Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 100


“Sangat menjengkelkan!” seru Dokter Ana sambil berbelok ke lorong sebelah kiri. Ia hendak menggunakan lift yang khusus disediakan untuk pasien VVIP.


Wanita itu berjalan cepat sambil menggerutu, “Benar-benar membuatku kesal. Lihat saja, aku tidak akan memedulikannya lagi. Biar saja diurus oleh—kyaa!”


Dokter Ana berteriak kencang ketika seseorang mencekal pergelangan tangannya dan menariknya dengan keras. Tubuhnya tertarik ke samping. Sepersekian detik kemudian, punggungnya sudah menempel erat dengan tembok yang dingin. Mata bulatnya mengerjap dengan linglung ketika melihat sosok yang baru saja ditemuinya di kamar Lorie.


“Kamu!” teriaknya seraya menuding ke wajah Daniel, tapi dengan cepat pria itu menangkap tangannya dan menekan ke balik punggung. Ia mendongak dan menatap pria itu dengan sangat marah, lalu diam-diam melirik ke sisi kirinya.


Sial. Jaraknya terlalu jauh.


Ada celah untuk pergi ke tangga darurat yang berjarak sekitar dua meter dari lorong utama. Di sanalah sekarang ia berada, tepat di bawah kungkungan si brengsek Daniel yang tampaknya ingin membalas dendam.


Hanya ada sekitar tiga kamar VVIP di seluruh lantai itu sehingga tidak banyak orang yang lewat. Lagi pula, kalau pun ada yang lewat, kemungkinan besar mereka akan berpikir bahwa ia dan Daniel adalah sepasang kekasih yang diam-diam pergi untuk mencari kesenangan.


Selain itu, menilik dari sifat bajingan pria ini, dia pasti akan semakin senang kalau mereka menjadi tontonan. Oleh karena itu, Dokter Ana hanya bisa menggertakkan gigi dan kembali mendongak. Ia menatap Daniel dengan penuh permusuhan.


“Apa yang kamu—ah!”


Dokter Ana menjerit lagi ketika Daniel menekannya semakin keras. Ia meringis kesakitan.


*Ba\*ngsat ini sepertinya akan menekan setiap kali aku membuka mulut*.



Suara gemerutuk geliginya yang beradu membuat Daniel terkekeh pelan. Pria itu mengulurkan jari telunjuk untuk menyentuh ujung dagu Dokter Ana sehingga wajah mungilnya terpaksa mendongak.



“Kehilangan kemampuan berbicaramu, *hm*?” gumamnya. "Bukankah kamu sangat hebat?"



Embusan napasnya yang segar dan hangat menerpa wajah Dokter Ana, membuat seluruh rambut halus di tubuh wanita itu tiba-tiba merinding.



*Sial! Jarak ini terlalu dekat*!


Dokter Ana kembali mengumpat dalam hati ketika aroma maskulin yang kuat menyeruak ke dalam indra penciumannya. Untuk sesaat otaknya terdistorsi. Akan tetapi, detik berikutnya ia menemukan kembali kemampuannya untuk bertarung.


“Lihat wajahmu, sudah babak belur seperti itu tapi masih saja ditolak. Apakah rasanya sangat sakit?” cibirnya.


Kali ini giliran Daniel yang tergamam. Ucapan itu menohok jantungnya dengan presisi. Tangan kanannya yang bebas mengepal erat hingga urat-urat menonjol di punggung tangannya.


“Ingin memukulku? Pukul saja. Sayangnya itu tetap tidak akan mengubah posisimu di hati Lorie. Kamu pikir waktu selama satu-dua bulan bisa membuatmu menggantikan Raymond yang sudah dia cintai selama tujuh tahun lebih?”


Tujuh tahun lebih? Dia ... ternyata mencintai pria itu selama itu?


Dokter Ana memanfaatkan keadaan itu untuk kabur. Akan tetapi, baru saja berkelit untuk melepaskan cengkeraman Daniel di tangannya, pria itu sudah menariknya dengan sangat keras dan menekannya dengan sangat kuat. Kali ini ia bahkan hampir kehabisan napas karena seluruh tubuhnya ditutupi oleh tubuh Daniel.


“Sangat senang melihatku menderita, huh?” geram pria itu seraya menjepit dagu Dokter Ana erat-erat. Akumulasi emosi yang ditahannya sejak kemarin tiba-tiba meluap tak terkendali.


Dokter Ana panik saat melihat wajah Daniel yang mendekat. Ia berusaha menggelengkan kepalanya, tapi tangan yang menahan dagunya terasa seperti penjepit besi, sangat kuat dan kokoh. Tangan itu tidak bergerak meski ia sudah menggunakan seluruh tenaga untuk menyingkirkannya.


“Apa—humph!”


Seluruh tubuh Dokter Ana menegang saat sesuatu yang lunak dan basah menerobos sela giginya dan menjarah mulutnya dengan semena-mena.


Lidah!


Itu adalah lidah yang empuk dan ....


“Emph!”


Mata wanita itu melotot ketika lidah Daniel membelit lidahnya dan menyesapnya dengan kuat. Ia menendang dan memukul sekuat tenaga, tapi Daniel justru semakin menggila, merampok bibirnya dengan sesuka hati. Tangan pria itu bahkan sudah merayap di pinggangnya, membuatnya merinding!


Bugh!


“Argh!” Daniel mengerang dan membungkuk, menutupi pangkal pahanya dengan kedua tangan.


“Kamu ... kamu ....” Ia mendelik dan ingin memaki Dokter Ana, tapi untuk bernapas saja ia sudah berkeringat dingin. Wanita itu hampir saja memecahkan miliknya yang berharga.


Dokter Ana menyeringai penuh amarah, lalu mengusap bibirnya keras-keras sambil memberi tatapan jijik kepada Daniel.


“Dasar perampok! Pria ca*bul! Pikirkan itu ketika kamu ingin melakukan perbuatan tidak senonoh lagi. Aku akan menghancurkannya sampai ke akar.”


“Wanita, kamu benar-benar ... kalau ini sampai rusak, bagaimana aku akan memuaskanmu di masa depan?” balas Daniel sambil menahan nyeri yang menusuk sampai ke ubun-ubun.



Bahu Dokter Ana bergetar. Ia berputar dengan cepat dan melayangkan satu tamparan ke wajah Daniel. Dalam sekejap cap lima jari tercetak dengan jelas di pipi Daniel yang masih lebam.


“Kamu menjijikkan. Jangan pernah dekati Lorie lagi!” ancam Dokter Ana sebelum membalikkan tubuh dan berjalan menjauh.


Karena pergi dan tidak menoleh lagi, wanita itu tidak melihat seringai lebar yang muncul di wajah Daniel. Pria itu sendiri tidak tahu mengapa bisa bertindak sangat impulsif, tapi melihat respon Dokter Ana membuatnya merasa sangat puas.


Paling tidak rasa sakit yang dirasakannya sekarang ini sepadan. Bibir yang suka menyindir dan mengolok-olok orang lain itu ternyata rasanya cukup manis. Matanya bercahaya. Mungkin ia akan mencicipinya lagi kalau ada kesempatan.


***