
Di kamar hotel, Raymond mengerang pelan dan berguling ke samping. Tangannya bergerak menyusuri bagian yang kosong di sisi tubuhnya, mencoba mencari kehangatan yang menemaninya sepanjang malam.
Dingin.
Dengan mata masih terpejam, kening pria itu berkerut dalam. Ia berguling lagi dan meraba-raba di atas kasur. Hasilnya, hanya selembar selimut yang teraih oleh tangannya.
“Alice?” panggilnya sambil mencoba untuk membuka mata yang terasa berat dan sepat.
Tidak hanya matanya, kepalanya pun terasa seperti baru saja dihantam oleh palu godam.
Pria itu merentangkan kedua tangan dan menghela napas dalam-dalam, berusaha mengumpulkan sisa-sisa kesadaran dan tenaga untuk bangun.
Kelopak matanya terbuka perlahan. Ia lalu menengok ke samping dan mendapati bahwa sisi ranjang di sebelahnya benar-benar kosong. Ia menajamkan pendengaran, tapi tidak terdengar gemericik suara air dari kamar mandi.
*Apakah Alice langsung pergi setelah kejadian tadi malam? Atau aku hanya bermimpi? Atau hanya berhalusinasi karena mabuk*?
Raymond langsung melonjak turun dari atas ranjang, lalu sekejap kemudian sadar bahwa tidak ada selembar pakaian pun yang menutupi tubuhnya. Ia melihat pakaiannya yang berserakan di atas lantai, lalu menoleh ke atas kasur dan mendapati bercak merah yang nyata di atas seprai ....
*Jelas semalam bukan mimpi. Lalu ke mana perginya Alice? Apakah dia marah*?
Pria itu memungut pakaian dan memakainya dengan cepat. Benaknya dipenuhi tanya dan kecemasan. Ia takut Alice marah dan tidak mau bertemu dengannya lagi. Oleh karena itu, ia segera membongkar semua tempat untuk mencari ponselnya yang semalam entah terjatuh di mana.
Panik. Itu yang ia rasakan. Ia benar-benar panik hingga rasanya jantungnya lupa bagaimana ritme memompa darah yang benar. Bulir keringat mulai membasahi keningnya karena benda sialan yang ia cari itu tak juga kunjung ia temukan.
Tiba-tiba terdengar suara pintu terbuka dari depan. Pria itu menoleh dan melesat secepat kilat keluar dari kamar dengan dada yang dipenuhi harapan. Hanya Alice yang memegang kunci duplikatnya, itu artinya hanya Alice yang bisa masuk ... itu artinya dia tidak marah ... itu artinya ....
“Alice!”
Pria itu langsung melompat dan memeluk tunangannya erat-erat.
“Kamu kembali ... oh, astaga ... aku pikir kamu marah." Raymond menggumam penuh kelegaan.
Alice yang disambut dan dipeluk seperti itu jelas terkejut dan mematung. Ia tidak tahu mengapa Raymond tiba-tiba bersikap seperti itu. Semalam mereka bertengkar hebat karena pria itu memintanya untuk berhenti dari dunia modeling dan menjadi Nyonya Dawson sepenuhnya, tinggal di rumah dan mengurus anak. Tentu saja ia menolaknya mentah-mentah. Mana mungkin ia menyetujuinya.
“Apa yang terjadi, Raymond?” tanya Alice sambil mendorong pinggang pria itu agar menjauh. Semalam ia pergi dengan marah, dan sekarang ia datang untuk membujuk Raymond agar bisa menerima profesinya sebagai model. Namun, tingkah tunangannya yang aneh ini membuatnya sedikit curiga.
Raymond menangkup wajah Alice dan mencium pipinya dengan sangat lembut.
“Apa kamu marah karena semalam? Maaf aku terlalu mabuk dan mungkin sedikit kasar. Apakah aku menyakitimu?” tanyanya.
Kerutan di kening Alice semakin dalam. “Apa kamu mengigau? Apa yang sedang kamu bicarakan?” tanyanya.
“Aku baru datang, berharap kamu sudah lebih tenang agar kita bisa bicara dengan kepala dingin,” imbuhnya lagi seraya bersedekap dan menatap Raymond dengan sorot meminta penjelasan.
Kali ini giliran Raymond yang keheranan. Sikap Alice tidak seperti orang marah, ekspresi heran di wajahnya itu juga jelas tidak dibuat-buat.
“Semalam kamu tidak kembali ke sini?” tanyanya untuk memastikan.
Alice menggeleng dan menjawab, “Tidak. Aku baru datang. Apa yang terjadi, Raymond?”
Tiba-tiba otak Raymong menjadi kosong. Ia menatap nanar ke arah Alice dan tidak tahu harus mengatakan apa. Jika semalam bukan dia, lalu siapa? Siapa yang sudah ditidurinya semalam? Jelas-jelas semua bukti menunjukkan bahwa ia tidak hanya berhalusinasi atau bermimpi. Ada seorang wanita yang ....
“Raymond?”
“*Huh*?” Raymond mengerjap pelan dan menatap Alice dengan linglung, masih sedikit tidak percaya jika bukan tunangannya yang tidur di atasnya ranjangnya semalam. Lalu ... bercak merah di atas seprai itu milik siapa?
“Apa yang terjadi? Kamu baik-baik saja?” tanya Alice lagi. Tingkah Raymong benar-benar sangat mencurigakan.
“Oh ... aku ... ada apa kamu kemari sepagi ini?”
“Aku minta maaf karena semalam—“
“Bisa kita bicarakan nanti? Ada hal penting yang harus aku urus.”
“Apa? Aku—“
“Aku pergi sebentar.” sela Raymond. Ia berbalik dan setengah berlari menuju pintu tanpa menunggu jawaban, meninggalkan Alice yang terpaku di tengah ruangan dengan ekspresi yang semakin bingung.
***