Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Chapter 98


“Kamu!” Raymond sangat kesal sehingga memelototi Daniel dengan sadis. Kalau bukan karena ada Lorie di sana, sudah jelas ia tidak akan segan untuk kembali bertarung dengan pria sok tampan itu!


Daniel mencebik dan memberi tatapan mencemooh.


“Apa? Setidaknya kalau ingin mencari gara-gara denganku, pergi mandi dan ganti pakaianmu itu dulu. Benar-benar lusuh seperti gelandangan. Menurunkan levelku kalau sampai berkelahi denganmu,” cibirnya.


Kali ini giliran wajah Raymond yang merah padam. Tiba-tiba ia menyesali sikap keras kepalanya tadi malam yang tidak mau diobati oleh perawat. Sekarang, bukankah tampangnya menjadi lebih jelek dibandingkan berandalan di hadapannya itu?


Meski Lorie tidak bersuara sama sekali dan tidak memberikan komentar apa pun dari awal sampai akhir, ia tahu wanita itu sedang menatapnya. Raymond merasa sangat malu hingga ingin menghilang dari hadapan kedua orang itu.


“Aku tidak sempat berganti pakaian karena berjaga di sini, bukan seperti kamu yang pesolek... baru dipukuli sedikit langsung pulang dan memperbaiki penampilanmu yang tidak ada bagusnya itu,” balas Raymond dengan geram.


Daniel yang merasa sudah berhasil mempermalukan rivalnya tampak sangat puas. Ia memilih untuk mengabaikan ucapan Raymond barusan, lalu meniup bubur dengan gerakan yang sangat elegan dan menyodorkannya kepada Lorie sambil berkata, “Jangan hiraukan dia, cepat makan selagi buburnya masih hangat.”


“Tidak usah, aku bisa makan sendiri,” ujar Lorie ketika melihat Daniel ingin menyuapinya.


“Kenapa? Kamu sedang sakit, tanganmu juga masih diinfus,” protes Daniel. “Hanya menyuapimu saja, apa yang kamu takutkan?”


Lorie hanya tersenyum dan memaksa Daniel untuk menyerahkan mangkuk bubur kepadanya. Akhirnya Daniel menyerah dan meletakkan mangkuk di atas nampan sebelum memberikannya kepada Lorie.


“Terima kasih,” kata Lorie sebelum menunduk dan menyantap sarapannya perlahan. Ucapan Raymond yang memberi tahu bahwa dia berjaga semalaman di sampingnya membuat hatinya bergejolak. Untuk menutupi perasaan yang kompleks itu, ia tidak mengangkat wajahnya untuk menatap Raymond ataupun Daniel. Lebih baik menjaga jarak dari keduanya.


Raymond yang masih berdiri di sana dengan memupuk rasa tidak tahu malunya sedikit mengernyit. Bukankah terakhir kali saat bertemu, Daniel mengatakan bahwa dia adalah calon suaminya? Mengapa Lorie terkesan menjaga jarak?


“Nanti sore aku akan kembali ke Dubai.” Suara Daniel memecah keheningan.



Lorie menoleh sekilas dan mengangkat alisnya.



“Oh, ada pekerjaan?” tanyanya.



“Ya. Ada rapat penting dengan dewan direksi yang tidak bisa dilewatkan. Aku akan segera kembali—“


“Tidak perlu,” sela Lorie. “Kamu jangan khawatirkan aku. Di sini ada Alex, Billy, dan Dokter Ana yang akan mengurusku.”


Hati Raymond terasa getir ketika namanya tidak disebut, tapi ia hanya diam dan tidak membuat ulah. Takutnya Lorie hanya akan semakin kesal kepadanya. Di sisi lain, Daniel yang menyadari Lorie tidak menyebut nama Raymond langsung merasa sangat senang. Itu membuatnya tidak terlalu cemas meski harus kembali ke Dubai dan meninggalkan Lorie di sini.


“Baiklah kalau kamu mengatakan begitu. Aku akan mendengarkanmu, tapi jangan lupa untuk membalas pesan atau menerima panggilan video dariku. Oke?”


“Oke.”


Wajah Raymond terlihat semakin masam dan jelek. Sebenarnya bagaimana hubungan kedua orang itu? Apakah mereka sedang sengaja memamerkan kemesraan di hadapannya? Apakah mereka menganggapnya sebagai seekor lalat atau obat nyamuk? Sungguh menjengkelkan!


“Pergi obati lukamu,” ucap Lorie tiba-tiba.


“Eh?” Raymond sedikit terkejut karena Lorie mengatakan hal itu seraya menoleh ke arahnya.


“Aku bilang, pergi obati lukamu. Itu bisa infeksi. Apa kamu bodoh? Terus berdiri di sini dan menonton aku makan.”


Ha!


Sepertinya pria itu cemburu. Bagus sekali! Kalau begitu, meski perhatian Lorie sedikit tidak tulus juga sudah cukup. Sangat lebih dari cukup!


“Aku pergi sekarang, segera kembali untuk menemanimu,” ucap Raymond sebelum melesat keluar.


“Jangan lupa bersihkan dirimu dan ganti pakaianmu itu, Gembel!” teriak Daniel.


“Fck you!” balas Raymond seraya mengempaskan pintu.


Lorie menghela napas dan memijit pelipisnya. Sampai kapan ia harus menghadapi dua pria tidak masuk akal ini?


“Ada apa? Mana yang sakit? Perlu kupanggilkan dokter?” tanya Daniel.


“Untuk apa memanggil dokter? Bukankah kalian berdua yang membuatku sakit kepala?” balas Lorie.


“Itu ....” Daniel langsung memasang ekspresi memelas. “Salah siapa kamu perhatian dengannya? Membuat hatiku sangat sakit ....”



“Kamu omong kosong apa?” Lorie menggerutu dan hendak menyingkirkan nampan dari atas ranjangnya, tapi Daniel bergerak lebih cepat dan memindahkan benda itu untuknya.



Setelah menaruh nampan di atas meja, Daniel menatap Lorie dengan serius dan bertanya, “Lorie, apakah sungguh tidak ada kesempatan untukku?”



Ia tahu meski Lorie berusaha menutupinya, cara wanita itu menatap Raymond sangat berbeda. Tatapan seperti itu tidak pernah ditujukan untuknya.


“Katakan, bagaimana caranya agar aku tidak merasa cemburu?” tanyanya lagi dengan penuh kesungguhan.


“Sebenarnya itu cukup mudah,” jawab Lorie.


“Bagaimana?”


“Jangan temui aku lagi.”


Daniel tertegun cukup lama sebelum akhirnya berkata dengan raut wajah yang terlihat sangat merana, “Sungguh wanita yang sangat kejam. Apakah ini karmaku karena suka mempermainkan banyak wanita sebelumnya, ya, Tuhan?”


Lorie tidak bisa menahan tawa. Ia mengulurkan tangan untuk menyentil kening Daniel sambil bergumam, “Rasakan, Playboy!”


Daniel menggeleng sambil mendesah pelan, “Sungguh wanita berhati baja yang sangat kejam.”


Meski begitu, ada senyum lebar dan tulus yang muncul di wajahnya. Perasaan tidak bisa dipaksakan, bukan? Seperti yang sudah ia pikirkan sebelumnya, berteman pun cukup bagus ... seharusnya ia tidak akan merasa sakit hati setiap kali melihat Lorie perhatian terhadap Ramond, ‘kan?


Hah ....


Hatinya benar-benar tidak tertolong lagi ....


***