Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Bab 102: Bad Mood


Lorie menekan saklar lampu meja. Cahaya remang-remang memantulkan rona kesedihan dan kesakitan dari wajahnya. Kehilangan salah seorang rekan ternyata sangat menyakitkan. Apalagi ketika mengetahui hal itu terjadi karena perbuatan rekannya yang lain, salah seorang yang sangat dipercaya. Ken benar, ia harus segera menemukan orang itu kalau ingin menolong tuan Alex.


Ia membuka laci lemarinya, lalu menarik sebuah map cokelat yang cukup tebal. Kertas-ketas laporan terbuka helai demi helai. Lorie memeriksa kembali semuanya dengan teliti. Laporan pencarian wilayah yang dicapai dalam waktu dua jam dari rumah Billy, baru separuh yang berhasil didatangi. Sejauh ini, tidak ada yang mencurigakan dari tempat-tempat yang sudah didatangi dan diperiksa. Lagipula radius pencarian bisa saja lebih dekat atau justru sedikit lebih jauh karena mereka tidak tahu dengan pasti, berapa kecepatan mobil ketika menuju tempat itu. Dua jam itu hanya waktu menurut perkiraan Billy, tidak bisa dijadikan patokan pasti.


Gadis itu memeriksa kembali catatan mengenai lokasi terakhir dari nomor di ponsel Jericho yang dikirimkan oleh markas. Ia langsung menuju tempat itu kemarin sore. Hanya sebuah cafe kecil di tengah kota, tidak ada kamera pengawas yang merekam siapa saja pengunjung cafe. Pramuniaga pun tidak bisa mengingat siapa saja yang datang dan pergi. Nomor-nomor lain adalah nomor pegawai dan anak buah Jericho. Satu-satunya isi pesan dan percakapan yang mencurigakan hanya dengan perempuan jal*ng yang berbicara dengannya di telepon, tapi tak ada satu pun yang menyinggung soal lokasi dalam pesan-pesan yang berhasil disadap.


Lorie menghela napas panjang. Lagi-lagi semuanya terlihat seperti jalan buntu. Namun kali ini, ia tahu apa yang harus dilakukan. Hanya dirinya dan tuan Alex yang tahu kalau Ken sudah terbunuh. Kesempatan ini ... jangan sampai Ken mati dengan sia-sia. Gadis itu berganti pakaian dan berjalan menuju garasi. Ia harus memeriksa dan memastikannya sendiri.


Tak lama kemudian, suara ban yang berdecit memecah keheningan malam. Loria mengendarai mobilnya dengan kecepatan maksimal. Ia harus bergegas sebelum para penjahat itu melaporkan kematian Ken pada pengkhianat dalam kelompoknya. Jika hal itu terjadi, sudah pasti orang itu akan menghapus jejaknya atau semakin berhati-hati sehingga makin sulit untuk ditemukan.


“Ken, beristirahatlah dengan tenang. Jangan khawatir, aku akan menjaga tuan dengan segenap kekuatanku,” gumam gadis seraya memutar kemudi ke arah markas.


Setelah menunjukkan tanda pengenal pada pengawal yang berjaga, Lorie menuju ruang pengawasan.


“Hey, beri aku rekaman di ruang C kemarin siang,” ujar gadis itu pada seorang pria yang sedang berjaga di ruang arsip.


“Baik, Kapten," jawab pria itu sambil bangun dari kursinya. Ia mengeluarkan kaset rekaman CCTV dan memutarnya.


Lorie mengambil remote dan mempercepat rekaman sampai di pukul 15.45, waktu ketika ia mengirimkan nomor ke markas untuk diperiksa. Mata gadis itu memicing ketika melihat siapa yang duduk di balik layar monitor besar.


“Bukan kosong satu?” gumam Lorie merasa sedikit terkejut karena tebakannya meleset, “Berikan rekaman sejak dua pekan lalu, khusus ruang C saja!” perintahnya lagi.


“Tunggu sebentar, Kapten,” jawab pengawal seraya memeriksa rak yang berisi kumpulan rekaman CCTV dan menyerahkan yang diminta oleh Lorie.


Wajah Lorie menegang ketika melihat sosok yang sama memasuki ruang untuk mengoperasikan alat pelacak dan tracking system. Ia benar-benar tidak percaya melihat bagaimana sosok itu memanipulasi semuanya dengan sangat rapi. Tidak ada keanehan yang terdeteksi pada raut wajahnya. Pantas saja tidak ada yang curiga. Lagipula, melacak sinyal dan lokasi memang salah satu tugasnya, selain 01 tentu saja.


Kedua tangan Lorie terkepal erat. Semua bukti ini sudah lebih dari cukup. Kini ia tahu siapa pengkhianat yang menyebabkan Ken kehilangan nyawa. Ia mengeluarkan ponsel dan melakukan panggilan. Nada dering dari ponselnya terdengar beberapa kali sebelum akhirnya panggilan itu terhubung.


“Halo, maaf mengganggumu selarut ini,” ujar Lorie ketika mendengar suara bergemerisik di ujung telepon.


“Lorie? Apakah terjadi sesuatu?” tanya suara di seberang sana dengan suara serak.


“Ya. Aku butuh bantuanmu. Bisakah aku ke sana sekarang?”


“Sekarang?” Lawan bicara Lorie terdengar ragu-ragu sebelum akhirnya berkata, “Um, baik. Datanglah.”


Lorie mematikan ponselnya dan memasukan benda itu kembali ke dalam backpack. Ia membalas tatapan pengawal yang berdiri di sampingnya dan melihat ke arahnya dengan wajah sedikit bingung.


“Jangan beritahu hal ini pada siapa pun!” perintah Lorie sambil berjalan menuju pintu.


“Baik, Kapten.”


Lorong yang sunyi bergema ketika langkah kaki Lorie yang panjang dan mantap mengentak lantai marmer. Dadanya berkecamuk. Neuron-neuron dalam tempurung kepalanya mengantarkan infomasi yang saling berbenturan. Bahkan saat ia kembali masuk mobil dan memacu kendaraan itu menjauh dari markas, tatapan matanya masih kosong dan hampa. Ia hanya memiliki waktu kurang dari 20 menit untuk memutuskan.


Seakan berpacu dengan waktu, mobil sport hitam itu menerobos hampir semua lampu merah yang ditemuinya. Jalanan yang lengang membuatnya lebih cepat mencapai rumah yang ia tuju. Bangunan berwarna putih dengan model minimalis itu terlihat sepi, tetapi lampu ruang tamu menyala. Sepertinya kedatangannya sudah ditunggu. Lorie memarkir mobil di halaman, kemudian turun dan melangkah dengan tenang menuju pintu. Ia baru mengangkat tangan untuk mengetuk ketika daun pintu tiba-tiba terbuka.


“Cepat sekali kamu tiba. Masuklah,” ujar tuan rumah seraya memberi jalan pada Lorie untuk masuk.


Lorie berjalan masuk dan berhenti di tengah ruang tamu. Ia menatap sekeliling, memerhatikan ornamen dan foto yang terbingkai di dinding dan lemari pajangan. Ada foto Ken di sana, tersenyum manis seraya memeluk sertifikat kelulusannya sebagai salah satu tim shadow. Mata gadis itu memanas, ia sungguh tidak mengerti bagaimana seseorang bisa menyerahkan nyawa sahabat yang sudah seperti keluarga ke tangan musuh. Ia menarik napas dalam-dalam dan menatap tepat ke manik lawan bicaranya.


“Ada masalah mendesak apa yang membuatmu begitu terburu-buru?”


“Ken menghubungiku,” jawab Lorie dengan sangat tenang.


“Apa? Kenapa dia tidak memberitahuku?”


Lorie menikmati ekspresi yang berubah-ubah dengan cepat di depannya. Keterkejutan, kilasan rasa khawatir, sedikit rasa bersalah, lalu ... kelicikan sekelam malam.


“Kenapa dia harus memberitahumu?” tanya Lorie seraya meletakkan kedua tangannya di pinggang.


“Itu ... aku bisa membantu melacak keberadaannya dan mengirim pasukan untuk mengevakuasinya.”


“Mengirim pasukan untuk membunuhnya, maksudmu?”


“L-Lorie? Apa yang sedang kau bicarakan?”


“Kenapa kau melakukannya, Anne?”


“Aku tidak–“


“Aku sudah melihat rekaman di markas. Kau terlalu percaya diri dan mengira Ken tidak akan berhasil, bukan begitu?”


Raut wajah Lorie sungguh tidak terbaca, begitu pula dengan Anne. Kedua wanita itu saling menatap untuk jeda waktu yang cukup lama dalam keheningan yang mencekam.


“Mereka menawarkan uang dalam jumlah yang tidak bisa kutolak,” ujar Anne akhirnya seraya menggedikkan bahunya. Ia berjalan santai menuju sofa dan duduk berpangku kaki di sana.


“Duduklah. Kita bisa membicarakannya. Aku akan merekrutmu untuk masuk dalam tim–“


“Tuan memungutmu dari jalanan dan memberimu kehidupan yang layak. Ini balasanmu?”


“Aku sudah cukup mendedikasikan hidupku untuk membantunya!” teriak Anne penuh kemurkaan.


“Tidak. Itu tidak akan pernah cukup. Sampai kapan pun tidak akan pernah bisa. Bahkan jika kau secara cuma-cuma di tangannya, itu masih tetap tidak sebanding dengan apa yang telah ia lakukan untukmu.”


Namun, Lorie tahu dengan pasti apa yang ada di bawah meja. “Don’t you dare!” geramnya.


Suara penuh ancaman itu membuat Anne mengurungkan niatnya.


Klik


Anne mendongak, lalu mencibir ke arah Lorie ketika melihat moncong Baretta yang berperedam mengarah tepat ke keningnya.


“Kau tidak akan sungguh-sungguh melakukannya. Aku tahu–”


“Sampaikan salam perpisahanku untuk Ken.”


Blup!


Kepala Anne tersentak ke belakang. Darah mengucur dari lubang di dahinya, menetes menuruni leher dan membasahi sofa. Matanya yang melotot seakan tidak menyangka Lorie akan benar-benar menembaknya.


Tangan Lorie yang masih teracung ke depan gemetaran. Gerakan kecil itu merambat ke sekujur tubuhnya hingga akhirnya ia benar-benar menggigil. Mengigil dengan hebat sampai rasanya ia ingin muntah. Melihat sofa berwarna cream di depannya mulai memerah dengan cepat sungguh membuatnya mual. Aroma besi bekarat yang khas menusuk-nusuk indera penciumannya. Gambaran sosok Anne yang tergeletak dengan mulut terbuka sepertinya akan menghantuinya seumur hidup.


Kehilangan dua orang sahabat dalam satu malam adalah pukulan terbesar dalam hidup Lorie, terutama karena dirinyalah yang mengambil salah satu nyawa itu secara paksa. Dua butiran besar cairan bening berlomba menuruni pipi gadis itu, memberi rasa asin ketika bergulir melewati bibir.


Lorie berjalan keluar, menutup pintu, lalu masuk ke dalam mobilnya. Ia menopang kepalanya dengan kedua tangan di atas kemudi, kemudian menangis hingga dadanya terasa seakan hampir meledak.


Tak ada pilihan lain. Ia tahu Anne tidak akan membuka mulut meski disiksa dengan cara yang paling mengerikan sekalipun. Ia sudah pasti tidak akan tahan melihat sahabatnya disiksa dalam red room agar mau memberikan informasi. Tuan Alex pun pasti tidak akan melepaskan Anne begitu saja. Jadi, cara inilah yang terbaik.


“Sampai bertemu di neraka, Anne ...,” gumam gadis itu sebelum menyalakan mobil dan kembali memecah keheningan malam dengan kecepatan tinggi.


***


Cahaya matahari menerobos masuk, jatuh tepat di atas pipi pucat dan penuh bekas luka gores. Alex berjalan ke arah jendela dan menarik tirai untuk menghalangi cahaya itu agar tidak mengganggu tidur istrinya. Kondisi Kinara baru saja stabil ketika hampir subuh. Ia berpikir, tidur lebih lama akan sangat bagus gadis itu. Namun, ketika pria itu membalikkan tubuh, sepasang mata bulat sedang menatap ke arahnya tanpa berkedip.


“Hey, aku membangunkanmu?” tanya Alex seraya mendekat ke ranjang. Ia duduk di kursi dan meraih tangan Kinara untuk digenggam, tetapi gadis itu menarik tangannya dan memasukkannya ke dalam selimut.


Alex terpaku beberapa saat. Hatinya mencelos melihat Kinara mengalihkan tatapannya ke arah pintu. Tangannya terulur, ingin mengusap kepala istrinya, tetapi ia urungkan ketika melihat pundak gadis itu yang sangat tegang.


“Sayang, apakah tidurmu nyenyak? Atau kau menginginkan sesuatu?” tanya Alex dengan sangat lembut.


Kinara bergeming. Rasa sakit di tubuhnya tidak sebanding dengan rasa jijik yang melingkupi dirinya. Ia benar-benar merasa sangat kotor dan hina. Pemikiran itu terus datang, bergulung bagai ombak yang terus menerus mengikis kepercayaan dirinya. Apakah ia masih layak untuk Alex? Lagipula, pria itu sudah bisa kembali melihat dan berjalan. Bukankah tugasnya sebagai pengantin pengganti sudah berakhir? Sebenarnya, ada terlalu banyak yang ingin ia katakan pada suaminya, tetapi lidahnya terasa kelu. Kemampuannya untuk merangkai kata-kata seolah menghilang begitu saja.


“Aku akan memanggil perawat kalau kamu tidak nyaman dengan kehadiranku. Apa kamu ingin–“


“Kita bercerai saja.”


Suara Kinara hampir-hampir tak terdengar, tetapi mampu menghujam hingga dasar yang paling dalam. Alex terpaku di tempatnya. Kedua tangannya yang berada dalam saku celana terkepal erat. Ia mengatupkan rahangnya kuat-kuat hingga urat-urat menonjol di permukaan leher dan pelipisnya.


“Kita bicarakan lagi nanti setelah kamu pulih,” ujar Alex setelah berhasil meredam emosi yang bercampur dalam dadanya.


“Tidak. Aku ingin bercerai. Tugasku sudah berakhir, bukan?”


Alex menarik napas dalam-dalam. Ia tahu istrinya hanya sedang shock, memaksanya untuk berbicara hanya akan memperburuk keadaan. Jadi ia lebih memilih untuk menyingkir.


“Kalau kamu tidak senang karena aku membohongimu mengenai kesembuhanku, aku minta maaf. Kamu boleh memukuliku, meneriaki bahkan memakiku sampai puas, tapi nanti ... setelah kondisimu pulih. Aku akan keluar kalau kau tidak ingin melihat wajahku. Beristirahatlah. Perawat akan segera datang.”


Alex berjalan keluar sebelum Kinara sempat membalas. Ia memerintah salah seorang bodyguard untuk memanggil perawat, setelah itu ia berjalan ke dekat lift dan bersandar di tembko, terpekur menatap lantai keramik yang memantulkan siluet tubuhnya. Entah mengapa mendengar Kinara mengucapkan kata cerai membuat jantungnya berdenyut nyeri. Tiba-tiba saja ia ingin mengamuk dan membunuh orang. Siapa saja. Mungkin bisa dimulai dari Jericho.


“Kenapa wajahmu seperti ingin memakan orang?”


Alex mendongak dan mendapati Brenda telah berdiri di hadapannya, lengkap dengan pelayan dan bodyguard-nya. Ia menatap neneknya dengan sedikit heran. Bagaimana bisa wanita tua itu ada di sini.


“Granny, apa yang Anda lakukan di sini?” tanya Alex dengan kening berkerut.


“Apa yang kulakukan? Tentu saja menjenguk cucu menantuku. Di mana dia?”


“Kinara? Dia sedang dalam mood yang tidak baik. Tolong jangan ganggu dia dulu, Granny,” ujar Alex dengan nada memohon. Ia tidak ingin neneknya masuk dan membuat Kinara menceraikannya saat ini juga.


“Apanya yang tidak baik? Biarkan aku masuk–“


“Dia ingin bercerai.”


“Ap-apa? Apakah gadis itu kehilangan akal sehatnya? Semua perempuan di dunia ingin menjadi istrimu, dan dia malah ingin bercerai?” Brenda menatap cucunya dengan curiga. “Kamu tidak sedang mempermainkan wanita tua ini, bukan?”


Alex menggeleng lemah. “Biarkan emosinya stabil dulu, Granny ... kumohon, jangan memperburuk keadaan.”


Brenda mendesah pelan. “Baik. Aku akan kembali lagi nanti,” ujarnya.


“Terima kasih,” kata Alex dengan tulus.


Neneknya mau menurunkan ego dan datang untuk menjenguk istrinya, ini adalah sebuah kemajuan yang patut dirayakan. Akan tetapi, waktunya benar-benar tidak tepat. Ia sungguh berharap apa yang dikatakan oleh Kinara tadi hanya karena pengaruh emosi sesaatnya saja.


Semoga saja ....


***