Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Bab 107: Kamu Suka?


Setelah mengudara selama lima belas menit, helikopter akhirnya mendarat di atas atap salah satu gedung di sebuah kota yang terlihat tidak terlalu ramai. Kinara tidak mengenali tempat itu. Ia hanya tahu kalau tadi mereka ke arah utara dari Brooklyn. Ia sungguh tidak bisa menebak apa yang sedang disiapkan oleh suaminya itu.


Alex lebih dulu turun dan membantu istrinya keluar dari helikopter, lalu menuntunnya menuju pintu. Ia mendorong pintu besi itu dan menahannya hingga Kinara lewat, kemudian melepaskannya dan menyusul istrinya.


Kinara menoleh ke belakang dengan sedikit heran. Tak ada satu pun pengawal yang mengikuti mereka. Begitu pun Lorie. Gadis itu tidak terlihat batang hidungnya sama sekali.


“Di mana Lorie?” tanya Kinara, tidak bisa menahan rasa penasarannya.


“Menjalankan tugasnya,” jawab Alex seraya menggiring istrinya menuju lift. Setelah mereka berdua masuk ke dalam kotak besi berukuran 2x3 meter itu, Alex menekan huruf “B” di panel lift. Benda itu segera meluncur turun dengan stabil.


Kinara memerhatikan angka yang terus bergulir dengan cepat. Rupanya gedung ini berlantai 64 tapi ... ada yang aneh. Lift itu tidak berhenti sama sekali di lantai lain, seakan hanya ada mereka berdua dalam bangunan sebesar ini. Meski begitu, Kinara menahan diri untuk tidak berkomentar karena tahu Alex tidak akan memberitahunya apa pun.


“Jangan khawatir, jangan memikirkan apa pun. Tugasmu hari ini hanya bersenang-senang,” ujar Alex seraya merapikan anak rambut Kinara yang mencuat. Ia menyelipkan kembali helaian rambut istrinya ke balik daun telinganya.


“Baik,” jawab Kinara seraya tersenyum manis. Ia percaya pada pria di hadapannya itu. Ia tahu Alex mampu menjaganya dengan baik.


“Cantik sekali,” puji Alex sambil menarik pinggul Kinara hingga menempel padanya.


“Hum?” gumam Kinara seraya mendongak karena tidak terlalu mendengar ucapan suaminya barusan.


“Aku bilang, kamu sangat cantik,” ulang Alex sembari menatap bibir merah muda yang merekah itu dengan penuh hasrat.


Kinara tersenyum lebar. Ia berjinjit dan mendaratkan satu kecupan lembut di bibir suaminya, membuat pria itu terkejut dan terperangah sesaat. Sekilas, Kinara bisa melihat kilatan membara terpantul dalam manik yang bersorot tajam itu. Ia bisa merasakan cekalan Alex di pinggangnya mengetat. Wajah pria itu mendekat, semakin dekat ... lalu ....


Ting.


Pintu lift berdenting dan terbuka.


“Sudah sampai!” seru Kinara tanpa rasa berdosa sama sekali, lalu berlari keluar.


Alex menggapai angin kosong, tertegun sejenak sebelum menyadari bahwa istri mungilnya baru saja menggodanya.


“Kinara Lee!” teriak pria itu seraya mengejar istrinya yang sedang terkekeh puas di tengah basement.


Kinara mengangguk ke arah CCTV yang terpasang di atas kepala mereka, membuat Alex mengurungkan niatnya untuk membalas istrinya.


“Tunggu kita pulang nanti, Baby. Aku tidak akan melepaskanmu,” ujar Alex seraya menyunggingkan seringai licik.


Wajah Kinara memucat.


“Tidak! Aku minta maaf, Sayang! Maafkan aku. Oke?” serunya seraya menangkupkan kedua tangan di atas kepalanya, “Aku janji akan jadi anak penurut.”


Alex berpura-pura memerhatikan istrinya dari ujung rambut hingga ujung kaki, kemudian berkacak pinggang dan berkata, “Akan kupertimbangkan nanti.”


Pria itu berjalan cepat menuju mobil sedan yang terparkir tidak jauh dari situ. Kinara mengernyit melihat tampilan mobil yang sangat biasa itu. Benar-benar bukan seperti tipe yang biasa dipakai oleh suaminya.


Sebenarnya apa yang sedang direncanakan oleh pria itu?


“Sayang?” panggil Kinara seraya berusaha menyejajarkan langkah kakinya dengan sang suami.


“Hum.”


“Aku mencintaimu.”


Bruk!


“Aw!” pekik Kinara ketika keningnya menabrak punggung Alex yang berhenti tiba-tiba. Ia mendongak seraya mengusap keningnya pelan. “Apa yang terj–“


Alex menggeram. Mengangkat tubuh Kinara dengan satu tangan dan membuka pintu mobil dengan tangan yang lain. Ia mendudukkan istrinya di kursi penumpang, lalu lututnya menekan bangku dekat paha wanita itu.


“Katakan sekali lagi,” ujar Alex dengan suara dalam dan berat.


Kali ini Kinara sudah mengerti apa yang dimaksud oleh suaminya, jadi ia berdeham pelan sebelum berkata, “Aku mencintaimu.”


Sial, maki Alex dalam hati. Ucapan sederhana itu membuat inti tubuhnya berdenyut dan mengeras. Apakah terangsang ketika mendengar pernyataan cinta termasuk kategori normal?


“Kamu sakit?” tanya Kinara ketika melihat wajah suaminya memerah.


“Di sini yang sakit,” jawab Alex dengan suara parau. Ia meraih tangan Kinara dan menekannya di bawah.


“Alex!” seru Kinara seraya menarik tangannya dan menyembunyikannya di balik punggung. Ia memelototi suaminya dan menyindir, “Ini kejutan yang kamu maksud?”


Alex tersadar dan segera menjauh dari istrinya. "Mmm ... tunggu sebentar," ujarnya.


Dengan tergesa Alex pindah ke bangku untuk pengemudi dan menyalakan mesin. Ia melirik sekilas ke arah istrinya yang tampak antusias dan memerhatikan jalanan setelah mobil keluar dari basement. Pria itu menarik napas dalam-dalam dan memaki dalam hati. Benar-benar sial. Sepertinya rasa sakit di pangkal pahanya akan bertahan sepanjang hari.


Kinara tersenyum lebar. Ia menyukai ketenangan di luar sana. Kedai fast food di sepanjang jalan, toko baju dan souvenir, tanpa pengawal yang mengikuti ke mana pun ... tunggu, apa itu? Mata Kinara menyipit ketika menyadari ke arah mana mobil yang dikendarai suaminya bergerak. Tiba-tiba Kinara menoleh ke arah suaminya dan menatap pria itu lekat-lekat.


"Apa?" tanya Alex ketika menyadari tatapan Kinara yang menyelidik. Sepertinya istrinya mulai menyadari rencananya.


"Kamu yang merencanakan semua ini?"


"Apa?"


"Ini," ulang Kinara seraya menggerakkan tangannya ke segala arah.


Alex mengurangi kecepatan mobil dan memutar setir untuk masuk dalam area taman hiburan lokal. Ia menoleh untuk membalas tatapan istrinya sambil tersenyum tipis. Rupanya wanitanya memang lebih pintar dari wanita kebanyakan. Pria itu memarkir mobil di parking lot, lalu turun dan memutar untuk membukakan pintu mobil bagi Kinara.


"Mari kencan seperti yang biasa dilakukan orang-orang," ujar Alex seraya mengulurkan tangannya pada istrinya


Kinara tersenyum lebar dan meraih tangan Alex.


"Maksud Anda, kencan seperti rakyat jelata, Tuan?" tanyanya seraya melompat masuk ke dalam pelukan suaminya.


Senyuman Kinara ternyata sangat menular. Tanpa sadar Alex ikut menyeringai lebar.


"Kamu suka?" tanyanya seraya mengusap kepala istrinya dengan penuh rasa sayang.


"Suka! Sangat suka!" jawab Kinara sambil melompat-lompat seperti anak kecil. Ia menarik leher Alex dan mendaratkan satu ciuman di pipi pria itu dengan bersemangat.


"Kamu sangat mudah dipuaskan," ujar Alex seraya terkekeh.


Kinara menjulurkan lidahnya lalu mulai berjalan memasuki area taman bermain.


Alex menyusul Kinara dan berjalan di sisinya. Sebenarnya, ide ini muncul sangat mendadak. Tadinya ia ingin mengajak Kinara berjalan-jalan sebentar, setelah semua rentetan kejadian yang menegangkan. Juga setelah malam panas yang mereka lewatkan bersama, ia ingin memanjakan wanitanya. Lalu tiba-tiba terpikir olehnya untuk melakukan "kencan rakyat jelata" ini. Ia sempat khawatir istrinya tidak akan suka, tapi tampaknya itu hanyalah sebuah ketakutan tanpa alasan. Melihat sorot mata istrinya yang berbinar dan tidak sabar, Alex merasa sangat senang.


Alex tertawa hingga terbatuk.


"Khayalanmu tidak bisa dibilang terlalu berlebihan," jawabnya dengan setelah berhasil menguasai diri, "Aku tahu kamu tidak suka yang terlalu mewah dan menghabiskan banyak uang, jadi ... well, aku hanya menyewa taman bermainnya saja. Tadinya aku ingin menyewa Disneyland, tapi aku tahu kamu tidak akan senang."


Kinara menganggukkan kepala dengan cukup puas. Setidaknya suaminya tidak menyewa kota ini.


"Lalu, para pengawal?" tanyanya lagi.


Alex menyeringai lebar. "Jangan khawatirkan itu. Kamu hanya tidak melihat atau menyadari keberadaan mereka."


Kinara menoleh dengan cepat, memindai sekitarnya dengan mata menyipit. Namun hasilnya nihil. Ia tidak mengenali satu orang pun.


"Sudah kukatakan, jangan khawatirkan itu. Ayo bersenang-senang," ajak Alex seraya menarik tangan istrinya.


"Ayo coba roller coaster-nya!" pekik Kinara sambil menunjuk pada wahana yang sedang melaju kencang dan meliuk-liuk di track-nya.


Alex menggandeng tangan istrinya dan menuju loket. Setelah membayar karcis dan menunggu sebentar, sepasang suami istri itu segera berjalan menuju kereta yang baru saja berhenti di depan mereka. Alex membantu Kinara duduk dengan aman, lalu ia sendiri naik dan memasang sabuk pengaman. Pria itu bisa merasakan detak jantungnya meningkat dengan cepat. Ia memang pernah datang ke taman bermain beberapa kali, tapi tidak pernah menaiki satu pun wahana yang ada. Namun, kali ini ....


"Kinara Lee, jika aku terkena serangan jantung dan meninggal, semua hartaku sudah aku wariskan padamu. Kamu bisa menghubungi tuan Pa--"


"Alex! Hentikan!" sela Kinara sambil memelototi suaminya. Namun, melihat ekspresi pria itu yang serius dengan wajahnya yang pucat, Kinara tidak tahu harus memarahinya atau merasa kasihan padanya.


"Tenanglah, ini hanya permainan, tidak akan membunuhmu," bujuk Kinara seraya menggenggam jemari suaminya erat-erat. Sekarang ia merasa terharu. Pria di sampingnya ini rela melakukan apa pun untuknya, bukankah itu merupakan sebuah anugrah?


Kinara bisa merasakan cekalan Alex di tangannya semakin kencang tatkala kereta luncur itu mulai bergerak, menanjak, lalu berhenti di puncak.


"Kinara ...," desis Alex ketika kereta mulai meluncur turun.


"Kyaaa!"


Sepasang suami istri itu menjerit sekuat tenaga ketika roller coaster menukik tajam lalu kembali melambung ke atas dengan cepat. Kinara berteriak dan tertawa sambil menatap langit biru di atasnya, sementara Alex perlahan membuka matanya dan menengok ke arah istrinya. Ini tidak semengerikan yang ia bayangkan. Pria itu mengangkat kedua tangannya dan mulai tertawa lepas.


Ini sangat menyenangkan!


Alex bahkan masih ingin mengulang permainan itu lagi ketika kereta sudah berhenti.


Kinara tertawa puas dan berkata, "Masih ada banyak permainan rakyat jelata yang belum kita coba, Tuan. Lagipula berteriak-teriak seperti tadi membuatku lapar."


"Aku mau hotdog!" seru Kinara lagi seraya menarik lengan suaminya menuju stand penjual makanan.


"Dua hotdog, dua soft drink," ujar Alex pada penjual makanan. Ia menoleh untuk menatap wajah istrinya. Kenangan bagaimana dulu wanita itu dengan sabar mengahadapi sikapnya yang keras kepala dan kekanakan kembali berkelebat.


Alex merengkuh tubuh Kinara dan mengecup puncak kepalanya dengan lembut. Kalau tidak ada wanita tangguh ini, entah apa jadinya dirinya. Mungkinkah bisa bangkit dari keterpurukannya seperti sekarang?


"Sayang, kamu belum membayarnya," tegur Kinara seraya menerima pesanan mereka dari tangan ibu penjual.


Alex mengambil uang dan membayarkan sejumlah yang disebutkan. Ia mengambil alih plastik berisi makanan dari tangan Kinara dan menentengnya.


"Pelan sedikit, tidak ada yang berebut makanan denganmu. Nanti mulutmu melepuh," tegur Alex ketika melihat istrinya menggigit hotdog dan potongan cukup besar dan melambai-lambaikan tangannya di depan mulut. Ia mengambil camilan itu dari tangan Kinara, meniupnya beberapa kali sebelum menyodorkannya ke mulut wanita itu lagi.


"Kamu benar-benar seorang kekasih yang baik," puji Kinara seraya mengunyah hotdog dengan nikmat.


Mata Alex berbinar. Bahkan ucapan sesederhana itu bisa membuat hatinya terasa hangat.


"Aku ingin boneka," kata Kinara sambil menunjuk ke area permainan bulls eye yang kebetulan berada di sebelah kiri stand hot dog.


Alex menaikkan alisnya dan menatap istrinya yang cantik. Tanpa bersuara, ia menyerahkan kantung belanjaan pada Kinara kemudian menggulung lengan bajunya. Setelah membayar pada penjaga stand permainan itu, Alex mengambil ancang-ancang dan membidik.


Set!


Lembaran Alex menancap tepat di tengah lingkaran. Kinara bersorak dengan sangat antusias. Ia berjalan menghampiri penjaga stand untuk memilih hadiah. Sebuah boneka beruang besar menarik perhatiannya, juga sebuah boneka kelinci putih yang lucu. Namun, saat matanya melihat sebuah gantungan kunci di sudut etalase, ia langsung jatuh cinta pada benda itu.


"Aku mau itu!" serunya seraya menunjuk sebuah gantungan kunci dengan motif Donal Bebek yang sedang cemberut.


"Semua kerja kerasku hanya ditukar dengan benda kecil itu? Katamu tadi ingin boneka," ujar Alex sambil bersedekap. Ia pikir istrinya akan memilih boneka yang paling besar, tapi nyatanya ....


Kinara menyeringai. "Lihat. Dia sangat mirip denganmu, bukan?" ujarnya sembari mendekatkan gantungan kunci itu ke wajah suaminya.


Alex memicing. "Kamu benar-benar menguji kesabaranku, ya?" gerutunya.


"Aku harus menamainya siapa?" Kinara pura-pura mengabaikan suaminya. "Naughty Alex? Grumpy Alex? Monster Mes ... aw!"


Kinara memekik kaget ketika tubuhnya tiba-tiba melayang. Alex menggendongnya!


"Apa yang kau lakukan? Orang-orang melihat kita!" protes Kinara.


"Kenapa? Bukankah ini termasuk bagian dari kencan rakyat jelata?" goda Alex.


"Turunkan aku!"


"Tidak mau."


"Alex!"


"Hm."


Kinara memukuli pundak suaminya ketika pria itu terus berjalan tanpa memedulikan keadaan sekitar.


"Berhenti. Kantung hotdog-ku ketinggalan," ujar Kinara sambil terus meronta.


Langkah kaki Alex tiba-tiba berhenti. Ia terpaku beberapa saat dan menatap pada satu titik dengan tatapan menerawang. Kinara memanfaatkan kesempatan itu merosot turun dari gendongan suaminya.


"Alex?" panggil Kinara.


"Jessie?" gumam Alex pelan. Raut wajah pria itu seperti baru saja melihat hantu.


"Jessie?" Kinara membeo, mengikuti arah tatapan suaminya dengan dipenuhi rasa penasaran. Tiba-tiba instingnya menyalakan alarm tanda bahaya.


***