Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Bab 128: Berhasil.


Nathan berjalan mengelilingi ruangan yang beberapa tahun terakhir ini ditempati oleh Jessica, melihat barang-barang wanita itu yang masih tersusun rapi membuatnya merasa seakan Jessica hanya sedang bepergian. Namun ia tahu, kemungkinan wanita itu masih hidup sangat kecil. Kalau pun dia masih hidup, sudah pasti tidak akan pernah kembali ... seperti Niel.


Memang ia hanya memanfaatkan Jessica, tapi tetap terbersit sedikit rasa kehilangan ketika mengetahui dia menghilang sejak dua hari lalu. Biar bagaimana pun, mereka berdua memiliki sedikit kesamaan. Sama-sama dihancurkan hingga hanya kepahitan yang tersisa dalam jiwa. Bertahan hidup dengan kebencian sebagai bahan bakar. Berpegang pada keinginan untuk membalas dendam pada orang yang menempatkan mereka pada posisi ini. Membuat mereka terikat dalam saling ketergantungan yang aneh.


“Bereskan kamar ini!” perintah pria itu pada pengawal yang berdiri di depan pintu. Raut wajahnya kembali dingin dan muram seperti biasa.


Tidak ada waktu untuk meratap dalam kesedihan berkepanjangan. Jika ingin berhasil membalas dendam, ia harus menyusun strategi baru, mencari bidak catur yang baru. Atau ... haruskah ia melakukan konfrontasi langsung? Tampaknya hal itu cukup menyenangkan. Bukankah mata diganti mata?


Nathan menyeringai licik dan mengibaskan jubahnya ke belakang. Sepertinya ia akan memakai opsi terakhir. Ia tidak sabar ingin melihat wajah Alex ketika menyaksikan istrinya ditiduri dan disiksa di hadapannya.


“Tuan, asisten tuan Alex sudah ada di lab,” lapor salah seorang pemuda yang tampak masih cukup muda. Ia berlutut dan menunduk dalam-dalam ketika Nathan berjalan melewatinya.


Dengan langkah panjang, Nathan menuju anak tangga menuju basement di ujung lorong. Ia berhenti di depan Billy yang tersungkur di atas lantai. Ia sengaja menginjak telapak tangan Billy dengan sepatu lars-nya hingga pria itu menggeram menahan sakit.


Nathan terkekeh pelan sebelum berkata, “Sahabatmu itu ... beraninya menyentuh mainanku. Katakan, apakah dia menguburnya dengan layak?”


“Aku tidak mengerti maksudmu!” sanggah Billy.


“Benarkah?”


Tawa Nathan terdengar mengerikan. Ia mengangkat kaki dan menghantamkannya ke punggung Billy.


“Mari kita intip isi kepalamu,” ujar pria itu seraya memberi isyarat pada anak buahnya untuk memasukkan Billy ke dalam tangki.


Billy tidak melawan sama sekali. Ia hanya berusaha mengedarkan pandangan untuk mencari keberadaan Elizabeth.


Nathan menyeringai lebar ketika melihat kepanikan dalam sorot mata Billy ketika tidak menemukan sosok yang dicarinya.


“Sudah kukatakan padamu, jangan mengecewakanku atau kekasihmu itu akan menggantikan posisi Jessica. Dan sekarang, Jessica menghilang. Bukankah ini sebuah kebetulan yang sempurna? Ha ... ha ... ha ....”


Nathan terus tertawa seperti orang gila. Jenis tawa aneh dan menakutkan yang biasa muncul dalam mimpi buruk dan menimbulkan rasa takut yang merasuk ke dalam jiwa.


Billy mengepalkan tangannya dan berusaha untuk meronta, tetapi tubuhnya terikat dengan kuat. Selang-selang, alat bantu pernapasan, semuanya dipasang dengan cekatan. Tubuhnya mulai menggigil ketika atap tangki terbuka dan cairan dingin yang berbuih mengalir masuk dengan cepat. Otaknya memberi aba-aba untuk bersiap menerima rangsangan rasa sakit yang akan segera dirasakan oleh syaraf-syarafnya.


“Engrrrh!”


Billy menggeram hingga urat-urat di lehernya terlihat dengan jelas. Meski sudah berkali-kali mengalami prosedur ini, rasa sakit akibat sengatan listrik yang mengalir di tubuhnya masih tetap tak tertahankan. Kadang ia berharap agar Nathan langsung membunuhnya saja agar tidak perlu mengalami semua ini, atau berada di posisi ini.


Setelah semuanya selesai, ia menarik napas lega karena air dalam tabung perlahan mulai berkurang. Walau rasa sakit masih menjalari otot dan syarafnya, setidaknya sudah tidak separah tadi.


Nathan berjalan menghampiri anak buahnya yang mengoperasikan layar monitor yang menampilkan hasil pemindaian memori Billy. Hanya ada rekaman-rekaman yang tidak terlalu berguna, sama seperti biasanya. Namun, rekaman terakhir yang menunjukkan Billy mendatangi rumah Alex untuk memperingati Kinara mengenai Jessica, juga ketika Billy memukuli Alex setelah insiden saat makan malam itu menarik perhatian Nathan.


Pria itu kembali menghampiri Billy, mengamatinya dengan sorot licik lalu berkata, “Aku lihat, kamu sangat perhatian pada istri sahabatmu. Apakah itu untuk menebus rasa bersalahmu pada kekasihmu?” ejeknya.


Meski otot-ototnya terasa kaku dan kram, Billy berusaha untuk menekuk empat jari tangan kanannya hingga menyisakan jari tengah yang teracung ke arah Nathan. Kalau ada kesempatan untuk membalas bedeb*ah itu, ia bersumpah akan menghajarnya sampai babak belur.


Nathan terkekeh-kekeh. Ia mengabaikan tatapan Billy yang menghujam ke arahnya. Alih-alih marah akan penghinaan itu, ia berkacak pinggang, lalu tersenyum licik.


“Aku punya tugas menarik untukmu,” ujarnya sambil menatap billy tanpa berkedip, “Bawa istri Alex padaku, dan aku akan menukarnya dengan kekasihmu. Karena dia sudah menghilangkan mainan milikku, aku menginginkan istrinya sebagai kompensasi. Bagaimana, cukup adil bukan?”


“Tenanglah, aku sedang berbaik hati. Waktumu sampai hari Jumat minggu depan untuk membawakan pesananku. Kalau tidak ... kau tahu sendiri apa akibatnya.”


Seluruh tubuh Billy gemetar karena menahan amarah. Sangat marah dan juga tak berdaya. Apa yang harus ia lakukan sekarang?


***


Dokter Ana dan dokter James langsung bersiaga ketika suara “bip” terus berulang dari sensor khusus yang dibuat untuk mengakses virtual virus. Dua orang itu langsung menuju tempat duduk dan melakukan tugas masing-masing.


“Bagaimana, Dokter?” tanya Ana pada rekan kerjanya. Layar monitor di depannya menunjukkan grafik kestabilan organ tubuh Billy. Detak jantung pria itu semakin meningkat, dan itu membuatnya sedikit panik.


“Aku sedang berusaha,” jawab James. Ia tetap fokus pada layar monitor miliknya dan memasukkan coding.


Loading 79% ... 81% ... 98% ... FAILED!


“Sial!” maki dokter James sambil meng-klik opsi yang muncul.


Restart?


Yes.


Loading 64% ... 75% ... 91% ... COMPLETED!


“Yes!” Dokter James hampir melompat dari tempat duduknya. “Bagaimana kondisi vitalnya?”


“Sedikit tidak stabil. Tekanan darah dan detak jantungnya meningkat. But, this is our only chance. Ini kesempatan terbaik kita.”


“Clear?” Dokter James meminta konfirmasi sebelum melakukan tindakan akhir.


“Clear," jawab dokter Ana.


Klik.


Dokter James menekan tombol merah pada bulatan hitam menyerupai remote control di tangannya. Suara “bip-bip” terdengar makin cepat dan kencang.


Dokter Ana mengamati layar monitornya dengan sedikit cemas. Detak jantung Billy telah melebihi batas normal. Sepertinya ada hal lain yang memicu perubahan itu. Bisa jadi musuh memancing amarahnya.


“Dok, mungkin sebentar lagi dia akan collapse,” ujar dokter Ana sambil mengetuk-ngetuk meja dengan tempo tak beraturan. Ia sungguh mengkhawatirkan Billy.


“Sebentar lagi. Kita sudah sampai sejauh ini. Dia pasti bisa bertahan.”


“Aku tidak bisa membayangkan kalau chip itu meledak di kepalanya,” ucap dokter Ana sambil menggosok telapak tangan yang basah ke jas lab-nya. Ia benar-benar gugup.


Ting.


“Berhasil! Kita menemukan lokasinya,” ujar dokter James sambil tersenyum puas. Ia berhasil meng-hijack chip yang tertanam dalam kepala Billy. Ia mengamati tampilan di layar monitor yang memunculkan titik koordinat lokasi sebuah tempat.


“Bagus.” Dokter Ana mengembuskan napasnya yang tertahan sejak tadi. “Aku akan mengabari tuan Alex.”


Akhirnya kerja keras mereka berhasil memberikan sedikit titik terang.


***