Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 23


Di kamar hotel nomor 121, Raymond berjalan mondar-mandir dengan gelisah. Sudah lewat dari pukul lima sore, tapi belum ada kabar sama sekali dari Lorie. Wanita itu benar-benar seperti menghilang ditelan bumi. Sedang Alice terus mengingatkannya sejak tadi bahwa mereka harus bersiap untuk check out dari hotel karena harus tiba di bandara satu jam sebelum keberangkatan.


Alice yang sudah rapi duduk dengan wajah masam di sofa, melihat Raymond berjalan bolak-balik sambil menghubungi koneksinya. Pria itu tidak pernah sekalut ini untuk urusan apa pun, termasuk ketika ia tidak mengabarinya berhari-hari saat mereka sedang bertengkar. Siapa sebenarnya Lorie itu?


Pasti ada sesuatu yang terjadi antara mereka berdua.


“Raymond, kalau kamu belum siap juga, aku akan pergi ke bandara sendiri,” cetus Alice sambil bangkit berdiri.


Raymond yang sedang sibuk sama sekali tidak mendengar perkataan itu. Ia sedang memberikan laporan kepada kepolisian setempat terkait hilangnya Lorie. Lagi pula, saat ia meminta ke bagian keamanan hotel untuk memeriksa rekaman CCTV lagi, petugas itu memberitahukan bahwa salah satu sopir taksi hotel telah melaporkan peristiwa penculikan Lorie tadi pagi.


Tentu saja hal itu membuatnya semakin cemas dan panik setengah mati. Sedikitnya ia tahu apa yang menimpa Kinara Lee beberapa tahun lalu. Beberapa orang yang berhubungan bisnis dengan Alex Smith bukanlah orang baik, takutnya Lorie juga menjadi korban seperti Kinara.


“Raymond!” Alice menaikkan volume suaranya dan merampas ponsel dari tangan tunangannya. “Aku sedang bicara denganmu!”


“Kembalikan ponselku, Alice!”


Untuk pertama kalinya Raymond pun meninggikan intonasinya. Ia merebut kembali ponsel di tangan Alice dan berjalan mendekati jendela. Sambil berkacak pinggang, ia meminta maaf kepada lawan bicaranya dan kembali melanjutkan percakapan yang sempat terjeda.


Di balik tubuhnya, Alice sangat marah sehingga seluruh tubuhnya menegang dan sedikit gemetar. Matanya sedikit berkaca-kaca karena diperlakukan seperti itu. Raymond tidak pernah membentaknya, satu kali pun tidak. Pria itu selalu bersikap lembut dan sopan, memperlakukannya seperti seorang putri. Akan tetapi, sekarang pria itu bahkan berani merampas kembali ponsel dari tangannya dengan sangat kasar.


Alice mengeratkan kepalan tangannya dan dan mengentakkan kaki dengan keras. Ia melempar kartu akses kamar ke atas meja, kemudian berbalik dan menyeret kopernya keluar dari kamar. Terserah apa pun yang akan dilakukan oleh Raymond, ia tidak akan peduli lagi.


“Persetan denganmu dan kenalan lamamu itu, Raymond!” desis wanita itu sebelum membanting pintu kamar dengan kuat.


“Baik, saya ke sana sekarang. Terima kasih. Selamat sore.”


Pria itu memutuskan sambungan telepon dan memutar tubuhnya.


“Alice ... aku ....”


Keheningan yang panjang menjeda kalimat yang tak usai diucapkan. Raymond berdiri dan mengedarkan padangan ke seluruh ruangan, tapi tak ada tanda keberadaan Alice di mana pun. Ia pergi ke kamar dan memeriksa di sana, bahkan masuk ke dalam kamar mandi, tetap saja tidak ada jejak tunangannya itu di mana pun.


Pria itu mematung di depan ranjang dan menghela napas dalam-dalam. Ia menyugar rambutnya dan duduk sebentar di tepi kasur. Diam-diam ia mengeluh dalam hati, merasa sikap Alice terlalu egois dan kekanakan. Selama ini ia hanya diam setiap kali gadis itu mengatur apa pun yang harus atau tidak boleh ia lakukan, mengatur agar semua berjalan sesuai dengan kemauannya. Namun, kali ini ia benar-benar tidak bisa meninggalkan Lorie begitu saja. Apalagi sudah jelas wanita itu dibawa pergi oleh orang yang tidak dikenal. Mana bisa ia berdiam diri begitu saja.


Raymond menghela napas sekali lagi sebelum bangun dan berjalan keluar dari ruangan itu. Melewati pintu yang membatasi ruang tamu dan kamar tidur, pria itu melangkah cepat menuju meja dan mengambil kartu akses yang tergeletak di sana. Ia menempelkan benda itu di panel dan menarik gagang pintu.


Begitu melangkah keluar, pria itu sedikit terkejut melihat dua orang pegawai hotel sudah berdiri di depan pintu kamarnya.


“Tuan Raymond, bisa tolong ikut bersama kami ke kantor polisi untuk memberi keterangan? Menurut rekan saya yang bertugas kemarin, Anda mengatakan bahwa Nona Lorie adalah teman Anda?”


“Ya. Itu benar. Kebetulan sekali saya baru saja ingin pergi ke kantor polisi untuk melapor.”


“Baik. Silakan, Tuan.”


Ketika orang itu berjalan beriringan menuju lift dan turun ke lobi utama. Ada sebuah mobil sedan yang sudah menunggu, siap mengantar mereka ke kantor polisi. Raymond duduk di kursi penumpang dan melipat kedua tangannya di antara lutut. Ia baru merasa gugup sekarang, sangat mencemaskan keadaan Lorie. Dengan tulus ia berharap gadis itu baik-baik saja dan segera ditemukan.