
Kinara mendesis, suaminya terlihat seperti benar-benar akan memakannya sampai habis. Pria itu tidak memberinya kesempatan untuk berubah pikiran. Tangan Alex terus bergerilya, menyalurkan bara yang meletup-letup dalam setiap sentuhan. Suara desah*n dan gumaman yang eroti*s membaur bersama udara.
Gadis itu tak lagi dapat membedakan siapa yang sedang mendesa*h dan siapa yang sedang menggeram. Ia mencengkeram pundak Alex kuat-kuat ketika pria itu menyes*p dan mengul*m bibirnya dengan rakus. Sesekali pria itu memberi gigitan kecil di sela ciuman mereka, memberi efek yang membuat wajah Kinara berkabut oleh gair*h. Bibirnya memerah dan bengkak.
Alex melepaskan bibir istrinya. Cahaya lampu yang redup membuat penampilan istrinya terlihat sangat seksi dan menggoda. Ia beralih ke leher jenjang Kinara. Lidahnya bergerak liar, menjelajahi lekuk dan rasa yang membuatnya mabuk kepayang. Ia terkesiap dan meng*rang ketika Kinara bergerak, menggesek sesuatu yang mengeras di antara pangkal pahanya.
"Istriku ...," gumam Alex seraya menarik lepas kain terakhir yang menutupi tubuh istrinya. Dua gundukan yang ran*m dan menggoda membusung di depan matanya.
Alex menelan ludah dengan susah payah. Gumpalan daging yang indah itu bergerak naik turun seirama deru napas istrinya yang tak beraturan. Ia tak mampu lagi menahan hasrat yang terbendung. Tangan kanannya sedikit bergetar ketika menyentuh puncak bukit yang mengeras itu, mengusapnya perlahan hingga punggung istrinya melengkung seperti busur panah.
Kinara berusaha menahan sensasi yang membakar habis akal sehat dan logikanya. Ia mencoba menjauhkan tubuhnya dan ingin protes.
"Alex, aku--"
"Hum?" Alex menggeram, menekan punggung Kinara ke arahnya. Ia membuka mulut dan melahap bulatan serupa buah cherry itu.
"... ah!"
Tubuh Kinara bergetar hebat. Ia meraih rambut Alex dan mencengkeramnya sekuat tenaga. Rasanya seperti seluruh tubuhnya akan meledak oleh rasa nikmat. Ia menunduk dan menatap suaminya yang sedang sibuk memakannya. Memakan dalam arti yang harfiah. Pria itu terlihat seperti seorang bayi besar yang menggairahkan. Melihat suaminya seperti itu membuat Kinara semakin tidak tahan. Pemandangan itu terlalu erot*s baginya.
"A-a ... Al-alex ... ku-kumohon ... emh!"
Kinara mengerang dan memejamkan mata ketika tangan suaminya mengusap gundukan dadanya yang lain. Jemari pria itu berputar dan menyentuh semua bagian yang dia inginkan. Lidahnya yang basah dan hangat benar-benar membuat Kinara hampir gila. Gadis itu mengerang dan bergerak dengan gelisah di atas tubuh suaminya.
"Panggil suami!" perintah Alex tanpa menengadahkan wajahnya.
Kinara hampir menangis ketika lidah dan tangan suaminya bergerak bersamaan di tubuhnya. Ia ingin meminta pria itu untuk berhenti, tapi juga tidak ingin suaminya berhenti. Ia benar-benar tidak mengerti apa yang sebenarnya ia inginkan. Gadis itu kembali mengigit bibirnya kuat-kuat untuk menahan desahan dan erangan yang akan keluar dari mulutnya.
Ini benar-benar gila. Aku ... aku ....
"Emh ... oh, Alex!" pekik Kinara. Ia menunduk dan menciumi kepala suaminya berkali-kali. Kedua tangannya merem*s bantal dan rambut suaminya bergantian.
"Panggil suami," ulang Alex dengan suara serak.
Pria itu mendongak, memerhatikan ekspresi istrinya yang sudah sangat terangs*ng. Wajahnya memerah hingga leher. Bulir keringat muncul di permukaan kulit gadis itu, menetes dari wajah dan pundaknya.
"S-suamiku ...," ucap Kinara seraya membalas tatapan suaminya. Matanya tidak fokus, menatap wajah suaminya dan dadanya yang bidang bergantian. Ia bahkan tidak sadar sejak kapan suaminya melepas pakaian.
Mendengar suara Kinara yang serak dengan sedikit terengah, Alex menggila. Ia meraih tengkuk Kinara dan menekannya mendekati wajahnya. Dalam sekejap, bibir istrinya kembali berada di bawah kuasanya. Ia melum*t dan mengis*p dengan kuat, mengabaikan erangan yang lolos dari bibir mungil itu. Tangannya bergerak ke bawah, meremas bongkahan kenyal yang berada di atas pahanya.
Kinara me*enguh, tetapi Alex sama sekali tidak memberinya kesempatan untuk menjauh. Rasa panik menyerang gadis itu ketika ia merasakan sesuatu yang keras menekan perutnya.
Alex melepaskan ciumannya sesaat. Ia membelai wajah istrinya dengan penuh rasa sayang, lalu bertanya, "Kamu bisa di atas?"
Kinara hampir tersedak. Ia memberanikan diri untuk melihat ke bawah, lalu wajahnya mendadak pias.
"Itu ... itu terlalu besar," cicitnya dengan suara hampir tak terdengar, "B-bagaimana bisa ... itu, bagaimana caranya?"
Tawa Alex hampir menyembur. Gadis polos ini sungguh membuatnya tak bisa menahan diri.
"Akan kuajari, Sayang," jawab Alex. Ia menuntun tangan istrinya ke bawah, menahan jemari mungil itu ketika hendak bergerak menjauh.
"Begini ...."
Mata Kinara membulat. Tangannya terasa hangat dan penuh. Benar-benar penuh sehingga ia bisa menebak ukurannya dengan tepat.
"Ini ... ini tidak akan muat," gumamnya tanpa sadar.
"Tidak! Itu sama sekali bukan pujian!" seru Kinara cepat, "Bisakah kamu mengecilkannya dulu sedikit? Kita ... kita bisa mencobanya lagi nanti ...."
Alex menggeram. "Yang benar, kita bisa mengulangnya nanti. Aku menginginkanmu sekarang, Sayang ...."
Kinara terdiam dan menatap gundukan daging di bawah sana dengan ngeri. Ia benar-benar ketakutan. Ini pengalaman pertamanya dan ia sama sekali tidak tahu apa yang harus dilakukan. Lagipula, gumpalan daging di bawah sana itu memang terlalu besar. Tubuh Kinara menggigil membayangkan sesuatu sebesar itu harus memasukinya.
Rasanya pasti sangat sakit ....
Gadis itu membuka mulut, hendak merayu suaminya untuk menunda hal ini, tapi Alex bergerak lebih cepat. Ia kembali melum*t dan menghancurkan pertahan diri Kinara.
"Alex ... Alex ... oh, Sayangku ...," racau Kinara ketika serangan suaminya meluluhlantakkan semua ketakutannya tadi.
"Emh!"
Punggung Kinara kembali melengkung ketika Alex menyes*p dadanya yang ran*m. Pria itu membenamkan wajah dalam-dalam di antara dua gundukan itu, menj*lat dan meng*lum dengan rakus. Sementara itu salah satu tangannya bergerak ke bawah, mencari lekuk tersembunyi pada tubuh istrinya.
"Oh!"
Kinara memekik kaget ketika jemari Alex menyentuh inti tubuhnya, mengusap pelan ... seakan sedang membujuk dan merayu agar ia menyerah sepenuhnya.
"Aku tidak tahan lagi," ucap Alex dengan wajah berkabut. Ia mengangkat tubuh istrinya dan memposisikan diri.
Tubuh Kinara menegang ketika merasakan gerakan di bawah sana. Keningnya berkerut dalam ketika merasakan ada yang mencoba untuk menerobos masuk. Keringat dingin bermunculan dari pori-pori. Tubuhnya gemetaran.
"Ah! Alex!" pekik Kinara seraya mencengkeram pundak suaminya hinga buku-buku jarinya memutih. Rasanya sakit luar biasa. Seperti ada sebilah pisau yang sedang menyayat kulitnya perlahan.
"Tenanglah," kata Alex, berusaha menenangkan istrinya. Ia mengecup pundak dan wajah Kinara, tapi gadis itu menolak dan memalingkan wajah.
"Alex ... sakit ...," erang Kinara seraya menggelengkan kepala. Milik suaminya terlalu besar. Ia tidak bisa menerimanya.
Terlalu sakit ....
"Sakit sekali ...."
Air mata mengalir dari pipi Kinara. Ia sungguh tidak tahan. Tanpa sadar ia mencakar pundak Alex hingga muncul garis-garis kemerahan di permukaan kulit putih itu.
Alex menghentikan gerakannya. Ia mende*ah pelan seraya mengusap pipi istrinya yang sudah dibanjiri keringat dan ajr mata. "Sangat sakit?" tanyanya.
Kinara mengangguk tanpa berani membuka mata atau bergerak. Pundaknya benar-benar tegang dan gemeteran.
Alex meraih kepala istrinya dan mendaratkan kecupan penuh rasa sayang. "Turunlah," ujarnya.
"A-apa?" Kinara membuka matanya perlahan. "T-tapi ... kamu ...."
"Tidak apa-apa, kita bisa melakukannya ketika kamu benar-benar sudah siap."
Alex menyibak anak rambut Kinara dan menyelipkannya di balik telinga. "Turunlah sebelum aku berubah pikiran."
"A-aku turun," jawab Kinara seraya menekan dada suaminya untuk membantunya berdiri.
"Aku perlu berendam air dingin, bantu aku ke kamar mandi."
"Baik," jawab Kinara sambil mengambil piyamanya yang tergeletak di atas lantai dan memakainya. Sekilas, ia melirik pada pusaka yang masih tegak teracung di atas kasur, sebelum membantu suaminya ke kamar mandi.
Memang terlalu besar!