Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 78


Lorie segera memalingkan wajah dan hendak menggerakkan kursi rodanya ke arah berlawanan, tapi sesosok bayangan lebih dulu berdiri dan menghadang di hadapannya. Ia menggeser kursi roda ke kiri, bayangan itu ikut bergerak ke kiri. Ia bergerak ke kanan, bayangan itu menutupinya dari sisi kanan.


Lorie berdecak kesal dan mendongak.


“Apa maumu?” tanyanya dengan intonasi yang tidak terlalu keras, tapi mengandung sedikit ancaman di dalamnya.


Raymond yang menatap nanar ke arah Lorie hanya bisa membuka mulutnya beberapa kali tanpa suara. Tiba-tiba ia tidak tahu harus memulai dari mana, atau harus menanyakan apa.


Padahal sejak melihat wanita itu masuk ke dalam ruang ginekologi bersama “calon suaminya” tadi, ada begitu banyak pertanyaan yang melintas di kepalanya. Namun, sekarang seluruh isi kepalanya mendadak kosong melompong dan ia tidak bisa memikirkan apa pun.


“Cepatlah. Aku tidak punya banyak waktu,” ucap Lorie lagi. Kali ini nada suaranya terdengar sedikit tidak sabar.


Jantung Raymond seolah baru saja dipukul oleh godam raksasa. Sikap Lorie yang dingin seperti ini terasa asing. Tiga bulan lalu wanita itu begitu ceria dan manis. Apakah semua perubahan ini terjadi karena kesalahannya waktu itu? Bagaimana caranya mengembalikan Lorie yang dulu selalu tersenyum saat berbicara dengannya?


“Kalau tidak mau bicara, jangan menghalangi jalanku!”


Ucapan yang keras itu membuat Raymond tersadar dari lamunannya. Ia tampak sedikit ragu, tapi pada akhirnya tetap membuka mulut untuk bertanya dengan suara yang terdengar sedikit bergetar, “Kamu ... hamil?”


“Kamu membuntutiku?” Lorie balik bertanya.


“Ya.” Raymond tidak mengelak. Ia memang mengikuti wanita itu diam-diam. Hatinya sangat tidak nyaman melihatnya pergi begitu saja bersama pria lain.


Raymond menurunkan pandangannya dan menyadari bahwa Lorie memakai pakaian yang longgar, tapi tak mampu menyembunyikan perutnya yang membesar. Dilihat dari ukurannya, seharusnya itu sekitar tiga atau empat bulan.


Jadi dia memang hamil.


Raymond tidak tahu harus senang atau cemas. Apakah anak itu miliknya atau bukan? Jika dilihat dari perkiraan usia kehamilan, itu seharusnya miliknya. Dalam sekejap hati Raymond dipenuhi rasa yang campur aduk.


“Apa kamu tidak lelah? Aku sudah bilang, aku memaafkanmu. Apa lagi yang kamu inginkan?” tanya Lorie setelah menghela napas panjang. Sejujurnya, ia sendiri merasa lelah karena harus terus bersembunyi dan melarikan diri. Mengapa Raymond tidak melepaskannya saja?


“Tidak lelah,” jawab Raymond. “Ada yang perlu diluruskan. Bayi itu ... apakah dia—“


Sebelum Raymond menyelesaikan pertanyaanya, Daniel yang entah muncul dari mana tiba-tiba berdiri di samping Lorie dan berkata, “Sayang, maaf sedikit lama, aku harus berkeliling untuk mencari burger yang kamu mau.”


Loria mendongak untuk menatap Daniel, lalu menerima bungkusan yang disodorkan kepadanya sambil tersenyum. Pria bodoh itu benar-benar pergi mencari burger untuknya?


“Terima kasih,” ucap Lorie dengan tulus.


“Bagaimana hasil pemeriksaan bayi kita? Semuanya baik-baik saja?” tanya Daniel, dengan sengaja mengabaikan Raymond yang mematung di dekatnya.


Heh. Mimpi saja kalau ingin merebut wanita miliknya!


“Baik, semuanya normal,” jawab Lorie. Ia tidak tahu apakah harus bersyukur atau marah karena kehadiran Daniel yang tiba-tiba dan klaim-nya yang tidak masuk akal itu.


Apanya yang "bayi kita"?


Di saat Lorie masih menimbang dalam hati harus melakukan apa, Daniel sudah mengambil inisiatif untuk mendaratkan sebuah kecupan di keningnya.


Lorie membeku. Sedetik kemudian ia bergumam, “Kamu tidak tahu malu. Ini tempat umum. Ada begitu banyak orang—“


“Mencium calon istri sendiri apa salahnya?” sela Daniel. “Ayo kembali, kamu harus banyak beristirahat.”


Setelah mengatakan itu, Daniel langsung mendorong Lorie pergi tanpa menoleh atau menyapa Ramond sama sekali.


Lorie yang duduk di atas kursi roda pun hanya bisa menatap lurus ke depan. Ia tidak berani menoleh ke arah Raymond, takut jika ia menoleh maka hatinya akan goyah. Ia tidak mau pria itu bersamanya hanya hanya karena merasa bertanggung jawab saja. Ia lebih tidak bisa menggunakan anak untuk mengikat pria yang tidak mencintainya. Di hatinya, jika seorang pria ingin mendekati atau menikah dengannya, maka itu harus karena cinta. Itu adalah syarat mutlak yang tidak bisa diganggu gugat.


Di depan bagian ginekologi, Raymond masih mematung di tempat semula. Tangannya yang terkepal di sisi tubuh meregang dan merapat beberapa kali, jelas menunjukkan adanya pergolakan batin yang sangat kuat.


Pria itu terus terpaku di tempatnya hingga kursi roda Lorie tidak terlihat lagi.


***


Udah, gosah sedih, gosah nangis ... air matanya ditahan dulu karena abis ini ada yang lebih sedih lagi.


*kabooor


🤣🤣🤣