Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Bab 83: Rindu


"Di mana ini? Apa yang terjadi?"


Suara serak dari sebelah kanan membuat Kinara berjengit. Ia menoleh dan mendapati Billy sedang menatapnya dengan linglung. Ia terlalu fokus pada Lorie hingga melupakan keberadaan pria itu.


"Astaga, apa yang sebenarnya terjadi?"


Kinara berjalan menghampiri Billy. Ia mengamati luka dan lebam di wajah dan lengan pria itu.


"Aku tidak ingat. Lorie datang. Kami hendak masuk saat tiba-tiba ada yang menyerangku. Selebihnya, aku benar-benar tidak ingat," jelas Billy seraya menekan pelipisnya menggunakan tangan yang tidak diinfus.


"Jelaskan padaku, siapa yang melakukan hal ini pada kalian?" tuntut Kinara. Ia berjalan kembali ke ranjang Lorie.


"Ummm ... aku juga tidak tahu. Tiba-tiba tiga orang berpakaian aneh ini datang dan menyerang Billy dengan stun gun. Aku mencoba menolongnya, tapi mereka lebih kuat. Belum sempat meminta bantuan, sepertinya aku pun terkena stun gun," terang Lorie sambil menyeringai kikuk.


Kinara menengok ke arah Billy. "Kamu bermasalah dengan seseorang?"


"Oh ... aku bermasalah hampir dengan semua orang," gumam Billy.


Pria itu mendesah pelan lalu memejamkan mata. Ia berusaha memutar kembali memori terkahir yang terekam dalam kepala, tetapi hanya potongan-potongan tidak jelas yang muncul dan membuat perutnya mual.


"Bagaimana kalian bisa sampai di sini?" cecar Kinara lagi. Semua ini terasa janggal baginya. Tidak mungkin penyerangan ini terjadi tanpa alasan.


"Tidak tahu," jawab Lorie dan Billy bersamaan. Mereka menggeleng lemah di atas tempat tidur.


Kinara menggigit bibir. Ia merasa sangat penasaran. Semua teka-teki ini sangat absurd dan tidak masuk akal.


Kedatangan Jericho yang mendadak ke rumah dan penyerangan ini, apakah ada kaitannya? Tapi jika benar demikian, seharusnya Lorie dan Billy tidak dilepaskan kembali.


"Apa mungkin rumahmu dirampok?" tanya Kinara tiba-tiba.


"Dirampok?" Billy membeo dengan kening berkerut. "Mungkin saja ...."


"Aku akan mengirim orang untuk memeriksa rumahmu. Kamu beristirahatlah agar lekas pulih," kata Kinara untuk menenangkan Billy.


Billy hanya menggumam pelan sebagai jawaban. Kepalanya terasa pengar. Tulang-tulangnya terasa ngilu. Seakan ia baru saja melakukan sebuah perjalanan jauh yang sangat melelahkan dan mengalami jetlag. Namun, semakin ia mencoba mengingat, rasa mual dan pening smakin mendera.


Apakah para bedebahh itu yang melakukannya? pikir Billy dengan mata terpejam. Mungkinkah pria itu ingin agar aku melakukan sesuatu untuknya lagi?


"Maafkan aku. Kau jadi ikut terluka karena aku," ucap Billy sembari menoleh pada Lorie.


"Um. Bukan salahmu," balas Lorie. Ia membalas tatapan Billy sekilas, kemudian mengalihkan pandangannya ke jendela.


Mata Kinara menyipit ketika melihat ke arah Lorie. "Jericho datang ke rumah. Kamu sudah tahu?" tanyanya.


"Apa?" Lorie pura-pura terkejut. Ia tidak bisa mengatakan bahwa ia sedang menculik Billy ketika salah seorang pengawal memberitahunya mengenai hal itu 'kan?


"Jericho memindahkan taman bunga ke ruang tamu," gerutu Kinara dengan nada tidak suka, "Entah apa yang ada dalam otaknya itu. Benar-benar merepotkan. Andai Alex tahu, pasti dia akan mematahkan leher Jericho."


"Aku akan meningkatkan pengamanan di rumah," ujar Lorie seraya berusaha untuk tersenyum. Gadis itu mengernyit. Rusuknya terasa sakit ketika ia bergerak.


Kosong tiga benar-benar sangat berdedikasi dalam menjalankan misinya, gerutu Lorie dalam hati. Ia tidak tahu harus merasa senang atau kesal dengan hasil kerja rekannya itu.


"Fokus pada penyembuhanmu saja dulu," kata Kinara, "Aku masih bisa mengatasinya jika hanya Jericho."


Kali ini Billy yang mengalihkan pandangannya keluar jendela. Tidak mungkin ia mengakui bahwa dirinyalah yang memberi alamat rumah Kinara pada pria brengsekk itu.


"Baiklah. Aku tidak akan menggangu kalian lagi. Kalau ada apa pun yang kalian butuhkan, kabari aku. Oke?" Kinara menatap Lorie dan Billy bergantian. "Semoga lekas sembuh."


"Kinara," panggil Lorie, "Untuk saat ini, tolong jangan pergi kemana pun, termasuk kampus. Oke? Tunggu aku pulih--"


"Tenanglah. Aku mengerti." Kinara tersenyum lembut dan menepuk lengan Lorie sekilas. Untuk saat ini, ia pun tidak berani bertindak macam-macam sebelum memastikan apa yang terjadi di rumah Billy.


Setelah yakin bahwa Lorie dan Billy baik-baik saja, Kinara berpamitan dan pulang. Ia berjalan menuju tempat parkir sambil berpikir keras.


"Baik, Nyonya," jawab pengawal yang duduk di kursi depan.


Kinara menarik napas dalam-dalam. Ini bahkan belum satu minggu sejak kepergian Alex. Pria itu selalu bisa diandalkan ketika dalam keadaan seperti ini ... ah, tiba-tiba Kinara merasa sangat rindu pada suaminya.


***


"Kudengar Billy dan Lorie baru saja dibawa pergi dari sini?" tanya Alex pada seorang pemuda yang memakai kacamata bulat di sampingnya.


Pemuda itu mengangguk singkat. "Benar, Tuan. Lorie membawa Billy ke sini untuk diperiksa oleh dokter Ana," jawabnya.


"Bagaimana hasilnya?"


"Chip itu tidak bisa dikeluarkan, tapi Lorie berhasil membuat Billy memberi sedikit petunjuk," jelas pemuda itu sambil menyodorkan alat perekam yang diberikan oleh Lorie.


Alex menekan tombol on dan mendengarkan percakapan yang terekam di sana. Suara Billy yang kepayahan membuatnya ikut merasa sakit. Tanpa sadar tangan Alex menggenggam alat perekam itu hingga buku-buku jarinya memutih.


"Tuan?"


"Tandai radius yang dapat dicapai dalam waktu dua jam dengan kecepatan delapan hingga sembilan puluh kilometer per jam dari rumah Billy. Cari bangungan yang bisa menampung lebih dari seratus orang," titah Alex. Kalau perhitungannya benar, seharusnya bedebahh itu sudah sangat dekat untuk ia genggam dan hancurkan.


"Baik." Pemuda itu menerima kembali alat rekam dari Alex dan menyimpannya dalam tas. "Saya akan menghubungi Anda kalau sudah ada titik terang."


Alex mengangguk. "Pergilah," ujarnya.


Pemuda itu membalikkan badan dan berjalan menuju pintu. Namun, langkah kakinya tiba-tiba berhenti ketika ia mengingat sesuatu. "Tuan muda Jericho datang ke kediaman Anda tadi pagi. Maafkan kelalaian saya," akunya.


Alex mendengkus. "Bajingann itu ... apalagi yang diinginkannya. Aku sudah sangat bermurah hati dengan tidak mengambilnya nyawanya," gumamnya dengan intonasi penuh ancaman.


"Saya sudah mengirim kosong dua untuk menggantikan posisi Lorie selama dia berada di rumah sakit. Anda jangan khawatir."


"Hm."


Pemuda itu menunduk sekilas kemudian berjalan keluar. "Dokter," sapanya ketika berpapasan dengan dokter Ana di depan pintu.


Dokter Ana membalas teguran itu dengan senyuman, lalu meneruskan langkahnya ke dalam ruangan. Seperti biasa, Jacob dan Bryan mengekor di belakangnya. Kali ini Bryan mendorong rak makan yang ditutupi tudung aluminium. Ia berhenti tepat di sisi kiri Alex.


"Makan siang Anda, Tuan," ujar Bryan sambil membuka tutup makanan dan menyusunnya di atas nampan.


"Bagaimana kabarmu?" tanya dokter Ana pada Alex.


"Baik."


"Ada keluhan? Mual atau berkunang-kunang?"


Alex menggeleng. "Aku rasa ... aku bisa menggerakkan ibu jariku."


Baik dokter Ana, Jacob, Bryan, dan Alex sendiri menatap ujung kakinya. Bongkahan daging itu bergerak pelan dari kanan ke kiri, kemudian berputar. Meski gerakan itu sangat pelan dan terputus-putus, tapi itu merupakan kemajuan yang sangat besar.


Dokter Ana tersenyum hingga lengkungan di bibirnya hampir menyentuh telinga. "Selamat. Operasi ini sukses. Dan, perkembangan ini lebih cepat dari yang seharusnya."


"Benarkah?" Sorot mata Alex penuh harapan. "Kalau begitu ... apakah aku bisa pulang lebih cepat?"


"Melihat progres ini, seharusnya bisa. Kita bisa melanjutkan fisioterapi di rumah, atau di sini."


Dokter Ana menunduk dan mulai mencatat dalam jurnalnya, masih dengan seringai lebar tersungging di wajahnya. Keberhasilan ini membuatnya sangat bersemangat.


"Sekarang habiskan makan siangmu dan minum obat," ujar wanita itu lagi setelah selesai mencatat, "Kita sudah berjalan sejauh tiga per empat bagian. Butuh tenaga ekstra untuk menyelesaikan sisanya."


Alex menyendok makanan di atas nampan tanpa banyak protes. Tanpa sadar ia ikut mengulas senyum. Ia sudah sangat rindu pada istrinya yang imut dan menggemaskan, tentu saja ia akan melakukan apa pun agar bisa segera pulang.