Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 71


Jantung Daniel mencelos melihat Lorie ambruk di hadapannya. Dengan sigap ia menangkap tubuh wanita itu dan memapahnya dengan hati-hati.


“Apa yang terjadi?” tanyanya kepada pelayan yang masih berdiri di samping Lorie dengan cemas.


“Sepertinya Nona Lorie kelelahan, Tuan,” jawab pelayan itu.


Wajah Daniel memucat. Ia tahu Lorie sedang hamil dan cukup mudah kelelahan. Apakah hal ini akan berdampak kepada janin dalam kandungannya? Tiba-tiba pria itu ikut panik.


“Di mana rumah sakit terdekat?” tanyanya seraya membopong tubuh Lorie.


Sang pelayan balik bertanya, “Maaf, Tuan. Anda adalah?”


“Aku kekasihnya. Cepat katakan, di mana rumah sakit terdekat?”


Sang pelayan masih tampak ragu, tapi Amber yang tadi melihat wajah Daniel saat melakukan video call dengan Lorie segera menyela, “Kakak, Paman ini tidak berbohong. Dia memang calon suami Aunty. Ayo cepat bawa Aunty ke rumah sakit.”


Gadis kecil itu sudah hampir menangis. Wajahnya memerah dan matanya dipenuhi embun yang membuat tenggorokannya seperti sedang disumpal kapas. Ia benar-benar merasa bersalah, kalau saja tadi ia tidak memaksa Aunty-nya berkeliling istana boneka, mungkin wanita itu tidak akan sakit seperti ini.


Sementara itu, Daniel yang disebut dengan “calon suami Aunty” ingin tersenyum lebar, tapi mengingat kondisi Lorie yang berbahaya, ia segera berderap maju seraya menggendong kekasihnya itu.


Sang pelayan menahan gerakan Daniel dan berkata, “Tuan, tunggu sebentar, saya sudah meminta bantuan.”


Baru saja pelayan itu selesai mengucapkan kalimatnya, terdengar suara sirine yang semakin mendekat ke arah mereka. Tak sampai lima menit kemudian, sebuah mobil ambulans berhenti tepat di sisi Daniel.


Empat orang tenaga medis melompat turun, kemudian mengeluarkan brankar dari bagian belakang mobil. Beberapa orang pria bersetelan hitam yang entah muncul dari mana tiba-tiba membentuk barikade dan memblokir orang-orang yang penasaran dan ingin melihat apa yang sedang terjadi.


“Silakan baringkan Nona Lorie di sini, Tuan,” ucap salah seorang pria yang memakai seragam berwarna putih itu.


Daniel membaringkan Lorie dengan hati-hati. Karena tidak bisa melakukan apa pun untuk menolong Lorie, ia menyingkir dan membiarkan tenaga medis itu memeriksa kondisi fisik Lorie. Ia melihat Lorie diberi suntikan dan infus, lalu didorong masuk ke dalam ambulans.


“Aku ikut!” seru Daniel.


Ia melompat masuk tanpa menunggu persetujuan dari orang-orang itu. Karena kondisi yang genting, tidak ada yang mempertanyakan atau menolak perkataan pria itu.


“Paman, jaga Aunty baik-baik!” seru Amber dengan suara serak. Gadis cilik itu sekarang sudah benar-benar menangis.


Daniel hanya mengangguk sekilas sebelum menutup pintu mobil. Suara ambulans yang meraung kembali terdengar kencang saat kendaraan itu melesat keluar dari taman ria. Sepanjang perjalanan, pria itu tak melepaskan tatapannya dari wajah Lorie. Mata wanita itu terpejam erat, sedangkan embusan napasnya terlihat lemah.


Tanpa sadar Daniel mengepalkan tangannya erat-erat. Seandainya ia tiba lebih awal, apakah kondisi Lorie tidak akan sampai separah ini?


Pria itu mendesah pelan dan menyugar rambutnya. Seharusnya memang ia tiba lebih awal. Wanita bodoh itu sungguh tidak bisa menjaga dirinya sendiri dengan baik. Setelah dia sadar nanti, Daniel bertekad tidak akan membiarkannya bepergian atau melakukan pekerjaan berat lainnya.


Saat Daniel masih sibuk dengan pikirannya sendiri, ambulans sudah berhenti di depan lobi utama rumah sakit. Ia sedikit terkejut ketika pintu dibuka dan seorang pria di sampingnya memintanya untuk turun.


Brankar Lorie diturunkan dan didorong menuju ruang ICU. Seorang wanita yang memakai jas lab sudah berdiri di depan pintu, menyambut brankar dan menanyakan status pasien kepada perawat yang tadi memeriksa Lorie.


“Tapi aku—“


“Silakan tunggu di luar.”


Perawat itu menutup pintu tepat di depan wajah Daniel.


“Sialan!” umpat pria itu seraya menyugar rambutnya dengan frustasi.


Lamat-lamat suara sang dokter dan perawat tadi menjauh dan tidak terdengar lagi dari balik pintu. Pada saat itulah, untuk pertama kali dalam hidupnya, Daniel merasa tidak berdaya dan ketakutan. Ia sangat takut jika terjadi sesuatu kepada Lorie, padahal ia belum ... ia belum melakukan yang terbaik untuk wanita itu.


“Ini baru dua hari, sialan. Kamu tidak boleh meninggalkan aku.”


Pria itu berjongkok dan menahan sesak di dadanya. Rasa tidak berdaya menghantam jantungnya setiap waktu dan membuatnya ingin meninju tembok sampai hancur.


“Bagaimana keadaannya?”


“Dokter sedang memeriksanya, Tuan Alex. Ada Dokter Ana juga di dalam, Anda jangan cemas.”


Daniel mendongak ketika mendengar percakapan itu. Berjarak sekitar lima langkah darinya, tampak seorang pria dengan penampilan seperti seorang bangsawan sedang berjalan menuju pintu ruang ICU. Menyusul di belakangnya, tampak tiga orang bocah kembar yang tadi pergi bersama Lorie. Wajah ketiga bocah itu merah dan sembab. Sepertinya mereka baru saja menangis.


Daniel melompat bangun dan menghadang di depan pria itu.“Apakah Anda adalah bos dari Lorie?” tanyanya.


Alex menatap pria asing di hadapannya itu dengan kening berkerut. Ia tidak merasa mengenalinya. Meski demikian, menilik dari penampilan dan pakaiannya, sudah jelas dia bukan orang biasa.


“Anda adalah?” Alex balik bertanya.


Amber menarik ujung tangan ayahnya dengan hati-hati sambil berkata, “Daddy, Paman ini calon suami Aunty Lorie. Dia yang tadi membantu menggendong Aunty ke atas ambulans.”


Dalam saat yang genting itu, Daniel benar-benar menahan keinginnya untuk mengangkat Amber dan menciumi pipinya yang menggemaskan. Pada akhirnya, pria itu hanya berdeham pelan dan menjawab, “Itu tidak sepenuhnya salah. Saya adalah Daniel Hill, kekasih Lorie.”


Kerutan di kening Alex semakin dalam, tapi ia tidak ada waktu untuk bertanya lebih lanjut. Ia juga tahu apa maksud pria itu menghadangnya seperti ini. Jadi, pada akhirnya Alex berkata, “Jangan khawatir, Tuan Hill. Anda adalah orang pertama yang saya kabari saat Lorie siuman nanti.”


“Terima kasih, Tuan,” ucap Daniel seraya menyingkir dan memberi jalan kepada Alex.


Ia menghela napas lega. Setidaknya ia percaya bos Lorie memiliki kemampuan. Ia yakin semua akan baik-baik saja ... pasti akan baik-baik saja ....


***


Gengs, tolong bantu like cerpenku yaaa


makasihh