Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda

Pengantin Pengganti Untuk Tuan Muda
Gelut di Atas Ranjang


"Apa yang ingin kamu lakukan?" Tara bukannya takut gadis itu malah semakin melotot dan segera berdiri ingin membuat perhitungan dengan Gio, karena laki itu sudah dua kali mendorongnya tapi kali ini ia sampai terjatuh. "Jangan, macam-macam kau, g*y!" Tara yang tadi ingin membuat perhitungan dengan Gio mendadak mundur gara-gara sang suami sudah membuka seluruh pakaiannya.


"Aku bukan g*y, Tara! Jadi, jangan panggil aku dengan nama panggilan itu aku tidak suka!" bentak Gio yang semakin mendekati Tara. "Jangan kamu pikir aku diam saja karena tidak berani kepada gadis sepertimu ya, kamu salah besar Tara!" Suara Gio memenuhi kamar hotel itu. Sehingga membuat Tara yang tadi ngantuk kini mata gadis itu terlihat melotot sempurna.


"Mulut-mulutku, kenapa kau yang sewot?!" Meski gadis itu mundur tapi bibir tipisnya terus saja berbicara kepada Gio. "Pegi sana! Jika kau ingin pergi jangan malah buat keributan di hotel ini!"


"Kalau aku tidak mau apa yang akan kamu lakukan?" Gio terus saja menatap Tara. "Bukankah, ini juga malam pertama kita. Tapi kenapa kamu malah terus-terusan mengusirku? Tidakkah kamu berpikir bahwa aku laki-laki normal, yang ingin meminta hakku malam ini juga."


Tubuh Tara sudah mentok di dinding tembok, sehingga gadis itu terlihat tidak bisa mundur lagi. "Jangan mendekat lagi Gio! Stop …!"


"Kenapa, apa kamu mulai takut sekarang?" tanya Gio, lalu tidak berselang lama laki-laki itu malah menarik tangan Tara dan menghempaskannya ke atas ranjang. "Aku ingin meminta hakku kepadamu Tara, malam ini juga," ucap Gio sambil menyeringai elegan.


Tara yang di b*nting merasa seluruh tubuhnya sangat sakit, meski ia jatuh di atas kasur yang sangat empuk. "Kau …!" Tara menunjuk wajah Gio yang terlihat sangat menyebalkan sekali di mata gadis itu. "Pergi! Jika kau tidak mau berurusan dengan Papaku!"


Detik itu juga Gio terkekeh sebab mendengar Tara yang membawa-bawa Arzan. "Justru papamu akan senang, karena aku akan menanam benih di rahim putrinya yang manja ini." Gio terlihat mulai menaiki ranjang. "Apa kamu sudah siap?" tanya Gio, yang sebenarnya saat ini laki-laki itu hanya menakut-nakuti Tara. Karena ia tidak mungkin akan melakukan itu kepada gadis yang sama sekali tidak ia cintai.


Tara melempar Gio dengan bantal. "Enyahlah kau, laki-laki g*y! Jangan berharap kau bisa bercocok tanam denganku!" ketus Tara. Meski sebenarnya saat ini Tara merasa sedikit risih dan tidak nyaman dengan tatapan Gio.


"Aku suamimu, jadi aku berhak atas dirimu."


Malam itu pun terjadi adegan Tara yang menjambak rambut Gio sehingga laki-laki itu malah ikut-ikutan menarik rambut panjang sang istri.


***


Pagi menjelang dua pasangan suami istri itu terlihat masih terlentang tidur di atas kasur, karena tadi malam mereka gelut di atas ranjang itu sehingga tidak ada yang mau mengalah salah satu diantara mereka membuat pasutri itu kecapean dan sama-sama tertidur di atas ranjang dengan posisi yang terlihat sangat mencengangkan.


Sehingga dering ponsel Tara tiba-tiba saja berdering membuat gadis itu langsung saja membuka sedikit mata, karena ia tahu itu panggilan dari sang ayah. "Papa, kenapa harus menelepon, bukankah aku ada di kamarku sendiri saat ini," gumam Tara serak khas orang yang baru bangun tidur. Ternyata gadis itu mengira ia ada di dalam kamarnya saat ini.


"Gavin! Apa-apaan kamu!" Sekarang giliran suara Gio yang terdengar. "Matikan alarm ponselmu, mengganggu tidurku saja!" gerutu laki-laki itu yang belum membuka mata sepenuhnya.


Tara yang mendengar suara Gio dengan cepat membuka mata dan langsung bangun dari tidurnya. "Aaaaa, siapa kau?!" Tara menjerit karena ia kaget bukan main ditambah nyawanya belum terkumpul sepenuhnya. "Kau siapa …?!"


Gio juga langsung membuka mata karena mendengar suara Tara yang menjerit, laki-laki itu juga sama seperti Tara yang kaget bukan main. Akan tetapi, pada detik berikutnya ketika ia memperhatikan Tara tiba-tiba saja bayangan dirinya yang gelut dengan gadis itu tadi malam langsung ia ingat.


"Gio!!" Tara memekik setelah nyawa gadis itu sedikit terkumpul lagi. "Kau ... kau tidur seranjang denganku! Dasar g*y!" Tara memekik.