Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 37


Setelah pintu kamarnya tertutup, Lorie menurunkan selimut dari wajahnya dan duduk bersandar di ranjang. Emosinya benar-benar buruk, kehadiran Raymond membuatnya semakin buruk, ditambah lagi dengan Alice membuatnya semakin kacau.


Lorie sungguh tidak ingin berurusan dengan Raymond Dawson, tidak ingin merusak hubungan pria itu dengan tunangannya. Selain itu, Alice selalu berusaha menunjukkan kepemilikannya setiap kali muncul di rumah sakit, wanita itu jelas sedang cemburu dan khawatir kekasihnya akan direbut.


Hal itu sangat menjengkelkan karena Lorie tidak berniat merebut siapa pun. Ia cukup tahu diri untuk tidak menaruh harapan kepada calon suami orang lain hanya karena kesalahan satu malam.


Lagi pula kalau hanya untuk meminta maaf, ia sudah memaafkan Raymond sebelum pria itu menyadari apa yang terjadi di antara mereka. Kecelakaan itu terjadi bukan karena murni kesalahan Raymond semata, tapi karena keteledorannya juga. Seandainya ia lebih waspada, maka tidak mungkin masuk ke dalam perangkap lawan dan mengakibatkan peristiwa seperti itu.


“Ini sangat menjengkelkan,” gerutu Lorie seraya bangun dan duduk di tepi ranjang.



Ia menggerak-gerakkan kedua tangannya, mengepalkan dan menguraikan jari-jarinya untuk memeriksa kekuatannya. Tak kama kemudian ia berdiri dan mencoba untuk berjalan ke jendela. Kepalanya terasa sedikit berputar, tapi itu masih bisa ditolerir. Selangkah demi selangkah, ia berhasil mencapai tepian kaca dan bersandar di tembok, menatap kendaraan yang berlalu lalang di bawah.



Sejujurnya, saat melihat wajah Raymond ketika pertama kali membuka mata, Lorie sangat terkejut hingga hampir berteriak. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa pria itu akan menemukannya.


Ia pikir ... Raymond tidak akan berusaha untuk mencarinya. Untung saja lehernya yang sakit mencegahnya untuk berteriak. Kalau tidak, mungkin ia sudah terekspos saat itu juga. Entah mengapa instingnya langsung memberi reaksi untuk berpura-pura tidak mengenali pria itu. Mungkin karena alam bawah sadarnya secara tidak langsung ingin memblokir pria itu dari ingatan, tidak mau menjalin kontak apa pun dengannya lagi.


Akan tetapi, pada kenyataannya, pria itu sangat keras kepala dan menjengkelkan, terus datang setiap saat seperti lintah yang menempel dan tidak mau lepas. Mungkin ... ia harus mempertimbangkan masukan dari Dokter Ana untuk pindah dari rumah sakit. Dengan demikian, ia tidak perlu lagi bertemu dengan pasangan menyebalkan itu.


Ya. Begitu saja ....


“Aunty!”


Lorie menoleh dengan cepat saat mendengar suara merdu yang sangat dirindukannya itu. Matanya bersinar cerah saat melihat tiga bocah berwajah mirip satu sama lain sedang menyerbu ke arahnya. Ia merentangkan tangan untuk menyambut ketiga bocah lucu itu dan memeluk mereka satu per satu.


“Hai, Sweetie, apa kabar?” tanya Lorie seraya menciumi pipi Amber.


“Aku sangat merindukanmu, Aunty! Kata Daddy, kamu sedang sakit ... dia ingin kami menjenguk untuk menghiburmu,” jawab Amber sambil mengetatkan pelukannya.


Tiba-tiba kesadaran Lorie kembali. Ia lupa kalau triplets pasti datang bersama ayah mereka. Saat ia mendongak perlahan, Alex Smith dan Billy sedang berdiri di dekat pintu dan menatapnya dengan mata memicing. Mereka berdua tidak mengatakan apa pun, tapi sorot mata itu sudah lebih dari cukup untuk membuat nyali Lorie menciut.


Billy melangkah mendekat sambil berkata, “Jadi, kamu mendadak sadar saat melihat Amber?”


“Eng.”


“Apakah itu bahkan mungkin untuk terjadi, Lorie?” tanya Billy yang semakin mendekat.


Lorie menatap lantai dan berdiri dengan kikuk. Apakah ia sudah tertangkap basah?


“Itu ... aku ... ehm, aku ....”


“Hentikan, Billy,” ucap Alex seraya menahan lengan sahabatnya yang masih ingin merangsek maju ke arah Lorie. “Duduklah.”


Billy berdecak kesal dan duduk di seberang triplets yang sedang menatap ayah mereka dan Lorie bergantian.


“Bisa kamu jelaskan, apa yang sedang terjadi, Lorie?” tanya Alex seraya mengunci tatapan kepada anak buahnya itu.


Lorie menghela napas dalam-dalam sebelum menjawab, “Maafkan saya karena terpaksa membohongi Anda berdua, Tuan. Kalau saya mengingat Anda dan Billy tapi melupakan dia, itu akan terlihat janggal.”


“Raymond Dawson?” tanya Alex, merujuk kepada kata “dia" yang diucapkan oleh Lorie.


Lorie mengangguk pelan. Karena sudah begini, lebih baik ia mengatakannya saja sekalian. Wanita itu berdeham dan menambahkan, “Bisakah saya pindah dari sini? Saya tidak ingin bertemu dengannya.”


Sekarang Billy semakin yakin kalau tebakannya sebelumnya itu benar, tapi ia tidak berani mengatakannya di depan Lorie. Selain karena takut menyinggung perasaan wanita itu, ia juga takut dipukuli lagi oleh Alex. Padahal sudah setua ini, ia bahkan sudah memiliki dua orang anak, tapi masih saja takut ketika Alex memelototinya. Aura sahabatnya itu memang benar-benar menyeramkan.


“Baik. Aku akan mengatur agar kamu bisa pindah ke Spring Mountains,” ucap Alex tanpa menanyakan apa penyebab Lorie ingin pindah.


“Terima kasih, Tuan,” balas Lorie seraya tersenyum tipis.


***