Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
35


Rupaya sampai kedua orang tua palsu Dion pulang, Tara masih tidak mau keluar dari kamarnya dan sekarang gadis itu malah terlihat sedang memejamkan mata.


"Ayo, kita pulang Tara, nanti kamu tidur di rumah saja," kata Gio yang melihat Tara tidak mau membuka mata. "Tara ini sudah pvkvl sepuluh malam, ayolah jangan bercanda seperti ini aku tidak suka." Gio terlihat duduk di pinggir ranjang sang istri.


"Malam ini aku mau menginap di sini, kau saja yang pulang Gio," ucap Tara membuka suara dengan mata yang masih terpejam. "Bilang sama mommy, kalau menantu kesayangannya ini mau menginap, satu malam saja di sini karena aku sangat merindukan kamarku ini."


"Aku tidak setuju kamu akan menginap di sini, sekarang lebih baik ikut aku pulang, atau aku akan menggendongmu secara paksa," ujar Gio menakut-nakuti sang istri agar tidak menginap di sana. "Ayo bangun, sebelum aku menggendongmu secara paksa," sambung Gio. Sehingga membuat Tara terpaksa membuka matanya lebar-lebar.


"Ancamanmu basi, Gio! Tidak bisakah kamu memberikan hatiku merasa senang sebentar saja? Walau permintaanku hanya ingin menginap di sini, bukan malah mau pergi ke luar Negeri," gerutu Tara. Tidak lama gadis itu sekarang terlihat sudah bangun dan langsung duduk dengan mata yang terus saja memelototi sang suami. "Pulang sana, besok pagi aku akan pulang sendirian." Tara tidak peduli dengan tatapan Gio, ataupun kalimat larangan sang suami yang memintanya untuk jangan menginap.


Ketika keduanya masih saja saling tatap-tatapan. Tiba-tiba Yana dan Tika masuk ke kamar Tara dengan membawa mapan yang berisi kue kesukaan Tara yang tadi.


"Apa putri cantik Mama masih merasa mual?" tanya Yana dengan bibir yang berhias senyum. Karena ia mengira kalau Tara, putri keduanya itu benar-benar sedang mengidam. Dan itu artinya sang putri akan memberikannya cucu, itu yang membuat Yana sangat senang. "Mama bawakan kamu kue kesukaan kamu, sekarang kamu makan ini ya."


Tara menggeleng. "Aku sudah kenyang Ma, dan aku juga sudah tidak mau muntah-muntah lagi." Tara menatap sang ibu dan kakaknya secara bergantian. "Apa tamu Mama sudah pulang?" tanya Tara yang mengingat kalau malam ini adalah acara lamaran sang kakak.


Yana menjawab, "Iya, calon besan dan menantu Mama susah pulang."


"Mereka kaya raya Tara, tidak seperti suami kamu ini, sudah kampungan miskin pula. Kalau Dion pasti kamu sudah tahu dia laki-laki yang bertanggung jawab dan luar biasa," ucap Tika yang malah merendahkan Gio dan menyanjung-nyanjung Dion, laki-laki penipu itu. Membuat Tara menghela nafas lalu gadis itu terlihat menghembuskan nafas kasar. "Kenapa? Apa kau cemburu, karena Dion mantan pacarmu akan menikah dengan Kakakmu ini?" Senyum mengejek Tika sangat terlihat jelas pada bibir gadis yang sudah tidak perawan itu lagi. "Apa kamu tidak mampu menjawab pertanyaanku, sehingga kau hanya bisa diam saja Tara?"


"Ish, Mama ini tidak bisa melihatku ngobrol-ngobrol sebentar dengan adikku dan adik iparku ini," balas Tika. Sehingga membuat Yana, sang ibu langsung saja menggeleng.


"Sayang, ngobrol sewajarnya saja, kamu jangan malah menghina serta merendahkan adikmu seperti ini. Semua itu membuat Mama tidak suka, karena adik kamu sudah rela menjadi pengantin pengganti tapi kamu malah sesuka hati menggores luka di hatinya, dengan kalimat-kalimatmu itu."


"Aku selalu saja lebih unggul dari Tara!" gerutu Tika yang kemudian pergi dari sana. Karena ia tidak suka sang ibu selalu saja membela Tara bukan dirinya, sehingga membuat rasa iri dan dengki tumbuh di dalam hati gadis yang sebentar lagi akan menikah itu.


"Maafkan kak Tika kamu, Tara," ucap Yana sambil menatap Gio dan Tara secara bergantian.


"Tidak apa-apa Ma, kupingku sudah tebal sejak aku tahu Kak Tika ternyata sifat aslinya seperti ini," timpal Tara membalas ucapan sang ibu. "Kalau begitu Tara pulang dulu Ma, nanti kapan-kapan saja aku menginap di sini," kata Tara tiba-tiba yang malah mengurungkan niatnya untuk menginap di rumah itu. Padahal tadi gadis yang berstatus sudah menjadi istri itu bersikukuh ingin tetap menginap, tapi sekarang niat serta keinginan Tara dipatahkan oleh sang kakak. Sehingga membuat gadis itu menjadi berubah pikiran. "Ayo Gio, sekarang kita pulang," ajak Tara yang terlihat turun dari atas ranjang.


Sedangkan Gio dengan cepat membalas kalimat sang istri. "Bukannya tadi kamu ingin menginap?"


"Kalau aku mengintip siapa yang akan kelonin kamu," seloroh Tara menjawab sang suami. Sehingga membuat Yana yang ada di sana langsung percaya kalau Tara dan Gio sudah menyatukan dua tubuh menjadi satu. "Jangan kebanyakan mikir, ayo kita pulang!" Tara berjalan ke arah sang suami dan dengan cepat bergelayut manja di lengan Gio. "Kita pamitan dulu sama Papa di ruang tamu, Mama juga ikut kita ke bawah," ujar Tara.


Bibir Yana semakin melebarkan senyum, ketika melihat putrinya yang sekarang bergelayut di lengan Gio. "Iya, ayo kita turun," timpal Yana. Yang malah melangkahkan kakinya untuk keluar dari sana. Dan membiarkan pasangan suami istri itu nanti menyusulnya belakangan. Karena saat ini Yana benar-benar merasa kalau Tara sudah bisa menerima Gio sebagai suami.