Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
44


Setelah mengunci Tika di dalam kamar, Arzan dengan cepat kembali turun ke bawah karena ia ingin mendiskusikan masalah yang menimpa putri pertamanya itu, pada sang istri dan juga putri keduanya. Tidak bisa di pungkiri Arzan saat ini benar-benar merasa sangat kecewa sehingga ia tidak bisa berkata apa-apa lagi dengan apa yang telah di lakukan oleh Tika, di tambah dengan Dion yang kabur entah kemana itu yang semakin membuat Arzan murka dan jika Dion berhasil di temukan oleh anak buahnya maka laki-laki itu akan menyesal karena telah berani mempermainkan putrinya seperti saat ini. Apalagi Dion berhasil menanam benih di rahim Tika dan membawa kabur mobil sang putri.


Tidak lama Arzan terlihat menuruni anak tangga dengan pikiran yang sudah semakin kacau-balau. Sehingga laki-laki itu terlihat seperti sedang melamun, membuat Yana sang istri dengan cepat menyusul sang suami, sebab ia takut nanti Arzan bisa saja jatuh dari tangga itu melihat sorot mata sang suami sudah tidak tajam lagi melainkan mata laki-laki itu sekarang terlihat seperti menatap dengan tatapan kosong.


"Pa, apa Papa baik-baik saja?" tanya Yana dengan suara yang serak-serak. Karena ia habis menangis dan wanita itu terlihat meraih lengan sang suami untuk menuntunnya turun. "Pa, tenangkan pikiran Papa semua yang telah terjadi biarlah terjadi, sekarang kita cuma perlu mencari laki-laki yang ingin menikah dengan Tika dan menerima semua kekurangannya termasuk menerima bayi yang ada di dalam kandungannya," ujar Yana setelah tadi pertanyaannya malah di abaikan oleh sang suami.


Sedangkan Arzan yang mendengar kalimat Yana menatap wanita itu sambil berkata, "Tidak akan ada yang mau menikah dengan gadis yang sudah hamil. Sekarang kita hanya perlu mencari Dion." Suara Arzan terdengar sangat lirih. Menandakan ia kecewa berat. "Hanya laki-laki bo doh yang ingin menikah dengan Tika di saat anak itu saat ini sedang berbadan dua."


"Kita akan mengeluarkan uang demi Tika, Pa, supaya aib pada keluarga kita tertutupi," balas Yana, yang mau bagimanapun rasa kecewanya pada Tika. Namun, ia tetaplah seorang ibu yang tidak akan peranah bisa membuang rasa kasih sayangnya pada sang putri meskipun rasa kecwanya seluas lautan. "Sebelum perut Tika membesar, untuk kali ini saja Pa. Pasti akan ada laki-laki yang mau menikah dengan Tika, tapi dengan imbalan uang yang cukup banyak," lanjut Yana.


"Aku saja yang mengalah Ma," kata Tara tiba-tiba. "Aku bersedia di ceraikan oleh Gio, supaya Kak Tika dan Gio bisa menikah, karena Gio juga memaruh rasa pada Kak Tika."


"Jangan egois Gio! Kak Tika adalah Kakakku jadi aku berhak berkorban apa saja untuknya, termasuk membiarkannya menikah denganmu, karena aku rasa kalau aku ini saja yang lebih baik mengalah!" Entah Hati Tara benar-benar terbuat dari apa. Sehingga ia rela mau menyerahkan suaminya sendiri pada sang kakak, dan tidak memikirkan perasaannya sendiri dan perasaan Gio saat ini. "Pokoknya, aku minta kamu ceraikan aku dan segeralah menikah dengan Kak Tika. Supaya keluargaku tidak menanggung malu."


"Aku tidak akan pernah mau Tara, meskipun kamu menangis mengeluarkan air mata darah," timpal Gio. Yang merasa kalau pola pikir sang istri sedang bermasalah gara-gara Tika.


Sedangkan Arzan dan Yana hanya bisa menyaksikan apa yang saat ini sedang di bicarakan oleh Tara dan Gio.


"Gio kali ini saja bantu keluargaku, aku mohon …." Tara memohon sambil memegang telapak tangan Gio.


"Maaf Tara, aku tidak bisa." Gio lalu menepis tangan sang istri dan setelah itu Gio langsung pergi begitu saja.