Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Perdebatan


Malam menjelang, Gio tidak tahu harus membujuk Tara seperti apa lagi. Karena sampai malam begini mulut Tara masih saja bungkam bicara pun hanya seperlunya saja dan sampai sekarang Tara tidak mau makan apapun. Meskipun perut wanita itu sudah berbunyi beberapa kali minta untuk di isi.


"Sayang, makan malam dulu, Bibi Alexa yang memasaknya untukmu," ucap Gio yang memegang mapan yang berisi nasi, lauk dan segelas air minum. "Aku suapin ya, sekarang buka mulut, aa ...."


Tara bukannya membuka mulut, wanita itu malah menepis tangan sang suami. "Antarkan aku pulang! Aku tidak mau bersamamu di sini Gio!" bentak Tara dengan mata yang sudah terlihat sangat sembab. Karena dari tadi siang wanita itu tidak henti-hentinya menangis, karena ia hanya ingin diantar pulang saja.


"Tara, aku mohon jangan uji kesabaranku untuk saat ini, tidakkah kamu merasa kasihan denganku?"


Sebenarnya Tara saat ini sangat merindukan pelukan hangat sang suami. Namun, karena foto-foto itu membuat Tara merasa sakit hati dengan sang suami. Sehingga rasa rindu di hati wanita itu terhapus oleh rasa benci pada Gio.


"Malam ini kita berangkat, karena sepertinya kamu harus benar-benar ikut bersamaku," kata Gio yang meletakkan mapan itu di atas nakas. "Bersiap-siaplah," lanjut Gio sebelum laki-laki itu keluar dari dalam kamarnya.


"Aku hanya mau pulang Gio! Dan aku tidak ingin ikut denganmu!" Tara memekik dan tangannya terulur membuang mapan itu sehingga gelas, beserta piring itu langsung saja pecah dan pecahannya langsung saja berserakan di lantai. "Aku mau pulang!" teriak Tara lagi.


Gio yang mendengar suara pecahan langsung saja kembali membalik badannya. "Tara sudah kukatakan, jangan membuat kesabaranku habis Tara!" Mata Gio terlihat merah menyala. Sebab kali ini emosi laki-laki itu sudah benar-benar tidak bisa di kontrol lagi. "Aku ini masih suami kamu Tara, jadi tolong hargai aku sedikit saja. Bukannya kamu malah pergi ke pengadilan lalu menggugatku!" bentak Gio yang sekarang merasa bahwa Tara lah yang ingin mengkhianatinya.


"Aku sangat mencintaimu Tara, tapi inikah balasan cintamu padaku? Kenapa sifat egois dan keras kepalamu kembali lagi? Kemana perginya Tara yang penurut, Tara yang mencintaiku? Kemana perginya?!" Gio laki-laki yang pantang meneteskan air mata. Tapi kali ini saking marah dan kecewanya dengan sang istri Gio hanya bisa meneteskan air mata. Karena ia juga tidak terima kalau Tara memperlakukannya seperti saat ini. "Masih tegakah kamu menyakitiku Tara, aku laki-laki yang sangat tulus mencintaimu ...."


"Tara, kenapa kamu harus cemburu dengan Sera? Dia itu adik angkatku."


"Bagaimana aku tidak cemburu, sedangkan mommy menjodohkan kamu dengan adik angkatmu itu Gio! Dan dari pada aku sakit hati begini terus, maka aku memilih untuk berpisah saja darimu. Karena mungkin itu lebih baik."


"Bvnvh aku, jika kamu ingin berpisah dariku, karena aku sudah berjanji jika bukan ajal yang memisahkan kita maka aku dan kamu tidak akan pernah bercerai. Meskipun mulutmu itu sampai berbusa ataupun tenggorokanmu sampai kering, Tara." Gio mendekati Tara. "Ayo bvnvh saja aku, jika kamu sudah tidak ingin melihat aku lagi di muka bumi ini," sambung Gio.


"Bvnvh saja diri kamu sendiri Gio, karena tanganku tidak pantas dikotori dengan darah seorang laki-laki penghianat seperti dirimu!" timpal Tara ketus.


"Baiklah Tara, malam ini kamu akan melihat kalau aku suamimu ini akan le ny ap, di hadapanmu. Jika itu yang akan membuatmu merasa senang dan puas." Gio lalu terlihat berjongkok dan mengambil pecahan gelas yang tadi. "Aku harap kamu jangan menyesal Tara." Gio kemudian terlihat mengarahkan pecahan gelas itu ke lehernya. "Ini yang kamu mau Tara, oke! Akan aku kabulkan." Ketika Gio akan bersiap-siap mem ba cok lehernya sendiri tiba-tiba saja pintu kamar itu malah di dobrak dari luar. Membuat Gio menggenggam pecahan gelas itu, sehingga membuat darah segar mulai terlihat keluar dari telapak tangan laki-laki itu.


Tara yang melihat itu semua membelalak kaget. "Gio! Jangan gi–" Kalimat Tara menggantung tatkala ia melihat Lydia dan Malvin sudah berdiri di ambang pintu. Dan saat ini orang tua Gio itu begitu terkejut melihat apa yang sedang dilakukan oleh putra mereka saat ini.


"Gio, apa kamu sudah gila? Mau nekat bvnvh diri seperti ini hanya gara-gara Tara, wanita yang jelas-jelas tidak bisa memberikanmu anak, hah!" Lydia terlihat menatap Tara dengan tatapan yang tidak ramah, berbanding balik dengan tatapan wanita itu dulu yang selalu teduh tatkala melihat sang menantu. "Bisa-bisanya kamu berlaku bo doh seperti ini, lihat lah di luaran sana masih banyak wanita yang memiliki paket lengkap, bukan malah paket terbatas seperti istri kamu ini yang banyak sekali kekurangannya." Lydia benar-benar sudah berubah, menjadi mertua yang sangat benci dengan menantunya. Sampai-sampai wanita itu sudah mulai secara terang-terangan menyindir sang menantu.