
Kegelapan yang pekat. Rasa sakit yang menyengat. Setiap kali mencoba untuk membuka mata, jiwanya seakan ditarik oleh pusaran air yang menguras semua tenaganya. Dadanya sesak, rasanya ribuan jarum menusuk paru-parunya setiap kali ia menarik napas. Seluruh tulangnya seperti dipatahkan satu per satu. Kinara seolah tersesat dalam mimpi buruk yang tak kunjung berakhir. Tersesat dalam lorong kelam yang menyerap seluruh energi kehidupan.
Satu-satunya sumber kekuatan untuk berjalan menuju cahaya di ujung lorong adalah suara seseorang yang terus bergema di kepalanya. Seseorang yang rasanya telah ia kenal seumur hidup, tapi tak dapat ia ingat dengan jelas. Suara itu sendu dan penuh permohonan, samar-samar datang dan pergi, mengabur dalam mimpi dan rasa sakit.
Entah mengapa ada rasa tidak tega ketika mendengar semua permohonan dan permintaan maaf itu. Ia merasa harus berjuang lebih keras agar tidak mengecewakan siapa pun itu yang sedang menunggunya di ujung sana.
"Baby, ini sudah hampir tiga hari. Apakah kamu tidak merindukanku? Aku rindu sampai hampir kehilangan akal. Aku rindu kamu, Sayang. Sangat rindu," bisik Alex seraya mengecup kening Kinara.
Ketika sentuhan hangat itu menyentuh permukaan kulitnya untuk yang entah ke berapa kalinya, gelombang listrik seolah berkumpul di seluruh neuron Kinara, menjalar dengan cepat dan menyatu di jemarinya. Sebuah kedutan pelan membuat jemarinya bergerak pelan, seakan ingin menggenggam sesuatu. Kemudian suara pekikan dan gumamam tidak jelas berbaur menjadi satu. Sesuatu yang hangat dan lembut menyentuh bibirnya, kelopak matanya, keningnya ... seluruh wajahnya. Tak lama kemudian, ia bisa merasakan cairan hangat mengalir di atas pipinya.
"Baby ... Baby, jika kamu bisa mendengarku, gerakan tanganmu lagi."
Suara bariton itu terdengar serak dan penuh kesedihan, tapi juga mengandung harapan. Kinara memusatkan konsentrasinya, berusaha sekuat tenaga untuk melakukan apa yang dikatakan oleh pria itu.
Satu.
Dua.
Tiga.
Empat.
Lima.
Kinara berhasil melipat jari-jarinya, menempel pada sebuah telapak tangan yang kokoh dan hangat. Tiba-tiba seluruh hatinya dipenuhi oleh sebuah rasa yang tak dapat ia lukisan ketika ******* penuh kelegaan terdengar dari mulut pria itu lagi. Ia merasa bahagia untuk alasan yang ia sendiri tidak mengerti. Seakan ia berhasil menggenggam seluruh dunia dalam tangannya.
"Oh, Tuhan ... Tuhanku, terima kasih. Terima kasih ...."
Kinara bisa merasakan pria itu hampir meledak dalam kebahagiaan yang sama sepertinya. Eforia yang mengalir dan menembus permukaan kulitnya, menghilangkan semua rasa sakit yang membuatnya berkali-kali ingin menyerah. Tanpa sadar air mata meluncur turun dari sudut-sudut matanya. Ia ingin menggenggam tangan itu erat-erat, tapi semua tenaganya telah ia gunakan untuk menggerakkan jemarinya.
"Dokter, istri saya baru saja menggerakkan tangannya. Dia merespon. Dia merespon."
Suara itu terdengar jelas sedang berusaha menahan tangis, membuat kabut yang menutupi ingatan Kinara perlahan memudar.
Istri? Dia bilang istri? Dia ... oh, Alex?
"Alex?" bisik Kinara pelan. Meski ia telah berusaha sekuat tenaga, suaranya hampir-hampir tak terdengar. Kerongkongannya terasa kering dan pedih.
"Ya, Sayang. Aku di sini, aku di sini," ujar Alex ketika melihat gerakan bibir istrinya memanggil namanya, "Aku di sini, Baby ...."
Kinara menggerakkan ibu jarinya dan menekan telapak tangan Alex. Air mata yang menetes di pipinya semakin banyak ketika pria itu mengangkat tangannya dan menciumnya berkali-kali. Pria ini yang menahan kesadarannya, menahan jiwanya agar tidak berkelana. Pria yang paling dicintainya. Seumur hidup.
"Nyonya, Anda bisa mendengar saya?"
Suara seorang wanita mengusik gendang telinga Kinara, disusul suara mesin yang terdengar statis di dekatnya. Suara-suara ini belum pernah ia dengar sebelumnya. Apakah itu karena selama ini ia hanya berfokus pada suara suaminya?
"Angkat jari telunjuk Anda kalau bisa mendengar saya," lanjut sang dokter.
Kinara mengatur napasnya, menyatukan sisa tenaga dan tekad, lalu mengangkat jari telunjuknya.
"Bagus sekali."
Dokter membuka kelopak matanya dan mengarahkan senter, membuat pupil Kinara bergerak melebar dan mengecil karena rangsang cahaya. Sebuah bulatan logam yang dingin menyentuh dadanya.
"Kondisi organ vital istri Anda cukup bagus, Tuan. Perkembangan kondisinya juga sangat bagus. Saya akan menyuntikkan penguat janin. Secara keseluruhan semuanya cukup bagus. Dia wanita yang tangguh. Setelah ini kita hanya perlu fokus pada pemulihannya saja."
Penguat janin? Apa maksudnya?
Batin Kinara dipenuhi tanya, tapi terlalu lemah untuk mengajukan pertanyaan. Ia hanya bisa mengerang pelan ketika sebuah jarum menusuk permukaan kulitnya.
"Tidak perlu buru-buru untuk membuka mata, Nyonya. Berbaringlah dengan nyaman sampai Anda benar-benar siap untuk bangun," ujar dokter itu sembari mengusap bekas suntikan dengan kasa yang diberi alkohol.
"Terima kasih, Dokter," ujar Alex tanpa mengalihkan tatapannya dari Kinara. Akhirnya semua baik-baik saja. Istri dan bayinya baik-baik saja.
"Terima kasih telah berjuang dan menjaga bayi kita dengan baik, Sayang. Mereka sekuat kamu. Mereka pasti akan tumbuh menjadi anak-anak yang luar biasa," gumam Alex pelan.
Bayi? Ada bayi dalam rahimku? Ada bayi ....
Jari-jari Kinara kembali bergerak dengan kaku. Kelopak matanya bergerak tak beraturan ketika ia mencoba untuk membuka mata. Namun bukannya berhasil menatap suaminya, detak jantungnya justru meningkat.
Bip. Bip. Bip.
Bip. Bip. Bip.
"Hey, tenanglah, Sayang. Tenanglah. Aku di sini," ucap Alex sambil mengenggam jemari Kinara erat-erat.
Dada Kinara bergerak naik turun tak beraturan. Ia berusaha mengatur deru napasnya yang memburu dan irama jantungnya agar kembali normal.
Bip.
Bip.
Bip.
Alex menghela napas lega. Angka di monitor kembali stabil. Ia mengulurkan tangan dan mengusap permukaan perut istrinya dengan sangat hati-hati. Ada detak jantung yang sangat kecil di dalam sana. Tiga detak jantung, dan mereka semua bertahan, melewati masa kritis dengan sangat baik. Pelupuk mata Alex menghangat, sehangat rasa sayang yang meluap dalam hatinya. Siapa yang menyangka ia akan diberi tiga bayi sekaligus?
"Lex?"
Suara yang serak dan lemah itu membuat Alex mendongak dengan sangat cepat. Ketika maniknya bersitatap dengan mata bulat istrinya, ia melompat bangun hingga kursi yang ia duduki terdorong ke belakang.
"Baby. Baby ... Kinara Lee. Sayangku. Sayang," racau Alex sambil mengerakkan tangannya di udara.
Rasanya ia ingin memeluk istrinya sekuat tenaga, tapi ia tahu itu tidak mungkin. Jadi ia hanya menarik napas dalam-dalam dan membeku di tempatnya. Pria itu tidak berkedip sama sekali, takut jika istrinya akan kembali memejamkan mata jika ia mengerjap.
Setelah berhasil menenangkan diri, Alex meraih tangan Kinara yang tidak dipasangi infus dan menciumnya berulang kali. Pandangannya mengabur. Air mata kebahagiaan membanjiri wajahnya. Ia sangat bahagia hingga dadanya terasa penuh sesak.
Pria itu berlutut dan menangis sesenggukan di samping ranjang istrinya. Tangan Kinara masih dalam genggamannya, menumpu keningnya di sisi ranjang. Ia menangis hingga hampir kehabisan napas dan matanya memerah.
"Sayang," panggil Kinara.
Suara Kinara belum terlalu jelas, tetapi Alex dapat mendengarnya dengan sangat baik. Pria itu bangun dan mengusap kening istrinya dengan sangat lembut.
"Yes, Baby?"
"Jangan menangis lagi. Aku baik-baik saja," lirih Kinara sambil mengerjap pelan.
Ia tidak berani menoleh, kepalanya terasa diikat pada sebuah batu yang sangat besar. Hanya kedua bola matanya yang berputar mengikuti gerakan suaminya. Melihat penampilan pria itu yang sangat berantakan membuat hatinya hancur.
"Aku sangat senang. Sangat bahagia, Sayang. Terima kasih telah berjuang bersama bayi kita. Maafkan aku yang terlambat menyadarinya," ujar Alex sambil menunduk dan mengusap air mata yang mengalir di pipi istrinya.
"Kamu memintaku untuk berhenti menangis, tapi kamu sendiri menangis. Dasar bodoh," sambungnya lagi ketika melihat butir kristal bening yang bergulir di pipi istrinya semakin banyak.
"Ada bayi?" bisik Kinara sembari menatap lekat ke arah suaminya.
Alex mengangguk. "Mereka baik-baik saja. Sangat kuat seperti dirimu," jawabnya.
"Mereka?"
Lagi-lagi Alex mengangguk. Kali ini ia mengacungkan tiga jarinya.
"Ada tiga bayi. Kamu percaya itu? Ada tiga ...."
Kinara mengatupkan matanya erat-erat. Ada tiga nyawa yang sedang bertumbuh dalam dirinya, dan ia tidak menyadarinya sama sekali. Ia bahkan hampir kehilangan mereka.
"Hey, semuanya sudah berlalu. Mereka baik-baik saja." Alex menunduk dan mengecup bibir istrinya. "Mulai saat ini aku akan menjaga kalian dengan sangat baik. Aku berjanji akan menjadi suami dan ayah yang baik. Oke?"
"Oke."
"Sekarang beristirahatlah. Aku akan menjagamu."
Alex mengambil sapu tangan dalam saku jasnya, membasahi benda itu dengan air hangat dari wastafel, lalu menyeka wajah Kinara dengan hati-hati.
"Aku akan menjaga kalian dengan sangat baik," ulangannya lagi seraya mencium kening Kinara.
Kinara tersenyum samar. Ia memejamkan matanya yang terasa berat. Namun, kali ini tidak ada lagi kegelapan tanpa ujung. Ia tahu ada suaminya yang akan menjaganya dengan sepenuh hati. Menjaganya dan bayi kecil yang sedang bertumbuh dalam rahimnya.
"I love you, Baby," bisik Alex.
Ia tidak beranjak sama sekali dari sisi ranjang sampai deru napas istrinya menjadi tenang dan teratur. Ia tetap di sana hingga langit menjingga dan cahaya matahari senja menelusup dari celah jendela.
***