
Telah lewat tengah hari ketika Kinara bangun keesokan harinya. Ia mengulurkan tangan dan mencari jejak kehangatan di sisinya, tetapi hanya udara kosong yang teraih. Sisi ranjang yang ditiduri Alex semalam sudah dingin, itu artinya sudah cukup lama pria itu pergi. Kinara menguap dan membuka matanya yang masih terasa berat.
"Astaga, badanku yang malang ...," erangnya sambil berbaring telentang. Seluruh sendi dan tulangnya terasa ngilu. Tubuhnya remuk redam seperti baru saja berkelahi dengan seekor gajah raksasa.
"Monster buas itu ... aku bisa mati kalau dia melakukannya tiap hari," gumamnya lagi sambil menghela napas.
Kinara bangun dan bersandar di dipan, lalu menyadari sesuatu ketika tanpa sengaja melihat ke bawah. Ia sudah memakai baju tidur dengan rapi. Tubuhnya tidak lagi terasa lengket. Semuanya terasa nyaman dan bersih.
Apakah Alex yang melakukan semua ini?
Pipi dan telinga Kinara memerah. Ia tidak dapat membayangkan bagaimana suaminya melakukan ini semua ketika ia masih terlelap.
"Oh, ya ampun ... pria itu memang benar-benar ...."
Kinara menutupi wajahnya dengan tangan sambil menendang-nendang udara kosong. Ia tidak tahu harus merasa tersanjung atau kesal atas perbuatan suaminya itu.
Setelah menenangkan diri dan mengumpulkan tenaga, Kinara menapakkan kaki dan turun dari ranjang. Niatnya untuk berganti pakaian tertunda ketika ekor matanya menangkap sebuah memo yang diletakkan di atas meja. Tulisan tangan suaminya yang rapi dan tegas tercetak jelas di selembar kertas. Tanpa ia sadari, garis bibirnya melengkung ke atas ketika melihat isi catatan itu.
Aku harus ke kantor, ada urusan mendesak. Sudah kusiapkan sup untukmu, panaskan lagi sebelum dimakan.
Kinara menatap kertas itu cukup lama, membacanya berulang-ulang-ulang sebelum melipatnya dan memasukkannya ke dalam dompet. Oh, ia memang senang menyimpan benda-benda sentimetil seperti itu untuk dilihat kembali sewaktu-waktu. Hal-hal kecil yang terlihat sepele seperti ini justru biasanya terkenang selamanya ... perhatian yang membuat hati terasa hangat dan damai. Mungkin bisa menguatkannya ketika hubungan mereka sedang dalam masalah, atau ketika ia sedang merasa rindu. Siapa tahu ...
Ia mengedarkan pandangan, kemudian menyadari bahwa Alex sudah membawa semua barang-barangnya kembali ke kamar ini. Didorong oleh rasa ingin tahu, Kinara berjalan menuju walk in closet dan mendapati semua pakaiannya juga telah tersusun kembali seperti sediakala. Sorot matanya tiba-tiba melembut. Semua perhatian sederhana ini cukup membuatnya merasa terharu.
Kinara membuka lemari dan mengambil setelan berwarna cokelat muda polos dan scarf abu-abu. Setelah berganti pakaian dan memakai make-up tipis-tipis, ia mengambil tas dan buku-bukunya. Sudah hampir satu minggu ia tidak ke kampus, pasti sudah tertinggal banyak. Semoga rekan sekelasnya ada yang berbaik hati dan mau meminjamkan catatan. Setelah yakin tidak ada yang tertinggal, ia membuka pintu dan berjalan keluar. Namun langkahnya tertahan di depan pintu. Lorie berdiri di hadapannya, lalu bergegas memeriksa tubuhnya dari ujung rambut hingga ujung kaki.
"Nyonya, Anda baik-baik saja?" tanya gadis itu dengan wajah cemas.
Kinara mendengkus kesal. "Sudah aku katakan, berhenti memanggilku dengan sebutan 'nyonya', aku tidak suka."
Lorie menoleh ke belakang sebelum mendekatkan tubuhnya dan berbisik, "Ada nyonya besar di ruang tamu. Dia akan membunuhku kalau mendengar aku memanggilmu langsung dengan menyebut namamu."
Kinara ikut berbisik. "Nyonya besar? Maksudmu nyonya Beatrice?"
Lorie menggeleng cepat. "Nyonya Brenda," jawabnya masih dengan setengah berbisik.
"Granny? Apa yang dia lakukan di sini?" tanya Kinara dengan kening berkerut.
"Entahlah. Mungkin dia mengkhawatirkan keadaanmu sehingga datang bersama seorang dokter perempuan untuk memeriksamu."
"Dokter?" Kerutan di kening Kinara semakin dalam. "Kata siapa aku sakit?"
"Kamu tidak sakit?" Lorie menatap Kinara dengan sorot tidak percaya. "Tapi semalam aku mendengar kamu berteriak-teriak dari dalam kamar, juga tuan Alex yang terus menggeram dan mengumpat. Aku pikir dia sedang memukulimu. Apakah kalian berdua bertengkar ketika sampai di rumah kemarin malam?"
Kinara melotot dan hampir tersedak. Memangnya suara mereka semalam sekeras apa?
"Dari mana kamu mendengar suaraku semalam?" selidik Kinara. Ia tidak sanggup membayangkannya ... Lorie mendengar semuanya ... itu benar-benar ....
"Dari depan pintu," jawab Lorie tanpa menaruh rasa curiga sama sekali.
"Dan ... apa yang kau lakukan di depan pintu kamar ini tengah malam buta?
"Aku ingin memeriksamu karena tidak ada di kamar sebelah, tapi saat mendengar kalian–"
"Sssht! Pelankan suaramu!" Kinara menempelkan telunjuknya di bibir Lorie dan menatap pengawalnya itu dengan mata menyipit.
Lorie tiba-tiba terbelalak hingga bola matanya hampir melompat keluar ketika sebuah pencerahan turun di otak kecilnya yang malang.
"Oh ... Oh, astaga ... Apakah kalian ... k-kalian berdua ... s-semalam kalian–"
"Diam!" Kinara menempelkan telunjuknya di bibir dengan gemas. Ia tidak mau semua orang mendengar dan mengetahui hal ini. "Tutup mulutmu rapat-rapat. Mengerti?"
“Ada apa?” tanya Kinara lagi ketika melihat wajah Lorie yang tampak ragu.
“Aku bisa diam, tapi ... semalam ada dua orang bodyguard yang berjaga di depan kamar,” jawab Lorie dengan suara hampir tak terdengar.
“A-apa katamu ....” Kinara benar-benar shock. “Kenapa ada bodyguard di depan kamar?”
“Memang selalu ada yang berjaga di depan kamar setiap malam,” jawab Lorie sambil menyeringai kikuk, “Kamu lupa?”
“Oh ....”
Kinara tampak linglung, sepertinya ia tidak melihat ada pengawal di depan pintu semalam. Memang benar selalu ada pengawal yang berjaga ... tapi ....
Kinara mengangkat satu tangannya ketika melihat Lorie akan berbicara lagi. Ia tidak ingin mendengar apa pun lagi. Tidak ingin memikirkan apa pun. Semua sudah terlanjur, jadi biarlah rasa malu ini ia bawa sampai mati. Setelah menghela napas panjang, ia melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda menuju ruang tamu.
“Granny,” sapanya pada wanita berambut perak yang sedang duduk di sofa.
Kinara menoleh pada wanita yang duduk di sebelah Brenda, lalu raut wajahnya berubah sekilas ketika mengenali siapa wanita itu. Wanita itu sekarang terlihat jauh lebih dewasa dan anggun, tapi tetap saja ... sorotnya licik itu tidak pernah berubah.
“Bagaimana keadaanmu?” tanya Brenda seraya menghampiri Kinara.
“Saya baik-baik saja, Granny. Bagaimana dengan Anda sendiri?”
Brenda melambaikan tangannya. “Jangan berbicara terlalu kaku denganku. Berkat kamu, aku masih hidup sampai sekarang. Jericho, anak tidak tahu diuntung itu, dia benar-benar mendapat balasan yang setimpal,” ujarnya dengan berapi-api.
“Yah ... saya, um, maksudku, aku memang gelap mata ketika menghajarnya. Maaf ....”
“Tidak perlu minta maaf. Itu setimpal untuknya.”
“Granny ....”
Kinara dan Brenda menoleh bersamaan ke arah sumber suara yang merdu dan halus itu.
Wanita yang memakai dress berenda berwarna pastel itu tersenyum dengan sangat manis dan berkata, “Anda belum mengenalkan kami.”
“Lihat, aku sampai lupa,” kata Brenda, “Kinara, ini adalah Jessica. Jessica, dia adalah istri Alex.”
“Senang bertemu denganmu,” ucap Jessica. Ia berdiri dengan sangat elegan, lalu menghampiri Kinara dan mengulurkan tangannya.
“Kinara,” balas Kinara sambil menjabat tangan Jessica seraya tersenyum tak kalah manis
Jadi, wanita ini bernama Jessica? Aku pikir mereka adalah dua orang yang berbeda, tapi ... ini akan sangat menarik.
Jessica kembali duduk dan menatap Kinara tanpa berkedip, sementara Kinara berpura-pura tidak melihat hal itu. Ia duduk tepat di seberang rivalnya.
“Apakah Anda mencari Alex? Dia sudah berangkat ke kantor,” kata Kinara pada Brenda Smith.
“Tidak. Aku mencarimu secara khusus untuk berterima kasih.”
“Itu sungguh tidak perlu,” sanggah Kinara.
“Tidak. Tidak. Aku berutang nyawa padamu,” ujar Brenda sambil memberi tanda pada pelayannya yang berdiri di dekatnya. Gadis itu langsung mendekat pada Kinara dan menyerahkan sebuah kotak beludu berwarna merah maroon.
“Semoga kamu suka,” kata Brenda lagi.
“Terima kasih, Granny,” jawab Kinara dan memasukkan kotak itu ke dalam tasnya. Ia sebenarnya tidak mengerti dengan jalan pikiran wanita tua itu. Ingin mengucapkan terima kasih tetapi datang dengan mengajak mantan kekasih Alex? Ini benar-benar sangat lucu, bahkan bisa dibilang sedikit keterlaluan. Ingin memprovokasinya, hum? Lagipula, sejak kapan wanita licik itu datang? Bukankah dia berada di luar negri?
“Sebenarnya, ini semua adalah ide Jessica. Dia baru saja pulang dari London dan langsung menemuiku. Aku menceritakan semuanya, lalu dia mengajakku untuk datang berkunjung. Hadiah tadi, dia juga yang memilihkannya. Aku percaya padanya karena kamu tahu, seleranya selalu bagus,” oceh Brenda dengan wajah semringah.
Pantas saja, gumam Kinara dalam hati. Senyuman di wajahnya semakin lebar. Kini ia tahu apa tujuan sebenarnya dua wanita siluman ini bertamu ke rumahnya.
“Sebenarnya aku tidak langsung menemui Anda,” ralat Jessica sambil tersipu, “Kemarin aku mengunjungi kota kecil itu lebih dulu, tempat aku biasa ke sana bersama Alex. Anda tahu, yang ada taman bermainnya di tengah kota. Ada banyak kenangan di sana. Harus kuakui, aku merindukannya ... oh, maaf, bukan maksudku ....”
Jessica mendongak dan menatap Kinara dengan raut wajah menunjukkan penyesalan, tapi Kinara tahu dengan pasti bahwa hati wanita itu tidak menyesal sama sekali. Perempuan licik itu sedang berusaha memanas-manasinya!
“Tidak masalah,” jawab Kinara sambil berusaha sekuat tenaga agar tidak mengusir dua orang tamu tak diundang ini. Selain itu ... berarti yang kemarin dilihat oleh Alex benar. Dia melihat Jessica. Suaminya tidak salah mengenali orang.
“Um, sebenarnya aku masih ingin bercakap-cakap, tapi aku benar-benar sudah terlambat untuk masuk kelas,” lanjut Kinara sambil melihat jam di pergelangan tangannya, “Bisakah kita bertemu lagi lain kali dan melanjutkan pembicaraan yang menyenangkan ini?”
“Tidak apa-apa, pergilah. Aku bisa mengunjungimu lagi kapan-kapan,” jawab Brenda, “Maaf sudah datang tanpa memberitahu lebih dulu.”
“Aku yang minta maaf, Granny. Lain kali aku akan mengunjungi The Spring Mountains bersama Alex,” balas Kinara seraya berdiri dan bersiap untuk pergi.
“Oh, ya ampun!” serunya lagi ketika tangannya “tanpa sengaja” menyentuh scarf yang terlilit leherya hingga terlepas. Dengan tidak terlalu terburu-buru, ia mengambil potongan kain itu dan menutupi lehernya kembali.
“Apa itu?” tanya Brenda ketika melihat bekas cakaran, gigitan, dan bercak merah di sepanjang leher dan bahu Kinara.
“I-ini ... bukan apa-apa,” jawab Kinara dengan memasang wajah polosnya. Namun ia tertawa puas dalam hati ketika melihat wajah Jessica yang mendadak pias. Ia tahu, wanita itu pasti mengerti apa yang terjadi antara dirinya dan Alex.
Rasakan! Ingin merebutnya lagi dariku? Teruslah bermimpi karena kali ini aku tidak akan tinggal diam!
***