Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 86


“Apakah kamu tidak merasa sedikit tidak adil untukku? Kita tidak terlalu sering bersama, aku tidak bisa maksimal dalam menjerat hatimu.” Daniel masih berusaha untuk bercanda meskipun rasanya jantungnya baru saja pindah ke tenggorokan.


Mendengar ucapan itu, Lorie hanya bisa tersenyum tak berdaya dan berkata, “Memang tidak adil, tapi perjanjian tetaplah perjanjian. Terima kasih atas perhatianmu selama ini. Kamu bisa memberikannya kepada perempuan lain yang akan membalas perasaanmu.”


Daniel menghela napas panjang.


“Jadi benar-benar tidak bisa?” tanyanya.


“Hm.”


“Apakah karena Raymond?”


“Ya.”


“Apa kamu akan bersamanya?”


“Kamu tidak perlu memikirkannya karena aku juga tidak tahu.” Lorie bangkit dan melepaskan jas Daniel dari bahunya.


“Aku sungguh menghargai semua yang kamu lakukan, tapi ke depannya jika kita bertemu lagi, aku harap itu hanya untuk masalah pekerjaan,” ucapnya lagi seraya tersenyum lembut.


“Baiklah ... bagaimana dengan makan malam untuk yang terakhir kalinya? Beri aku perpisahan yang layak.” Daniel memohon dengan ekspresi yang tak berdaya.


“Mmm ... oke. Jam tujuh jemput aku di sini.”


“Oke. Sampai jumpa nanti malam.”


Daniel mengusap pipi Lorie sebelum berbalik dan pergi. Semua yang harus dilakukan sudah ia lakukan, pada akhirnya hanya bisa menerima keputusan itu dengan lapang dada.


Saat pria itu hendak berbelok keluar dari taman itu, siluet seorang wanita yang tampak dingin dan acuh tak acuh sedang bersandar di tembok dan menatap ke arahnya dengan penuh rasa simpati. Daniel mengenalnya, dia adalah wanita yang mengancam akan membuatnya cacat seumur hidup jika menyakiti Lorie.


“Patah hati?” tanya wanita itu seraya mengulas senyum yang menurut Daniel terlihat seperti sebuah sindiran.


“Urus saja urusanmu sendiri,” balas Daniel dengan ketus.


“Tenang saja, hormonmu akan menetralkan semua rasa sakit itu dalam waktu singkat. Mungkin dua bulan ke depan kamu akan bertemu seorang gadis cantik dan mulai tergila-gila lagi kepadanya.”


Daniel tidak mau repot-repot menggubris wanita aneh itu. Ia mengangkat dagunya tinggi-tinggi dan berjalan melewatinya tanpa menoleh.


...***...


Makan malam diatur sepenuhnya oleh Daniel. Ia memesan sebuah restoran bergaya western di tengah kota. Tempat itu adalah referensi dari salah satu rekan bisnisnya. Dan ketika ia meminta asistennya untuk memeriksa, restoran itu memang sangat bagus dan mewah. Secara khusus ia meminta buket bunga segar ditaruh di sudut-sudut ruangan, juga dua lilin merah besar untuk diletakkan di atas meja.


Dalam sekejap mata Daniel dipenuhi kobaran api. Ia menggenggam jemari Lorie dan membantunya duduk di kursi yang berlapis beludru merah tua.


“Apa kamu tersentuh?” tanya pria itu seraya tersenyum lebar.


“Bohong kalau aku bilang tidak,” jawab Lorie. Maniknya yang tajam dan tegas memantulkan nyala lilin di atas meja.


Daniel menatap wajah yang indah itu dan tersesat untuk sesaat. Kecantikan Lorie tidak bisa dikatakan luar biasa, tapi pembawaan dan karakternya itu sangat menarik: kuat, tegas, lugas, apa adanya. Malam ini, gaun satin berwarna peach yang dikenakan olehnya membuat Lorie tampak semakin menarik. Ia terlihat seperti buah persik yang ranum dan menggoda. Bagaimana bisa ia tidak tergila-gila kepadanya?


“Kamu ingin memesan makan malam kita atau terus menatapku seperti itu?” goda Lorie.


Daniel berdeham dan berkata, “Sebenarnya aku lebih suka menatapmu, tapi ... well, kita datang untuk makan malam, jadi ....”


Sekilas Lorie bisa melihat wajah Daniel sedikit memerah. Dia juga bisa malu? Lorie hampir tertawa karena penampilan kikuk pria itu.


“Apakah rasa tidak tahu malumu mengalami penurunan level? Biasanya kamu sangat bermuka tebal,” ledek Lorie.


“Itu karena status kita sekarang hanya teman. Tidak mungkin aku menggoda temanku, bukan?”


Nada suara Daniel terdengar sedikit getir, dan itu membuat Lorie tidak ingin meledeknya lagi.


“Aku benar-benar minta maaf, aku ....”


“Lupakan. Bisa berteman denganmu juga sudah lebih dari cukup.” Daniel menyerahkan buku menu ke hadapan Lorie. “Cepat pilih, mana yang ingin kamu makan?”


Lorie mengambil buku menu itu dan memilih hidangan yang tidak pedas. Sejak memasuki trimester kedua, asam lambungnya sedikit bermasalah. Setelah selesai memilih, ia mengembalikan buku itu ke tangan Daniel.


“Apa kamu akan kembai ke Dubai atau menetap di sini?” tanya Daniel sambil memilih menu untuk dirinya sendiri. Karena Lorie sedang hamil, ia tidak berani memesan champagne.


“Itu ... belum diputuskan,” jawab Lorie sambil mengalihkan tatapannya ke arah lain. Ia tidak mau Daniel mendapatinya sedang berbohong.


Lorie sudah bertekad, untuk urusan pekerjaan nanti, ia akan meminta bantuan Jenty untuk mewakilinya. Tidak ada hubungan romantis yang ambigu lagi, tidak ada hubungan percintaan dengan pria mana pun. Hanya dirinya dan anaknya saja. Hanya mereka berdua ... itu sudah lebih dari cukup.


“Di masa depan, jangan pernah sungkan untuk meminta bantuan dariku.” Daniel mengangkat gelas berisi air putih dan bersulang dengan Lorie. “Teman?”


“Teman,” balas Lorie sambil tersenyum lembut.


Suara dentingan halus terdengar di udara ketika sisi gelas mereka saling bersentuhan. Senyuman di wajah Lorie semakin lebar. Ia merasa satu beban lagi baru saja terangkat dari pundaknya.


***