Suara ketukan di daun pintu kembali menyita perhatian Alex.
Tok.
Ia membalas dengan satu ketukan kuat, lalu menunggu siapa pun yang sedang berdiri di luar sana memberikan balasan. Tangan kanannya bersiap memegang pistol yang menyelip di pinggang. Sebenarnya ia sudah memberi tahu bodyguard yang berjaga untuk membiarkan pasukan yang menunjukkan black card untuk masuk. Namun, saat ini tetap waspada adalah pilihan yang bijak.
"Shadow satu menjemput eagle satu."
Suara dari luar membuat urat-urat Alex mengendur. Ia melepaskan tangan dari gagang pistol lalu membukakan pintu kamar. Enam orang pria dengan pakaian serba hitam berbaris rapi di depan kamar. Mereka memakai masker penutup wajah, hanya sepasang mata yang menyorot tajam yang terlihat dengan jelas. Masing-masing dari pria itu membawa senjata laras panjang jenis AK-103 dan thermal-imaging.
Salah seorang dari mereka langsung menghampiri Alex dan mendorong kursi rodanya keluar. Sebenarnya Alex melatih pasukan khusus ini untuk mengawalnya dalam perjalanan bisnis ke luar negeri, atau ketika ia harus memeriksa wilayah pengembangan bisnisnya yang berada dalam kawasan mafia. Namun, situasi yang cukup berbahaya memaksanya harus memakai aset rahasia ini.
"Beri tahu istriku, aku harus ke luar kota selama dua pekan," pesan Alex pada salah seorang bodyguard yang berjaga di depan kamar, "Katakan pada Lorie untuk selalu mengawalnya, jangan biarkan dia pergi seorang diri. Mengerti?"
"Mengerti, Tuan," jawab Bodyguard itu seraya menunduk dengan hormat.
"Apa yang terjadi?" tanya Alex setelah mobil memasuki jalan raya.
"Informan kosong dua mengkonfirmasi akan ada penyerangan ke kediaman dokter Ana. Informasi ini telah disampaikan kepada dokter Ana. Untuk mengantisipasinya, dia meminta agar operasi dilakukan malam ini juga. Setelah operasi selesai, kami akan membawa Anda ke markas utama," jawab pria bersetelan hitam yang memegang kemudi.
Billy ....
"Kirim pasukan ke rumahku," perintah Alex, "Siapkan dua orang untuk mengawasi istriku."
"Baik, Tuan."
Kening Alex berkerut dalam. Satu-satunya misteri yang belum terpecahkan adalah siapa bedebahh yang menanam chip dalam kepala Billy. Sumber daya dan kemampuan yang begitu hebat ....
Apa yang membuatnya mengincarku sedemikian rupa? Kenapa sangat sulit menemukannya?
Setiap kali ada petunjuk yang ditemukan oleh informannya, selalu berujung jalan buntu. Jika ada saksi mata, orang-orang itu pasti menjadi mayat sebelum berhasil diinterogasi. Batangan emas yang diindikasikan sebagai alat bayar untuk menyuap salah satu bodyguard untuk meledakkan mobilnya pun mengarah pada Jericho. Padahal informan 03 telah mengkonfirmasi bahwa emas-emas itu bukan milik sepupunya. Namun, sampai sekarang belum ditemukan titik terang, siapa pemilik aslinya.
"Tuan, kita sudah sampai."
Suara dari depan membuyarkan lamunan Alex. Ia mengerjap dan menoleh keluar. Mereka sudah tiba di kediaman dokter Ana. Wanita itu telah menunggu di luar bersama Jacob dan Bryan. Rupanya jalanan yang lengang membuat Alex tiba lebih cepat daripada biasanya.
"Siapkan tuan Alex untuk operasi," perintah dokter Ana begitu Alex turun dari mobil.
"Baik," jawab Jacob dan Bryan bersamaan.
Jacob mengambil alih kursi roda dari tangan pengawal Alex dan mendorongnya masuk. Sementara Bryan membawa tas hitam milik Alex.
Sekilas pandangan Alex menyapu halaman rumah itu. Meski dalam kegelapan, ia dapat melihat pasukan bayangan berdiri di beberapa titik yang cukup terekspos. Ia yakin, sisa lainnya sedang mengamati dalam persembunyian. Keadaan ini membuatnya cukup yakin bahwa saat ini situasi cukup genting.
"Maafkan aku karena telah menempatkanmu dalam situasi ini," kata Alex ketika melewati dokter Ana.
Wanita itu tersenyum sebelum membalas, "Aku tahu resiko yang akan kuhadapi ketika memutuskan untuk merawatmu. Tenang saja dan mari fokus pada operasi ini. Oke?"
"Baik."
Alex menarik napas dalam-dalam ketika Jacob dan Bryan membantunya berganti pakaian, kemudian membawanya ke ruang pengobatan. Bunyi peralatan medis langsung tertangkap oleh telinga ketika memasuki ruangan itu. Tubuh Alex mendadak meremang, ingatan ketika melewati malam-malam panjang ditemani oleh suara mesin-mesin itu membuatnya sedikit gentar.
Dokter Ana melihat perubahan di wajah dan gestur tubuh Alex. Ia berjalan menghampiri pria itu dan mencoba menenangkan
"Ini tidak akan lama. Memang harus dilakukan lebih cepat dari waktu yang seharusnya, tapi aku janji, semuanya akan baik-baik saja," ucap wanita itu. Ia memeriksa denyut nadi dan tekanan darah, kemudian meminta asistennya untuk membaringkan Alex di atas meja operasi.
Alex berbaring dengan posisi telungkup. Rupanya dokter Ana telah memodifikasi meja operasi itu sehingga ia dapat berbaring dengan nyaman. Ada semacam penyangga yang menahan pipi dan dagunya sehingga lehernya tidak tegang, juga lubang khusus untuk bernapas.
"Jacob," panggil dokter Ana.
Pria itu segera mendekat dan membantu dokter Ana memasang infus dan selang oksigen. Setelah selesai, Bryan mengeluarkan peralatannya dan bersiap memberikan anestesi umum. Sekilas, Alex masih dapat melihat tiga lempengan berwarna putih gading yang tersusun dalam tabung transparan di dekat dokter Ana. Sepertinya benda itu yang akan dimasukkan ke dalam tubuhnya.
"Kau akan segera terbangun sebelum matahari terbit," janji dokter Ana sebelum menyuntikkan obat bius.
Pelan tapi pasti, pandangan Alex berkabut. Kelopat matanya terasa berat ketika kantuk menyergap. Hal terakhir yang ia ingat adalah kegelapan yang perlahan mendekat, memerangkapnya dalam sepi yang seakan tak berujung.