
Tara dengan perasaan yang tidak menentu duduk di depan para hakim di sidang perceraian itu, di temani oleh sang ibu dan ayah yang saat ini duduk di kursi tepat di belakang Tara. Wajah wanita itu sangat terlihat jelas kalau saat ini sedang gelisah karena ini keputusan yang baginya bukan main-main, apalagi setelah ia berpisah dari Gio maka Tara akan menyandang status sebagai janda muda yang tidak memiliki seorang anak.
"Baik, kalau begitu saudari Tara, apa sidang ini bisa kita mulai sekarang?" tanya hakim yang memakai kacamata dan memiliki kepala botak.
Tara lalu mengangguk sambil menjawab, "Silahkan yang mulia."
"Saudari Tara, Anda datang kesini sebagai penggugat, apa betul itu?"
"Betul, yang mulia." Tara menjawab sambil menahan gejolak di dalam lubuk hatinya yang paling dalam. Karena lain di mulut lain di hati, bagaimana tidak? Mulutnya saat ini menjawab dengan lancar. Namun, di dalam benak wanita itu ia malah mengajak jiwa dan raganya untuk segera keluar serta kabur dari pengadilan itu saat ini juga.
"Saudari Tara, apakah Anda sudah memikirkan sebab dan akibat apa saja yang terjadi setelah Anda bercerai?"
"Sudah yang mulia, karena jika saya tidak memikirkannya secara matang-matang maka saya tidak akan berani duduk di sini yang mulia dan berhadapan dengan Anda langsung."
Empat hakim yang ada di depan sana menatap Tara, karena mereka tidak percaya kalau Tara ingin menggugat anak pengusaha paling sukses nomor dua di negara ini. Membuat keempat hakim itu malah bertanya-tanya di dalam benak mereka tentang kenapa Tara yang menggugat Gio, laki-laki yang sama sekali tidak ada celah untuk dicela itu. Karena Gio adalah tipe laki-laki yang diincar oleh kaum betina. Tapi lihatlah, wanita yang menggunakan dres selutut itu tanpa merasa gugup malah duduk di depan hakim itu dengan tenang. Meskipun Tara datang sebagai penggugat.
Hingga detik berikutnya semua hal langsung saja hakim itu tanyakan pada Tara. Namun, tidak lama seorang laki-laki berdiri dengan sangat gagah di depan pintu ruang sidang saat ini. Laki-laki itu lalu membuka suara setelah tadi lama terdiam dan hanya bisa mendengarkan hakim serta istrinya.
"Tapi maaf yang mulia, dengan ini saya nyatakan kalau perceraian ini tidak akan pernah terjadi! Karena saya Giorgio Ravarendra, tidak akan pernah menceraikan istri saya, meskipun saya sebagai tergugat. Namun, perceraian ini tidak akan pernah terjadi jika saya sebagai seorang suami tidak akan pernah mau melepaskan istri saya," ucap Gio tanpa ada rasa takut meski Arzan dan Yana menatap dirinya. "Ayo Tara, kita pulang di sini hanya tempat orang-orang yang rumah tangganya tidak bisa di perbaiki lagi sama sekali. Sedangkan rumah tangga kita baik-baik saja," lanjut Gio.
Jantung Tara sudah dari tadi rasanya mau lepas dari tempatnya, karena ia kaget bukan main. Sebab Gio bisa datang ke pengadilan dan mengatakan semua itu di depan para hakim itu.
"Maaf yang mulia, saya akan membawa istri saya pulang. Dan anggap saja yang tadi, itu hanya lelucon karena saya sebagai tergugat tidak terima dengan semua ini," ucap Gio.
"Lanjutkan yang mulia, karena saya sebagai orang tua Tara, bersaksi kalau selama menikah dengan Gio. Putri saya tidak pernah bahagia. Maka dari itu, rumah tangga seperti ini tidak pantas di pertahankan." Arzan berdiri dan melontarkan kalimat itu.
Gio yang mendengar itu dengan cepat mendekati Tara, dan tanpa mau mendengar apa yang dilontarkan oleh Arzan laki-laki itu langsung saja memegang pergelangan tangan sang istri karena ia mau membawa Tara pergi dari sana.
***
Tara tidak henti-hentinya memberontak dan berteriak di kuping sang suami, karena wanita itu tidak terima kalau Gio membawanya pergi secara paksa. Dan ternyata rupanya Gio berhasil membawa Tara keluar dari pengadilan itu meskipun Gio dan kedua orang tua Tara sempat adu ba cot.
Sedangkan Gavin yang sedang menyetir menjadi sangat kepo, sebab mata asisten itu menatap lurus ke depan sana. Namun, indra pendengaran Gavin terus saja menguping apa saja yang diucapkan oleh Tara. Sehingga membuat Gavin yang sudah mengerti sedikit akar permasalahannya, merasa bahwa di kedua keluarga belah pihak benar-benar ingin melihat Gio dan Tara bercerai berai.
"Hentikan mobilnya Gavin!" pekik Tara. Namun, sayang Gavin sama sekali tidak mau mendengar apa yang diperintahkan oleh Tara. "Hentikan kataku! Karena aku tidak mau ikut dengan laki-laki yang munafik seperti Tuan muda, kamu ini Gavin!" Tara terlihat tidak henti-hentinya memberontak sehingga kuku-kukunya yang tajam berhasil melukai leher sang suami dan tangan laki-laki itu tidak luput dari cakaran Tara. "Hentikan ...!" teriak wanita itu berulang kali, meski sang suami berusaha menenangkannya. Namun, Tara sama sekali tidak mau mendengarkan sang suami.
"Tara, ini aku suami kamu. Laki-laki yang sangat mencintaimu. Tidakkah kamu mengingatku," ucap Gio sambil terus menahan tubuh Tara yang memberontak. "Aku kerja, tapi kenapa kamu malah melakukan ini padaku, Tara. Apa salahku padamu, sehingga kamu menjadi setega ini pada suamimu ini Tara?"
Gio yang mendengar itu mengerutkan dahi, sebab laki-laki itu heran karena kenapa Tara bisa mengatakan itu pada dirinya. "Apa yang kamu katakan Tara? Aku ... suami kamu ini bekerja bukan malah bersenang-senang di sana. Jadi, aku minta kamu jangan tuduh aku macam-macam. Dan justru saat ini aku yang ingin menanyakan banyak hal pada dirimu, Tara."
"Kita sudah berakhir Gio! Sudah cukup kamu mempermainkan perasaanku selama ini! Aku ini berhak bahagia dan aku juga berhak memilih jalan hidupku sendiri tanpa kamu atur-atur."
Gio yang merasa kesabarannya mulai habis menatap sang istri dengan pupil mata yang berubah. "Kamu menggugatku dengan alasan yang tidak jelas Tara, lalu sekarang kamu malah mengatakan itu. Jadi, selama ini kamu tidak bahagia menikah denganku? Dan apa selama ini juga kamu menganggapku cuma mempermainkan perasaanmu saja?"
Tara tersenyum sinis yang saat ini menatap Gio juga. Dan terlihat sangat jelas dua pasang bola mata indah sama-sama saling memancarkan kerinduan. "Pertanyaanmu itu, ada semua pada dirimu sendiri Gio. Jadi, buat apa kamu harus bertanya pada wanita mandul ini?"
"Tara, harus berapa puluh hingga ribu kali aku katakan kalau aku ini tidak mempermasalahkan kamu mau memberikanku keturunan atau tidak aku tidak peduli akan hal itu. Jadi, stop mengatakan kalau kamu itu mandul." Pada akhirnya Gio membentak sang istri. Karena laki-laki itu benar-benar tidak suka kalau Tara mengucapkan kata mandul disaat Gio tahu ia dan istrinya itu sama-sama sehat.
"Tidak mempermasalahkannya, tapi kenapa kamu malah mengkhianatiku Gio? Kenapa?!" tanya Tara dengan bibir yang mulai bergetar. "Berulang kali aku menghubungimu, pesanku sampai ribuan tidak kamu balas dan aku malah mendapat notif masuk dari nomor yang tidak di kenal. Kamu dan adik angkatmu si idiot itu sedang bermesraan!" Tara kemudian memperlihatkan Gio beberapa foto pada ponselnya. "Foto ini asli Gio. Jadi, kamu tidak bisa mengelak lagi."
Gio melihat foto itu sambil berkata, "Foto ini memang asli Tara, tapi ini semua juga salah paham. Biar aku jelaskan semuanya mulai dari A sampai Z," kata Gio
"Tidak perlu Gio! Karena aku tidak butuh itu!" balas Tara dengan nada suara yang ketus. "Karena aku cuma mau satu, yaitu bercerai dengan laki-laki penipu sepertimu!"
Gio terlihat beberapa kali mengusap wajahnya sendiri dengan kasar. Sebab laki-laki itu harus menunggu amarah di hati sang istri mereda dulu biar biasa menjelaskan semuanya tanpa terkecuali. Sebab, Gio tahu jika sang istri marah maka sangat sulit sekali diajak bicara dari hati ke hati. Oleh karena itu, Gio memilih untuk diam saja dulu untuk saat ini.
Gavin yang mendengar itu semua hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Tanpa berani membuka suara atau mengeluarkan pendapat sedikitpun. Karena ia tidak mau membuat suasana di dalam mobil itu semakin keruh.
***Meski Gio berulang kali menjelaskan semuanya pada Tara, namun wanita itu terlihat sama sekali tidak mau percaya dengan sang suami. Karena wanita itu sudah terlanjur sakit hati sehingga kalimat apa saja yang terlontar dari mulut Gio bagi Tara itu semua hanya omong kosong saja.
"Tara, aku ini suami kamu dan juga kamu sudah lama mengenalku, tapi kenapa kamu masih saja menganggapku membual?" tanya Gio dan sekarang laki-laki itu terlihat mencoba untuk mendekati sang istri. Karena posisi Tara saat ini ada di sebuah kamar yang terlihat sangat luas. Dan ternyata Gio membawa sang istri ke panthose. "Tara tatap mataku, apa di mata ini kamu melihat ada kebohongan?"
Tara langsung saja membuang pandangan, wanita itu terlihat enggan untuk menatap sang suami.
Gio menghela nafas, karena laki-laki itu tidak tahu harus menjelaskan pada Tara seperti apalagi, sebab wanita itu sama sekali tidak mau menjawab apa saja yang Gio tanyakan serta tidak mau membalas kalimat Gio.
"Ikut denganku ke luar Negeri, supaya kamu percaya padaku. Dan nanti masalah kuliahmu biar Gavin saja yang akan mengurusnya," ujar Gio yang pada akhirnya memutuskan untuk membawa Tara ikut serta bersamanya. "Untuk masalah gugatan ceraimu itu, aku akan melupakannya dan akan aku anggap semua itu tidak pernah terjadi."
"Tidak! Aku tidal akan pernah ikut dengan laki-laki sepertimu, Gio!" timpal Tara ketus. Yang akhirnya mau membuka suara setelah wanita itu hanya diam saja dari tadi. "Aku hanya minta cerai darimu Gio, bukan malah ingin ikut denganmu pergi ke luar Negeri untuk bersenang-senang," sambung Tara.
"Itu semua tidak akan pernah terjadi Tara, selama jantungku ini masih berdetak," ujar Gio yang mencoba untuk sesabar mungkin menghadapi sikap Tara yang seperti ini. "Maka dari itu, aku menyuruhmu untuk ikut denganku, supaya kamu tidak salah paham denganku Tara."