Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Bab 142: Bertahanlah, Aku Mohon


"Baby ... Baby, aku di sini .... Semua akan baik-baik saja. Bertahanlah," ujar Alex sambil menggenggam tangan Kinara dengan erat.


Hatinya terasa sakit, istri mungilnya tidak memberi respon sama sekali. Wanita itu terbaring dan tidak bergerak sama


Alex berlari di sisi brankar yang membawa Kinara menuju ICU. Melihat darah yang begitu banyak di sekujur tubuh istrinya membuatnya mengigil. Tangan Kinara dalam genggamannya terasa sangat dingin sampai-sampai tubuhnya sendiri seakan ikut membeku. Pria itu tersaruk-saruk mengikuti istrinya hingga para perawat menahannya di depan pintu.


Tubuh Alex merosot begitu saja ke atas lantai rumah sakit. Ia menatap telapak tangannya yang merah dan berbau anyir. Darah istrinya menempel di mana-mana. Tangannya gemetaran. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Matanya semerah darah, menatap kosong pada pintu ICU yang tertutup rapat. Padahal baru beberapa menit yang lalu wanita mungilnya bersandar di dadanya dan berceloteh dengan riang. Namun sekarang, istrinya itu terbaring tak berdaya di atas meja operasi.


Alex menarik rambutnya dan berteriak sekuat tenaga. Dadanya terasa sesak hingga rasanya ia ingin mati saja. Seharusnya ia bisa mencegah hal ini. Seharusnya ia membunuh Amanda Shu ketika wanita itu mendatanginya waktu itu. Seandainya waktu bisa diputar kembali ... seandainya ....


Pria itu benar-benar merasa gagal sebagai suami. Bahkan menjaga istrinya saja ia tidak mampu. Sungguh tidak berguna!


"Dasar tidak berguna! Tidak berguna!" teriak Alex sambil memukuli kepalanya.


Ia terus meraung dan memaki tanpa henti. Setelah kehilangan kedua orang tuanya, ia sungguh tidak sanggup jika harus kehilangan Kinara juga.


"Kinara, baby ... maafkan aku yang tidak berguna ini. Tidak bisa menjagamu dengan baik ... maafkan aku ... maaf ...."


Lorie menyaksikan semua itu dari ujung lorong. Ia sangat merasa bersalah. Seandainya ia lebih waspada. Seandainya ia lebih cepat menahan langkah Kinara, maka semua ini tidak akan terjadi. Kinara sudah seperti sahabat ... tidak, ia sudah menganggap Kinara seperti saudaranya sendiri. Menyaksikan Kinara tergeletak di atas tanah tadi dengan genangan darah yang begitu banyak, Lorie ingin mencincang jasad Amanda Shu yang dibawa ke rumah sakit ini juga. Semoga wanita gila itu membusuk di neraka selamanya!


"Hey."


Lorie menoleh ketika mendengar suara bariton di sebelahnya. Ia sedikit terkejut ketika melihat Raymond menyodorkan sapu tangan padanya.


"Ambillah," kata Raymond ketika Lorie hanya terpaku dan menatapnya dengan mata sembab.


"Terima kasih," ujar Lorie dengan suara serak.


"Menurutmu, apa dia akan selamat?" gumam Lorie sambil menatap nanar ke pintu ICU yang masih tertutup rapat, "Apakah dia akan berhasil bertahan? Dia perempuan yang kuat, kau tahu? Tapi kali ini ... kali ini ... seharusnya aku lebih cepat menahannya tadi. Ini semua salahku. Salahku."


Raymond menepuk-nepuk bahu Lorie pelan.


"Bukan salahmu. Seharusnya tadi aku berlari lebih cepat, berteriak lebih keras. Ini salahku juga, tidak bisa menjaganya dengan baik." Raymond menghela napas sebelum melanjutkan, "Mari berdoa agar dia baik-baik saja."


"Apa yang harus kulakukan kalau dia tidak berhasil melewatinya? Apa yang harus kulakukan?"


Pundak Lorie bergetar. Ia berusaha sekuat tenaga agar tangisnya tidak pecah. Namun, semakin keras ia mencoba, air mata yang menetes di pipinya semakin deras.


"Sshhh ... tenanglah, dia pasti bisa melewatinya. Tenanglah ...."


"Aku akan ke sana. Tuan Alex pasti ... um, kamu pulanglah dan bersihkan dirimu. Terima kasih atas bantuanmu," ujar Lorie seraya membungkuk dalam-dalam.


Tanpa menunggu jawaban Raymond, ia segera berjalan cepat ke arah tuannya yang masih berjongkok di lantai dengan sangat menyedihkan.


"Tuan, maafkan saya. Saya tidak bisa menjalankan tugas dengan baik. Perintahkan hukuman yang harus saya jalani."


Lorie berlutut dan menunduk hingga kepalanya menyentuh lantai.


Alex menoleh sekilas kemudian kembali menatap pintu ICU.


"Membunuhmu sekalipun tidak akan mengubah apa-apa. Jika dia bangun dan tahu aku menghukummu, dia pasti akan membenciku," jawab Alex dengan tatapan menerawang. Kinara selalu menyukai Lorie. Ia tidak mau mengecewakan istrinya lagi.


Mendengar penuturan Alex membuat Lorie menangis lagi. Kinara telah sangat banyak mengubah tuannya yang dingin dan kejam itu. Tidak. Kinara bukan hanya mengubah Alex. Wanita itu juga telah mengubahnya menjadi lebih manusiawi, lebih memiliki emosi dan empati.


Sekarang karena kelalaiannya, mungkin saja tuannya akan kehilangan belahan jiwanya. Hal itu membuatnya ingin menembak kepalanya sendiri.


Lorie tetap berlutut di dekat Alex tanpa bergerak atau mengeluarkan suara sama sekali. Untuk pertama kali dalam hidupnya, ia berdoa dengan sungguh-sungguh, meminta belas kasihan dari Tuhan yang tidak pernah ia kenal sebelumnya. Ia terus berlutut dan berdoa hingga akhirnya pintu di hadapannya terbuka. Ia mendongak, tapi tidak beranjak dari posisinya.


"Dokter, bagaimana kondisi istriku?" tanya Alex seraya melompat bangun.


"Keadaan istri Anda cukup kritis, Tuan. Dia mengalami patah tulang bahu dan kaki kanan, tempurung kepalanya retak. Apakah nyonya pernah mengalami benturan keras sebelumnya?"


"Ya. Beberapa bulan lalu," jawab Alex dengan suara getir.


"Hal itu menyebabkan cederanya menjadi lebih serius. Kami sudah melakukan tindakan untuk mencegah pendarahan di otak. Mari berharap yang terbaik agar istri Anda bisa melewati masa kritisnya."


Wanita itu berdeham sebelum melanjutkan, "Sedangkan untuk kondisi kandungannya ... itu, kandungan istri Anda sangat lemah. Pendarahannya cukup banyak meski berhasil dihentikan tepat waktu. Trimester pertama sangat rentan, dan--"


"Kandungan?" sela Alex dengan raut benar-benar terkejut, "Apa maksud Anda?"


Dokter itu mengernyit dan berkata, "Istri Anda sedang mengandung, Tuan. Anda tidak mengetahuinya?"


"H-hamil? Istriku sedang hamil?"


"Ya. Usia kandungan sudah hampir sembilan minggu. Ada tiga kantung embrio--"


"Tiga?!" seru Alex tanpa sadar.


Ia benar-benar shock hingga kehabisan kata-kata. Mulutnya membuka dan menutup tanpa suara. Tangannya bergerak di udara, seakan ingin menggapai sesuatu yang tak kasat mata. Namun akhirnya, Ada empat nyawa yang sedang berjuang di dalam sana dan ia sama sekali tidak bisa melakukan apa pun.


"Apakah ... apa mereka bisa bertahan?" tanya Alex setelah bisa mencerna semua informasi itu dan berusaha menerima kenyataan pahit yang terjadi.


"Jika istri Anda berhasil melewati masa kritis malam ini, kemungkinan janin untuk bertahan sekitar 20 persen. Namun jika setelah dua hari masih ada pendarahan susulan, maka dengan sangat terpaksa janin tidak bisa dipertahankan karena akan membahayakan nyawa istri Anda."


Alex terdiam, menatap pintu ICU tanpa berkedip. Jika ia bisa menukar nyawanya dengan Kinara dan anak mereka, maka ia akan melakukannya dengan sukarela.


"Kami akan segera memindahkan istri Anda ke ruang pemulihan. Silakan ke bagian administrasi lebih dulu. Anda bisa ke ruangan saya jika ingin berkonsultasi lebih lanjut."


"Baik. Terima kasih."


Alex bersandar ke tembok dan menutup wajahnya dengan tangan.


"Lorie, tolong urus semuanya. Aku ... aku ..."


"Baik, Tuan."


Lorie bangun dan hampir terjatuh ketika kedua tungkainya seperti ditusuk ribuan jarum.


"Hati-hati," ujar Raymond seraya menangkap tubuh Lorie.


"K-kamu masih di sini?"


"Ya. Ayo, aku temani ke bagian administrasi," jawab Raymond sambil memapah Lorie.


Pemuda itu menatap Alex dan berkata, "Dia pasti baik-baik saja. Anak-anak kalian juga pasti baik-baik saja."


Ia menepuk pundak Alex sebelum menuntun Lorie menyusuri lorong. Rasa sakit di dalam sorot mata Alex dapat ia rasakan. Jika ia berada di posisi pria itu, mungkin ia akan hancur berkeping-keping.


Alex terpaku di tempatnya setelah Lorie dan Raymond menjauh. Ia tidak tahu apa yang haru dilakukan. Memikirkan kemungkinan ia akan kehilangan bayi yang belum sempat dimilikinya membuatnya benar-benar hancur.


Tiga embrio ... ya, Tuhan, mereka bahkan belum terbentuk dengan sempurna.


Alex ingin menangis tetapi rasanya semua air matanya telah terkuras habis. Seharusnya ia lebih peka ketika Kinara uring-uringan dan muntah. Ia justru meminta istrinya itu menjadi umpan untuk menangkap Nathan. Suami macam apa dirinya?


"Baby, kumohon maafkan aku. Berjuanglah bersama bayi kita, oke? Aku berjanji akan menjadi suami dan ayah yang baik. Aku janji akan menjaga kalian dengan baik. Kumohon, bertahanlah ...."


***