
“Apa yang terjadi?” seru Kinara saat tubuhnya terempas ke depan karena mobil berhenti mendadak. Ia melongok dari kaca dengan penuh rasa ingin tahu. Mengapa dua mobil di depan menepi tanpa aba-aba. Apakah ada sesuatu yang sedang terjadi?
“Diam di sini!” perintah pengawal Brenda Smith sebelum membuka pintu dan turun dari mobil.
Kinara memerhatikan hingga pria itu menghilang dari pandangannya. Ia mencoba melihat dari dalam mobil apa yang sedang terjadi di luar sana, tetapi penglihatannya terhalang oleh dua orang pengawal di kursi depan. Mereka pun sedang melongok, bergeser ke kiri dan kanan seolah sedang mengamati sesuatu.
“Jangan keluar!”
Salah seorang di kursi depan menyusul rekannya, membuka pintu dan berjalan ke depan. Kinara semakin cemas, memutar-mutar ponsel di tangan yang masih belum mendapat sinyal.
Sepertinya ini benar-benar sebuah jebakan. Apa yang harus kulakukan? Ayo Nara, berpikirlah ... berpikir ....
“Aku akan memeriksa keadaan di luar!” kata Kinara seraya membuka pintu mobil.
“Nyonya, tetap di dalam mobil!” seru pengemudi yang tidak menduga Kinara akan keluar dari mobil.
“Tetap nyalakan mesinnya!” perintah Kinara sebelum berlari ke depan.
Mobil granny berjarak sekitar sepuluh langkah. Kinara mengambil langkah lebar-lebar agar bisa sampai di sana. Keningnya berkerut ketika mendengar suara teriakan granny dari kejauhan.
“Apa maksudmu dengan kesalahan? Di mana pelatih yang kau bicarakan?!” seru wanita tua itu pada asistennya yang sedang membungkuk dalam-dalam.
“Maaf, Nyonya, ini kesalahan saya. Saya ceroboh. Seharusnya saya lebih teliti. Mohon maafkan saya, tetapi tuan Jack yang akan melatih nona Kinara memang mengirim lokasi terbaru ke sini.”
Kinara mengatur deru napasnya yang tak beraturan. Ia menghampiri salah satu pelayan yang berdiri di dekatnya dan berbisik, “Apa yang terjadi?”
Pelayan itu hanya menoleh sekilas. “Bukan urusanmu,” balasnya lalu kembali menatap ke depan.
Kedua tangan Kinara terkepal erat. Ingin rasanya ia ayunkan tinjunya ke wajah gadis bodoh di depannya itu. Namun kekesalan itu hanya ditahannya dalam hati. Tidak mungkin ia menambah kekacauan yang sudah ada. Raut wajah Kinara yang masam seketika berubah ketika melihat dua orang pengawal yang tadi berada dalam satu mobil dengannya sedang berjongkok. Sepertinya mereka sedang membongkar ban mobil granny. Gadis itu melihat ke mobil paling depan yang berjarak sekitar lima meter. Satu orang pengawal sedang membuka kap bagian depan, dua orang memeriksa ban bagian belakang. Sedangkan sisanya berdiri menghadap empat penjuru mata angin dengan pistol semi otomatis di tangan mereka.
“Ini terlalu kebetulan,” gumam Kinara seraya mengedarkan pandangan ke sekeliling.
Hanya ada satu bangunan menyerupai gudang yang tampaknya sudah lama terbengkalai di dekat mobil paling depan. Jalanan menanjak di ujung sana sepertinya mengarah ke perbatasan kota. Desau angin berkesiur menerbangkan debu. Pucuk-pucuk pohon pinus balfouriana bergoyang pelan. Situasi terlalu sunyi. Tidak ada satu ekor hewan pun yang lewat. Hal itu membuat Kinara bersiaga, memaksimalkan seluruh panca inderanya.
"Dasar bodoh! Mengurusi hal sepele seperti ini saja masih tidak becus!"
Brenda masih terus memaki asistennya dengan wajah memerah karena amarah.
Plak!
Semua orang terpaku ketika suara tamparan yang cukup keras terdengar di udara. Tubuh Kinara meremang melihat ekspresi dari asisten Brenda Smith yang berubah nyalang. Tangan gadis itu yang baru saja menampar pipi Brenda tampak gemetar hebat, sama seperti getaran di tubuhnya yang tidak terkendali.
"Belum cukup puaskah kau memakiku setiap hari? Apa yang kukerjakan tidak pernah cukup baik di matamu."
Gadis itu terkekeh pelan sambil berjalan mundur. "Sudah saatnya kau merasakan hal yang sama. Diinjak dan direndahkan."
"K-ka-kamu ... kamu!" seru Brenda tergagap-gagap. Ia terlalu shock untuk mencerna apa yang baru saja terjadi. Seumur hidup, tidak ada yang pernah berani memukulnya seperti ini.
"Dasar gadis hina! Berani-beraninya memukulku?!" raung Brenda penuh amarah, jari telunjuknya mengarah pada gadis itu ketika ia berteriak, “Tangkap dan beri gadis lancang itu pelajaran!”
Dua orang pengawal meringsek maju. Namun, baru dua langkah dua orang itu bergerak maju, terdengar desingan halus dari arah yang tidak terdeteksi. Bulatan logam dengan kecepatan tinggi melesat membelah udara.
Bugh!
Tubuh dua pengawal itu tersentak ke belakang dan jatuh dengan cukup keras ke atas tanah. Darah merembes dari bulatan kecil di antara alis mereka. Dua pasang mata yang membulat itu menampilkan ekspresi yang sulit untuk dilupakan. Seakan mereka tidak menyadari bahwa jiwa mereka baru saja melayang meninggalkan raga yang teronggok dengan posisi menyedihkan.
Teriakan salah seorang pelayan wanita menyadarkan semua orang yang terpaku. Para pengawal segera berkeliling di sekitar Brenda Smith, membentuk barikade pertahanan. Supir dan pengawal dari mobil paling belakang pun berhamburan mendekati majikan mereka. Tidak ada yang memedulikan Kinara. Dia berubah menjadi manusia tak kasat mata yang tak ada artinya.
“Dasar Jal*ng Kecil! Kau yang merencanakan semua ini?!”
Brenda Smith masih meneriaki asistennya dari balik tubuh para pengawalnya, meski suaranya tak lagi segarang tadi. Ia belum membalas tamparan gadis licik itu, membuat hatinya dipenuhi amarah dan kegeraman.
“Tangkap Pelac*r itu! Aku yang akan memberi pelajaran padanya!” raung Brenda dengan tangan terkepal
Gadis berseragam pelayan dengan rambut yang diikat ekor kuda itu terkekeh-kekeh. Ia sudah hampir mencapai bangunan menyerupai gudang kosong ketika semua orang sedang sibuk melindungi Brenda Smith.
“Kalian semua akan mati di sini,” ujarnya sembari menjentikkan jari.
Tak lama kemudian suara dengungan menggema di udara, hampir bersamaan dengan suara raungan mesin kendaraan bermotordari kejauhan, rolling door di belakang gadis itu perlahan bergerak membuka.
“Kalian dengar? Kalian semua akan mati di–“
Dor!
“... Uhuk!”
“A-ap ... apa ... uhuk! K-kenapa?”
“Tuan berterimakasih padamu,” jawab pria bertopeng itu tanpa menoleh. Ia mengarahkan senapan laras panjang di tangannya ke kepala si gadis pelayan.
Dor!
Tempurung kepala gadis itu pecah. Serpihan tulang bercampur cairan putih yang kental memercik ke mana-mana. Tubuhnya luruh dengan seperempat bagian wajah yang hancur. Detik berikutnya, puluhan pria bertopeng keluar dari bangunan tua itu. Lima motor trail melaju kencang dari gudang bagian belakang, sedangkan kepulan debu dari kejauhan semakin menebal.
Rentetan peristiwa itu terjadi tidak lebih dari satu menit. Para pengawal Brenda Smith terpaku di tempatnya sampai suara jeritan majikan mereka membawa kembali kesadaran mereka. Semua orang langsung memasang sikap siaga.
“Merunduk!” teriak salah seorang pengawal dan menekan kepala Brenda Smith.
Wanita tua itu gemetaran. Wajahnya pias seakan tidak ada aliran darah di tubuhnya. Ia membeku, tak mampu bergerak sama sekali.
Suara peluru menyalak meninggalkan cangkangnya bersahutan di udara. Tajam dan mengancam.
Kinara melepas dan menendang heels-nya ke sembarang arah. Ia menunduk dan berguling ke dekat jasad dua orang pengawal Brenda sebelumnya. Secepat kilat ia mengambil pistol dan cadangan peluru, kemudian kembali berguling ke balik mobil. Matanya setengah terpejam saat mengarahkan moncong senjata pada pengendara motor yang berputar di depan sana.
Dor!
Satu orang tumbang.
Dor! Dor!
Dua.
Tiga.
“Tidak mungkin menang. Jumlah mereka terlalu banyak. Sial!” umpat Kinara. Ia tiarap hingga hampir mencium tanah. Sebuah peluru berdesing tepat di atas kepalanya.
Sepuluh orang melawan tiga lusin pasukan, bagaimana pun tidak akan berhasil ....
Gadis itu melihat mobil paling belakang yang bannya tidak bermasalah, lalu melihat lawannya yang semakin mendekat. Sepertinya aman, para pengawal membentuk formasi bertahan dengan cukup bagus. Ia berjalan jongkok, hampir-hampir merayap menuju mobil yang pintunya terbuka lebar itu.
Dsing!
Satu lagi peluru melesat melewati lengannya, hanya berjarak sekitar sepuluh senti meter. Kinara menahan napas dan merangkak masuk ke dalam mobil. Untunglah kunci masih tergantung di tempatnya. Keringat membasahi gaunnya yang telah ditutupi debu. Lututnya terasa perih karena lecet, mungkin karena bergesekan dengan batu dan kerikil saat berguling dan merayap tadi. Namun ia mengabaikan semua itu dan menghirup udara untuk memenuhi paru-paru.
“Kalau berhasil lolos dari tempat ini, aku akan memeluk dan menciumi Lorie,” gumam Kinara sambil memutar anak kunci. Kalau bukan karena pengawalnya itu yang melatihnya bertarung dan mengendarai mobil, yang ia lakukan saat ini pasti hanya meringkuk dan menangis seperti bayi.
Suara mesin mengalahkan ingar-bingar desingan peluru. Kinara menggeser kopling dan menginjak pedal gas dalam-dalam. Mobil bergerak maju menuju kerumunan Brenda Smith.
Ckiit!
Ban mobil berdecit ketika tuas rem tangan ditarik sekuat tenaga. Suara peluru yang menghantam badan mobil membuat Kinara gugup. Meski begitu, ia tetap membuka pintu mobil dan berteriak pada Brenda yang sedang berjongkok di dekat kaki pengawalnya.
“Granny, masuklah?” teriak Kinara sekeras mungkin untuk mengalahkan suara adu tembak yang masih terjadi.
Wanita tua itu mendongak dengan wajah linglung.
“Cepatlah!”
Kinara menunduk sambil melirik kaca spion di atas kepalanya sekilas. Kepulan debu di belakang sana semakin tebal dan mendekat. Dalam situasi seperti ini, jeda waktu satu detik pun sangat berharga.
“Granny!” seruan Kinara terdengar putus asa.
Brenda terlihat terlalu takut hingga tak mampu bergerak. Kalau dilihat dari reaksinya, sepertinya dia benar-benar dijebak oleh asistennya yang sudah mati itu. Untunglah salah seorang pelayan yang sedang tiarap di dekat situ segera mendekati Brenda dan menarik tangannya agar masuk ke dalam mobil. Mereka berdua duduk di bangku belakang.
“Pakai sabuk pengaman!” perintah Kinara tanpa menoleh.
Tubuh tiga orang dalam mobil tersentak ketika mobil kembali melaju dengan kecepatan maksimal. Kinara tidak menginjak pedal rem meski beberapa orang mencoba menghadang di depannya. Tubuh-tubuh itu melayang lalu terbanting keras ke aspal. Beberapa ada yang terpental dan menghantam pohon di pinggir jalan.
Kinara benar-benar tidak peduli dengan semua itu. Ia mengemudi bak kesetanan menuju jalan menanjak yang seakan tanpa ujung. Mustahil berputar arah, para musuhnya pasti sudah bertambah banyak dan sedang mengejar ke sini.
“Alex ... Lorie, kumohon cepatlah,” desah Kinara seraya menguatkan pegangan pada setir mobil. Seluruh telapak tangannya basah.
Oh, ponselku ....
Gadis itu baru menyadari bahwa ia telah kehilangan ponselnya. Semoga saja Lorie cepat membaca pesan dan melacak lokasi terakhir yang ia kirim.
“Granny, tetap menunduk!” perintah Kinara sebelum menekan pedal gas hingga menyentuh dasar mobil.
***