
Gio tersenyum melihat langit cerah dari jendela rumah sakit, tidak seperti hari-hari sebelumnya yang hujan ataupun mendung. "Hari ini kamu sudah diperbolehkan pulang," kata Gio menoleh ke arah bed dimana Tara terlihat sedang mengemasi pakaiannya.
"Iya, aku sudah tahu. Makanya aku mengemas baju-bajuku," balas Tara.
Kening Gio mengkerut karena ia merasa tidak pernah membawakan Tara baju sebanyak yang dikemas oleh gadis itu. "Baju ini kamu dapat dari mana?" tanya Gio yang merasa sangat penasaran.
Tara memperlihatkan Gio sebuah note yang sangat panjang. "Aku tadi membeli pakaian ini, sebelum kamu datang," jawab Tara enteng. Membuat Gio menggeleng-gelengkan kepalanya, karena laki-laki itu tidak habis pikir dengan Tara yang masih dalam keadaan sakit masih saja menyempatkan waktu untuk pergi shopping. "Aku pakai uangku sendiri untuk membeli semua ini jadi, kamu tidak berhak melarangku ataupun marah kepadaku," ucap Tara yang berpikir kalau sang suami akan memarahinya. Sebab gadis itu membeli beberapa stel baju.
"Aku tidak marah Tara, justru aku ingin memberikanmu ini," kata Gio yang memberikan Tara kartu unlimited yang berwarna hitam. "Pakai saja ini untuk keperluanmu, dan ganti uangmu yang tadi kamu pakai untuk membeli pakaian itu." Meski Gio memberikan kartu black card itu, Tara terlihat enggan untuk mengambilnya. "Ayo ambil saja, ngapain kamu malah bengong seperti itu."
"Tidak usah, dan tidak perlu! Uangku masih banyak!" Tara menolak dengan nada suara ketus. "Simpan saja kartu ajaibmu itu," sambung Tara yang benar-benar tidak mau menerima kartu black card milik Gio.
Gio terdengar menghembuskan nafas kasar. "Ambil lah Tara, jangan membuatku menjadi suami yang tidak mampu memberikan nafkah." Gio mengatakan itu karena ia berharap Tara mau mengambil kartu yang masih ada di tangannya saat ini. "Ambil ya, jangan menolaknya karena aku tidak mau di bilang suami yang pelit. Karena tidak pernah memberikan istrinya nafkah," ucap Gio.
"Sudah kukatakan Gio, uangku masih banyak jadi simpan saja untuk dirimu sendiri."
"Sudahlah, kita pulang saja. Kamu simpan kartu itu. Nanti kalau uangku sudah habis baru aku akan mengambilnya darimu. Dan untuk sekarang kartu itu tidak berguna bagiku," timpal Tara, yang masih teguh dengan pendiriannya kalau gadis itu tidak mau menerimanya. "Ayo kita pulang saja," ajak Tara tanpa melirik ataupun mengambil kartu black card itu. "Jangan memperlihatkan kebaikanmu padaku. Karena aku rasa itu tidak perlu."
"Kamu memang gadis yang paling aneh, di saat wanita yang lain suka dengan uang kamu malah menolaknya. Benar-benar aneh sekali." Gio tidak habis pikir dengan Tara yang masih teguh dengan pendiriannya. Sehingga gadis itu menolak mentah-mentah kartu black card yang diberikannya itu. "Apa jangan-jangan kamu ini wanita jadi-jadian?"
"Iya, aku wanita jadi-jadian, jadi aku harap kita tidak adu pedang," jawab Tara santai. "Dasar b*doh! Bisa-bisanya dia berpikir aku ini wanita jadi-jadian hanya karena menolak kartu itu, sungguh isi otakmu hanya separuh!" gerutu Tara yang membiarkan Gio sendiri, sedangkan ia sudah keluar dari ruangan VVIP rawat inapnya.
Sedangkan Gio yang melihat Tara pergi begitu saja, bergegas keluar juga. "Gadis aneh ... benar-benar sangat aneh," gumam Gio di dalam benaknya. "Bisa-bisanya, dia menolak kartuku ini," sambungnya membatin.
Tara terlihat menoleh ke belakang dimana Gio masih sibuk dengan pikirannya sendiri. "Cepetan Gio, jangan jalan seperti kura-kura. Kamu itu laki-laki bukan perempuan!" seru Tara. Ketika melihat sang suami berjalan dengan sangat lambat. "Gio, apa kau tuli?!"
"Jalan saja Tara, nanti aku akan menyusulmu. Karena aku ada urusan sebentar dengan dokter yang menanganimu waktu itu," kata Gio.