Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
38


"Kamu sih, ngapain tidak hati-hati, sudah tahu kamar mandi licin," kata Yana saat melihat Tara, putrinya itu sedang berjalan ke arahnya. "Lain kali kamu harus hati-hati, kamu juga kan, saat ini kamu juga lagi hamil," ucapan Yana berhasil membuat Tara dan Gio saling pandang.


"Hamil? Aku baru tadi pagi di unboxsing, bagimana bisa Mama malah mengira kalau putrinya ini sedang hamil?" gumam Tara bertanya di dalam benaknya.


"Tara sayang, calon cucu Mama tidak apa-apa 'kan?" tanya Yana yang tidak tahu saja saat ini, perasaan pasangan suami istri itu sedang cenat-cenut.


"Ma, aku ini belum hamil," jawab Tara yang saat ini sudah duduk di sebelah sang ibu. "Doakan saja supaya aku dan Gio bisa cepat punya dedek bayi, cucu buat Mama dan Papa juga."


"Lho, bukannya kamu pas malam itu muntah-muntah? Lalu kenapa kamu sekarang malah mengaku tidak hamil?" Yana terlihat heran karena ia kali ini salah dalam menebak-nebak.


"Gio, ayo kamu ikut papa saka Nak, karena tempat kita bukan di sini," ujar Arzan setelah lama terdiam, dan rupanya ia malah mengajak menantunya itu untuk pergi. "Biarkan saja Tara dan Mama disini," sambung Arzan, sehingga membuat Gio yang tadi duduk, kini terlihat langsung berdiri lagi. Saat laki-laki itu mendengar ajakan sang mertua.


"Tara, ma, kalau begitu aku ikut dengan papa dulu," kata Gio berpamitan pada istri beserta ibu mertuanya itu.


"Iya sudah, sana pergi saja!" balas Tara menimpali dengan nada suara ketus. Karena saat ini Tara masih sangat marah dan kesal atas apa yang telah di lakukan oleh Gio, ketika mereka di kantor beberapa jam yang lalu.


"Tara yang sopan dong sayang, sama suami kamu," kata Yana mengingatkan sang putri.


"Hm ... iya Ma, aku ini sudah sangat sopan, kok," timpal Tara.


"Ish, perasaan Mama saja kali yang baperan," celetuk Tara.


"Sudah Ma, jangan mempermasalahkan itu. Mama sekarang suruh Tara pilih saja surat udangannya. Biar bisa cepat di cetak," ucap Arzan yang berusaha menengahi sang istri beserta putrinya. "Bila perlu panggil Tika, siapa tahu dia mau pilih sendiri." Arzan mengatakan itu ketika ia baru mengingat kalau ini adalah persiapan acara pernikahan untuk putri keduanya itu. "Tara, kamu saja yang panggil kakak kamu, karena saat ini pasti anak itu sedang ada di dalam kamarnya."


"Biar Mama saja, karena kakiku masih sangat sakit." Tara malah menolak untuk memanggil sang kakak. "Kalau Papa nggak keberatan, Papa bisa panggilkan Kak Tika, untuk turun ke sini," sambung Tara.


"Papa kamu sibuk Tara, sana kamu saja."


Tara menghela nafas. "Mama ini bagimana sih, kakiku sakit."


"Biar kaki kamu tidak semakin sakit, sana gerakin ke atas," ujar Yana. Yang masih saja menyuruh Tara utuk memanggil Tika.


"Oke, aku akan menanggil Kak Tika." Pada akhirnya Tara mau mengalah dan dengan hati-hati berdiri dari duduknya. Karena saat ini ia ingin memanggil sang kakak.


Yana yang melihat mimik wajah Tara yang cemberut, dengan cepat membuka suara dan berkata, "Tara, jangan cemberut sayang, kalau di suruh itu harus ikhlas."


"Iya Ma, wajahku tidak cemberut!" sahut Tara ketika ia sudah menginjakkan kakinya di anak tangga karena, kebetulan letak kamar sang kakak ada di lantai dua.