
"Aku baik-baik saja. Ayo kembali sebentar, aku harus mengambil barang-barangku," ujar Kinara sambil menengok ke belakang.
Lorie mempererat cekalan di tangan Kinara. Ia terus menarik Kinara menuju deretan pertokoan, tempatnya memarkirkan mobil.
"Jangan bercanda! Kita belum tahu supir itu benar-benar kehilangan kendali atau sengaja mengincarmu!" sergahnya.
Kinara mendesah pelan. "Jangan beri tahu Alex kejadian ini. Aku tidak ingin kamu dihukum lagi."
Dengkusan panjang terdengar dari mulut Lorie. "Sepertinya kamu memang sengaja membuatku terus dihukum," gerutunya dengan wajah masam.
"Tidak! Mana ada?" sanggah Lorie sambil menyeringai kaku, "Pokoknya jangan biarkan Alex tahu, oke?"
"Hm. Masuklah."
Lorie melepaskan pegangannya dan membiarkan Kinara masuk ke mobil. "Kamu pikir dia hanya mendapat informasi dariku saja? Meski aku menyimpan hal ini rapat-rapat, tuan Alex pasti akan tetap tahu," ocehnya sebelum masuk dan menyalakan mobil.
Kinara menggigit bibirnya dengan cemas. "Benarkah? Apa yang harus kita lakukan?"
"Yang harus kamu lakukan adalah menurut padaku. Jangan terlalu keras kepala," jawab Lorie seraya melirik dari kaca spion.
Wajah Kinara terlihat lesu. Sebenarnya ia bukan keras kepala, tapi ia sungguh tidak ingin menjadi pusat perhatian. Rolls Royce Dawn ini sangat berlebihan untuk seorang mahasiswi. Orang-orang akan mulai bergunjing dan mencari tahu kalau sampai melihatnya keluar dari mobil ini di kampus.
"Maaf ...," gumam Kinara pelan. Pundaknya terkulai. Seribu satu cara melintas di kepalanya. Cara untuk menjelaskan pada Alex, kalau-kalau pria itu mengamuk lagi nanti.
Lorie menarik napas dalam-dalam. Ia tidak bisa sepenuhnya menyalahkan Kinara. Majikannya itu pasti ingin tetap menjalani kehidupan seperti biasa. Namun, statusnya sebagai istri Alex Smith membuatnya harus berbeda.
"Kamu hanya perlu menurut sebentar. Setelah tuan Alex berhasil pulih dan mencari tahu semua kebenarannya, kamu bisa melakukan apa pun yang kamu mau. Tapi untuk saat ini, bersabarlah. Meski kamu bisa seni bela diri, itu tidak menjamin keselamatanmu," jelas Lorie dengan nada suara sedikit melembut.
"Baik. Aku akan lebih berhati-hati dan tidak ceroboh lagi," janji Kinara sambil mengacungkan jarinya dan membentuk huruf v.
Lorie kembali fokus pada setir dan jalanan di hadapannya. Seharusnya ia membiarkan Kinara tidur saja tadi.
***
"Apa yang kamu rasakan?" tanya dokter Ana sambil mengetuk-ngetuk lutut Alex dengan reflex hammer.
Wanita itu baru saja melakukan fisioterapi manual, merangsang saraf-saraf motorik pasiennya agar bisa kembali menerima perintah dari otak dengan baik.
"Seperti kesemutan. Sedikit sakit," jawab Alex dengan kening berkerut. Akhir-akhir ini indera perasa di bagian kaki kembali berfungsi dengan baik. Perubahan itu bisa dibilang berkembang dengan cukup cepat.
"Ayo, coba berdiri," kata dokter Ana setelah menyimpan kembali peralatannya.
Alex menumpu kedua tangannya pada pegangan kursi roda, lalu mengangkat telapak kaki. Jacob dan Bryan membantunya bertumpu pada pegangan besi yang dibuat khusus untuk Alex berlatih berjalan. Meski kedua tangannya gemetar, Alex tetap fokus pada jalur yang harus dilewatinya.
Sedikit demi sedikit, Alex melonggarkan cekalan tangannya dan membiarkan kakinya menapak lantai. Rasa nyeri menjalar dari telapak kaki. Sensasi seperti ditusuk-tusuk oleh ratusan jarum kecil merambat hingga ke pangkal paha. Alex menahan semua rasa tidak nyaman itu dan berusaha menggerakkan kaki kanannya perlahan. Maju ... terus maju ....
"Ugh!" erang Alex ketika kaki kanannya berhasil mencapai batas yang harus dilewati. Tak lama kemudian, ia kembali mengangkat kaki kirinya, mengarahkannya agar sejajar dengan kaki kanan. Begitu seterusnya hingga akhirnya ia berhasil melampaui jarak yang harus ditempuhnya.
Jacob dan Bryan telah menunggu di ujung. Mereka segera menangkap tubuh Alex dan membantunya duduk di kursi roda. Bulir keringat sebesar biji jagung menetes dari kening dan lengannya. Menempuh jarak yang tak lebih dari empat meter itu sungguh menguras tenaganya. Ia bersandar di kursi roda dan mengatur deru napas yang tak beraturan.
Dokter Ana mendekat dan memeriksa denyut jantung Alex. Ia menempelkan stetoskop di telinga, lalu mendengarkan dengan saksama. Setelah satu menit, ia melepaskan alat itu kemudian memeriksa tekanan darah.
"Bagus," ujarnya ketika melihat angka yang tertera di tensimeter.
"Apakah itu artinya aku sudah boleh pulang?" tanya Alex.
Dokter Ana tersenyum lebar. "Karena kamu sudah berusaha keras dan pulih dengan cepat, kamu boleh pulang hari ini. Aku akan berkunjung ke rumahmu--"
"Tidak. Lebih baik terapi dilakukan di sini saja," sela Alex.
Pria itu tidak mau orang-orang di sekitarnya mengetahui perkembangannya. Ia sudah berjuang sejauh ini, ia tidak ingin musuhnya menyusun rencana untuk mencelakainya lagi.
"Baiklah," kata dokter Ana, "sampai berjumpa besok. Aku akan ada di sini sekitar pukul sepuluh pagi."
"Baik," ujar Alex, "Oh, bagaimana tempat barumu? Apakah ada hal lain yang kamu perlukan?"
Setelah insiden operasi tengah malam waktu itu, dokter Ana belum pernah kembali ke kediamannya lagi. Alex membelikan sebuah rumah di dekat markasnya untuk wanita itu, berjaga-jaga kalau orang-orang suruhan si pria tanpa nama masih mengincar wanita itu.
"Kalau begitu, sampai jumpa besok."
Alex semringah. Meski seluruh tubuhnya terasa sakit dan nyeri, tapi hatinya terasa hangat. Sebentar lagi ia akan pulang.
***
Kinara menggeliat ketika udara dingin menyapu permukaan kulit. Tangannya menggapai-gapai, mencari selimut untuk membungkus kembali tubuhnya. Namun, sebuah lengan besar dan kokoh menariknya hingga menabrak sesuatu. Gadis itu bergumam dalam tidurnya ketika merasakan gerakan jemari di punggungnya, mengusap perlahan dan hati-hati.
"Kelinci Kecil, tidurmu nyenyak sekali," gumam Alex di dekat telinga istrinya.
Aroma maskulin yang kuat menguar dari tubuh pria itu. Ia langsung membersihkan diri ketika tiba tadi, lalu dengan tidak sabar berguling ke atas kasur untuk menggoda istrinya. Padahal baru pukul sebelas malam, tetapi gadis mungil di hadapannya ini sudah tertidur pulas.
Alex memerhatikan wajah gadisnya yang sedang terlelap, sangat imut dan menggemaskan. Raut wajah itu sangat berbeda jauh dengan sikap keras kepalanya yang terkadang menempatkannya dalam bahaya. Ia mengusap pipi istrinya dengan lembut, kemudian mengecupnya sekilas. Lagi-lagi Kinara menggeliat, mungkin karena cambang yang baru tumbuh di pipi Alex menggesek kulitnya.
Plak!
"Aw," seru Alex sedikit tertahan. Telapak tangan Kinara baru saja mendarat di pipinya. Sepertinya gadis itu mengira ia adalah seekor nyamuk.
Tiba-tiba timbul niat Alex untuk mengerjai gadis dalam pelukannya. Ia menunduk dan kembali mendaratkan sebuah ciuman ringan. Benar saja, tak lama kemudian tangan Kinara kembali terangkat dan terayun ke arahnya. Dengan sigap Alex menangkis pukulan itu, lalu menahan tangan Kinara di atas kepala.
Kelopak mata Kinara bergetar ketika merasakan aroma mint mengusik indera penciuman. Rasanya seperti Alex sedang menciuminya, hangat dan basah. Garis-garis halus muncul di kening Kinara, ciuman itu terasa sangat nyata, seakan ia tidak sedang bermimpi.
"Alex?" gumamnya seraya mencoba membuka mata.
Alex memanfaatkan kesempatan itu untuk memperdalam ciumannya, menelusup masuk dan menjarah mulut istrinya. Tangannya bergerak menyapu pundak dan punggung Kinara, terus bergerak turun hingga paha. Ia mengusap dari atas ke bawah, bermain-main di beberapa titik sampai Kinara terkesiap dan terbangun. Alex menjauhkan waktunya, membalas tatapan istrinya yang terlihat linglung dan belum sepenuhnya sadar.
"Halo, Pembuat Onar. Aku membangunkanmu?"
Kinara terpana sesaat ketika mendengar suara yang sangat dirindukannya belakangan ini, lalu tanpa aba-aba ia melemparkan diri ke dalam pelukan suaminya.
"Wooo ... easy, Girl," ujar Alex sambil menahan tubuh istrinya yang hampir terjungkal. Ia terkekeh bahagia melihat respon gadisnya yang sangat antusias.
Kinara menatap wajah suaminya lekat-lekat, menyentuh pipi dan dagu pria itu untuk memastikan bahwa ia tidak sedang bermimpi. "Kamu pulang?" tanyanya.
"Aku pulang."
"Kamu sudah pulang ...," ulang Kinara dengan wajah berseri. Ia terlalu gembira hingga tak menyadari kini ia posisinya setengah berbaring di atas tubuh Alex. Ia menunduk dan mendaratkan beberapa kecupan di kening dan pipi suaminya itu.
"Kamu berat sekali. Aku harus memberi penghargaan pada Lorie karena telah merawatmu dengan sangat baik," goda Alex
"Apa katamu? Menyebalkan sekali!"
Kinara memelototi suaminya. Ia hendak berguling turun dari atas tubuh Alex, tetapi pria itu menekan pinggulnya dengan kedua tangan. Seluruh tubuh Kinara meremang ketika jemari Alex kembali bergerak naik, mengusap punggung dan berhenti di tengkuknya.
"Aku merindukanmu," ucap Alex dengan suara parau.
Kinara terlihat salah tingkah ketika membalas ucapan suaminya, "Aku juga merindukanmu."
Tangan kanan Kinara yang bertumpu di dada Alex dapat merasakan debaran jantung pria itu yang semakin meningkat. Deru napas suaminya itu pun mulai tak beraturan. Kinara menggigit bibirnya dengan gelisah. Ia mencoba bergerak tetapi Alex sama sekali tak mau melepaskannya.
"Kinara, bolehkah aku ...."
Perkataan itu membuat Kinara terdiam cukup lama. Otaknya mendadak beku. Ia tahu dengan jelas apa yang dimaksud oleh suaminya. Tentu saja ia bisa menolak, mereka belum mengubah isi surat perjanjian pra-nikah. Namun ....
Kinara menyentuh dagu Alex. Perlahan ia mendekatkan wajah dan mencium bibir suaminya. Alex mendesah ketika Kinara mengulumm bibirnya dengan gerakan yang kaku. Pria itu mengetatkan pelukannya, menekan tengkuk istrinya dengan lembut.
Darah Kinara berdesir ketika jemari suaminya menelusup ke balik baju. Telapak tangan yang besar itu mengantarkan kehangatan di tiap bagian yang disentuhnya. Bara api memercik ke mana-mana, mengantarkan gelenyar-gelenyar aneh yang memabukkan.
Alex melumatt habis bibir istrinya, mencecap semua rasa yang sangat dirindukannya selama sepuluh hari ini. Tangannya bergerak cepat, melepaskan piyama yang menempel di tubuh istrinya.
Kinara bergidik ketika udara dingin menerpa kulitnya yang telanjang, tapi Alex tidak memberinya waktu untuk berubah pikiran. Ia menangkup wajah istrinya dan kembali mencumbunya dengan penuh hasrat.
Udara dalam kamar meningkat dengan cepat, seiring deru napas dan gaira*h yang tak lagi tertahan.