Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
57


Tara hanya bisa menangis di sebuah pohon rindang yang terletak agak sedikit jauh dari rumahnya. Perasaan wanita itu kali ini benar-benar tidak karuan di saat kalimat sang ayah terngiang-ngiang di dalam memori otaknya yang menyuruhnya untuk berpisah dengan sang suami. Dan jika Tara mampu bertahan ketika ibu mertuanya menyuruh Gio menceraikannya ia tidak terlalu memikirkannya karena ada Gio yang selalu meyakinkannya kalau itu semua tidak akan pernah terjadi, tapi sekarang lihatlah, Arzan sang ayah wanita itu malah memintanya untuk berpisah. Membuat Tara merasa tidak ada yang bisa ia lakukan. Sebab kedua belah pihak sama-sama ingin melihat anak-anak mereka bahagia sesuai dengan versi mereka masing-masing. Tara juga tahu pasti sang ayah tidak akan tinggal diam dan wanita itu juga tahu Arzan akan melakukan berbagai cara supaya ia dan Gio benar-benar berpisah.


"Apa salahku Tuhan? Sehingga Engkau memberikan aku takdir seperti ini, apa aku ini tidak pantas merasakan kebahagiaan, dengan pasangan hidupku saat ini? Apa aku juga tidak berhak bahagia versiku dan versi suamiku?" Sambil menatap lurus ke depan Tara terus saja bertanya pada dirinya sendiri, karena saat ini tidak ada sang suami tempatnya mengadu dan berkeluh kesah. "Tuhan ... aku cuma ingin hidup tenang, damai, dan tentram. Tanpa ada drama seperti saat ini. Aku benar-benar sudah sangat lelah, aku lelah ... Ya Tuhan ...!"


"Semua sudah tertulis di dalam takdir hidupmu sayang. Jadi, tidak ada yang perlu kamu tangisi," ucap Yana yang ternyata berhasil menemukan keberadaan Tara, setelah tadi wanita itu mencari putrinya kemana-mana. "Kamu hanya cukup bersabar Tara, karena semua manusia diuji dengan berbagai ujian. Dan ujian dalam rumah tangga yang kamu alami saat ini, pasti setiap pasangan suami istri sering mengalaminya."


"Jika benar begitu, lalu kenapa Mama dan Papa malah memintaku untuk berpisah dengan Gio? Tidakkah Mama berpikir kalau apa yang Mama dan Papa inginkan itu sangat salah besar." Suara Tata terdengar mulai serak. "Tolong Ma, jangan siksa perasaan putri Mama ini dengan terus-terusan ingin melihatku dan Gio berpisah." Inilah sebenarnya yang di takutkan oleh Tara jika kedua orang tuanya tahu, maka rumah tangganya dengan Gio akan terancam seperti ini. "Cukup mommy Lydia yang ingin melihat aku berpisah, kalau Mama jangan. Karena Tuhan sangat membenci kata perceraian."


Yana mencoba untuk tersenyum. Meski jauh di dalam benaknya wanita itu sangat kecewa dengan putrinya, yang memilih untuk bertahan meski keluarga Gio memperlakukannya seperti itu. "Tara, kamu berhak bahagia 'Nak, bukan malah begini, berpura-pura tersenyum hanya untuk menutupi luka di dalam hatimu."


Tara langsung saja memeluk sang ibu, karena saat ini yang dia butuhkan hanya dukungan bukan malah sebaliknya. "Mama, bawa aku berobat jika aku mandul bukan malah menyuruhku untuk berpisah dengan Gio. Dan jika saja aku tahu semuanya akan menjadi seperti ini maka aku tidak akan pernah mau menggantikan Kak Tika dulu, karena begini rasanya ketika aku dan Gio sudah saling mencintai, kalian sebagai orang tua malah ingin menjadi pemisah antara kami." Tara masih bisa mengatakan itu di sela-sela isak tangisnya. Membuat hati Yana bisa merasakan apa yang saat ini dirasakan oleh Tara.


***


Hari-hari yang dilalui oleh Tara tanpa ada kabar dari Gio membuat wanita itu merasa kalau sang suami melupakannya. Namun, nyatanya Arzan sang ayah yang sudah memblokir kontak Gio, yang tidak diketahui oleh Tara.


"Dia tidak sibuk, tapi ... mungkin saja saat ini dia sedang asik bersama wanita-wanita yang jauh lebih cantik daripada dirimu," jawab Tika secara tiba-tiba. Entah kapan wanita itu masuk karena tiba-tiba dia sudah ada di dalam kamar sang adik. "Jangan terlalu berharap pada Gio, karena dia itu laki-laki yang di bilang sangat sempurna, pasti banyak wanita yang mau padanya. Secara kamu itu 'kan, mandul." Tika bukannya menyemangati sang adik. Namun, wanita itu malah membuat mental Tara down. "Lebih baik, kamu cari laki-laki yang mandul juga Tara, biar hal seperti ini tidak terjadi," sambung Tika yang benar-benar tidak memiliki perasaan sama sekali.


"Hentikan Kak, aku malas berdebat. Jadi, aku minta Kakak keluar saja dari kamarku ini, karena mau bagaimanapun aku, Gio akan selalu mencintaiku dengan sepenuh hati serta sepenuh jiwa dan raganya," ucap Tara menimpali sang kakak. Meskipun kalimat Tika tadi terdengar sangat menusuk relung hati Tara saat ini. "Keluar Kak, jangan ganggu jam belajarku, karena belajar lebih penting daripada mendengar kalimat-kalimat Kakak yang tidak ada gunanya itu, sebab emosiku tidak akan pernah terpancing." Tara kemudian terlihat kembali membaca buku yang ada di depan meja belajarnya saat ini.


"Wanita mana yang tidak merasa curiga jika sang suami sampai berminggu-minggu tidak menghubunginya, coba katakan padaku, wanita mana itu Tara?"


Tara memilih untuk tetap membaca buku pelajaran, meskipun pikiran wanita itu sudah mulai dikuasai oleh overthinking gara-gara sang kakak. Namun, ia mencoba untuk tetap terlihat biasa saja. Supaya Tika tidak semakin membuat dirinya berpikiran buruk pada sang suami, yang saat ini masih ada di luar Negeri dan entah bagaimana kabar laki-laki itu Tara sama sekali tidak tahu.


"Wanita munafik!" gerutu Tika yang merasa sang adik mengabaikannya dari tadi. "Aku kasih tahu ya, suami kamu pergi ke luar Negeri hanya untuk bersenang-senang dengan wanita-wanita yang body-nya bagaikan gitar spanyol, karena kamu sebagai istrinya malah tidak merawat diri dan membiarkan badanmu ini kurus kering." Tika malah mengejek sang adik. Dengan kata-kata yang seharusnya tidak pantas diucapkan saat ini. "Tapi percuma saja aku memberitahumu, karena kamu sudah terlanjur sayang dan cinta pada laki-laki yang mungkin saja, sebentar lagi akan meninggalkanmu dan juga akan mencampakkan wanita sepertimu. Sebab di mata Gio, kamu ini hanya mainannya saja yang akan dibuang setelah puas di jadikan budak se x." Tika tersenyum puas, dan setelah itu wanita itu terlihat segera keluar dari kamar Tara.


Sedangkan Tara yang melihat Tika sudah keluar dengan cepat berlari, karena ia ingin mengunci pintu kamarnya. Sebab, air mata wanita itu sudah menggenang di pelupuk matanya.


"Tuhan, apakah yang dikatakan oleh Kak Tika tadi semuanya benar? Jika benar tolong berikan aku ini petunjuk," gumam Tara membatin. Dengan air mata wanita itu yang sudah menetes dari tadi. Karena kalimat Tika benar-benar membuat perasaannya menjadi gelisah. Ditambah Tara tidak pernah berkomunikasi dengan Gio. "Tuhan, aku mohon, sampaikan rasa gelisah dan tidak karuan ini pada Gio, supaya dia tahu kalau aku ini disini benar-benar merasakan rindu yang teramat dalam, apa lagi aku dengan dirinya tidak pernah bersua," sambung Tara membatin.