
Dari kejauhan, cahaya yang terang benderang terpancar ke langit malam. The Spring Mountains terlihat seperti pohon natal yang berkelap-kelip di puncak bukit. Tidak. Bangunan itu lebih mirip istana sang pangeran dalam kisah Cinderella. Dan, Kinara sungguh merasa seperti sang upik abu yang sangat beruntung karena pangerannya kini ada di sisinya.
Ketika pesta pernikahannya dilangsungkan, semua bangsawan dari kalangan atas datang dan memberi selamat. Namun, waktu itu Alex masih duduk di kursi roda. Mungkin orang-orang menertawakan suaminya kala itu karena harus menikahi salah seorang pelayannya, tetapi kali ini ia cukup yakin semua orang akan mencibir padanya.
Sudah pasti tidak hanya satu orang yang berpikiran seperti granny, bahwa ia setuju menikahi Alex hanya demi uang. Padahal, hanya Tuhan yang tahu bagaimana ia sangat mencintai pria itu sejak dulu. Pikiran Kinara semakin kusut. Ia memegang pinggiran gaunnya dan menggenggamnya kuat-kuat.
Alex yang menyaksikan perubahan ekspresi dan suasana hati Kinara segera mengulurkan tangan untuk menggenggam jemarinya.
“Tenanglah, semua akan baik-baik saja,” ujar Alex untuk menenangkan istrinya.
Kali ini Kinara tidak menepis tangan Alex. Ia membiarkan suaminya menyalurkan semangat dan optimisme yang sangat dibutuhkannya saat ini.
“Maafkan sikapku tadi, aku hanya kesal karena ... karena Billy ....”
“Tidak apa-apa, aku mengerti,” ujar Kinara sambil tersenyum tipis, “Memang kamu sangat menyebalkan, tapi aku sudah terbiasa.”
Alex tertawa tanpa suara. “Aku pikir kamu akan mendiamkanku sepanjang acara malam ini,” akunya.
“Kamu tidak malu?” tanya Kinara tiba-tiba. Ia menatap lurus ke manik teduh suaminya dengan sorot mata seperti seekor kelinci yang sedang terjebak dalam perangkap.
“Kenapa harus malu?” balas Alex, tidak mengerti maksud dari pertanyaan istrinya.
“Aku hanya seorang pelayan. Orang-orang pasti tertawa di belakangmu,” jawab Kinara. Ia menggigit bibirnya karena cemas dan gugup. Kemungkinan besar, semua mata akan tertuju padanya dan Alex ketika memasuki aula utama nanti.
Alex meraih tangan Kinara dan menciumnya dengan lembut. Rupanya itu yang dipikirkan oleh istrinya hingga raut wajahnya terlihat seperti mendung.
“Jangan pikirkan tentang Jessica, atau granny, atau siapa pun selain aku. Oke?”
“Bagaimana kalau orang-orang mulai bertanya, atau menggosip ... atau—“
“Shhh ... tenanglah, itu semua tidak akan terjadi. Tetaplah di sampingku dan semua akan baik-baik saja. Aku janji.”
“Baiklah ...,” jawab Kinara. Senyuman di wajahnya terlihat hambar. Entah mengapa kali ini ia merasa akan terjadi sesuatu. Mungkin karena tahu akan ada Jessica di sana. Atau karena granny yang tetap belum bisa menerima dirinya secara utuh sebagai menantu keluarga Smith.
Kinara bersandar di kursi dan menarik napas panjang. Semakin dekat, ia semakin cemas dan gugup melihat banyaknya kendaraan yang berjajar di dekat gerbang utama. The Spring Mountains dihias dengan sangat mewah. Ratusan buket bunga mawar putih, baby breath, daisy, dan peony berjajar dari pintu gerbang, berderet hingga teras dan pintu masuk. Pria dan wanita dengan pakaian mahal dan berkelas bercengkerama satu sama lain, berjalan beriringan menuju pintu masuk. Semuanya terlihat seperti raja dan ratu yang penuh pesona. Tiba-tiba Kinara merasa penampilannya tidak cukup bagus untuk datang ke tempat ini.
“Hey, tenanglah ... aku di sini,” ujar Alex sambil mengusap punggung tangan Kinara dengan sangat lembut.
Kinara memaksakan diri untuk tersenyum. Ia bahkan tidak tahu rangkaian acara seperti apa yang akan berlangsung nanti. Bagaimana kalau tiba-tiba ada yang memintanya maju untuk mengatakan sesuatu? Ia benar-benar tidak mau membuat Alex malu.
“Kalau kamu sungguh tidak nyaman, kita bisa kembali pulang untuk—“
“Tidak. Aku baik-baik saja, jangan khawatir,” sela Kinara cepat. Itu hanya akan memperburuk keadaan.
Come on, Nara. Kamu pasti bisa. Semangat!
“Huh! Ayo, aku siap untuk bertarung,” ujarnya lagi seraya mengembuskan napas berulang kali dengan cukup keras.
Alex terkekeh pelan. “Itu baru wanitaku.”
Tubuh Kinara sudah mulai relaks ketika mobil berhenti tepat di depan anak tangga. Seorang pengawal membukakan pintu mobil dan menunduk dengan hormat.
“Tunggu sebentar,” ujar Alex sebelum turun. Ia berjalan ke sisi sebelah untuk membantu Kinara keluar dari mobil. Pria itu melingkarkan tangannya di pinggang Kinara dengan posesif lalu berjalan bersisian menuju pintu masuk.
Tepat seperti dugaan Kinara, semua orang yang sedang berjalan segera berhenti dan menatap ke arahnya dan Alex. Beberapa orang berbisik-bisik secara terang-terangan di hadapannya. Tiga orang wanita tua di dekat pintu masuk bahkan menunjuk-nunjuk ke arahnya. Napasnya mendadak sesak. Ia benar-benar merasa takut. Bukan karena orang-orang menertawakannya, tetapi karena orang-orang itu mungkin akan menertawakan Alex lagi. Ia benar-benar tidak rela.
Semakin ke dalam, orang-orang yang berlalu-lalang semakin banyak. Suara tawa dan percakapan mendadak berhenti ketika Alex dan Kinara memasuki aula utama. Kinara hampir-hampir tidak mengenali ruangan itu lagi. Kelopak mawar bertebaran di lantai. Buket bunga dan pajangan-pajangan mahal. Belum lagi semua hidangan dan wine yang tersusun rapi di atas meja hidangan.
Kinara bepura-pura menyentuh pipinya sambil menoleh ke arah Alex.
“Kenapa tidak bilang kalau acaranya akan semewah ini?” bisiknya pelan.
Alex tersenyum dan merapikan anak rambut Kinara yang mencuat. “Aku juga tidak tahu. Kita langsung pulang kalau kamu tidak nyaman,” janjinya.
Kinara ikut tersenyum tipis dan mengangguk.
“Baik,” jawabnya.
“Tidak usah pedulikan mereka, lihat saja aku. Anggap saja mereka semua adalah badut yang disewa oleh granny untuk menghibur kita,” ujar Alex lagi dengan gerakan bibir yang sangat pelan hingga hanya Kinara yang bisa mendengarnya.
Tawa hampir menyembur dari mulut Kinara. Ia tidak menjawab lagi, takut tawanya benar-benar akan meledak. Wajahnya fokus ke depan dan terus berjalan mengikuti suaminya. Hingga akhirnya ketika mereka hampir mencapai tempat duduk, suara yang lembut dan sangat merdu menggema cukup keras, mengalahkan suara-suara lainnya dalam ruangan itu.
Kinara menoleh dengan sangat perlahan, kemudian mendapati pemilik suara itu sedang duduk di sisi granny. Jessica terlihat seperti seekor merak yang sangat cantik. Pesona dan kecantikkannya mengalahkan kuntum mawar dan peony yang mekar. Gaun malam yang dipakai wanita itu membalut tubuh moleknya dengan sangat sempurna. Riasannya benar-benar profesional, tidak ada cacat sama sekali. Tumbuh besar dalam keluarga berada, pasti wanita itu mengerti segala aturan dan tata krama. Pantas saja granny sangat menyukainya.
Alex mengabaikan ucapan Jessica sehingga wajah wanita itu merona karena malu. Seketika suara dengungan dan bisik-bisik dalam ruangan semakin kencang. Alex memindahkan tangannya dari pinggang Kinara, menaut jemari istrinya dengan erat lalu menuntunnya ke tempat granny sedang duduk.
“Alex,” sapa Brenda, “Semoga kamu senang atas acara penyambutan ini.”
“Sebenarnya tidak perlu repot, tapi terima kasih,” balas Alex seraya menunduk dan mencium pipi Brenda. Ia benar-benar mengabaikan Jessica yang mematung di sisi neneknya.
“Granny,” sapa Kinara sambil tersenyum kikuk. Ia tidak tahu harus memberi salam dengan cara apa. Jika mengikuti Alex dan mencium pipi wanita tua itu, takutnya ia akan menghindar atau mengatakan hal-hal yang menyakitkan. Jadi Kinara hanya menunduk sekilas dan berdiri di samping Alex dengan canggung.
Brenda menatap Kinara dari ujung rambut sampai ujung kaki berkali-kali sebelum akhirya berkata, “Duduklah.”
Alex menarik kursi untuk Kinara, lalu membantu memegangi gaunnya agar tidak tersangkut ketika duduk. Decakan dan desah napas tertahan kembali terdengar dalam ruangan, membuat Kinara semakin yakin kalau setiap gerak-geriknya dan Alex sedang diperhatikan oleh semua orang. Hal itu membuatnya tubuhnya kembali terasa tegang dan kaku.
“Ayah dan ibumu tadi sedang berkeliling untuk menyapa para kolega,” jelas Brenda tanpa diminta. Ia berpura-pura tidak melihat kemesraan yang sedang dipamerkan oleh cucunya itu. “Kalau kamu ingin berkeliling juga—“
“Tidak perlu. Aku duduk saja,” jawab Alex sebelum ucapan neneknya selesai. Ia tidak mau membuat Kinara semakin merasa tidak nyaman.
“Baiklah. Karena kamu sudah datang, aku akan segera memulai acaranya.”
Kinara hanya tersenyum dan duduk dengan tenang di kursinya selama semua kata sambutan dan hal-hal lain yang tidak terlalu dimengerti olehnya. Baginya, selama tidak ada yang mengganggunya dengan pertanyaan-pertanyaan murahan atau sindiran tajam yang membuat telinga memerah, itu sudah lebih dari cukup.
“Kamu ingin minum? Akan aku ambilkan,” tawar Alex ketika melihat istrinya duduk dengan gelisah.
Kinara mengangguk dengan cepat. Ia memang memerlukan sesuatu untuk mengalihkan perhatiannya.
“Terima kasih,” ujarnya ketika Alex bangun dari kursi.
“My pleasure."
Alex tersenyum dan mengusap pundak istrinya sebelum pergi mengambil minuman untuk istrinya.
Kinara mengedarkan pandangan, semua orang sudah mulai bersikap biasa. Hanya tersisa satu-dua orang yang menatapnya secara sembunyi-sembunyi sambil sesekali menunjuk-nunjuk. Entah apa yang mereka bicarakan, Kinara tidak ingin tahu. Setelah cukup mengamati, ia menyadari kalau hanya ada sekitar enam bodyguard berpakaian resmi yang berdiri di beberapa titik. Lorie dan Billy pun tidak terlihat. Sepertinya Alex menyuruh Lorie berjaga di luar, sedangkan Billy ... mungkin pria itu masih kesal karena insiden di rumah tadi sehingga tidak menunjukkan batang hidungnya.
Seandainya ada Billy atau Lorie di sini, ini semua akan sedikit lebih menyenangkan.
“Hallo, Sweetie. Di mana Alex?”
Kinara hampir terlonjak ketika mendengar sapaan itu. Ia mendongak dan mendapati kedua orang tua Alex sudah berdiri di hadapannya.
“Mom, Dad,” sapa Kinara sembari bangun dan memeluk Beatrice Smith dan menyalami Jonathan, “Alex sedang mengambil minum.”
“Duduklah,” kata Beatrice. Ia ikut duduk di sebelah Kinara. “Maaf baru datang menyapamu. Ada banyak sekali kenalan yang harus kami temui.”
“Tidak apa-apa, Mom. Aku mengerti,” jawab Kinara sambil tersenyum manis, “Maaf juga tidak langsung mencari kalian, Alex melarangku pergi ke mana-mana.”
Beatrice terkekeh pelan. “Aku senang melihat kalian berdua mengalami kemajuan seperti ini. Ini membuatku semakin tidak sabar ingin segera bisa segera menimang cucu-cucu yang lucu.”
Wajah Kinara langsung memerah mendengar perkataan yang terlalu blak-blakan itu. Ia tidak tahu harus menjawab apa.
"Sudahlah Sayang,” tukas Jonathan pada istrinya, “Kamu menakuti menantu kita,” lanjutnya lagi sambil tertawa, membuat Kinara tidak mengerti apakah ayah mertuanya itu sedang membelanya atau justru sednag ikut menggodanya.
Ke mana Alex? Kenapa lama sekali?
Kinara mencuri-curi pandang ke arah suaminya pergi tadi. Kalau hanya mengambil minuman, bukankah seharusnya sekarang dia sudah kembali? Ia menoleh ke tempat granny sedang bercakap-cakap dengan sepasang suami istri yang sepertinya merupakan walikota dan isterinya. Tidak ada Jessica di sana, padahal biasanya wanita itu menempel di sekitar granny seperti seekor ulat bulu yang menjengkelkan.
“Kamu ingin menyusul Alex?” tanya Beatrice, seolah dapat mengerti kegelisahan menantunya.
“Um, ya ... kalau Mom tidak keberatan ....”
“Pergilah. Aku dan ayahmu akan menunggu di sini.”
“Terima kasih.”
Kinara bangun dan berjalan mengikuti arah suaminya pergi tadi. Firasatnya sungguh tidak enak. Ia mengabaikan semua rasa malu dan takut terhadap cibiran orang-orang di sekitarnya dan terus melangkah dengan mantap. Ia sudah bertekad untuk tidak berhenti sebelum menemukan suaminya.
***