Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 47


Rasanya mata Lorie baru terpejam sebentar saat suara ketukan di pintu membangunkannya. Ia mengerjap beberapa kali, mengedarkan pandangan dan mengamati dengan sedikit bingung sebelum akhirnya sadar bahwa ia sedang menginap di Spring Mountains.


“Aunty, apa kamu sudah bangun?”


Suara Amber terdengar dari balik pintu disertai ketukan dengan tempo yang cepat. Jelas gadis kecil itu sudah sangat tidak sabar.


“Ya, tunggu sebentar,” jawab Lorie sambil bergeser dari atas kasur dan menjejakkan kakinya ke lantai.


Ia menghela napas panjang dan mengambil ikat rambut di atas meja, lalu menyatukan rambutnya yang meriap dan mengikatnya menjadi satu.


Ketika membuka pintu, seraut wajah cantik yang tampak mungil dengan mata bersinar terang yang menatapnya dengan sorot memuja membuat Lorie tersenyum lebar.


“Hai, Sweetie. Kamu cantik sekali,” pujinya seraya mengusap rambut Amber.


“Terima kasih.” Amber menarik tangan Lorie dan mendaratkan satu kecupan di pipinya. “Aunty juga cantik.”


Lorie tersenyum senang dan membalas, “Oh, ya ampun ... kamu semakin pintar memuji. Siapa yang mengajarimu?”


“Aunty lupa? Kan Aunty yang mengajariku!” jawab Amber seraya menjulurkan lidahnya untuk menggoda Lorie.


Lorie terkekeh. Ia mencubit pipi bocah perempuan itu dengan gemas dan bertanya, “Apakah acaranya sudah akan dimulai?”


“Hum. Daddy memintaku untuk memeriksamu, Aunty. Apakah kamu baik-baik saja?”


“Jangan khawatir, Sayang. Aku akan segera bergabung ... lima belas menit, oke?”


“Oke!”


Amber melompat gembira dan berlari kembali ke halaman belakang. Sedangkan Lorie masuk ke kamarnya dan langsung menuju kamar mandi. Dengan cepat ia membersihkan diri dan berganti pakaian.


Saat akan keluar dari kamar, Dokter Ana menghadang di depan pintu seraya menyodorkan plastik.


“Apa ini?” tanya Lorie yang terkejut dan heran.


“Obat penguat kand—Hey!”


Tubuh Dokter Ana tersentak saat Lorie menariknya masuk ke kamar.


“Apa yang kamu lakukan?” protesnya seraya melepaskan cekalan Lorie.


“Kenapa tidak sekalian saja membuat pengumam agar semua orang mendengar suaramu?” gerutu Lorie sambil melotot.


“Tenanglah, semua orang sudah berkumpul di halaman belakang. Tidak akan ada yang mendengar,” balas Dokter Ana. “Lagi pula aku masih merasa mereka seharusnya tahu peristiwa ini, Lorie. Kamu tidak bisa—“


“Tutup mulutmu. Obat ini harus kuminum berapa kali sekali?”


Dokter Ana menghela napas dan menjelaskan obat dan vitamin yang harus diminum oleh Lorie. Karena kehamilannya, Dokter Ana menghentikan pemberian obat yang berhubungan dengan cederanya. Lagi pula, kondisi Lorie sudah semakin membaik.


“Ayo keluar,” ajak Lorie setelah menyimpan obatnya di laci lemari paling bawah.


Kedua wanita itu berjalan bersisian menuju halaman belakang. Dari kejauhan, suara teriakan Amber terdengar paling keras. Gadis cilik itu tampaknya sangat bersemangat. Ketika Lorie berbelok di ujung lorong dan melangkah menuruni tangga, terlihat jelas Amber sedang menggoda kedua kakak laki-lakinya yang sedang bermain bersama Russel. Eleanor yang paling kecil menggayut di bawah kaki Elizabeth, sementara Billy dan Alex sedang bercakap-cakap sambil membalik daging di atas pemanggang.


Pemandangan yang begitu harmonis membuat langkah Lorie mendadak terhenti. Tanpa sadar tangannya terangkat untuk mengusap perutnya sambil tersenyum lebar. Ia juga akan punya bayi ... bayi yang akan bertumbuh menjadi gadis imut seperti Amber, atau bocah tampan seperti si kembar dan Russel. Lalu suatu saat nanti mereka akan bermain bersama saat ia sedang bercakap-cakap dengan Ana dan Elizabeth ....


“Hey, kenapa tersenyum seperti orang bodoh?” tanyanya.


“Tidak ada. Ayo ....”


“Aunty!” Amber yang lebih dulu menyadari kedatangan Lorie dan Ana segera menghambur ke arah kedua wanita itu.


“Hai, Sayang. Sedang sibuk menjaili kakak-kakakmu, hum?”


Amber tertawa lebar sambil mengangguk dengan sangat antusias. “Itu sangat menyenangkan!” serunya.


Lorie hanya bisa menggeleng tak berdaya dan membiarkan gadis kecil itu kembali berkeliaran untuk menganggu orang-orang, termasuk ayahnya dan Billy yang kewalahan setiap kali gadis kecil itu ingin membantu mereka membalik daging panggang.


“Hai, Lorie, bagaimana kabarmu?” sapa Elizabeth.


“Baik. Lama tidak berjumpa, Lizzie.”


Lorie menghampiri Elizabeth dan memeluknya erat-erat. Dokter Ana tidak mau ketinggalan dan ikut bergabung dalam kegembiraan itu. Mereka duduk melingkar dan saling menanyakan kabar, saling melemparkan lelucon dan tertawa bersama.


“Apa yang sedang kalian bicarakan? Sepertinya sangat seru,” timpal Billy yang menghampiri ketiga wanita itu dengan nampan berisi daging dan sosis panggang di atasnya.


“Lizzie sedang membicarakanmu. Katanya kamu mengorok seperti ba*bi saat tidur,” jawab Dokter Ana.


“Tidak! Tidak, Sayang! Jangan dengarkan dia. Dia hanya membual,” sanggah Elizabeth sambil memelototi Dokter Ana.


Lorie membekap mulut untuk menahan tawa karena kepalanya masih cukup nyeri kalau ia melakukan gerakan yang tiba-tiba atau terlalu cepat. Dan ia sudah cukup banyak tertawa sejak tadi.


Billy melemparkan tatapan tajam kepada istrinya dan berkata, “Teganya kamu mengkhianatiku, Sayang. Padahal di rumah kamu bilang suara dengkuranku membuatmu merasa nyaman.”


“Oh, ya ampun, Billy ... tak kusangka kamu begitu polos. Tentu saja istrimu mengatakan hal seperti itu karena tidak tega menyinggung perasaanmu. Pada kenyataannya, dia tersiksa sepanjang malam,” cetus Dokter Ana sambil menggelengkan kepalanya.


Di sisi lain, Lorie yang tidak tahan melihat ekspresi Billy hanya bisa menyeringai lebar seraya menekan pelipisnya agar tidak terlalu berdenyut nyeri.


Di saat Elizabeth sedang berusaha membujuk suaminya yang merajuk, Alex menghampiri mereka dan membuka botol champagne yang berada di atas meja.


Ia menuangkannya ke dalam gelas dan memberikannya kepada Lorie lebih dulu sambil berkata, "Mari bersulang untuk--"


“Wanita hamil tidak boleh minum alkohol!” seru Dokter Ana dengan suara lantang.


Tubuh Lorie membeku. Dalam sekejap semua tatapan mata tertuju kepadanya. Kepalanya tiba-tiba kosong dan ia tidak tahu harus mengatakan apa untuk mengelak.


***


eng ing enggg....


jangan lupa likeeee


yang mau mampir baca cerpen,cuss