Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 41


Dokter Ana mendorong kursi roda menuju pintu bercat merah di ujung ruangan. Dua orang pria bersenjata yang berjaga di depan pintu memberi hormat ketika kedua wanita itu sampai di hadapan mereka.


“Selamat pagi, Kapten Lorie, Dokter Ana,” sapa kedua pria itu.


“Um. Bawakan paket khusus yang dikirim secara express dari Venice tadi malam,” ucap Dokter Ana kepada salah seorang penjaga.


“Baik, Dokter.” Pria itu menyalakan alat komunikasinya dan menghubungi rekannya sambil melangkah ke arah yang berlawanan dari pintu Red Room.


Sementara itu, penjaga yang satu lagi segera membukakan pintu dan mempersilakan Lorie dan Dokter Ana untuk masuk.


“Paket express?” tanya Lorie saat Dokter Ana membawanya ke tengah ruangan.


“Yeah. Itu benar-benar express. Mereka bahkan belum dikeluarkan dari ‘bungkusannya', semua masih menunggu untuk ‘dibuka’ olehmu. Tuan Alex benar-benar menyerahkannya untuk ditangani olehmu.” Dokter Ana bersedekap dan menatap Lorie dengan ekspresi misterius.


Paket?


Dibuka?


Apakah paket yang dimaksud adalah Rafael? Lorie tidak berani menebak. Kadang Alex Smith bisa sangat kejam, dan Lorie tidak bisa membayangkan bagaimana Rafael, seorang bos dari perusahaan besar di Venice dikirim ke Broocklyn dalam bentuk "paket".


“Hey, jangan memasang ekspresi seperti itu. Kamu terlihat lucu,” goda Dokter Ana.


Wanita itu menyeringai lebar ketika melihat tembok di depan mereka bergerak ke atas seperti rooling door, menampilkan aula seluas setengah hektar di balik tembok yang kini sudah rata dengan langit-langit ruangan. Suara dengungan mesin terdengar cukup keras saat empat buah forklift masuk berurutan, masing-masing membawa tiga tumpuk peti kayu yang berukuran kurang lebih 1x2 meter.


“Apa ini?” tanya Lorie semakin tidak mengerti.


“Kejutan,” jawab Dokter Ana.


Ia mengambil sebuah palu dari lemari kaca dan berjalan menghampiri kotak kayu yang sudah diturunkan ke atas lantai oleh para pengawal.


“Karena kamu belum terlalu pulih, aku akan mewakilimu untuk membukanya. Bagaimana?”


“Hum.” Lorie menggumam pelan meski ia masih separuh tidak yakin bahwa isi kotak kayu itu adalah Rafael.


“Oke!” Dokter Ana terlihat sangat bersemangat ketika mencongkel paku yang menyatukan ujung-ujung kotak kayu.


“Ini sangat menjengkelkan,” gerutunya seraya melemparkan palu ke lantai. “Lebih mudah untuk memecahkan struktur virus atau menyabotase satelit.”


“Apa yang kamu tertawakan?” sambungnya lagi saat melihat Lorie sedang tertawa dan memberi tatapan mengejek ke arahnya.


“Tampaknya emosimu juga sedang buruk,” goda Lorie.


Ia lalu memberi perintah kepada para pengawal untuk membantu Dokter Ana membuka “kotak kejutan” sebelum wanita itu murka dan menghancurkan semuanya tanpa sempat dibuka.


Dengan tenaga pria, kotak kayu itu terbuka hanya dalam hitungan menit. Lorie yang masih ingin menggoda sahabatnya langsung terpaku ketika melihat Rafael benar-benar terguling keluar dari kotak kayu itu, disusul oleh delapan anak buahnya yang merosot satu per satu dari dalam kotak kayu. Bau busuk menguar di udara saat Rafael merangkak, membuat cairan kuning kemerahan yang berasal dari lutut dan pangkal pahanya membentuk pola abstrak di lantai.


Saat pria itu mendongak, pandangan mereka bertemu di udara. Yang membedakannya dengan kejadian beberapa minggu lalu adalah tak ada lagi kesombongan di wajah Rafael, bahkan sorot matanya tidak lagi garang seperti tempo hari. Tidak ada lagi sikap angkuh dan mengintimidasi. Tidak ada lagi harga diri. Hanya seonggok daging busuk yang memohon belas kasihan dan pengampunan akan nyawanya agar dibebaskan dari siksaan.


“Nona Lorie, mohon ampuni aku, maafkan kesalahanku,” ucap pria itu dengan suara serak.


Entah sudah berapa lama pria itu tidak makan atau minum. Dari bobot tubuhnya yang menyusut drastis dan lukanya yang bernanah, Lorie sangat yakin bahwa Alex Smith benar-benar tidak berbelas kasihan terhadap Rafael. Sayangnya, ia sendiri tidak memiliki simpati atau empati untuk pria itu.


“Nona Lorie, tolong aku ... jangan siksa lagi, aku sungguh tidak bisa menanggungnya lagi,” rintih Rafael. “Kalau tidak, kamu bunuh saja aku ... aku mohon, hentikan ... aku tidak sanggup lagi ....”


Lorie mengangkat alis dan mempehatikan wajah Rafael yang lebam dan babak belur. Seingat Lorie, pakaian pria itu masih sama dengan yang terakhir dia gunakan. Sekarang pakaian itu lusuh dan busuk, membuat penampilannya terlihat semakin mengenaskan.


Akan tetapi, hal itu tidak membuat Lorie tergerak sama sekali. Ia mencibir ke arah pria itu sambil berkata, “Membunuhmu? Itu terlalu mudah. Bukankah aku sudah memperingatkanmu waktu itu? Kesempatanmu untuk menyesal sudah lewat, Tuan Rafael. Sayang sekali ... seharusnya kamu mendengarkanku lebih awal, berhenti sebelum semuanya terlalu terlambat.”


Lorie menumpu kedua tangannya di atas kursi roda dan berdiri. Ia menggeleng pelan ketika melihat Dokter Ana bergegas mendekat untuk membantunya.


Apa yang ia alami, semuanya karena bedebah bernama Rafael itu. Masalah antara dirinya dan Raymond Dawson, semua berawal dari Rafael. Dipukuli sampai berada di ujung gerbang kematian ... lalu janin yang sekarang ada dalam perutnya ....


Pembalasan untuk semua itu ... akan ia lakukan dengan tangannya sendiri ....


***


Maaf hari ini cuma 2 bab, lagi sibuk bgt di duta...


semoga kalian suka...