
Jessica meneguk teh hijau dalam cangkir keramik berukir bunga peony dengan sangat elegan. Ia tidak mengaihkan tatapannya dari Alex sama sekali. Melihat pria itu hanya sibuk dengan ponsel di tangannya benar-benar membuat Jessica kesal. Dulu Alex tidak pernah mengabaikannya seperti ini. Setidaknya, pria itu akan bertanya satu dan dua hal, kejadian-kejadian yang ia alami, atau sekedar mengobrol tentang hal-hal sepele. Namun, lihatlah sekarang ....
Sepertinya pelayan jelek yang menjadi istrinya itu berhasil memikatnya. Apa dia sudah sungguh-sungguh mencintai wanita jelek itu?
Raut wajah Jessica berubah sinis. Kemarin ia bisa melihat dengan jelas kalau Alex masih sangat terpengaruh atas keberadaannya, mengejar dirinya dan meninggalkan istrinya begitu saja.
Pasti semua sikap dinginnya sekarang karena pengaruh dari istrinya itu. Aku hanya perlu mengingatkannya tentang masa lalu. Ayo, semangatlah Jessie.
“Um, bolehkah aku tinggal di Spring Mountains selama di sini?” tanya Jessica untuk membuka percakapan, “Aku belum memesan penginapan. Lagipula, aku ingin bernostalgia–“
Alex mendongak tiba-tiba dan menatap lurus ke manik Jessica, membuatnya mengurungkan niatnya untuk melanjutkan perkataannya barusan. Wanita itu mencoba untuk menantang tatapan Alex, tetapi hawa dingin dan tajam yang memancar dari manik kelam itu membuatnya merasa terintimidasi. Sosok yang dominan di hadapannya itu benar-benar terlihat sangat menakutkan.
Tidak ada lagi sorot memuja yang dulu sering ia lihat, atau perhatian kecil yang kadang membuatnya berbunga-bunga. Meski semua rasanya untuk Alex hanyalah kepalsuan belaka, ia tetap menikmati saat-saat kebersamaan mereka dulu. Oh, come on, wanita mana yang tidak merasa bangga dipuja oleh pria tampan dan berkharisma seperti Alex?
Jessica menghela napas dan merapikan ujung gaunnya yang menutupi lutut dan berkata, “Maaf, aku tahu aku tidak pantas ....”
“Kau tahu? Aku harus berterima kasih padamu karena telah kembali,” ujar Alex dengan wajah serius.
Wajah Jessica berbinar, hatinya membuncah oleh rasa bahagia. Ia sama sekali tidak mengira Alex akan mengatakan hal seperti itu. Sejujurnya, ketika berpapasan dengan wanita malang yang diseret keluar dari kantor Alex tadi, untuk sekejap ia mengira akan mengalami hal yang sama. Namun ternyata Alex bukan hanya tidak menyuruh pengawal untuk menyeretnya keluar, tapi juga menerima ajakannya untuk minum teh. Kemudian sekarang, pria itu mengatakan berterima kasih karena ia telah kembali! Rasanya benar-benar sulit dipercaya!
“Oh, Alex ....” Jessica tersenyum lebar hingga geliginya yang putih tampak kontras dengan bibirnya yang merah merona. “Aku–“
“Dengan kepulanganmu ini, aku sadar ternyata selama ini rasa rinduku padamu itu tidak nyata. Aku hidup dalam kenangan tentang masa lalu, padahal waktu terus berputar. Dulu aku bertanya-tanya setiap hari, apa yang membuatmu pergi. Tapi sekarang aku sadar, itu semua tidak penting lagi,” ujar Alex dengan sangat tenang. Ia harus memperjelas semuanya sebelum Jessica salah mengartikan penerimaannya ini.
Darah meninggalkan wajah Jessica dengan cepat. Wajahnya pias dan terlihat sangat terpukul. Ia terlalu shock sampai-sampai tidak bisa menemukan kata-kata yang tepat untuk membalas ucapan Alex barusan.
“Jangan pernah temui istriku lagi. Aku tidak suka kau melakukannya.”
“T-tapi Alex ... aku ... aku mengorbankan diriku untukmu ... aku menyelamatkanmu, aku menemanimu lebih dari separuh masa hidupku.”
“Aku tahu. Itulah sebabnya kita duduk di sini sekarang. Untuk membicarakan hal itu. Katakan, berapa harga yang kau mau. Aku akan mengganti semuanya.”
Jessica menggeleng keras. Bulir bening mulai berjatuhan dari sudut matanya.
“Aku tidak mau uang!” serunya seraya mengulurkan tangan untuk menggenggam jemari Alex, "Beri aku kesempatan. Satu kali lagi. Aku ingin memperbaiki semuanya. Aku mohon, Alex ... satu kali saja ....”
Alex menarik tangannya dengan kasar dan bangkit berdiri.
“Aku pernah memberimu kesempatan. Kau yang menyia-nyiakannya. Lima belas menitmu sudah habis,” ujarnya sebelum berjalan meninggalkan Jessica yang masih terisak tanpa suara. Ia berjalan dengan tegak, seakan baru saja memenangkan sebuah peperangan. Semua beban selama lima tahun ini terlepas dari pundaknya.
Drrt.
Alex melihat ponsel yang bergetar di tangannya. Ada sebuah pesan dari Lorie.
Nyonya mengamuk. Kami ada di The Blue Eyes.
“Sial," umpatnya seraya memutar arah, "Antar aku ke Blue Eyes,” ujarnya pada bodyguard yang mengawalnya sejak tadi.
“Baik, Tuan.”
Alex melonggarkan ikatan dasinya yang terasa mencekik. Ia berjalan menuju mobil dengan langkah lebar dan cepat.
Aku memberitahunya supaya dia tidak salah paham, kenapa malah mabuk-mabukan? Wanita itu benar-benar ....
***
Wajah Kinara sudah menyerupai buah plum yang hampir matang, lidahnya terasa kebas, tetapi ia kembali meraih segelas sherry di atas meja menenggaknya dalam satu tarikan napas. Perpaduan rasa manis dan pahit mengalir di kerongkongannya, membuatnya memejamkan mata dan menggoyangkan kepala perlahan.
Tidak ada satu orang pun yang berani mendekati wanita itu, termasuk Lorie. Terakhir kali ia mencoba mencegah majikannya itu dan melarangnya minum lagi, Kinara menyerang dan menguncinya hingga harus memukul-mukul lantai sebagai tanda menyerah. Sementara pengawal yang lain tidak berani mendekat karena tuan mereka sudah pasti akan memotong tangan mereka kalau berani menyentuh istrinya.
Lorie mendesagh pelan. Untunglah tadi ia langsung membawa Kinara ke kamar VIP ini sehingga jika wanita itu benar-benar mabuk, ia dapat langsung memindahkannya ke atas kasur.
"Rasanya sangat enak. Aku ingin membawanya pulang. Lorie, tolong bungkus minuman ini," oceh Kinara sambil menunjuk botol sherry di hadapannya, "Bawa yang banyak. Aku ingin me ... hey! Apa yang kau lakukan?
" Alex?" Ia mengerjapkan matanya beberapa kali ketika melihat sosok suaminya menjulang di hadapannya, kemudian menoleh pada Lorie dengan mata menyipit.
Lorie pura-pura tidak melihat tatapan tajam Kinara. Ia memberi isyarat pada para pengawal yang berjaga untuk segera keluar dari ruangan itu.
"Lorie!" seru Kinara seraya bangkit dan ingin menyusul pengawalnya itu, tetapi Alex menahan lengannya dengan kuat. Ia tidak mengucapkan sepatah kata pun lagi, hanya terus mencoba melepaskan jemari Alex yang menempel erat di pergelangan tangannya.
"Jadi, kamu memutuskan untuk mengabaikanku?" tegur Alex ketika istrinya masih berusaha melepaskan cekalannya tanpa melihat ke arahnya sama sekali.
Napas Kinara terengah-engah. Tampaknya alkohol dalam tubuhnya mulai bereaksi, tenaganya terkuras dengan cepat. Akhirnya ia menyerah, membiarkan Alex menarik tubuhnya masuk ke dalam dekapan yang hangat dan kokoh. Perlahan deru napas Kinara mulai teratur, mengikuti detak jantung Alex yang berdentam di telinganya.
"Bukankah seharusnya kamu masih di kampus? Kenapa malah mabuk-mabukan seperti ini?" tanya Alex setelah merasa istrinya mulai tenang.
"Untuk apa mengurusi apa yang aku lakukan. Pergilah minum teh dengan mantan kekasihmu yang cantik dan seksi itu," cetus Kinara dengan sinis.
Sudut-sudut bibir Alex berkedut.
"Kamu sedang cemburu?" tanyanya sembari mengusap kepala istrinya dengan sangat lembut.
"Cih! Untuk apa cemburu pada wanita licik itu? Dia tidak sepadan!"
Alex terkekeh. Ia mendekap Kinara semakin erat dan berkata, "Aku senang kalau kamu cemburu."
Kinara mengabaikan perkataan Alex barusan. Ia menajamkan penglihatannya di satu titik. Setelah yakin ia tidak salah melihat sehelai rambut kemerahan yang menempel di baju suaminya, ia mendongak dan bertanya pada Alex dengan penuh selidik, "Dia memelukmu?"
Alex cukup terkejut dengan pertanyaan yang tiba-tiba itu, tetapi tubuhnya tetap relaks ketika menjawab, "Ya. Dia memelukku sebentar. Aku--"
"Pergi!" sela Kinara sambil memukuli punggung suaminya dengan kesal, "Sana peluk dia! Aku membencimu!"
"Hey, calm down, Baby," bujuk Alex, tidak mau mengurai dekapannya, "Aku mendorongnya agar menjauh. Kamu bisa memeriksa CCTV di kantorku kalau mau ...."
"Tidak mau! Kamu pergi! Sana kembali padanya! Aku membencimu!"
Alex menghela napas panjang dan berkata, "Kamu tidak ingin bertanya, kenapa aku menemaninya minum teh?"
Kinara menggeleng keras-keras. "Bukan urusanku! Menyingkir! Aku mau ... mmh!"
Mata Kinara tiba-tiba terbelalak. Ia membekap mulutnya sendiri dengan tangan kanan dan menarik lengan baju Alex dengan panik. Sesuatu yang hangat dan menggumpal, bercampur dengan cairan yang masam tersangkut di tenggorokannya!
Alex melonggarkan pelukannya dan memerhatikan wajah istrinya yang pucat pasi.
"Mmh ... mmh!" gumam Kinara sambil menunjuk-nunjuk mulutnya dengan tangan kiri.
"Ke sini," ujar Alex sembari memapah istri ntar menuju toilet. Setelah membuka tutup kloset, ia menahan rambut wanita itu dengan hati-hati agar tidak terkena muntahan.
Kinara menunduk di depan kloset dan mengeluarkan isi perutnya. Cairan lambung yang masam dan pedas memasuki tenggorokan, membuatnya terbatuk hingga air mata mengalir di pipinya.
Alex mengusap punggung istrinya dengan sabar, sesekali mengusap tengkuk dan bahunya hingga akhirnya wanita itu bersandar di tembok dengan tubuh lemas. Ia lalu menuntun Kinara menuju wastafel, membasuh wajah kuyu itu dengan air dingin, kemudian membopongnya keluar dari kamar mandi.
"Sudah puas melampiaskan emosimu?" tanya Alex pada wanita dalam gendongannya.
Kinara mengerucutkan bibir dan menutup matanya. Ia tidak ingin menanggapi suaminya yang menyebalkan. Selain itu, ia sangat kesal dengan perutnya yang lemah ini! Padahal ia baru saja meminum tiga gelas. Benar-benar memalukan!
Melihat wajah molek yang bersemu merah dan terasa hangat dalam dekapannya itu, Alex mendekatkan bibirnya dan berbisik, "Jangan tidur dulu. Sepertinya bercin*ta saat kamu mabuk akan menyenangkan. Mau mencobanya?"
Mata Kinara kembali terbuka lebar. Ia menatap wajah suaminya dengan sorot tidak percaya dan berkata, "Dasar mesum! Bisa-bisanya--"
Perkataan Kinara terhenti ketika Alex membaringkannya ke atas ranjang, membungkam mulutnya dengan bibir, lalu jemarinya yang terampil itu melepaskan pakaiannya dalam satu gerakan cepat.
"Kinara Lee, aku hanya mencintaimu," ujar Alex sebelum melepas kemejanya dan menekan tubuh istrinya dengan penuh hasrat.