
Mobil yang dikendarai Kinara melesat meninggalkan musuh-musuhnya di belakang. Rasa sakit dan perih pada sekujur tubuhnya ia abaikan. Jantungnya terasa hampir meledak karena adrenalin yang meningkat. Entah sudah berapa kali ia berbelok melewati jalan-jalan setapak, berusaha menghindar dari area terbuka agar tidak mudah ditemukan.
Mata gadia itu memicing ketika melewati perbatasan kota. Ia sedikit menunduk untuk membaca tulisan pada navy blue panel yang berada di seberang jalan: Welcome to Danbury.
"We are far away from home, Granny," ujar Kinara pelan seraya melirik sekilas ke kaca spion, "Anda baik-baik saja ‘kan?"
Kinara masih bisa melihat Brenda Smith mengangguk dengan wajah tegang. Sepertinya wanita tua itu benar-benar shock dan trauma.
"Apakah Anda terluka?" tanya Kinara lagi. Ia tidak sempat mengkhawatirkan apa pun saat melarikan diri dari para penyergapnya tadi.
"Tidak. Nyonya hanya terkejut," jawab gadis pelayanan yang duduk di sebelah Brenda.
"Bagaimana denganmu? Apakah kau baik-baik saja?"
Gadis itu menangguk cepat. "Aku baik-baik saja."
"Bagus."
Kinara menghela napas lega. Para pengejarnya tidak lagi terlihat di belakang. Deru mesin yang mengintimidasi pun tidak terdengar lagi.
Semoga mereka benar-benar kehilangan jejak, harap gadis itu dalam hati.
Pepohonan yang berjajar rapi di kanan dan kiri seakan tanpa ujung. Kinara tidak tahu dari arah mana tadi ia datang. Ia belum pernah bepergian sejauh ini sebelumnya. Tidak. Ini tidak bisa disebut bepergian. Lebih tepatnya, ia belum pernah melarikan diri sejauh ini sebelumnya.
Mobil yang berpapasan dengannya bisa dihitung dengan jari. Jalanan ini termasuk sepi. Tubuh Kinara kembali meremang. Bagaimana kalau para penjahat itu berhasil mengejarnya? Apa yang harus ia lakukan.
"Dua buah pistol semi otomatis tidak akan cukup," gumamnya sambil melihat sekilas pada dua pucuk senjata yang berada di bangku sebelahnya.
"Granny, apakah Anda mengingat nomor darurat yang bisa dihubungi? Ponselku tertinggal di sana. Aku tidak ingat nomor Alex ataupun Lorie."
Kinara melirik kaca spion ketika tidak mendengar jawaban dari Brenda. "Kita bisa mencari telepon umum atau meminjam ponsel seseorang untuk menghubungi orang yang Anda kenal."
Brenda Smith mengerjap beberapa kali sebelum menjawab, “Kita bisa menelepon ke The Spring Mountains. Aku ingat nomornya.”
“Bagus sekali. Sekarang kita hanya perlu mencari telepon.”
“Ya. Bagus,” gumam Brenda seraya termenung. Ia tidak pernah mengira akan berada dalam situasi seperti ini, berada jauh dari rumah, tanpa pengawalan dari siapa pun.
Setidaknya ada gadis pelayan ini, pikir Brenda dalam hati.
Wanita tua itu mengatur napasnya. Seluruh syarafnya yang tegang perlahan mengendur. Ia merasa bersyukur mobil milik pengawalnya bisa membawanya menjauh dari para penjahat itu. Beruntung pula, cucu menantu yang selama ini ia rendahkan bisa mengendarai mobil ini. Kalau tidak, entah apa yang terjadi tadi. Mungkin saja ia sudah tumbang dan berlumuran darah di tempat mengerikan tadi.
Diam-diam Brenda merasa malu. Ia tahu, istri cucunya itu bisa saja meninggalkannya di sana. Setelah semua sikap dan perkataannya yang sangat keterlaluan, gadis itu masih mau menyelamatkannya. Brenda benar-benar kehilangan kata-kata. Kini ia tahu mengapa Alex sangat menyukai dan membela gadis itu.
Hatinya terbuat dari emas. Tidak. Hatinya lebih berharga dari sebongkah berlian, meski yang paling mahal sekalipun.
Tiba-tiba pelupuk mata Brenda menghangat. Kini keluarga Smith berutang budi pada gadis mungil di balik kemudi itu untuk seumur hidup. Kinara bukan saja telah menyelamatkan Alex berkali-kali, tapi kini juga menyelamatkannya.
Brenda berdeham untuk menjernihkan pita suaranya sebelum berkata, “Anak Muda, aku berutang permintaan maaf dan banyak terima kasih padamu.”
Kinara sungguh terkejut mendengar perkataan itu. Ia menatap jalanan di depannya dan kaca spion bergantian.
“Oh, astaga ... Anda sungguh tidak perlu mengatakan hal-hal semacam itu. Semua ini sudah menjadi tanggung jawab saya,” balasnya setelah berhasil memulihkan diri dari keterkejutannya.
“Kau bisa saja meninggalkanku di sana, tapi kau tidak ....”
“Tenanglah, Granny, kita bisa membicarakan ini setelah tiba di rumah. Sekarang mari sama-sama berdoa agar bensin tidak habis sebelum kita mencapai kota,” ujar Kinara seraya tersenyum lebar untuk menutupi kegelisahnnya. Hatinya kebat-kebit, sama seperti jarum yang terus bergerak menuju huruf E.
“Bertahanlah sedikit lagi, please ... please ... please ...,” gumam gadis itu seraya mengigi bibir.
Atap-atap rumah penduduk sudah terlihat dari kejauhan. Namun, jika bensin benar-benar habis saat ini maka setidaknya mereka harus berjalan kaki selama setengah jam untuk mencapai bangunan terdekat. Hal itu benar-benar tidak baik untuk saat ini. Amat sangat buruk.
Pohon-pohon pinus yang berjajar rapi mulai berkurang. Bangunan-bangunan yang menjulang tinggi pun semakin mendekat. Kinara mengetuk-ngetuk kemudi dengan gugup. Ia harus merencanakan sesuatu sebelum tiba di pusat kota. Tiga orang yang berlarian ke sana ke mari pasti akan sangat mencolok di tengah kota. Apalagi pakaian mereka yang berantakan dan ... Kinara melirik ke bawa, ia tidak menggunakan alas kaki. Orang-orang pasti akan merasa heran dan curiga.
Rencana pelarian terbaik adalah ia harus berpencar dengan Brenda dan pelayannya. Dua orang itu bisa mencari pertolongan, sedangkan ia mengalihkan perhatian. Oh, tentu saja ia tahu dengan jelas siapa yang diincar oleh orang-orang bertopeng menyeramkan itu. Oleh sebab itulah harus dirinya yang menjadi umpan.
Kinara menepi ketika melihat minimarket di seberang jalan. Ia menoleh ke belakang dan menatap Brenda dengan serius.
“Granny, dengarkan aku baik-baik,” ujar gadis itu seraya menatap Brenda dan pelayannya bergantian, “Kita harus berpencar. Anda dan pelayan Anda turunlah di sini dan cari telepon untuk menghubungi rumah, oke? Minta bantuan secepat mungkin. Alex pasti tahu apa yang harus dilakukan.”
Wajah Brenda kembali memucat. “Bagaimana denganmu? Apa yang akan kau lakukan?” tanyanya dengan nada khawatir.
“Aku akan mengalihkan mereka. Mereka hanya mengincarku. Anda akan baik-baik saja. Segera cari tempat berlindung begitu berhasil menghubungi The Spring Mountains, oke?”
“T-tapi ... i-itu akan membahayakanmu,” ujar Brenda dengan terbata-bata. Ia tidak sampai hati harus membiarkan Kinara harus menjadi umpan agar dirinya sendiri selamat.
Kinara tersenyum untuk menenangkan wanita paruh baya yang kini terlihat rapuh itu.
“Tenanglah, aku akan baik-baik saja. Minimal, mereka tidak akan membunuhku sekarang. Mereka membutuhkanku untuk memancing Alex agar muncul. Cucu Anda-lah yang harus kita cemaskan saat ini. Tolong beri tahu padanya untuk jangan mengkhawatirkan aku. Apa pun yang terjadi, dia tidak boleh keluar dari rumah. Aku tidak mengizinkannya pergi ke mana pun,” ujarnya panjang lebar.
Mata Brenda berkaca-kaca, ia ingin membuka mulut untuk membantah, tetapi Kinara sudah turun dan membukakan pintu untuknya.
“Cepatlah. Ingat, cari tempat persembunyian yang aman.”
Sang pelayan di sisi Brenda segera menuntun wanita itu keluar. Tubuhnya yang gemetaran dan tertatih-tatih membuat Kinara iba. Gadis itu mendekat dan memberikan pelukan hangat.
“Hati-hati, Anak Muda,” balas Brenda dengan suara bergetar.
Kinara mengurai pelukannya dan memberi isyarat pada pelayan agar segara membawa Brenda pergi. Ia mengawasi hingga dua orang itu masuk ke dalam minimarket dengan aman, kemudian kembali masuk ke dalam mobil. Semua rencananya bisa berantakan kalau para penjahatnya berhasil mengejarnya sekarang. Ia menggeser persneling dan menginjak gas. Ban mobil berdecit ketika bergesekan dengan aspal dalam kecepatan tinggi.
Mata Kinara memindai keadaan sekitar. Tidak ada pom bensin. Ia tidak tahu harus ke mana mencari tempat yang menjual bahan bakar untuk mobil yang sudah sekarat itu. Jalanan terlihat lengang. Beberapa mobil terparkir di garasi, tapi semua pintu rumah tertutup rapat.
“Ke mana perginya orang-orang ini?” gerutunya. Setidaknya kalau ada satu atau dua orang yang lewat, ia bisa bertanya di mana pom bensin terdekat.
Mobil mulai melambat, tenaganya tidak bertambah meski Kinara telah menginjak pedal gas hingga menyentuh lantai mobil. Gadis itu menepi ketika mobil mulai tersendat-sendat. Sudah tidak bisa dipaksakan lagi. Mau tidak mau ia harus berhenti.
“Sekarang aku pun sebaiknya mencari tempat untuk bersembunyi,” gumam Kinara seraya meraih dua pucuk pistol di atas kursi.
Ia menatap dua benda berwarna hitam itu cukup lama, tidak tahu harus menyimpannya di mana. Tidak mungkin ia berkeliaran dengan menggenggam benda itu dalam tangannya, bukan?
Gadis itu menoleh ke belakang, siapa tahu ada tempat untuk menyembunyikan pistol. Dalam sekejap, matanya berbinar. Alih-alih menemukan papper bag, ia melihat sebuah jas hitam teronggok di jok belakang.
Mungkin milik salah seorang bodyguard granny, pikirnya.
Secepat kilat ia meraih jas itu dan menyelipkan pistol ke dalam saku, lalu menyampirkan jas itu di pundak. Ia keluar dan berjalan cepat meninggalkan mobil sport yang mogok itu. Tatapannya terarah pada bangunan gereja sejauh kurang lebih dua ratus meter di depannya, berharap bisa bersembunyi di sana sampai bantuan datang.
Ckiiit ...!
Kinara terlonjak ketika sebuah mobil berwarna kuning tiba-tiba berhenti di sampingnya. Ia langsung berlari kencang tanpa melihat siapa pengemudi mobil itu.
“Hey! Berhenti! Jangan lari!’
Langkah Kinara terhenti ketika mendengar suara yang cukup dikenalnya itu. Ia menoleh dengan cepat, kemudian matanya terbelalak lebar. “Benji? Apa yang dia lakukan di sini?”
Otak Kinara mengirimkan sinyal bahaya. Ia kembali berlari tanpa menoleh lagi ke belakang, mengabaikan teriakan dan klakson yang dibunyikan oleh Benji. Ia tidak bisa mempercayai pemuda itu.
Lagipula dari mana dia bisa tahu posisiku? Benar-benar mencurigakan ....
“Kinara! Masuklah! Mereka semakin dekat!” teriak Benji dengan putus asa. Ia sudah bersusah payah ke sini demi Kinara, tapi gadis itu malah mengabaikannya.
Dasar gadis bodoh!
“Kinara! Berhenti!”
Benji mengarahkan kemudi ke arah Kinara, tapi gadis itu berbelok menuju gereja yang tampak sepi.
“Sial!” umpat Benji ketika melihat dari kaca spion. Sebuah mobil range rover melaju kencang ke arahnya.
Brak!
Kinara terkesiap. Refleks langkah kakinya terhenti. Ia menoleh ke belakang dan ternganga ketika melihat mobil Benji terguling hingga menabrak pembatas jalan.
“Apa yang terjadi?” gumam gadis itu, tidak mengerti melihat kejadian di depan matanya.
Mobil range rover yang menabrak mobil Benji mundur sedikit, kemudian kembali melaju kencang ke depan.
Duar!
Mobil Benji terseret beberapa meter hingga menimbulkan percikan api di atas aspal. Kinara bisa melihat dengan jelas bagaimana pemuda itu berusaha merangkak keluar dari mobilnya.
Benji mengusap cairan merah pekat yang menetes dari kening dan lengannya. “L-lari!” serunya pada Kinara.
Pemuda itu menggerakkan tangannya, memberi isyarat agar Kinara menjauh. Dengan susah payah ia menghela napas yang terasa berat. Pandangannya berkunang-kunang. Meski begitu, ia masih tetap berusaha untuk keluar.
Kinara terpaku di tempatnya. Tidak tahu apa yang harus ia lakukan. Ia sama sekali tidak menyangka bahwa Benji benar-benar ingin menyelamatkannya. Sekarang, meninggalkan pemuda itu terjebak di sana sendirian rasanya benar-benar tidak pantas. Namun, ia juga sadar kalau kekuatannya tidak sebanding dengan para musuhnya.
Cepatlah, pergi! Kumohon, selamatkan dirimu, Gadis Bodoh ....
Mata Benji mengerjap untuk menghalau cairan merah yang semakin banyak, merayapi pipi dan dagunya. Ia tidak menyesal sama sekali. Jika harus mati di tempat ini karena Kinara, ia akan menerima takdirnya dengan senang hati.
“Ugh!” erang pemuda itu ketika mencoba menarik kakinya yang terjepit kursi mobil. Patahan besi menyoyak betisnya, membentuk irisan panjang dan menganga. Namun, belum sempat ia merangkak keluar, sebuah tendangan keras menghantam kepalanya.
“Seharusnya kau tidak ikut campur,” ujar pria bertopeng hitam yang baru saja menyepak kepala Benji, “Tuan mengirimkan salam, sampai jumpa di neraka.”
Blup!
Satu peluru dari pistol berperedam melesat cepat, menembus tempurung kepala Benji. Pemuda itu tersentak satu kali, kemudian luruh ke atas aspal.
“Tidak!” jerit Kinara, lalu buru-buru menutup mulutnya dan berjalan mundur. Ia terus menggeleng-gelengkan kepalanya sambil terus meracau. Satu-satunya penyesalannya adalah tidak mempercayai Benji hingga saat terakhir pemuda itu.
“Tolong!” seru gadis itu pada orang-orang yang berhamburan keluar untuk memeriksa apa yang sedang terjadi. Ia berbalik dan hendak berlari ke arah rumah warga, tetapi rasa sakit yang sangat menghantam bagian belakang kepalanya.
Tiba-tiba pandangannya menjadi gelap. Tubuh Kinara roboh ke atas aspal, tetapi seorang pria bertopeng dengan sigap menangkapnya.
"Tuan pasti akan sangat senang. Ayo pergi," ujar pria itu seraya membopong tubuh Kinara dan meletakkannya ke dalam mobil.
Para warga yang berkerumun belum sempat bereaksi ketika mobil range rover membawa Kinara menjauh, meninggalkan kepulan debu dan asap.