Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 51


Dubai, Emi Emirat Arab.


Sebuah sedan meluncur mulus di antara deretan gedung-gedung pencakar langit yang menjulang hingga menembus awan. Wanita yang duduk di kursi penumpang tampak termenung, memandangi orang-orang yang berjalan di trotoar, juga kendaraan yang lalu-lalang di sekelilingnya. Sesekali tangannya mengusap perutnya perlahan. Hasil pemeriksaan minggu lalu cukup bagus, pembentukan organ janin dalam kandungannya mengalami perkembangan yang signifikan tanpa kendala. Meski rahimnya lemah, tapi bayinya masih bisa dipertahankan.


Hanya Tuhan yang tahu bagaimana terkejut dan bahagianya Lorie saat itu. Sekarang ia benar-benar menjaga bayinya dengan baik, meminum semua vitamin dan obat penguat kandungan yang diberikan oleh dokter, hanya mengonsumsi makanan bergizi, juga istirahat yang cukup. Ia ingin bayinya tumbuh dan lahir dengan kondisi yang sehat.


“Nona, kita sudah sampai,” ucap seorang gadis yang sejak tadi duduk diam di samping Lorie. Dia adalah Jenty, asisten sekaligus sekretaris pribadi Lorie di Dubai.


“Oh. Oke.”


Lorie mengambil tasnya dan turun. Ia menatap bangunan EON’s Company yang menjulang di hadapannya. Hari ini ada rapat dengan CEO perusahaan ekspor-impor yang akan bekerja sama dengan Jotuns Corps itu. Lorie menyelipkan anak rambut yang meriap ke balik telinga sebelum melangkah memasuki lobi utama.


Sejak kejadian di Venice, Alex mengirim dua orang pengawal bayangan untuk menjaganya, jadi ia tidak merasa khawatir lagi saat bepergian.


Jenty berjalan menuju resepsionis dan memberitahu janji temu dengan sang CEO. Ia mengangguk sopan ketika resepsionis itu meminta mereka untuk menunggu.


Sang resepsionis menghubungi atasannya untuk memberitahu perihal kedatangan perwakilan dari Jotuns Corps. Tak lama kemudian, gadis itu meletakkan gagang telepon dan mempersilakan Lorie dan Jenty untuk pergi ke lantai 53. Ia juga memanggil seorang satpam untuk mengantar kedua tamu itu ke lift.


“Silakan, Nona Lorie,” ucap Jenty kepada Lorie saat pintu lift di depannya terbuka.


“Terima kasih.”


Lorie masuk dan berdiri di sudut belakang. Ia memperhatikan Jenty yang sedang menekan angka 53, lalu berdiri di depannya. Gadis itu cukup cekatan dan sopan, Lorie menyukainya. Pembawaannya juga tenang dan tidak banyak tingkah sehingga cocok dengan Lorie.


“Silakan, Nona,” ujar Jenty lagi saat pintu lift terbuka di lantai yang mereka tuju.


Hanya ada satu lorong di depan pintu lift. Lorie dan Jenty berjalan menyusuri hingga ujung lorong dan berhenti di depan meja cokelat muda yang nampak mengilap. Seorang wanita cantik berambut pirang menyambut mereka di samping meja dan mengarahkan untuk masuk ke ruangan rapat.


Begitu pintu terbuka, yang pertama kali tertangkap oleh mata Lorie adalah seorang pria yang memakai jas biru tua di tengah ruangan. Pria itu duduk di kursi paling ujung, menatap serius ke layar laptop di hadapannya. Postur tubuhnya yang tegap saat duduk terlihat menawan. Sepasang alis hitam tebal yang melintang di keningnya memberi kesan dominan dan tangguh. Mungkin karena mendengar suara pintu yang terbuka, pria itu mendongak. Tepat pada saat itu, tatapan keduanya bertemu di udara.


Iris hijau zamrud dengan bulu mata yang sangat lentik tak melepaskan tatapannya dari Lorie. Sebaris gigi yang putih bersih terlihat saat seulas senyum muncul di wajah pria itu. Kalau bukan latihan pengendalian diri bertahun-tahun yang dilakukannya, sepertinya Lorie sudah akan menabrak ujung meja karena ditatap sedemikian rupa oleh pria itu.


“Halo, Nona. Aku sungguh tidak menyangka itu adalah kamu. Selamat datang,” sapa pria itu seraya berdiri dari kursinya dan mengulurkan tangan ke arah Lorie.


“Aku Daniel, semoga kita bisa bekerja sama ke depannya,” ucapnya lagi seraya menjabat tangan Lorie dengan erat.


Meski muncul sedikit kerutan di keningnya karena sambutan yang tidak lazim itu, Lorie tetap tersenyum dan membalas, “Halo, Tuan Daniel. Saya Lorie, perwakilan dari Jotuns Corps. Semoga kita bisa bekerja sama.”


“Baik. Silakan duduk, Nona Lorie.”


Daniel kembali duduk di kursinya dan meminta sekretarisnya untuk menampilkan presentasi mereka di layar proyektor. Lorie memerhatikan dengan saksama semua bagan dan keterangan yang dijelaskan oleh pihak EON’s. Itu 90% seperti yang diharapkan oleh Alex, dan ia cukup puas. Penambahan beberapa poin yang diajukan oleh Lorie diterima dengan baik oleh Daniel. Hal itu membuat rapat berjalan lancar dan selesai lebih awal.


“Terima kasih, Tuan Daniel. Senang bekerja sama dengan Anda,” ujar Lorie setelah menandatangani kontrak kerja dengan EON’s Company.


“Sama-sama, Nona Lorie. Untuk merayakannya, bagaimana kalau aku mentraktirmu makan siang?”


Lorie cukup terkejut mendengar tawaran itu. Gerakannya yang sedang merapikan dokumen dan memasukkannya ke dalam tas terhenti sejenak. Ia menoleh ke arah Daniel dan mendapati pria itu sedang menatapnya dengan intens. Untuk pertama kalinya, Lorie merasa sedikit gugup.


“Terima kasih atas tawaran Anda, Tuan. Tapi aku ada pertemuan dengan klien lain. Mungkin lain kali?” balas Lorie seraya menurunkan pandangan matanya.


“Baik, lain kali ....”


Entah mengapa Lorie merasa nada suara Daniel terdengar sedikit kecewa. Ia menepis pikiran itu, lalu bangkit berdiri sambil berkata, “Sampai jumpa lagi, Tuan Daniel.”


“Sampai jumpa lagi, Nona.”


Lorie menahan napas. Ia bisa merasakan pria itu masih terus menatapnya hingga ia memegang gagang pintu. Tanpa sadar napas yang tertahan sejak tadi baru bisa ia embuskan saat sudah berada di dalam lift.


“Tuan Daniel terus memperhatikan Anda sejak memasuki ruangan, Nona. Tampaknya dia tertarik kepada Anda.”


Suara Jenty yang tiba-tiba membuat Lorie terkesiap. Jadi, itu bukan khayalannya saja? Pria itu benar-benar menatapnya?


Kening Lorie mengernyit dalam. Siapa pria itu sebenarnya?


***