Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
52


Dini hari tiba-tiba saja ponsel Gio berdering sehingga membuat laki-laki itu dengan sangat terpaksa mengangkat panggilan telepon itu yang sepertinya dari sang ayah.


"Hm, ada apa Dad? Kenapa malah meneleponku dini hari seperti ini?" tanya Gio dengan mata yang masih terpejam.


"Besok jam 7 kamu harus berangkat keluar Negeri, karena Daddy sudah menyuruh Gavin mengurus semuanya," jawab Malvin dari seberang sana.


Gio yang mendengar jawaban sang ayah pada saat itu juga laki-laki itu membuka kedua kelopak matanya. "Apa! Apa aku tidak salah dengar?" Gio kaget bukan main karena Malvin malah menyuruhnya pergi besok pagi ke luar Negeri. Di saat Gio belum siap berpisah dengan Tara. Dan juga ia tidak tahu sampai kapan ia akan berada di luar Negeri. "Apa waktunya tidak bisa di undur dulu Dad?" Gio berharap sang ayah mau mengundur waktu keberangkatannya ke luar Negeri.


"Gio, apa-apaan kamu ini. Kenapa sekarang kamu malah mau terus-terusan mengundur waktunya? Bukankah kamu dulu sangat bersemangat sekali, ketika Daddy menyuruhmu untuk pergi ke luar Negeri?"


Gio menghela nafas. "Dad, dulu dan sekarang sangat jauh berbeda. Karena dulu aku masih bujang dan sekarang aku sudah punya istri. Oleh karena itu, aku sekarang sangat merasa berat hati meninggalkan Tara sendirian. Coba Daddy mengerti akan hal ini," ucapan Gio membuat Tara terusik, sehingga wanita terlihat membuka mata juga.


"Siapa itu Gio, menelepon dini hari seperti ini, dasar tidak punya tata kera–" Kalimat Tara terputus gara-gara Gio yang menutup mulut sang istri menggunakan telapak tangannya.


"Nanti pagi aku akan menghubungi Daddy, kalau begitu aku tutup dulu teleponnya. Selamat beristirahat Daddy, dadah ...." Tidak lama setelah Gio mengatakan itu ia benar-benar memutuskan panggilan telepon itu secara sepihak.


"Jadi, itu daddy?" tanya Tara setelah menyingkirkan tangan Gio dari mulutnya, dan terdengar suara wanita itu serak ketika ia bertanya pada sang suami tadi. Khas suara orang yang baru saja bangun dari tidurnya. "Gio, itu tadi daddy?" Tara malah bertanya lagi pada sang suami.


"Iya itu Daddy, katanya besok pagi aku harus pergi ke luar Negeri. Jadi, tidak apa-apa 'kan, kalau kamu tinggal di sini dulu sementara waktu sampai aku pulang nanti?" tanya Gio sambil terlihat menyingkirkan beberapa helai anak rambut Tara yang menutupi wajah sang istri. "Kamu jangan khawatir, karena nanti aku sendiri yang akan bilang sama papa dan mama, tantang aku yang akan menitipmu dulu sementara waktu di sini."


"Sampai kapan? Maksudku, kamu di luar Negeri sampai beberapa hari?"


"Aku kurang tahu Tara, karena dulu waktu perusahaan di sana ada masalah aku dan Gavin bisa sampai 2 sampai 4 bulanan di sana. Tergantung masalah apa yang sekarang dialami oleh anak perusahaan itu," jawab Gio yang merasa kalau ia tidak mau meninggalkan Tara sendirian. "Dan aku berharap, selama aku pergi nanti tolong jaga hati dan matamu untukku," kata Gio mengelus pipi Tara.


Tara tidak percaya dengan apa yang Gio katakan. "Apa selama itu kamu akan di sana? Dan bagaimana dengan aku yang di sini Gio?" Tara juga rupanya merasa tidak rela kalau akan berpisah lama dengan Gio. "Dan seharusnya aku yang menyuruhmu untuk menjaga mata dan hati, karena di sana pasti banyak bule-bule yang cantik dan seksi!" Tara terdengar sedikit ketus pada sang suami.


Ini yang tidak mau di dengar oleh Gio tentang perasaan Tara yang selalu saja overthinking pada dirinya. "Kita tidur lagi, karena aku tidak mau ini nanti ujung-ujungnya malah menjadi perdebatan kecil," ujar Gio yang malah menyuruh istrinya untuk kembali tidur. Dari pada ia nanti akan bertengkar gara-gara hal yang tidak akan pernah terjadi. "Tidur ya, lagi pula ini baru jam 2 dini hari," sambung Gio yang terlihat sudah memejamkan mata.


"Ish, selalu saja aku yang mengalah!" desis Tara yang juga malah ikut-ikutan memejamkan mata. Karena saat ini mata wanita itu benar-benar sangat berat. "Kita sambung besok pagi."


"Dia terlihat semakin menggemaskan, di saat dia memejamkan mata seperti ini tapi mulutnya terus saja berbicara," gumam Gio di dalam benaknya.


"Tidurlah Gio, jangan malah menatapku terus-menerus seperti itu," ucap Tara dengan nada suara pelan. Karena ia bisa merasakan kalau saat ini Gio sedang menatapnya. "Tidur Gio," lanjut Tara sebelum wanita itu benar-benar masuk ke alam bawah sadar lagi.


***


Pvkvl 06:20 Gavin sudah bertamu di rumah kedua orang tua Tara. Hanya untuk menjemput tuan mudanya. Dan setelah lama menunggu akhirnya pintu utama terlihat terbuka bersamaan dengan itu suara Yana, wanita yang lemah lembut itu mulai terdengar masuk ke indra pendengaran Gavin.


"Terima kasih Nyonya, tapi alangkah lebih baiknya saya menunggu Tuan muda Gio di sini saja." Gavin rupanya menolak untuk masuk ke dalam. Sehingga ia mengatakan itu.


"Lho, kenapa? Masuk saja tidak apa-apa," kata Yana yang masih saja menyuruh Gavin untuk masuk. Meski laki-laki yang terlihat seumuran Gio itu menolak untuk disuruh masuk.


"Saya menunggu di sini saja Nyonya, dan saya minta tolong, tolong panggilan saya Tuan muda Gio, karena tinggal 40 menit lagi pesawat yang akan kami tumpangi akan segera berangkat," ujar Gavin yang menyuruh Yana untuk memanggilkannya Gio.


"Memangnya kalian mau kemana?" Yana yang tidak bisa di buat penasaran langsung bertanya pada Gavin.


Gavin yang di tanya langsung saja menceritakan semuanya pada Yana, supaya wanita yang di depannya saat ini mau memanggilnya Gio. Mengingat waktu yang dimiliki hanya sedikit, ditambah tuannya pasti sangat susah dan sulit sekali untuk di bangunkan. Membuat Gavin khawatir kalau nanti dua tiket yang ia beli mahal-mahal malah akan hangus, karena ia dan Gio terlambat datang ke bandara. Karena dari jam 5 Malvin sudah terus-terusan menyuruhnya untuk menjemput Gio.


"Oh, jadi begitu. Ya sudah, saya masuk dulu dan akan memanggil Gio." Yana lalu terlihat berjalan ke arah kamar Tara. Namun, sebelum itu Yana malah menyuruh Gavin untuk masuk meski laki-laki itu terus saja menolak secara halus.


***


"Ma, pa, aku titip Tara dulu di sini, karena aku harus pergi ke luar Negeri," kata Gio yang sekarang terlihat sedang berdiri di teras depan rumah mertuanya itu, menggunakan setelan jas yang begitu sangat rapi.


"Kenapa aku tidak boleh ikut?" tanya Tara yang masih betah bergelayut manja di lengan sang suami. Seolah-olah wanita itu tidak membiarkan sang suami pergi meninggalkan dirinya.


"Tara, kamu harus kuliah sayang, biarkan suami kamu berangkat sekarang, nanti dia bisa telat." Yana berusaha memberikan putrinya itu pengertian untuk saat ini. "Sini sayang sama Mama, kita sekarang lebih baik pergi ke dapur kita buat kue kesukaan kamu," ujar Yana.


Tara sempat melirik jam di pergelangan tangan sang suami, sebelum wanita itu melepaskan tangan Gio. "Kamu hati-hati, jangan nakal di sana," kata Tara sambil mencubit kecil lengan sang suami.


Gio hanya bisa tersenyum sambil mengacak-acak rambut istrinya itu. "Iya, kamu juga harus kuliah yang rajin, supaya kamu bisa menjadi apa yang kamu mau," timpal Gio yang sebenarnya tidak tega meninggalkan sang istri. "Kalau begitu aku berangkat dulu, jangan lupa istirahat yang cukup dan makan tepat waktu."


Gio lalu mengecup pucuk kepala sang istri di depan Yana dan Arzan tanpa ada rasa malu. "Sana pergi ke dapur sama mama, dan belajar buat kue yang enak-enak. Supaya nanti kamu bisa membuatkan aku kue sesuai dengan selera di lidahku." Gio menyuruh Tara pergi ke dapur karena ia tidak mau melihat sang istri menangis di saat ia nanti masuk ke dalam mobil sebab, sudut mata sang istri sekarang sudah terlihat mulai berair. "Ma, tolong ajak Tara masuk," sambung Gio.


"Aku mau melihat kamu masuk ke dalam mobil Gio, setelah itu baru aku akan masuk ke dapur," balas Tara, yang malah mau tetap di teras depan. Hanya untuk melihat suaminya pergi. "Nanti kalau kamu sampai di sana, langsung saja menghubungiku," pinta Tara.


Gio tersenyum sambil berkata, "Iya bawel, sana masuk."


Tara lalu dengan cepat berbalik, setelah mendengar Gio. Karena wanita itu ingin pergi ke dapur. Akan tapi, ia malah melihat sang kakak berdiri di dekat pitu.


"Sangat lebay sekali, kamu itu di tinggal kerja bukan di tinggal ma ti!" ketus Tika sambil berdekap tangan.