
“Kinara!” seru Alex seraya menghambur ke arah istrinya.
Secepat kilat pria itu menangkap tubuh istrinya sebelum membentur lantai. Ia mendekap tubuh mungil itu erat-erat, seakan ingin memindahkan seluruh beban gadis itu ke pundaknya. Seharusnya ia yang disiksa seperti ini, bukan gadis polos yang tidak tahu apa-apa ini.
“Maafkan aku ... maafkan aku, Kinara ...,” gumam Alex dengan suara yang tercekat di tenggorokan. Ia bisa melihat bulir bening menetes dari sudut mata istrinya yang terpejam, dan itu membuat dadanya terasa sangat sakit. Sesak sampai-sampai ia hampir kehabisan napas.
Jericho, psikopat gila yang menculik istrinya itu merekam dan mengirimkan siaran langsung ke ponselnya. Jantung Alex hampir meledak ketika ketika melihat Jericho berada di atas tubuh Kinara. Rasanya ia benar-benar sudah hampir gila. Melihat bajing*an itu mencumbu dan menyentuh tubuh istrinya dengan sangat kurang ajar sungguh membuat Alex ingin mencabik-cabik tubuh sepupunya itu. Untunglah Lorie berhasil melacak IP dari pemancar yang mengirimkan siaran langsung sehingga ia bisa menemukan tempat ini ... meskipun sedikit terlambat ....
Alex memindahkan tubuh Kinara yang penuh luka ke atas ranjang. Ia melepaskan jasnya dan membungkus tubuh mungil istrinya dengan sangat hati-hati. Dengan sangat lembut pria itu kembali mengangkat tubuh istrinya dan berjalan dengan langkah panjang menuju pintu.
Lorie menyerbu ke dalam dengan pistol teracung, tetapi berhenti tiba-tiba di depan pintu. Tubuh gadis itu menegang melihat penampilan Kinara yang begitu berantakan dalam pelukan Alex. Lebam di wajah dan pundak, darah mengering di ujung baju dan kaki. Benar-benar terlihat kacau. Ia juga melihat perlakuan biadab Jericho dalam siaran langsung tadi.
“Siapkan helikopter, antar tuan dan nyonya ke rumah sakit!” perintah Lorie melalui walkie talkie. Pelupuk matanya mengembun ketika melihat pria yang biasanya kuat dan tegar itu menahan tangis sambil memeluk istrinya. Ia bisa melihat cinta yang tulus dari sikap dan tatapan tuannya pada Kinara. Sebagai seorang prajurit yang terlatih, ia sudah terbiasa menahan emosi, baik itu amarah, ketakutan, ataupun kepedulian. Namun kali ini pemandangan di depan matanya sungguh membuat hatinya tersentuh.
“Anda pulanglah, saya akan memastikan bedeb*h itu membusuk dalam penjara,” kata Lorie ketika Alex berjalan melewatinya.
“Pastikan dia menderita seumur hidup,” desis Alex sambil mengatupkan rahang dengan kuat. Kalau bukan karena kondisi Kinara saat ini, ia sendiri yang akan menyeret tubuh Jericho dan melemparkannya ke balik jeruji besi. Itu juga kalau ia tidak gelap mata dan menghancurkan kepala jahan*m itu.
Lorie mengangguk. “Baik. Anda jangan khawatir. Cepatlah antar nyonya ke rumah sakit,” jawabnya lalu berjalan masuk dan berjongkok di sisi Jericho. Penampilan pria itu jauh lebih mengenaskan daripada Kinara. Sepertinya majikan perempuannya itu benar-benar lepas kendali. Kursi yang dipakai untuk memukuli Jericho sampai hancur berkeping-keping.
Lorie bergidik, tidak mampu membayangkan amarah sebesar apa yang mampu memicu kekuatan sebesar itu. Ia mengedarkan padangan dan melihat kekacauan yang terjadi. Darah berceceran di mana-mana. Mayat-mayat tergeletak dengan posisi lubang di kepala dan dada. Bau amis dan anyir bercampur dengan bubuk mesiu.
Tatapan Lorie kemudian berhenti pada wajah Jericho yang hampir-hampir tak bisa dikenali. Sebuah serpihan kayu menancap di sudut kanan mata pria itu, menembus masuk dari pelipis. Lorie mengernyit, tampaknya rahang Jericho bergeser. Lalu tempurung lututnya yang hancur itu ... darah yang kehitaman menggumpal di lantai, kental dan lengket. Ia meletakkan jari di leher pria itu dan memeriksa detak nadinya. Masih ada denyut jantung meskipun sangat pelan.
“Kau pantas mendapatkannya, Brengs*k!” umpat gadis itu sembari meludah ke samping ketika mendengar Jericho mengerang tanpa tenaga. Ia menoleh ketika mendengar suara langkah kaki berderap ke arahnya.
Sepasukan pria bersenjata berhenti di dekatnya dan melapor, “Area clear!”
“Bagus. Bereskan kekacauan ini! Periksa semua barang dan cari petunjuk,” perintah Lorie seraya berdiri, “Oh, abaikan pria brengs*k ini. Tidak perlu buru-buru membawanya ke rumah sakit.”
Para pengawal itu segera melakukan apa yang diperintahkan oleh Lorie. Beberapa orang mengeksekusi mayat, sisanya menggeledah seluruh ruangan, membongkar lemari dan memeriksa tiap pajangan yang ada dalam ruangan itu.
Lorie memicing ketika melihat sebuah ponsel tersembul dari jas yang tergeletak di dekat Jericho. Ia menunduk dan mengambil benda pipih itu, lalu melihat Jericho dan ponsel di tangannya bergantian.
Sepertinya benda ini miliknya, pikirnya.
Gadis itu menekan tombol di sisi kanan atas ponsel hingga layarnya menyala. Otorisasi menggunakan kunci sidik jari. Lorie membersihkan darah di ibu jari Jericho, lalu menempelkannya ke ponsel yang masih menyala.
Bip.
Berhasil. Kunci terbuka. Dengan cepat gadis itu membuka riwayat panggilan dan memeriksa nomor terakhir yang terhubung ke ponsel di tangannya. Sebuah nomor tanpa nama. Dengan sigap ia mengeluarkan sebuah alat pelacak dari dalam backpack, lalu melakukan panggilan dengan menyentuh bulatan hijau di layar ponsel. Jantungnya bertalu ketika nada sambung terdengar nyaring di telinganya.
“Sudah kukatakan berulang kali, jangan menghubungiku lebih dulu,” ujar seorang wanita dari seberang sana, “Oh, ngomong-ngomong, apakah ideku berhasil? Kau mendapatkannya?”
Suara wanita yang lembut dan merdu itu entah mengapa menyakiti telinga Lorie. Tanpa sadar ia memegang ponsel dalam genggamannya terlalu kuat hingga urat-urat di punggung tangannya menonjol. Ia sungguh tak menyangka ada seorang wanita yang bisa memberikan ide untuk memperk*sa sesama wanita yang lain. Mata Lorie menatap nyalang pada pemindai yang sedang mencari di mana pemancar yang mengirimkan gelombang sinyal telepon dari lawan bicaranya ini. Ia hanya harus mengulur waktu sampai pemancar yang tepat ditemukan. Lalu, setelah itu ....
“Hei. Apa kau mendengarku? Kenapa diam saja? Apa gadis itu membuatmu puas? Dia atau aku yang lebih pandai memuaskanmu?” tanyanya lalu terkekeh-kekeh.
Lorie bergeming, tetapi deru napasnya mulai memburu. Rupanya siapa pun wanita menjijikan di ujung telepon sana lebih menjijikan daripada yang ia bayangkan.
“Tunggu. Kau bukan Jericho?”
“Dia sudah hampir mati,” jawab Lorie dengan suara sedingi es, “Masih ingin memuaskannya?”
“Oh, astaga ... kalian berhasil menemukannya? Apakah ia berhasil meniduri istri kakaknya?”
Lagi-lagi wanita tidak tahu malu itu terkikik panjang. Lorie benar-benar muak, tapi ia harus menahan panggilan itu sedikit lebih lama lagi.
“Sayangnya tidak. Kinara menghajarnya habis-habisan. Bisa kupastikan setelah sadar nanti, ia tidak akan bisa memuaskanmu lagi di atas ranjang. Istri kakaknya itu memukuli pangkal pahanya sampai menjadi bubur. Akan kukirimkan fotonya padamu,” balas Lorie sarkas.
“Oh, Dear ... aku tidak tertarik. Masih ada banyak pria lain yang bisa memuaskanku. Um, satu lagi, jangan sia-siakan tenagamu untuk melacakku.”
Tut.
Lorie mengumpat kesal ketika melihat sambungan teleponnya diputus. Padahal tinggal 10 persen lagi. Rasa kesalnya menjadi berkali lipat karena merasa seakan bisa melihat seringai mengejek dari wanita tadi. Ia melakukan panggilan ulang dengan sedikit terburu-buru.
Nomor yang Anda tuju tidak terdaftar. Silakan memeriksa kembali nomor tujuan Anda.
Suara operator yang terus berulang setiap kali Lorie mencoba menghubungi nomor-nomor tanpa nama di ponsel Jericho. Tak ada satu pun yang bisa terhubung. Gadis itu gemetaran, sangat ingin menghancurkan ponsel dalam genggamannya dengan sebongkah batu, tapi ia tahu itu tidak akan menghasilkan apa-apa.
“Dari mana ia tahu kalau aku sedang melacaknya?” gumam Lorie sambil berpikir keras, “Apakah dia memiliki semacam firewall?”
Sial. Kenapa susah sekali menemukan dalang di balik ini semua?
“Kapten, bagaimana dengan pria itu?”
Lorie bangkit, menatap pada anak buahnya yang baru saja bertanya lalu menatap Jericho yang napasnya mulai tersengal.
“Bawa ke rumah sakit terdekat. Pakai saja mobil. Setelah dokter memberi perawatan pertama, segera bawa kembali ke Brooklyn. Tuan Alex pasti ingin mengurusnya sendiri.”
“Baik.”
“Bagaimana hasil pemeriksaan kalian?”
Pria itu menggeleng. “Kecuali tripod, handycam, dan ponsel untuk menyiarkan siaran langsung, tidak ada apa pun di sini.”
Lorie menghela napas. “Bereskan semua mayat lalu kembali ke markas!” perintahnya.
“Siap, Kapten!”
Lorie memasukkan ponsel Jericho ke dalam backpack-nya sambil bergumam, “Semoga kosong satu bisa menemukan sesuatu dari benda ini.”
Ia sungguh berharap rekannya itu bisa melacak sesuatu dari ponsel Jericho. Setidaknya, sesuatu yang bisa menjadi titik balik. Gadis itu berjalan keluar dan menuju helikopter. Setelah memberikan instruksi yang lebih detail, ia meminta pilot untuk membawanya kembali ke Brooklyn.
***
Mata Kinara yang terpejam bergerak pelan, tetapi tak kunjung terbuka. Entah sudah berapa kali Alex mengganti kompresnya. Suhu tubuh gadis itu tidak mau turun meski sudah diberi suntikan pereda panas. Kata dokter, istrinya sedang berusaha melepaskan diri dari trauma dan tubuhnya memberikan reaksi seperti itu, tapi tetap saja ... hal itu membuat Alex sangat cemas. Ini sudah lewat tengah malam, istrinya belum juga sadar. Ia belum beranjak dari sisi ranjang sejak tadi siang, mengamuk seperti banteng gila ketika anak buahnya memaksanya untuk beristirahat. Ia tidak ingin pergi ke mana pun. Ia tidak ingin meninggalkan istrinya sama sekali.
“Umh ....”
Alex terkesiap ketika mendengar Kinara mengerang pelan. Ia mendekat dan mengusap wajah gadis itu dengan penuh rasa sayang.
“Nara, mana yang sakit, Sayang? Katakan padaku ...,” bisik Alex pelan. Satu tangannya tidak melepaskan genggaman pada jari istrinya.
Kelopak mata Kinara bergetar. Bulu-bulu matanya yang lentik saling beradu, tetapi manik bulat yang sangat dirindukan oleh Alex itu tak kunjung terbuka. Napas gadis itu tersengal-sengal, lalu butiran bening meluncur perlahan dari sudut matanya.
“Sayang, aku mencintaimu. Bangunlah. Aku merindukanmu ....”
Alex merengkuh wajah istrinya dan menciuminya tanpa melewatkan satu senti pun. Ia sungguh ingin memeluk tubuh mungil itu dan mendekapnya kuat-kuat. Sama sekali tidak ingin melepaskannya.
“J-jangan ... jangan s-sentuh aku ...,” desah Kinara masih dengan mata terpejam erat. Keningnya berkerut dalam, seakan sedang menahan rasa sakit yang teramat sangat.
Tangan Alex kini terkepal erat di udara. Ia tidak sanggup menyaksikan istrinya menanggung penderitaan seberat itu.
“Maafkan aku, Sayang ... aku memang tidak berguna, sama sekali tidak berguna,” lirihnya di telinga Kinara.
“Alex?”
“Ya. Aku di sini!”
“Jericho ... tidak ... dia ... Alex? Aku ... tidak, j-jangan sentuh aku ...,” racau Kinara.
Alex panik melihat istrinya menggigau seperti itu. Telapak tangannya yang menggenggam jemari Kinara terasa semakin panas, sedangkan monitor menunjukkan detak jantung istrinya terus meningkat drastis.
“Dokter! Dokter! Brengs*k! Dokter, tolong istriku!” teriak pria itu dengan panik di interkom.