Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 91


Saat dokter datang untuk menangani Lorie, Billy langsung merangsek maju dan menyeret Raymond keluar. Ia menekan bahu Raymond ke dinding dan memelototinya dengan kejam.


“Jauhi Lorie!” Billy menggeram penuh amarah. Sikapnya itu benar-benar seperti sedang menghadapi musuh bebuyutannya.


Raymond yang tidak mengerti mengapa Billy bersikap seperti itu hanya bisa menahan emosinya yang mulai tersulut. Biar bagaimanapun, kondisi Lorie belum stabil. Ia tidak mau membuat keributan yang tidak penting.


“Tuan Billy, hanya karena saya diam bukan berarti saya mudah ditindas,” ucap Raymond seraya menyingkirkan tangan Billy yang menekannya dengan kuat.


Billy mencibir dan berteriak, “Jadi kamu hebat? Kamu merasa hebat karena telah membuat Lorie menjadi seperti itu?! Katakan! Apakah kamu sangat senang melihatnya sangat menderita?!”


“Apa maksud Anda?” Kali ini Raymond benar-benar bingung.


Bukankah ia justru mendonorkan hampir separuh darah dalam tubuhnya untuk Lorie? Ia juga yang ingin menyelamatkan Lorie dari tabrakan mobil, meski terlambat dan tidak berhasil meraihnya tepat waktu. Mengapa jadi dirinya yang bersalah atas kondisi Lorie sekarang?


“Billy,” tegur Alex yang menyusul keluar setelah mendengar pertikaian kedua orang itu. “Tidak usah berteriak seperti itu. Dia juga tidak mengerti.”


Billy memelototi Raymond lagi, terlihat seperti akan membantah dan mengatakan sesuatu, tapi pada akhirnya ia hanya mendorong tubuh Raymond sekuat tenaga.


Raymong meringis karena benturan yang cukup keras dengan tembok. Sebenarnya kondisi tubuhnya sendiri belum stabil. Ia langsung berlari ke ruangan perawatan Lorie setelah siuman, tapi malah disambut dengan kejam seperti ini. Kalau bukan karena memandang Lorie, ia pasti sudah membalas Billy dari tadi.


“Raymond Dawson,” panggil Alex. Ia berjalan mendekati Raymond dan menatapnya lekat-lekat. Sesaat tampak ada pergolakan batin dalam sorot matanya, tapi ia menutupinya dengan cepat dan memasang wajah datar seperti biasa.


“Apa Anda bisa menjelaskan, Tuan? Apa yang sebenarnya sedang terjadi? Mengapa Tuan Billy mengatakan ini semua adalah kesalahan saya?” tanya Raymond sambil membalas tatapan Alex Smith yang terasa sedikit mengintimidasi.


Alex menurunkan tatapannya dan mengambil sesuatu dari saku jasnya. Ia menyerahkan benda itu kepada Raymond sambil berkata, “Kamu lihat sendiri. Aku serahkan kepadamu, bagaimana ingin mengatasinya.”


Raymond sedikit bingung menerima sebuah amplop berukuran sedang berwarna cokelat. Ia menatap Alex Smith dengan sorot penuh tanya, tapi pria itu seolah enggan memberikan petunjuk apa pun.


“Apa ini?” tanya Raymond setelah terdiam cukup lama. Ia sama sekali tidak bisa menebak apa isi amplop yang sedang dipegangnya itu.


Raymond tidak ingin menanggapinya. Karena Alex juga tidak mengucapkan apa pun, maka Raymond menyobek ujung amplop dan mengeluarkan isinya.


Satu lembar foto meluncur dari dalam amplop itu dan hampir jatuh ke lantai, tapi Raymond langsung menangkapnya. Dalam sekejap ekspresi heran dan bertanya-tanya di wajahnya hilang. Ia terbengong beberapa saat, lalu bergegas mengeluarkan semua isi amplop. Dengan cepat ia memeriksa lembaran demi lembaran foto dan kertas itu hingga invoice hotel di tumpukan paling bawah.


“Tidak mungkin,” gumam Raymond dengan suara gemetar. Ia tidak ingin mempercayai apa yang ada di tangannya, tapi ia juga tahu itu semua tidak mungkin untuk direkayasa.


“Kalau kamu tidak percaya, pergi periksa ke alamat yang ada di situ,” ucap Alex tanpa melepaskan tatapannya dari wajah Raymond.


“Jangan lupa, tindakanmu selanjutnya yang menentukan apakah kamu layak untuk kembali ke sini atau tidak,” imbuh Alex lagi dengan sangat tenang. Namun, sikap tenangnya itu justru terasa lebih menakutkan, seolah ada ancaman yang tidak main-main di dalamnya.


Tak ada lagi ketenangan yang tersisa saat Raymond mendengar ucapan itu. Ia percaya Alex Smith bukanlah orang yang tidak masuk akal. Oleh karena itu, tanpa mengucapkan apa pun lagi, Raymond langsung berbalik dan lari menuju tempat parkir.


Ia harus memastikannya sendiri, harus melihat dengan mata kepalanya sendiri.


Raymond menyetir seperti orang gila. Dua kali menerobos lampu merah dan beberapa kali nyaris menyerempet kendaraan lain. Pria itu seakan tidak mendengar caci maki yang ditujukan untuknya dari pengendara lain, juga suara klakson yang memekakkan telinga. Kepalanya dipenuhi dengan foto dan alamat hotel yang baru saja dilihatnya.


Pria itu menelan ludah dengan susah payah. Alex memintanya untuk menangani masalah itu. Apakah Alex pikir ia memiliki hubungan dengan semua kecelakaan yang menimpa Lorie? Pantas saja Billy mengamuk seperti banteng gila.


“Brengsek!”


Raymond mengumpat dan meninju setir dengan keras. Ia meninju benda itu berkali-kali hingga buku-buku jarinya memerah dan lecet. Jika memang semua yang ada di dalam amplop itu benar, maka ia memang pantas untuk dipukuli sampai mati.


Pria itu membanting setir memasuki halaman Hotel The Bries dan berhenti di depan lobi utama. Ia langsung menerobos masuk meski satpam memberitahukan kepadanya bahwa tidak bisa memarkir mobil di depan lobi.


Langkah kakinya yang panjang dan lebar langsung menuju meja resepsionis. Karena Alex Smith sudah memintanya untuk mengurus masalah ini, maka ia akan membereskannya sampai tuntas.


***