Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 76


Karena pertemuan yang tidak disengaja dengan Raymond itu, bukan hanya suasana hati Lorie yang berubah muram, Daniel pun jadi ingin memukuli setiap orang yang lewat di depannya.


Lorie tidak lagi ingin pergi ke taman, ia meminta Daniel untuk mengantarnya kembali.


Meski dengan berat hati, Daniel menuruti permintaan itu dan memutar arah kembali ke ruang perawatan. Sepanjang jalan, Daniel terus memaki Raymond dalam hati. Kalau bukan karena memandang Lorie, ia sudah mengayunkan tinjunya ke wajah Raymond tadi. Benar-benar menjengkelkan.


“Berhenti sebentar,” pinta Lorie.


Ucapan yang tiba-tiba itu membuat Daniel yang sedang memarahi Raymond dalam hati hampir tersandung karena terkejut.


“Ada apa, Sayang?” tanyanya sambil menoleh ke kanan dan ke kiri.


Raymond sialan itu tidak sedang membuntuti mereka sehingga membuat Lorie cemas, ‘kan? Kalau benar begitu, sudah pasti ia akan menghajarnya sampai babak belur.


Karena Lorie tak kunjung menjawab, Daniel menunduk dan memperhatikan arah tatapan wanita itu. Sepasang mata almond yang cantik itu sedang menatap ke ... bagian ginekologi?


Daniel segera memahami apa yang mungkin ingin diutarakan oleh kekasihnya itu.


“Kamu ingin memeriksa kandungan?” tanyanya.


Lorie tampak ragu sesaat, tapi pada akhirnya ia mengangguk pelan sambil berkata, “Ya. Apakah tidak apa-apa?”


“Tentu saja tidak apa-apa. Kandunganmu itu memang harus diperiksa secara rutin.”


Setelah berkata demikian, Daniel langsung mendorong Lorie ke sana. Hanya ada sekitar tujuh orang yang sedang duduk di bangku tunggu. Hampir semuanya ditemani oleh suami mereka. Hal itu membuat wajah Lorie memerah karena ia seperti berilusi bahwa Daniel adalah seorang suami yang sangat baik dan perhatian.


Diam-diam ia menatap pria yang sedang mendaftarkan namanya itu dan mengulas senyum tipis.


Sungguh, jika mereka bertemu lebih awal, mungkin ia akan benar-benar jatuh cinta kepadanya. Wanita mana yang tidak ingin diperhatikan dan dimanjakan seperti ini?


Sayangnya ....


Lorie menghela napas panjang dan mengalihkan pandangannya ke arah lain.


Sayangnya ada bayi Raymond dalam rahimnya. Bisakah ia membiarkan pria lain menjadi ayah dari anak itu?


“Eh?”


Lorie menoleh dan mendapati Daniel sudah duduk di sisinya. “Sudah selesai mendaftar?” tanyanya.


“Hm.” Daniel menatap Lorie lekat-lekat sambil tersenyum bodoh. “Apakah aku sudah bisa dikatakan sebagai calon suami dan ayah yang baik?”


Wajah pria itu dipenuhi rasa percaya diri yang sangat tinggi, terlihat sangat menjengkelkan tapi secara alami sangat cocok dengan penampilannya yang sedikit sembrono itu.


Tatapan Lorie melembut. Untuk pertama kalinya ia tidak mendebat pria itu dan menjawab, “Ya, memang bisa dikatakan begitu.”


Binar yang terpancar dari mata Daniel terlihat sangat menyilaukan. Itu mirip seperti seorang bocah yang dipuji oleh karena mendapat nilai ulangan yang bagus. Untuk sesaat pria itu kehilangan kata-kata dan tidak tahu harus menjawab apa. Ia hanya menyeringai lebar dan menatap Lorie dengan ekspresi yang dipenuhi cinta. Lorie sampai merasa dirinya sedang disiram dengan madu karena ditatap sedemikian rupa oleh pria itu. Rasanya manis dan menyenangkan.


“Kamu seperti idiot,” gumam Lorie karena tidak tahan lagi. Ia kembali berpaling dan memperhatikan orang-orang yang berlalu lalang untuk menutupi rona merah di pipinya.


“Tidak apa-apa menjadi idiot karenamu. Lagi pula, aku juga bosan terus-terusan menjadi pria yang unggul dan tak terkalahkan,” balas Daniel yang lidah dan otaknya sudah bisa berfungsi seperti sedia kala.


Lorie mendengkus dan membalas, “Tidak pernahkah kamu dipukuli seseorang karena terlalu sombong?”


“Tidak ada, mereka terlalu sibuk jatuh cinta dan terpana dengan pesonaku. Hanya kamu saja yang tidak. Sungguh sangat kejam.”


“Mungkin itu karma burukmu. Kamu pasti sudah mematahkan hati banyak gadis. Aku merasa tersanjung karena bisa membalaskan dendam mereka.”


Daniel terdiam. Kekasihnya ini sungguh bermulut tajam dan jahat, tapi karena itulah ia semakin menyukainya. Katakan saja ia gila, memang seperti itu kenyataannya. Semakin Lorie mengabaikan dan mengatainya dengan kejam, semakin ia tergila-gila terhadap wanita itu.


Tidak masalah kalau ini adalah karma buruknya, ia akan menerimanya dengan senang hati. Asal bisa bersama Lorie sedikit lebih lama lagi, ia akan menanggungnya tanpa keluhan sedikit pun.


***


**Bagi yang mau membaca cerpen saya, silakan klik profil saya, ya.


Di sana ada list karya, kalian tinggal pilih aja mau baca yang mana**.


Happy reading 😊