Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 17


Raymond melesat keluar dan pergi ke bagian keamanan. Seorang pria yang bertugas di balik meja tidak tampak terkejut ketika mendengar penuturan Raymond, mungkin karena sudah sering menghadapi permintaan pengunjung hotel yang beraneka ragam dan kadang tidak masuk akal.


“Maaf, Tuan. Anda bilang ada penyusup ke kamar Anda semalam?”



“Ya.”


“Tapi bagaimana bisa? Apakah dia memiliki kartu akses untuk masuk ke kamar?”


“Tidak. Aku mabuk dan kebetulan tidak sengaja membukakan pintu untuknya. Aku pikir itu orang yang sedang aku tunggu,” jelas Raymond entah yang ke berapa kalinya, tapi penjaga di hadapannya tampak tetap tidak percaya dengan keterangannya itu.


“Maaf, kami tidak bisa—“


“Aku akan membawa kasus ini ke kantor polisi. Apakah pihak manajemen hotel ingin agar kasus ini diekspos ke publik?”


“Itu ....”


Sang penjaga mengembuskan napas perlahan. Setelah bertarung dengan dilema dalam hatinya, akhirnya ia membuka pintu ruang pemantauan CCTV dan meminta rekannya untuk memutar rekaman yang paling dekat dengan kamar 121. Ekspresi wajah petugas yang masam karena diancam oleh Raymond tadi mendadak berubah ketika melihat ada seorang wanita yang masuk ke kamar itu dan keluar hampir subuh, mengendap-endap seperti pencuri dan masuk ke kamar 120.


Bukan hanya penjaga itu yang tercengang. Mulut Raymond juga sudah menganga lebar, tapi tak ada sedikit pun suara yang terdengar. Ia terlalu terkejut sehingga tidak tahu harus mengatakan apa. Pria itu menyugar rambutnya kemudian menutup wajahnya dengan tangan.


“Itu tetangga kamar Anda, Tuan. Apa Anda mengenalnya?”


Tidak mungkin ....


Itu sangat mustahil!


Tidak mungkin Lorie yang masuk ke kamarnya semalam! Tidak mungkin ia tidur dengan wanita itu dan ... oh, astaga, apa yang sudah dilakukannya? Bagaimana kalau Alice sampai tahu? Bagaimana sikap Lorie kepadanya nanti? Ramond mengepalkan tangannya dan meninju dinding dengan kesal. Ia meninju beberapa kali sehingga pertugas yang ada di dalam ruangan itu harus mengingatkannya agar dapat mengendalikan diri.


“Kalau Anda mengenalnya, kalian bisa membicarakan hal ini baik-baik, Tuan. Memangnya barang apa yang hilang dari kamar Anda, kalau kami boleh tahu?” tanya petugas yang tadi memutar rekaman CCTV.


“Tidak ada yang hilang. Aku yang mengambil sesuatu dari wanita itu,” jawab Raymond sebelum berjalan keluar, meninggalkan dua petugas hotel tertegun dan saling menatap karena keheranan. Kedua orang itu lalu saling mengangkat bahu dan melanjutkan tugas masing-masing.


Raymond keluar dari hotel dan duduk di bangku pinggir jalan, menatap nanar pada kendaraan yang lalu lalang. Haruskah ia menghubungi Lorie untuk meminta maaf dan menjelaskan semuanya? Juga mengatakan bahwa ia terlalu malu untuk menemui wanita itu secara langsung, tapi ... sekarang ia tidak membawa ponsel.


Lagi pula, apa yang harus ia katakan kepada wanita itu? Bahwa ia mabuk? Bahwa ia mengira wanita itu adalah Alice?


Bukankah itu hanya akan semakin menghacurkan perasaannya?


“Ya, Tuhan ... apa yang sudah aku lakukan ....”


Pria itu mendesah pelan dan menelungkupkan wajahnya ke atas lengan. Masalah dengan Alice belum selesai, tapi kini timbul masalah baru karena kecerobohannya. Ia mengutuki diri sendiri dan menghela napas putus asa. Kalau sampai Alice juga tahu apa yang terjadi antara dirinya dan Lorie semalam, apa yang akan dilakukan oleh tunangannya itu? Apakah dia masih mau melanjutkan hubungan mereka atau justru mencampakkannya?


Padahal ia sudah berniat untuk memperbaiki semuanya dan menerima keinginan kekasihnya itu untuk meneruskan profesinya sebagai model. Ia bisa membujuk kedua orang tuanya agar bisa menerima Alice apa adanya, menjelaskan kepada mereka bahwa Alice adalah wanita yang baik dan layak menjadi istrinya. Akan tetapi, sekarang ....


Setelah berpikir ribuan kali sampai kepalanya terasa berdenyut dan hampir meledak, akhirnya ia mengambil keputusan, bagaimana pun ia harus menemui Lorie secara langsung. Ia tidak boleh menjadi pengecut dengan menjadikan rasa malu sebagai alasan. Ia sudah merenggut sesuatu yang sangat berarti darinya. Maka dari itu, ia harus meminta maaf secara langsung meskipun ia tidak tahu kompensasi apa yang sepadan untuk menggantikan kerugian wanita itu. Ia bangkit berdiri tiba-tiba dan melesat menuju pintu.


Dengan cepat pria itu kembali ke hotel dan mengetuk pintu kamar Lorie. Namun, setelah mengetuk sangat lama, tak kunjung terdengar jawaban dari dalam sana.


Apakah dia benar-benar marah?


“Raymond, apa yang terjadi?”


Raymond berbalik dengan cepat saat mendengar suara Alice dari balik tubuhnya. Ia bahkan sudah lupa kalau kekasihnya itu masih menunggu di kamarnya.


“Apa yang kamu lakukan di situ?” tanya Alice lagi karena Raymond tak kunjung merespon pertanyaannya.


Raymond mengepalkan tangannya erat-erat sebelum menjawab, “Tidak ada. Ayo masuk.”


Ia meraih tangan Alice dan mengajaknya kembali ke kamar. Untuk saat ini, ia belum bisa mengatakan apa pun kepada tunangannya, tunggu sampai ia bertemu dan meminta maaf kepada Lorie ... setelah itu, mungkin ia akan menceritakannya kepada Alice.


***